Headlines News :
Home » » Strategi Pembelajaran Kelas Puisi Menyenangkan di Sekolah

Strategi Pembelajaran Kelas Puisi Menyenangkan di Sekolah

Written By Pewarta News on Sabtu, 26 Mei 2018 | 10.20

PEWARTAnews.com -- Pembelajaran puisi merupakan bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia, yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dipisahkan, namun dilaksanakan secara itegratif. Harapan dalam pelaksanaan tersebut, dimaksudkan agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang menyenangkan yaitu siswa dapat meningkatkan keterampilan berbahasa, berekspresi, dan mengambil moral values melalui karya puisi.

Pembelajaran puisi mempunyai banyak komponen, salah satunya adalah tujuan. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut seorang guru puisi hendaklah dapat mempraktekkan sendiri dan menulis sendiri karya-karya puisi dan meningkatkan efektivitas pembelajarannya, yakni penguasaan kurikulum sesuai dengan kondisi peserta didiknya dan pemilihan metode yang menyenangkan bagi murid-murid kelas puisi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui teknik pembelajaran puisi yang menarik, menyenangkan, mencerdaskan, dan sekaligus menghaluskan budi. Contoh tekniknya pembelajaran kelas puisi melalui latihan dasar olah vokal, olah karakter, olah indra serta pembacaan puisi. Pemberian puisi hendaklah memenuhi karakter peserta didik, lingkungan, usia dan minat. Dengan demikian diharapkan dapat dicapai pembelajaran kelas puisi yang menarik dan bermakna. Guru puisi yang baik harus mampu menjadi actor dan sutradara yang baik bagi kelas puisinya agar dapat menyenangkan bagi para muridnya.

Namun, fakta di lapangan pada pelaksanaan pembelajaran puisi disekolah bukan menjadi hal yang di unggulkan tetapi hanya sekedar pelengkap untuk memenuhi prestise sekolah pada setiap perlombaan, padahal sesungguhnya itu bukan tujuan dari kelas puisi. Hal ini di sebabkan kurang berminatnya sekolah, siswa ataupun guru. Pemahaman dan ketrampilan kreativitas guru dalam memahami sebuah karya sastra puisi sangat minim karena pengalaman dan keilmuan di bidang puisi hanya sebatas pemaparan teoritis dalam buku tidak sejalan dalam praktek kelas puisinya. Guru hendaklah mempunyai keberanian mencoba dengan cara yang positif untuk melakukannya. Dengan kata lain pembelajaran karya sastra puisi masih mengalami hambatan. Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran karya sastra puisi diakui banyak orang masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah yang menyangkut faktor guru. Sebagai pengajar karya sastra puisi, guru haruslah menunjukkan minat, penguasaan, ketrampilan dan kreativitas, serta dengan cara-cara yang bukan hanya menarik namun, juga mencerdaskan, menyenangkan dan dapat menghaluskan budi.

Mengajar karya sastra puisi pada hakikatnya adalah memciptakan kondisi yang bersifat menyenangkan yang memungkinkan siswa tidak kaku dalam prosesy pembelajaran. Kemampuan seorang guru dalam mengarahkan minat dan bakat siswa adalah yang utama. Menghilangkan rasa malu dan takut merupakan langkah awal dalam pembelajaran kelas puisi. Dengan jalan membangun kepercayaan siswa. Proses kreativitas, aktivitas dan pengalaman siswa berlangsung secara alamiah.

Kealamihan berlangsungnya pembelajaran tersebut dimaksudkan agar dalam proses membaca puisi tidak terlalu kaku, namun dapat dilakukan secara fleksibel dan dapat memberikan nilai-nilai energi positif bagi siswa. Untuk itu hendaklah model kelas puisinya dapat dilakukan dengan cara guru mempraktekkan, menjelaskan pesan dari puisi untuk di ekspresikan oleh siswanya dengan cara memberi contoh yang tepat dalam membacakan sebuah karya sastra puisi. Pembelajaran membaca puisi hendaklah memahami aspek kosakata, kalimat, vokal, gesture tubuh dan bermain peran. Misalnya siswa disuruh membaca, menceritakan maksud dari puisi tersebut di depan kelas puisi, yang kemudian mereka mampu mengekspresikan setiap kata dan kalimat puisi sehingga menghasilkan sebuah puisi yang ruhnya hidup dan bermakna.

Kelas puisi bagi para siswa memiliki sejumlah alasan dan manfaat. Pertama, puisi merangsang memperoleh kenikmatan estetis, belajar kejujuran, mentertawan diri sendiri tampa ada yang menyakiti tersakiti, belajar bercermin diri dan sebagai puisi sebagai sejata perubahan. Kedua, puisi menumbuhkan imajinasi. Ketiga, Puisi membantu siswa untuk memahami diri sendiri dan orang lain. Keempat, memahami bahwa terdapat orang lain tidak seperti dirinya. Selain itu karya sastra puisi dapat meningkatkan kepekaan sosial. Kelima, mampu menunjang perkembangan pengetahuan, bahasa, moral dan personalitas siswa.

Untuk pembelajaran di kelas yang dilakukan secara konkret, guru dapat merumuskan tujuan sendiri berdasarkan tujuan kelas puisi. Kejelasan karya sastra puisi haruslah sesuai dengan kemampuan bahasa siswa yang berupa kata-kata. Diksi kata dalam karya puisi sebaiknya sebaiknya dengan kata-kata yang sudah dikenal, siswa dapat memahami dan dapat segera merasakan serta menikmati bahasa tersebut. Secara umum bahasa karya sastra puisi yang dipilih haruslah mempunyaig kejelasan bahasa dan pesan sehingga tidak mempersulit siswa dalam proses pemahaman dan penghayatannya.

Bahasa yang struktur kalimatnya relatif kompleks dan panjang hendaknya tidak dipilih karenayy akan membosankan siswa terkecuali siswa mampu membawakan puisi dengan perannya yang bagus. Pemilihan puisi hendaknya menampilkan lingkungan yang telah di akrabpi karena siswa lebih mudah memahaminya.

Sumber bahan pembelajaran siswa dapat di peroleh dari karya-karya penyair puisi Indonesia, karya puisi gurunya, televisi, vidio, bumi, manusia, dan alam semesta.

Teknik pelaksanaan pembelajaran sastra di sekolah:

Setiap sekali mengajar hendaklah guru dapat menyisihkan waktunya lebih kurang 10 sampai dengan 15 menit sebelum pembalajaran berakhir untuk membacakan puisi dan karya sastra lainnya. Puisi atau karya sastra lainnya ini dapat dipetik oleh siswa nilai-nilai kebaikannya baik oleh guru dan siswanya.

Pertama, guru dapat menanamkan nilai moral dan daya kritis siswa. Siswa selain mendapat hiburan, juga secara langsung akan membentuk mental dan ketrampilan berbahasanya. Untuk itu guru harus mampu membawakan puisinya dengan baik, menjadi seorang aktor dan sutradara di kelas puisinya.

Kedua, dengan karya sastra puisi dapat menimbulkan minat baca siswa. Dengan gaya dan cara guru membawakan puisinya akan berkeinginan untuk membaca buku-buku karya sastra lain.

Ketiga, siswa akan selalu menunggu gurunya ketika mengajar, karena guru selalu membacakan puisinya sebelum berakhirnya pelajaran, sehingga ketika bel tanda pergantian jam mata pelajaran atau bel tanda pulang sekolah berbunyi, siswa tidak bersorak gembira karena akan pulang, namun kecewa karena puisi dari guru harus di akhiri.

Akhirnya guru sebagai pelaksana pengajaran di kelas, jika tidak memahami dan tidak menyenangkan maka sulit untuk memperoleh kelas puisi yang menyenangkan serta inspirasi bagi murid-muridnya.


Penulis: Eka Ilham, M.Si.
-Penulis Buku Kumpulan Puisi Kesaksian
Guru Itu Melawan
-Ketua Umum Serikat Guru Indonesia Kabupaten Bima
- Mantan Ketua Umum Teater Rimpu Yogyakarta (Tahun 2004)
-Mantan Kabid Seni Dan Budaya Kepma Bima-Yogyakarta(Tahun 2004)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website