Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Kuliah Kerja Nyata dalam Paradigma Mahasiswa

    PEWARTAnews.com -- Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

    Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja --KKN merupakan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo --KKN adalah moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner --KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah” (Mukaromah, 2018).

    KKN merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tidak suka, mau tidak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah Action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.

    Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

    Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mereka berpendapat bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.

    Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Dapat dibayangkan, bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/ pemasukan. Kemarin sempat mengobrol dengan teman yang sudah ngajar di suatu sekolah (SD di daerah Magelang), ternyata tidak boleh cuti, sedangkan penempatan KKN dia ada di Gunung Kidul. Ah, saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Inilah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

    Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar, dan lain-lain) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah bentuk jihad dan pengabdian yang sesungguhnya.

    Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, bayangkan ya 2 bulan bersama. Insya Allah cukuplah yak untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter dan sifatnya. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mungkin mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Barangkali, ada yang mau mencoba ini. Monggo, terutama bagi yang masih jomblo, dan bagi yang sudah mempunyai pasangan, jangan lupa ya Profile WhatsApp nya diganti bersama pasangan-nya masing-masing agar tidak di baper-baperi sama temen se-posko. Hahaha, hanya saran.

    Terakhir, KKN merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis di organisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi nggak untuk masyarakat? Dalam bahasa Jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik nggak? Itu yang diperlukan.

    Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan. Dan bagi seorang wanita, seperti apapun dia (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun wanita karier)  juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

    Selamat KKN, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama! Jadi, santai saja. Nggak usah sepaneng. Hehe.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Politik untuk Pembelajaran dan Mendidik Diri Sendiri

    "PKS mungkin sering menyerang tadisi dan ulama NU (Nahdlatul Ulama), jika kader NU menyerang balik itu wajar dan sah secara syar'i. Tapi jika para saudaraku kaum santri membalas dan menanggapinya dengan akhlaq yang luhur, maka akan menjadi teladan yang berharga bagi pembangunan karakter bangsa dan sekaligus menjadi pendewasaan dan pematangan bagi kehidupan keberagamaan dan politik kebangsaan kita ke depan"

    Umaruddin Masdar. 
    Kekalahan Drs. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) di pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) dan Mbak Ida Fauziah di pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng) menjadi justifikasi sebagian saudara kader NU untuk menyerang dan menyimpulkan: Gus Ipul dan Mbak Ida kalah karena didukung partai keadilan sejahtera (PKS). Karena akhir-akhir ini sedang nge-trend hesteg #GuremkanPKS, Gus Ipul dan Mbak Ida kena imbasnya. Begitu kesimpulan sebagian saudaraku kader NU.

    Simplifikasi seperti ini sah-sah saja, tapi kontraproduktif dan kurang mendukung cita-cita besar NU sendiri yang merupakan garda depan dan benteng kehidupan keagamaan dan politik yang damai dan toleran.

    Ada tiga hal kondisi faktual yang perlu diperhatikan secara komprehensif dan arif di sini. Pertama, di berbagai daerah lain, NU dan PKS juga "berkoalisi" dan menang, seperti di Sumatera Utara. PKB mendukung Edy Rahmayadi, menang. Di Pamekasan, kader NU juga menang Pilkada, dan berkoalisi dengan PKS.

    Politik bagi mereka yang tercerahkan justeru menjadi wahana efektif untuk mematangkan dan mendewasakan masyarakat sehingga sekat-sekat primordial dan perbedaan ideologi bisa diatasi dan dilampaui secara alami. Kalau pada tataran amaliah, NU dan PKS sering berbeda, tapi politik bisa mendamaikan keduanya. Ini artinya, politik bisa mendewasan kehidupan keberagamaan kita. Jangan dibiarkan sebaliknya: politik mendegradasikan keberagamaan kita yang pada ujungnya akan merusak kehidupan agama itu sendiri, dan kehidupan bangsa secara luas.

    Kedua, ciri khas politik dan dakwah NU adalah merangkul dan menebar rahmat untuk semua. Hal ini karena dakwah dengan hikmah jauh lebih efektif dan menentu, daripada dakwah dengan menyerang. Di sisi lain, dalam pandangan sebagian besar ulama panutan NU: akhlaq berada di atas ilmu.

    Cara berpolitik dan dakwah seperti ini sangat efektif untuk mencapai sasaran, seperti dicontohkan para ulama dan aulia.

    Gus Dur misalnya mengesahkan Khonghucu sebagai agama resmi negara. Orang yang kurang memahami tradisi pemikiran NU, langkah Gus Dur dianggap keliru fatal. Tapi bagi yang bisa melihat dengan jernih dan seksama, langkah Gus Dur itu merupakan dakwah yang sangat dahsyat.

    Di satu sisi Gus Dur menunjukkan kebesaran dan universalisme peradaban Islam sekaligus mengembalikan syariat kepada tujuan asasinya, yaitu melindungi keyakinan dan kepercayaan setiap manusia. Di sisi lain, dengan disahkannya agama Khonghucu, ratusan juta umat Islam di negeri China merasakan kebebasan menjalankan syariat agamanya.

    Bagi kiai NU, hubungan baik Gus Dur dengan para tokoh di Israel (yang kemudian dilanjutkan oleh KH Yahya Staquf) dilihat dalam perspektif yang komprehensif, sebagai bagian dari perjuangan politik global dan dakwah universal. Perspektif ini sering tidak dimiliki oleh mereka yang berada di luar NU.

    NU dengan tradisi berpikir mazhab yang sangat kokoh dan membumi, kata Gus Dur, bisa keluar dari cara pandang monokultural dan tunggal terhadap fakta politik dan realitas. Dan begitulah seharusnya kita melihat fakta koalisi pra pilkada, juga hasil pemilu pasca pilkada.

    Ke-NU-an kita lebih sempurna jika kesadaran kita dalam beragama dan berbangsa sudah bisa menempatkan mereka yang di luar NU sebagai saudara. Mungkin mereka lawan kita dalam politik atau ideologi, tapi keluwesan NU tetap bisa merangkul dan menghormati mereka sebagai saudara sebangsa atau sesama manusia. Bukankah di sini letak keagungan konsep ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah dan ukhuwwah basyariah yang diusung para guru kita terdahulu?

    Ketiga, mensyukuri kekalahan Gus Ipul dan Mbak Ida dan menyalahkan mereka karena didukung oleh PKS dari sudut akhlaq santri menjadi sesuatu yang kurang elok.

    Bukankah di belakang Gus Ipul ada kiai-kiai besar NU seperti Gus Din Ploso, Mbah Nawawi Sidogiri, Ra Kholil Situbondo dan ratusan kiai dan para masyayikh yang lain? Demikian juga Mbak Ida didukung oleh kiai-kiai besar NU seperti Mbah Dim Kaliwungu, Mbah Subhan Brebes, Mbah Munif Mranggen, dan ratusan kiai NU di Jateng?

    Menyerang dan menyalahkan Gus Ipul dan Mbak Ida, tanpa kita sadari sama artinya dengan menyerang, menyalahkan dan melukai hati para kiai yang mendukungnya.

    Bagi para santri tradisi sami'na wa atho'na secara mutlak diyakini merupakan syarat untuk mendapatkan ilmu dan hidup yang manfaat-barokah. Menyerang atau menyakiti hati guru, adalah perbuatan yang masuk kategori "dosa besar".

    Ketika seorang santri menghadapi suasana dilematis, misalnya para guru atau kiainya berbeda pendapat, maka sikap yang akan dipilih biasanya adalah "diam".

    Seperti tercantum dalam kitab Zubadnya Ibnu Ruslan:
    وما جرى بين الصحا ب نسكت

    "Apa yang terjadi di kalangan para kiai, kita memilih sikap diam"

    Sikap diam merupakan cara santri untuk menjaga akhlaq kepada guru dan para kiai, agar jangan sampai kita berprasangka buruk dan menyalahkan atau membuat para guru kita tidak ridho. Meski misalnya di mata seorang santri, pilihan politik kiainya adalah tidak tepat, si santri tetap tidak akan mengurangi sedikitpun penghormatan dan ketawadhuannya kepada kiai.

    Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu: Syarh al Muhadzdzab, menulis kisah dan pesan yang sangat agung untuk kita semua warga NU yang ingin menjadi santri sejati:

    وقد كان بعض المتقدمين إذا ذهب إلى معلمه تصدق بشيء وقال : اللهم استر عيب معلمي عني ، ولا تذهب بركة علمه مني

    Ulama terdahulu ketika berjalan menuju tempat mengaji di hadapan gurunya, mereka bersedekah kepada orang yang ditemuinya.
    Selama di dalam perjalanan itu, mereka berdoa:
    “Ya Allah tutuplah aib guruku dari mataku (sehingga aku tidak melihat kekurangan pada diri guruku. Dan jangan sampai ada seorang pun yang memberitahukan aib guruku); dan jangan sampai hilang keberkahan ilmunya dariku."
    Mereka khawatir jika mengetahui kekurangan gurunya akan mengurangi rasa hormat mereka pada gurunya.

    Semoga kita bisa selalu menjaga akhlaq sebagai santri dan menjadikan setiap peristiwa politik sebagai pangkalan pendaratan untuk suatu proses transformasi diri dan masyatakat menuju tatanan yang lebih kokoh, dewasa dan damai, meski kita tetap berbeda-beda, baik berbeda sementara maupun selamanya. Semoga.

    Malam Jumat Kliwon, bakda Yasinan-Tahlilan, Bantul, 28 Juni 2018


    Penulis: Umaruddin Masdar
    Pengasuh Majlis Zikir & Ta'lim "Hayatan Thoyyibah" & Sekretaris DPW PKB DIY

    FIMNY Sumbang 4 Kardus Buku untuk Pustaka Semesta Bombo Ncera

    Pengurus FIMNY saat menyerahkan sumbangan buku untuk Pustaka Semesta. 
    Bima, PEWARTAnews.com -- Bombo Ncera adalah salah satu tempat wisata alam (air terjun) yang ada di ujung utara Desa Ncera, dulu Bombo Ncera belum ada yang mengurusi secara intens sehingga belum tertata dengan baik dan fasilitas pendukung lainnya pun belum tersedia.

    Kondisi Bombo Ncera sekarang sudah sangat beda, jauh lebih bagus dari beberapa tahun sebelumnya. Saat ini Bombo Ncera sudah mempunyai fasilitas pendukung wisata yang lengkap seperti Toilet, Masjid, Tempat Ganti, dan fasilitas lainnya. Tiap hari, entah hari biasa lebih-lebih akhir pekan banyak sekali pengunjung yang datang. Selain dikenal sebagai wisata alam dengan kemurnian airnya, Bombo Ncera juga sekarang sudah dikenal dengan Wisata Edukasi, karena saat ini sudah memiliki perpustakan yang diberi nama “Pustaka Semesta” berkat keuletan dan kreatifitas Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN).

    Kebutuhan perpustakaan Semesta masih sangat terbatas, untuk menunjang kebutuhan pustaka tersebut, tanggal 17 Juni 2018 Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) telah memberikan sumbangsih berupa buku sebanyak  4 (empat) kardus buku, dengan jumlah kurang lebih 100 buah buku. Buku yang disumbang FIMNY sangat bervariasi, mulai dari buku SD, SMP, SMA sampai dengan buku yang layak dibaca oleh mahasiswa/mahasiswi maupun ibu-ibu rumah tangga yang akan melakukan kunjungan wisata di Bombo Ncera.

    Kondisi Pustaka Semesta masih begitu terbatas, salahsatunya masih kekurangan rak buku dan lainnya, sehingga masih sangat membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Melihat kondisi tersebut, FIMNY juga memiliki inisiatif untuk membuatkan rak buku yang akan diletakkan di Pustaka Semesta Bombo Ncera agar buku-buku yang ada tersimpan dengan aman serta mudah ditata dengan rapi.

    Ketua KPPBN Aswad, S.Pd. yang biasa dikenal luas dengan nama Yuke, mengatakan bahwasannya dia merasa senang dan bangga atas sumbangat yang diberikan FIMNY. “Sebagai ketua KPPBN, saya merasa senang dan salut, ini merupakan suatu kebanggan kami sebagai komunitas atas partisipasinya rekan-rekan FIMNY yang sudah ikut berkontribusi ataupun memberikan beberapa sumbangan buku empat kardus, nantinya semoga dapat bermanfaat baik untuk pengunjung dari lokal, nasional maupun dari wisatawan Internasional, terutama untuk menambah wawasan adek-adek yang khususnya di kecamatan Belo,” ujar Yuke.

    Lebih lanjut, Yuke menyampaikan pesan dan kesannya untuk FIMNY serta mengajak kembali untuk tidak bosannya menyumbangkan buku-buku yang dimiliki buat menambah lebih banyak lagi koleksi Pustaka Semesta, “Semoga ketika ada lagi buku-buku yang lebih, mungkin bisa dibawa kesini, yang harapannya karena untuk menambah kelengkapan buku di Pustaka Semesta ini, mungkin ada buku-buku yang kurang disini nantinya bisa ditambah atau dikondisikan untuk dibawa kesini lagi,” ajak Yuke.

    Atasnama keluarga besar FIMNY, Gajali sebagai Ketua Umum, berharap dengan adanya sumbangan buku dari FIMNY, masyarakat juga bisa sambil santai dan membaca buku-buku yang ada di Pustaka Semesta. “Semoga dengan adanya penambahan buku itu wisatawan tidak hanya terfokus dengan penyuguhan keindahan alam di Bombo Ncera atau dengan adanya tambahan spot-spot baru saja, tapi juga wisatawan bisa memanfaatkan buku-buku yang ada sebagai penambahan ilmu yang sudah tersedia di Pustaka Semesta Bombo Ncera,” beber Gajali.

    Sejak berdirinya KPPBN, wisata Bombo Ncera jadi banyak spot foto dan makin menarik dan nyaman untuk dikunjungi. Setiap hari tiada hentinya wisatawan yang datang mengunjungi Bombo Ncera, baik pengunjung dari Desa Ncera terlebih lagi pengunjung dari luar Desa Ncera. Untuk itu, dengan adanya berbagai macam buku-buku yang ada di Pustaka Semesta dapat menarik pengunjung terlebih lagi dapat meningkatkan minat baca ke pengunjung Bombo Ncera khususnya untuk pelajar-pelajar yang ada di kecamatan Belo. Bagi yang punya koleksi-koleksi buku bacaan, Pustaka Semesta juga tetap menerima sumbangan sebagai penambah koleksi perpustakaan. (Nursuciyati/PEWARTAnews)

    BAANAR Nasional GP Ansor Sambut HANI dengan Seruan Anti Narkoba

    Jakarta, PEWARTAnews.com -- Pada tahun 2020-2030, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi.Tahun 2020-2030 akan menjadi tahun emas bagi Indonesia mengingat jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) diperkirakan akan mencapai 70 persen, sementara sisanya, yakni 30 persen berisi angkatan tidak produktif (65 tahun ke atas dan 14 tahun ke bawah).

    Kepala BAANAR Nasional PP GP ANSOR Saleh Ramli melalui rilisnya, mengatakan bahwa bonus demografi akan memberikan keuntungan bagi Indonesia karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah. "Tetapi bisa juga menjadi malapetaka manakala jumlah SDM yang secara kuantitas tersebut melimpah, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM. Apalagi di waktu bersamaan, Indonesia dihantui dengan derasnya peredaran Narkoba yang kian masif," ucapnya.

    Merujuk pada temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI yang dirilis pada tahun 2017, disebutkan bahwa sekitar 1,77 persen penduduk Indonesia—setara dengan 3,3 juta jumlah penduduk Indonesia—terjerumus pada penyalahgunaan narkoba dan mengakibatkan kerugian Rp 84,7 triliun.

    Melihat fenomena di atas, kata Saleh Ramli, Badan Ansor Anti Narkoba (BAANAR) di bawah naungan Pimpinan Pusat GP ANSOR menilai hal tersebut patut direspon, terlebih berkenaan dengan momentum peringatan Hari Anti Narkotika Internasional pada 26 Juni 2018. "Sebagai alasan, respon atas fenomena maraknya penggunaan obat terlarang agar bonus demografi tidak mengalami hambatan. Pasalnya, usia produktif harus mempunyai performa yang baik sebab jika tidak,akan merugikan masa depan Indonesia," bebernya.

    Langkah BAANAR ANSOR
    Untuk mengatasi persoalan tersebut di atas, beber Saleh Ramli, BAANAR telah melakukan sosialisasi dan aksi melalui sistem kaderisasi di internal GP ANSOR sebagai sebuah ikhtiar memberantas penyalahgunaan Narkoba. Sosialisasi dilakukan secara masif karena alarm bahaya narkoba sudah berbunyi darurat.

    Selain itu, langkah-langkah yang diambil BAANAR sebagai upaya pemberantasan penyalahgunaan Narkoba tentu tidak bisa dilepaskan dari semangat zaman. "Kerap kita mendengar kata hijrah dan jihad dalam kehidupan sehari-hari. Kata ini coba kita kontekskan dengan semangat pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba, yang tentunya akan membawa dampak positif; Jihad melawan Narkoba dan Hijrah untuk hidup yang lebih sehat tanpa narkoba," imbuhnya.

    Lebih jauh Saleh Ramli mengatakan bahwasannya langkah diatas akan terus dikampanyekan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia sosial media. "Kader Ansor yang berjumlah tidak kurang 5 juta orang di Indonesia menjadi modal sosial yang besar untuk terus mengkampanyekan pemberantasan penyalahgunaan Narkoba. Dengan SDM Ansor yang melimpah, akan kita kerahkan untuk kampanyekan pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba melaui kegiatan yang sesuai kebutuhan masyarakat, menyenangkan, dan memberikan harapan tentang masa depan bagi kaum muda Indonesia," katanya.

    "Di sisi yang lain kampanye di media sosial akan terus dilakukan. Sebab beberapa literasi meyebutkan bahwa modus pengedaran obat-obatan terlarang kian canggih, salah satunya memanfaatkan kemajuan tekhnologi dan informasi. Langkah ini dinilai sangat efektif karena banyaknya pengguna sosial media, terlebih anak muda. Selamat memperingati Hari Anti Narkotika Internasional 2018," bebernya. (rls / PEWARTAnews)

    Sambutan dr. Sitti Aisya Sahidu saat Pelantikan PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018

    Sambutan dr. Sitti Aisya Sahidu saat Pelantikan Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018. Minggu, 19 Maret 2017, di Aula Golkar Yogyakarta

    Pelantikan PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018

    Prosesi pengambilan sumpah Pelantikan Pengurus Baru Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta Periode 2017-2018, oleh Bukhari, S.T., CFP. (Ketua Forum Silaturrahim Weki Ndai Mbojo-Yogyakarta)

    Mentan Amran Sulaiman saat Kunjungi Gempita DIY dan Mahasiswa di Yogyakarta

    Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. saat Kunjungi gerakan Pemuda Tani Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (Gempita DIY) dan Mahasiswa di Grand Aston Hotel, Yogyakarta, 8 Maret 2017.

    Sentilan Allah yang Menyentil Segalanya

     “Shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya” (K. Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd saat menjelaskan Syarah Hadist Arba'in Nawawi, 3 years ago).

    Sudah beberapa kali saya mengalami kejadian hal yang tidak mengenakkan ketika dijalan. Siang tadi, ada motor yang melaju begitu cepat. Tiba-tiba ada barangnya yang jatuh, sontak saat itu pula ia mengerem mendadak. Saya yang berada dibelakangnya pun kaget dan karena motor tidak bisa dikendalikan akhirnya duerrrrrr, nabrak. Saat itupula saya terjatuh dan seperti mimpi. Sadar dan tidak sadar. Sangat irasional. Bagaimana tidak? Jika dinalar dengan akal manusia yang sifatnya nisbi, hal seperti itu tentu sudah bonyok-bonyok. Motor juga peot dan entah saya seperti apa. Akan tetapi, atas kuasa dan pertolongan Allah kami baik-baik saja bahkan kedua motor pun juga tak ada yang rusak.

    Sejenak aku termenung karena masih kaget. Tiba-tiba saja teringat nasihat almarhum bapak saya dahulu, “Sik... Ojo kesusu muring-muring meski sebenarnya kamu tidak salah”. Melihat ibu yang ketakutan (mungkin dikira saya akan menunutut) dia terus memandangi-ku. Dalam batinku, kenapa ibu ini tidak minta maaf? Padahal jelas salah loh, batinku. Karena harapanku kepada Tuhan jauh lebih besar dibanding emosi marah dan rasa tak terima-ku, akhirnya aku putuskan “Ya buk, saya salah jennegan juga salah, kita saling memaafkan ya. Beres. Silahkan lanjutkan perjalanan kembali,”. Suami dari ibu itu pamitan pergi. Tinggal saya yang masih minum air putih karena dikasih ibu paruh baya penjaga toko di sebrang Lapangan Kremalan.

    Setiap hal, setiap peristiwa dan setiap tempat pasti ada ilmu, uswah dan ibrah-nya. Termasuk kejadian yang saya alami siang ini tadi. Yang pertama, Jangan pernah meremehkan do'a. Saya teringat kata ibuku beberapa bulan yang lalu “Nok, doaku itu supaya kamu dijalan selalu dilindungi Gusti Allah”. Benar adanya, meski terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan saat dijalan, tapi selalu dilindungi Gusti Allah dalam artian tidak berat luka dan juga rugi-nya. Yang ada hanyalah pembelajaran dan hikmah untuk tetap waspada dan berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan, ini juga karena doa dari kalian (teman-teman / netizen), guru dan juga dosen-dosenku serta doa dari orang-orang yang dipermudah jalannya melalui perantara al-Qur’an.

    Yang kedua, memaafkan dengan menata hati, mengingat Allah dan mengingat jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain. Dahulu saya pernah mengerem mendadak, tapi ternyata orang yang berada dibelakangku tidak marah dan memaafkan kesalahanku. Begitupula dengan hal ini. Karena dulu saya ditolong dan dimaafkan orang, baiklah. Ini balasan terimakasihku kepada orang yang menolongku dengan cara memaafkan kesalahan orang lain (read orang yang mengerem mendadak tersebut).

    Yang ketiga, menghemat energi. Memaafkan jauh lebih indah dan mulia daripada marah-marah. Sama-sama dirasakan oleh hati, namun efeknya berbeda. Memang sih, lega banget kalau udah melampiaskan kemarahan. Tapi? Efeknya nanti dibelakang pasti menyesal. Berbeda halnya ketika memaafkan kesalahan orang, maka hati akan lebih mudah menyambung pada Tuhan dan akhirnya cahaya dan rahmah Allah akan mudah dirasakan oleh hati. Hal tersebut nantinya akan berimplikasi kepada ketenangan batin, mudah memahami orang lain dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

    Yang keempat, ingat kesalahan kita dimasa lalu. Dalam Qs. Al-Isra’ disebutkan bahwa, "in ahsantum ahsantum li anfusikum......." "perbuatan baik dan buruk tak lain akan kembali pada diri kita". Untuk lebih njembarke ati, maka harus flash back. Dahulu pernah tidak mengerem mendadak? Jika pernah, ya mungkin ini kausalitasnya. Hehe, Ya biar ngerasain sakitnya orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita. Agar bisa sama-sama merasakan meski dengan objek dan konteks yang berbeda.

    Yang kelima, Ingat harapan yang disematkan kepada Tuhan. Barangkali kemudahan dan keberkahan hidup yang Allah berikan kepada kita bukan karena kita kaya, karena cerdas, karena punya jabatan, dan lain-lain. Tapi karena mudah memaafkan orang dan pandai mengambil ibrah dan uswah dari setiap alur peristiwa sejarah yang Tuhan berikan. Niatkan saja, semoga dengan peristiwa ini Allah berkenan memberikan kekuatan dan membukakan pintu kemudahan untuk meraih segala hal yang dicita-citakan.

    Yang keenam, jangan pernah berharap dan menginginkan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, karena itu hanya akan menggelapkan hati (ndogkolke ati). Hal tersebut tercermin dengan batin saya tadi, kenapa sih ibu ini tidak minta maaf padahal salah loh. Kalau saya masih memegang erat kata-kata tersebut, yang ada hanyalah sakit hati. Karena ketidaksesuaian keinginanku dengan realita yang ada.

    Yang ketujuh, Karena peristiwa ini, saya dipertemukan dengan kawan SD yang 10 tahun tidak bertemu. Dahulu temen-temen sering nyomblangin dia sama aku. Hahaha, konyol. Ternyata dia masih ingat sama aku. "Eh Mukaromah," sapanya.

    Yang kedelapan, istiqamahkan shadaqah. Saya masih teringat nasihat Guru Tafsir Aliyah, Kyai Ahmad Lutfian Antoni saat menjelaskan Syarah Hadist Arabain Nawawi, beliau ngendiko bahwa shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya. Yang harus diingat shadaqah itu tidak hanya berbentuk materi (uang), namun bisa hal-hal lain sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Bisa ucapan yang baik, perbuatan yang adil, perlindungan dan rasa aman terhadap makhluk-makhluk Tuhan serta hal-hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat.

    Dan terkadang, doa lebih maqbul apabila diucapkan oleh orang yang berada dibawah kita (entah dalam hal ekonomi maupun fisiknya). Oleh karena itu, jangan sampai lupa memohon doa kepada orang-orang yang kita permudah jalannya, serta yang kita bantu. Bisa jadi, hal tersebut dapat menjadi lantaran rahmat, kasih sayang dan perlindungan yang Allah berikan kepada kita, sehingga dalam hal apapun kita tidak terlepas dari belas kasihan-Nya.


    Yogyakarta, 23 Juni 2018
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Literasi Cinta

    PEWARTAnews.com -- Sudah lama aku mengenalmu. Kira-kira sepuluh tahun silam. Di situlah aku mulai jatuh hati padamu. Mencoba mendekatimu. Mencari cara bagaimana supaya aku bisa dekat denganmu. Selalu berusaha agar aku bisa terus berada di sampingmu.

    Meski sudah lama kuusahakan hal demikian, bahkan sampai tertatih, namun entah mengapa hatiku masih saja belum begitu fokus. Aku belum bisa serius. Aku masih belum percaya diri sepenuh hati. Aku masih terus dihantui oleh rasa takut, dan seabrek rasa lainnya.

    Sering kali orang-orang mencibirku. Menganggapku aneh, bahkan gila. Sebab, tak ingin jauh darimu. Barangkali, itu yang membuatku masih setengah-setengah terhadapmu. Belum terlalu serius memerhatikanmu. Belum terlalu paham terhadap kehadiranmu yang semestinya sangat berarti dalam hidupku. Entahlah, mungkin aku memang belum begitu paham ihwal itu.

    Bertahun-tahun, aku memang tak begitu peduli terhadap keberadaanmu. Aku hanya menganggapmu seolah angin lalu. Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku. Menganggapmu tak begitu penting. Padahal, dulu, aku begitu jatuh hati padamu, dan tak ingin jauh darimu. Itu bermula, kala aku melihat dan berkunjung ke beragam tempat, yang di dalamnya terdapat banyak orang yang mencoba menyapa dan ingin juga memilikimu.

    Namun demikian, aku terus berusaha untuk lebih dekat denganmu. Seluruh tenaga kukerahkan untuk memahamimu sepenuh hati. Mencoba menggali, seberapa besar peranmu terhadap semesta ini. Mencoba berkontemplasi, memikirkan sejauh mana kontribusimu di alam nyata maupun maya. Itu terus kulakukan. Meski, terkadang aku harus melawan rasa malas dan egoku. Mencoba mengusirnya, agar tak terus hinggap dalam diriku.

    Berkat kerja keras itu, aku jadi sadar. Hadirmu memang begitu berarti dalam hidupku. Darimulah aku belajar banyak hal. Engkau mengajarkanku arti dan makna suatu kehidupan. Engkaulah yang mencoba mengajarkanku agar tak lupa kepada Sang Pencipta. Keberadaanmu di hatiku memang begitu indah. Andaikan aku tak memahamimu sepenuh hati dan sungguh-sungguh, mungkin aku takkan bisa seperti sekarang ini.

    Itulah mengapa pada akhir 2016 silam, aku memantapkan jiwaku untuk merawatmu. Mencoba membuat komitmen agar terus bisa dan selalu bersamamu tiap hari. Aku ingin terus menemanimu. Sebab, engkau telah membuatku bahagia. Engkau membuatku “hidup.” Keberadaanmu membuatku nyaman. Engkau mampu mengusir rasa sombong dari hatiku. Engkau mengajarkanku agar terus rendah hati. Hadirmu membuatku menjadi manusia yang pandai bersyukur dan menerima apa adanya. Pada intinya, engkau hadir demi memberiku sesuatu yang positif. Aku begitu berterima kasih.

    Kini, meski belum genap dua tahun, aku begitu menikmati keberadaanmu. Ya, sangat dahsyat. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Setiap hari, aku selalu mencintaimu. Ingin tetap bertahan denganmu, hingga napasku tak lagi bisa menghembus.

    Sungguh indah dan nikmat memang. Mungkin itulah alasan orang-orang yang ingin juga memiliki dan berada di dekatmu. Karena mereka sudah mengetahui begitu besar dan pentingnya kehadiranmu.

    Aku terus berharap pada Tuhan, semoga saja cintaku padamu tetap terjaga. Insyaallah, api cinta ini akan terus dan tetap kupertahankan. Jangan sampai padam. Aku akan selalu menjaga dan merawatmu agar tetap menyala. Semoga terus menyala dan mengabadi.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Asal Dompu NTB

    Alumni Angkatan SMA Sape 08 Gelar Baksos dan Silaturrahim Tahunan

    Para anggota ANGSA 08 saat berangkat Baksos. 
    Bima, PEWARTAnews.com -- Alumni Angkatan Sape 2008 (ANGSA 08) memanfaatkan momen silaturrahim tahunan untuk melaksanakan Bakti Sosial (Baksos). ANGSA 08 merupakan perkumpulan alumni angkatan 2008 dari SMA 1 Sape, SMA 2 Sape, SMA PGRI Sape dan SMA Muhammadiyah Sape. Momentum agenda silaturrahim rutin dilaksanakan tiap tahun, pada tahun ini silaturrahim dirangkaikan juga dengan bakti sosial yakni pembagian sembako kepada dhuafa dan yatim piatu.

    Jika tahun sebelumnya (2017) ANGSA 08 melaksakan Baksos dengan pembagian Iqra, Al-Qur’an dan paket untuk sejumlah Guru di Sape dan Lambu. Tahun ini kembali melaksanakan Baksos dengan membagikan paket sembako kepada dhuafa dan Yatim Piatu di Sape dan Lambu.  ANGSA 08 membagikan sejumlah 83 paket sembako  yang berisi beras, gula, minyak, susu dan mie instan kepada dhuafa dan yatim piatu disejumlah Desa di Kecamatan Sape, seperti Desa Rasabou, Naru Barat, Naru Timur, Sangia, Bugis, Jia, Kowo, Buncu dan Kecamatan Lambu seperti Desa Nggelu, Sumi, dan Soro.

    Kegiatan Baksos dilakukan teman-teman ANGSA 08 sebagai wujud kepedulian kepada sesama, terutama pada yang membutuhkan. Seperti yang disampaikan Koodinator Tim Baksos ANGSA, Nanang Kurniawan mengatakan tujuan pembagian sembako ini adalah memunculkan rasa kepedulian untuk membantu sesama, khusus dhuafa dan yatim piatu yang membutuhkan. "Kita berharap momen silaturahim ANGSA tidak hanya waktu bernostalgia masa sekolah dan melepas kangen saja, tapi kita coba dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama seperti pembagian sembako ini", ujarnya.

    Nanang juga menambahkan bahwa Baksos ini terlaksana atas inisiatif bersama teman-teman ANGSA 08 dan sumber dana 100% dari anggota ANGSA 08 sendiri, baik yang di kampung halaman dan ikut silaturrahim maupun yang masih diperantauan dengan cara mengirimkan donasinya. "Ini sumbangan dari anggota ANGSA 08 sendiri, baik yang dikampung yang ikut kumpul kemarin maupun yang masih ditempat perantauannya masing-masing dengan mengirim donasinya pada kita," ucapnya.

    Pembagian sembako dilaksanakan mulai hari Selasa (19/6/2018) sampai hari Jum’at (22/6/2018) di sejumlah desa sasarannya.  Pembagian sembako ini disambut gembira oleh sejumlah penerimanya dan tidak sedikit yang mendo’akan pemberi donasi dan pelaksana kegiatan ini. Seperti Wa’i Beda di Desa Nggelu. “Alhamudillah anae kawara ra bantu mu nami, salama taho ran tai lampa ra laomu ana dohoee (Alhamdulillah sudah mengingat dan bantu kami nak, semoga keselamatan/kemudahan urusanmu nak),” ujarnya dengan suara lirih.

    Anggota ANGSA 08 berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan setiap tahunnya, baik silaturrahimnya maupun kegiatan Baksosnya. Seperti yang diutarakan salah satu anggota ANGSA 08 Hermansyah, “Kita berharap ANGSA selalu kompak untuk terus bersilaturrahim, apalagi ketika momen liburan seperti ini banyak teman-teman yang merantau dan pulang kampung hanya sekali setahun. Kita juga berharap tahun-tahun selanjutnya dapat merencakan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat untuk sesama," bebernya. (rls / PEWARTAnews)

    Momentum 21 Juni 2018 (Mengenang Bung Karno, HUT Hamdan Zoelva dan Presiden Jokowi, Pernikahan Kerabat dan Sahabat, serta Hari Krida Pertanian)

    Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. dan M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Suasana haru biru mencekam, itulah yang dirasakan oleh warga Indonesia saat meninggalnya Presiden Soekarno di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Hari ini, tanggal 21 Juni yang juga hari meninggalnya sang putra fajar bung Karno. Jasa-jasanya untuk bangsa ini tidak akan bisa terlupakan sepanjang masa. Lahumul fatihah. Semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang istimewa, dan juga semoga jerih payah perjuangan bung Karno mampu diteruskan oleh pemuda dan kita semua sebagai penerus bangsa. Aamiin.

    Topik berbeda. Kita tahu bersama bahwasannya Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi yang menerapkan teori trias politika. Teori ini untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Trias Politika yang kini banyak diterapkan, salahsatunya di Indonesia, adalah pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif.

    Berbicara Yudikatif, di Indonesia kita kenal salahsatunya Mahkamah Konstitusi (MK). Obrolin seputar MK, pasti kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa menafikkan kontribusi besar yang pernah dilakukan oleh Ketua MK RI keempat 2013-2015 asal Bima NTB yakni Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., hari ini, 21 Juni adalah hari bahagianya, karena pada hari ini adalah Hari Ulang tahunnya. Selamat Ulang Tahun buat pak Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., semoga sehat selalu dan terus semangat berkontribusi untuk bangsa ini. Aamiin.

    Usai obrolin Yudikatif. Kita kembali ke Eksekutif. Ranah Eksekutif, sederhananya kita pahami yakni tupoksinya Presiden, Wakil Presiden dan para Menterinya. Obrolin seputar tanggal 21 Juni, ternyata hari ini juga merupakan hari ulang tahun Presiden Joko Widodo. Terlepas dari pro dan kontra dari kontribusi yang telah dilakukan presiden Jokowi, seorang Presiden merupakan salahsatu roh utama dari sebuah negara. Jokowi di pilih secara konstitusi. Jadi sebagai warga Indonesia, sepatutnya bahu membahu, sama-sama berkontribusi dan juga mendukung kontribusi positif yang dipersembahkan pemerintah. Apabila ada kekeliruan dalam menjalankan pemerintahan ini, juga perlu kita ingatkan bersama.

    Terkait taat dan perlunya mendukung pemerintah, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (baca: pemimpin) di antara kamu. ....”. (QS. An-Nisa’ ayat 59). Selain itu, juga telah di anjurkan dalam hadist, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Mendengar (mematuhi) dan menaati (pemerintah) adalah suatu kewajiban, selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan. .....” (HR. Bukhari: 2738, Muslim: 3423)

    Hal yang lain, entah layak atau tidaknya Presiden Jokowi melanjutkan estafet kepemimpinannya, biarlah seluruh rakyat Indonesia menentukannya sendiri pada tahun 2019 nanti. Selamat Ulang Tahun buat Presiden Joko Widodo, mudahan sehat terus dan tetap selalu tegar dalam memimpin bangsa ini sampai amanah rakyat bersandar secara konstitusi di punggungmu. Aamiin. Semoga jajaran Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif juga terus harmonis dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Aamiin.

    Oh iya yach, tahun ini, karena sesuatu dan lain hal yang perlu dituntaskan, jadi saya tidak pulang kampung menikmati liburan ramadhan bersama sanak saudara. Oh iya yach, mengingat-ingat lagi tanggal 21 Juni, saya punya sepupu, Syamsil, S.Pd. namanya. Syamsil baru saja usai melangsungkan akad nikahnya kemarin pada tanggal 20 Juni 2018, hari ini tanggal 21 Juni 2018 sedang merayakan resepsi pernikahannya di lapangan Desa Diha, Kecamatan Belo, Bima, NTB. Saya sangat bahagia mendengar pernikahanmu bro, walau sedikit agak tidak enak juga dalam hati karena tidak bisa menghadiri momen bahagiamu. Selamat berbahagia saudaraku, semoga keberkahan selalu menyertai pernikahanmu. Aamiin.

    Berbicara momentum bahagia dengan hari pernikahan, pada tanggal 21 Juni tahun 2018 ini juga saya melewati hari bahagia serepsi pernikahan teman-teman saya, yakni saudara Samrin yang melangsungkan pernikahannya di Kota Bima, NTB. Di tempat yang berbeda juga ada pernikahan teman saya Munazar yang berlangsung di Sila Kabupaten Bima. Maafkan saya karna tidak bisa melihat langsung momentum terindah kalian. Walau demikian, do'a terindah teruntuk pernikahan kalian, semoga selalu bahagia dengan dambaan hati kalian. Aamiin.

    Kembali lagi kita melirik secara nasional. Kisaran bulan Juni-Juni, secara nasional memasuki masa panen raya, kita patut berbangga dan acungin jempol pada para petani-petani yang masih setia di garis perjuangan merawat dan memelihara tanaman serta budidayanya. Sebagai salahsatu penghormatan nasional, maka hari ini, 21 Juni diperingati dengan Hari Krida Pertanian. Selamat Hari Krida Pertanian untuk petani Indonesia. Semoga para petani di seluruh Indonesia tahun ini mengalami panen raya yang berlimpah ruah dan hasil panennya mendapatkan keberkahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 21 Juni 2018
    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Keluarga, Sahabat, dan Rakyat Indonesia.

    Menjadi Pemilih Pemerhati Pemilu

    PEWARTAnews.com -- Indonesia saat ini lagi dihadapkan dengan pemilihan serentak tahap ketiga, yakni pada Juni 2018 akan dilaksanakan pilkada di 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Agenda yang sama, sebelumnya juga telah dilakukan pada tahun 2015, menjadi tahun pertama Pilkada serentak  yang berlangsung pada tanggal 9 Desember 2015 di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 36 kota. Selanjutnya Pilkada serentak tahap kedua telah dilaksanakan pada Februari 2017 di 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Kemudian, secara nasional, pilkada serentak akan digelar pada tahun 2027, di 541 daerah. (PresidenRI.co.id)

    Momentum pelaksanaan pemilu, bagi negara yang menganut demorasi adalah menjadi sarana memilih pemimpin (Pemda/Pemkot, Pemprov, dan Presiden) dan wakil rakyat (DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD RI). Ajang Pemilu ini, tentu menjadi perhatian serius bagi kita sebagai pemilih. Menjadi pemilih, pastikan kita terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di masing-masing Kabupaten/Kota yang seterusnya akan dinaikkan statusnya dalam bentuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tingkat provinsi, sehingga secara nasional pun akan dapat diketahui jumlah pemilih yang ditetapkan sah memberikan hak suaranya. Namun, sebelum itu tentu dalam penentuan DPT telah melalui tahapan-tahapan, mulai dari pencocokan dan penelitian (Coklit), kemudian ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Sementara (DPS), setelah di pleno kemudian ditetapkan menjadi DPT pada tingkat kabupaten/kota masing-masing.

    Sebagai masyarakat Indonedia yang sudah ditetapkan sebagai DPT, memilih pemimpin atau anggota legislatif adalah menjadi keharusan. Ini merupakan konsekwensi logis bagi Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi langsung (dipilih oleh dan untuk rakyat). Namun, sebelum berangkat memilih, maka perlu kita menyiapkan persyaratan untuk bisa memilih/menyoblos (tahapan sekarang), yakni membawa E-KTP/Surat keterangan (Suket) dari capil setempat dan surat pemberitahuan waktu dan tempat pemungutan suara (C6-KWK) yang telah dibagikan oleh petugas setempat, yakni Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat Desa/Kampung yang diteruskan ke Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada Desa/Kampung tersebut.

    Setelah persyaratan itu disiapkan, hal lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat sebagai pemilih adalah menentukan siapa yang akan kita pilih. Kaitan dengan ini, ada beberapa yang penulis bisa rekomendasikan untuk pembaca yang budiman, antara lain, Pertama melihat atau memahami visi dan misi pasangan calon. Poin ini akan menjadi perhatian utama bagi kita yang mengingikan masa depan daerah kita masing-masing. Baik dan tidaknya perkembangan daerah tersebut akan bergantung sungguh pada pemimpin yang telah dirumuskan dalam bentuk visi-misi kepemimpinannya.

    Kedua, Membaca atau bertanya mengenai jejak kepemimpinan atau biografi kehidupan calon. Pengalaman selama hidupnya, baik akademik, karir politik, karir organisatoris, dan menejemen kehidupan lain yang memiliki relevansi dengan urusan sosial lainnya juga berpengarus terhadap kepemimpinannya nanti setelah ia menduduki posisi kepemimpinan dan atau menjadi wakil rakyat karena berhasil tidaknya seseorang bergantung sungguh juga dari kebiasaan baiknya selama ia belum menjabat atau setelah menjabat bagi yang menghendaki maju untuk kedua kalinya pada posisi tertentu/jabatan politik lain.

    Ketiga, memperhatikan apakah bermain uang atau tidak. Jika diketahui calon tersebut bermain uang dalam berkampanye, terutama memberikan langsung dalam bentuk nominal dan atau barang serta dalam bentuk bantuan untuk pembangunan supaya dirinya dipilih maka, tindakan seperti ini dapat disebut sebagai politik perut atau dengan istilah lain, yakni politik uang (money politics). Hal demikian, sungguh berbahaya bagi demokrasi kita karena bisa saja dengan taktik itu dapat mencederai kemurnian hati pemilih sehingga mempengaruhi idealisme pemilih itu sendiri. Di sisi lain, politik perut ini juga ada indikasi mencerminkan kepemimpinan yang tidak bersih karena bisa saja seseorang yang sudah menghabiskan uangnya, apalagi dalam bentuk miliaran, maka kemungkinan akan memikirkan bagaimana uang itu kembali. Pertanyaannya, apakah hanya mengembalikan uangnya yang sudah terpakai saat kampanye? Jawabannya, kembali kepada pembaca yang budiman.

    Keempat, memilih pemimpin yang seaqidah. Ini perlu menjadi perhatian, apabila dari berbagai calon terdapat yang berbeda agama, maka pilih yang sesama agama karena kita tidak paham bagaimana kriteria menjalankan roda kepemimpinan berdasarkan ajaran agama mereka atau pengaturan sosial kemasyarakatan, perekonomian, dan perpolitikan mereka. Akan tetapi, jika semuanya beragama yang beda keyakinan dengan pemilih, maka carilah yang lebih baik dari sekian calon yang ada. Begitu juga yang sekeyakinan dengan pemilih, maka pilihlah yang paling baik di antara mereka. Hal demikian ditegaskan oleh Syaikh Yusuf Qardhawi menuliskan, "Setidaknya ada tiga cara dalam mempertimbangkan pilihan: (1) Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. (2) Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. (3) Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

    Kelima, jika terasa bimbang, dalam pandangan pembaca, misalkan semuanya baik atau semuanya buruk, maka shalat istikharah politiklah agar mendapatkan petunjuk mengenai siapa yang layak dipilih (seperti ungkapan Abdul Somad). Jangan karena semuanya tidak baik bagi pemilih lalu memutuskan untuk golput, sebab orang di luaran sana, baik yang seaqidah maupun yang sesama punya kebiasaan/niat jahat akan memenangkan Pemilu, yang mana akibatnya akan terjadi sesuatu yang mungkin banyak kebijakannya tidak cocok dengan pemilih tersebut atau pemilih lain pada umumnya sehingga mengakibatkan kehidupan sosial-keagamaan, sosial-ekonomi, dan sosial-politik tidak berjalan kondusif.

    Apabila pemilih mendapatkan calon yang terbukti mengecewakan dari berbagai calon yang ada, baik dari Capres, Cagub, Cabup/Cawakot, dan wakil rakyat yang calon DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD RI, maka sebaiknya mempertimbangkan saran dari Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil., menjelaskan, "Jika Anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau Parpol Islam. Itu hak Anda, tetapi ingat, jika Anda dan jutaan yang lain tidak ikut Pemilu, maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan".

    Masing-masing kita mempunyai hak dan kewajiban untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang baik-baik dari yang kita ketahui karena memilih itu juga merupakan persaksian yang kita pertanggungjawabkan di hadapan Yang Kuasa (Abdul Somad dari Syaikh Yusuf Qardhawi). Selain itu juga, supaya menghindari kesempatan atau merajalelanya bakal pemimpin yang tidak adil, mementingkan diri sendiri, dan tidak pandai. Sebab, apabila orang baik diam dan tidak mau memilih, maka akan meraja lela kezaliman. Pernyataan demikian, sebenarnya telah lama dipesankan oleh sahabat Nabi Muhammad s.a.w, yakni Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.” Hal serupa juga muncul dari Recep Toyyib Erdogan, menuliskan, "Jika orang baik tidak ikut terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya".

    Jadilah pemilih yang cerdas, bersih dari money politics, tidak terlalu terobsesi akan tawaran jabatan atau berharap akan jabatan, dan pemilih yang tidak memandang karena dia adalah orang yang dekat dengannya (padahal dia kurang bagus) sedangkan yang lain sudah terbukti. Wallahu a'lam bisshowab.



    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Idul Fitri adalah Momentum untuk Saling Membahagiakan dan Mempererat Persaudaraan

    KH. Ahmad Ishomuddin
    PEWARTAnews.com -- Tidak terasa, Ramadlan yang penuh berkah telah berlalu dan kini hari raya idul fitri (lebaran) telah tiba. Bukan hanya umat Islam yang menjadi sibuk oleh segala tradisi berlebaran itu, melainkan juga non muslim yang terlihat ikut bergembira dan dengan suka rela mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Itulah ciri khas budaya kita yang lebih mengedepankan rasa persaudaraan dan menghindarkan segala yang berpotensi merusakkannya.

    Baik muslim maupun non muslim terlihat berbaur sangat akur, tanpa rasa permusuhan dan saling berinteraksi (ber-muamalah) secara baik-baik di pasar-pasar tradisional hingga mall-mall yang penuh sesak sejak awal Ramadlan hingga menjelang lebaran dan setelahnya. Para pedagang menangguk keuntungan dari para pembeli yang berjubel mengantri. Rumah-rumah mereka pun dibersihkan, dicat ulang, dirapikan, dihiasi dan bahkan pembangunannya segera dituntaskan sekedar untuk menyambut lebaran itu. Jalan-jalan raya, pelabuhan-pelabuhan laut dan bandar-bandar udara pun dipenuhi oleh para pemudik. Ada banyak aktifitas lain dilakukan seperti mempersiapkan kue-kue lebaran dengan membuatnya sendiri dan atau membelinya. Para orang tua yang berkemampuan pun disibukkan memilih dan membelikan beragam pakaian untuk anak-anak mereka dan untuk diri mereka sendiri agar tampil pantas dan wajar saat saling bertemu, bertamu, atau menerima tamu.   

    Banyak juga di antara kita yang berbagi hadiah-hadiah lebaran seperti parcel atau THR dan zakat fitrah. Nabi pernah berpesan, "saling berbagi hadiah lah, agar kalian bisa saling mencintai." Pendek kata pada hari lebaran semuanya harus ikut bergembira, bersuka cita, dan tidak boleh ada saudara-saudara  kita yang bersedih dan menderita pada hari raya. "Pada harta orang-orang kaya itu ada kewajiban yang dimaklumi untuk diberikan kepada orang yang (berani) memintanya (karena sangat membutuhkan) dan orang yang membutuhkan namun tidak memintanya (karena menjaga kehormatan)." Demikian disebutkan dalam firman Allah. Sedangkan Rasulullah SAW pun berpesan kepada kita "cukupilah mereka (kaum fakir-miskin) agar mereka tidak meminta-minta pada hari raya." Demikian pesan Rasulullah kepada kita semua.

    Siapa yang bisa melaksanakan kewajiban berbagi atau memberi hendaklah dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin puja-puji, dan  jangan pernah menyombongkan diri, sedangkan siapa saja yang menerima apa yang menjadi haknya jangan pula berkecil hati, merasa hina dan rendah diri. Orang-orang  yang dianugerahi kelapangan rizki wajib bersyukur antara lain dengan cara berbagi atau bersedekah, sedangkan mereka yang sempit dan sangat terbatas rizkinya wajib bersabar dan tidak perlu iri dengki. Bila saja orang-orang kaya memerhatikan nasib kaum yang miskin, niscaya harta benda bahkan nyawa mereka akan aman dan kejahatan tidak merajalela. Siapa saja yang belum mampu bersedekah dengan hartanya, hendaklah is bersedekah dengan ucapan dan sikap baiknya. Memasukkan rasa gembira ke dalam hati orang yang beriman adalah sedekah. Tersenyum di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Meringankan bebannya dengan akal pikiran atau tenagamu juga merupakan sedekah. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada mereka juga menjadi sedekah.

    Selain itu, telah sejak lama mentradisi di negeri kita, bahwa berlebaran adalah momentum untuk halal bi halal yang biasanya diisi dengan aktifitas saling bersilaturrahmi, saling kunjung mengunjungi, saling maaf memaafkan, dan yang tidak boleh terlewatkan adalah untuk saling membahagiakan. Meskipun semua itu bisa saja dilakukan pada selain hari lebaran.

    Meski dalam berlebaran itu telah mentradisi bahwa yang muda mengunjungi yang tua sebagai bentuk penghormatan, namun juga tidak ada salahnya bila sesekali yang  tua atau yang dituakan "sedikit mengalah" mengunjungi yang muda sebagai perwujudan rasa kasih sayang. Siapa yang tidak datang maka jika sempat datangi saja. Dalam membangun persaudaraan  maka sikap "saling" tersebut harus terus dijaga. Jangan seperti Ka'bah di Makkah yang selalu mau dikunjungi namun tidak pernah mau mengunjungi.

    Berlebaran dalam suasana liburan harus diisi dengan kegiatan-kegiatan positif. Perjumpaan dengan orang lain harus diisi dengan aktifitas untuk berpesan mengenai tiga hal,  yakni saling nasehat menasehati untuk melaksanakan kebenaran (tawashau bil-haqqi), bersabar (tawashau bish-shobri) dan menebarkan sikap saling menyayangi (tawashau bil-marhamah). Dalam perjumpaan dengan setiap orang pada hari raya atau pada saat lainnya hendaklah kita menjaga lidah dari menyakiti perasaan orang lain dan menahan diri dari apa saja yang merugikan atau membahayakan orang lain.  Allah telah memerintahkan kepada kita "berkatalah kalian kepada manusia dengan perkataan yang baik." Sehingga tidak patut kiranya jika momen lebaran digunakan untuk kegiatan negatif seperti menggunjing, marah-marah, menebar kebencian, memfitnah, mengadu domba dan lain-lain berupa maksiat kepada Allah atau merugikan orang lain. Tidak ada kebajikan dalam ucapan manusia kecuali yang berisi perintah untuk bersedekah, perintah berbuat baik, atau untuk mendamaikan orang-orang yang berselisih.

    Saat berlebaran adalah sebagaimana saat lainnya, bukan momentum untuk memamerkan segala yang dipunyai dan bukan pula waktu untuk  menonjolkan diri,  dan bukan saat untuk merasa lebih dalam segalanya dari orang lain. Sepanjang hayat harus ada kesadaran diri bahwa "banyak orang melebihi kita". Seseorang hanya bisa menghormati orang lain jika ia telah memiliki sifat rendah hati, menyadari sepenuh hati bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dan  jauh dari segala sifat kesempurnaan.

    Sebaliknya, setelah berakhirnya ibadah puasa Ramadlan kita berkewajiban untuk menjadi manusia yang mulia di sisi Allah dan merasa hina di hadapan manusia lain. Pandang lah orang lain  dengan  pandangan penuh penghormatan, tanpa diskriminasi,  dan dengan rasa kasih sayang karena banyaknya kekurangan dalam diri kita, dan jangan memandang  orang lain dengan pandangan yang menghinakan atau penuh kebencian karena pada diri mereka ada banyak kelebihan yang mungkin saja tidak ada pada diri kita. Terhadap orang yang dikenal jahat pun kita perlu bersikap baik, apalagi terhadap orang baik-baik. Rasanya tidak ada penjahat yang sama sekali tidak pernah berbuat baik dan sebaliknya tidak ada orang baik yang tidak pernah berbuat salah. Semoga momentum idul fitri menjadikan kita semua berbahagia, membahagiakan orang lain,  dan lebih mempererat persaudaraan antara sesama warga bangsa ini.


    Penulis: K.H. Ahmad Ishomuddin, M.Ag.
    Rais Syuriah PBNU

    Bupati Bima Melantik Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, melantik Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta.

    Merenungi Momentum Perayaan Satu Syawal 1439 H

    PEWARTAnews.com -- Umat muslim Indonesia baru saja merayakan hari kemenangannya di bulan ramadhan pada 1 Syawal 1439 H yang jatuhnya bersamaan dengan hari Jum'at, 15 Juni 2018 M. Hari kemenangan ini oleh umat muslim dianggap sebagai hari kembali fitrahnya umat manusia berdasarkan literatur umat Islam yang di dalamnya telah dijanjikan oleh Allah setelah satu bulan penuh menjalankan perintah-Nya berupa puasa dan ibadah wajib serta sunah lainnya dalam bulan ramadhan.

    Momentum ini tidak ada satu orang pun yang tidak merasa bahagia atas kehadiran 1 Syawal, apabila dilihat dari esensinya oleh mereka yang telah menganggap dan meyakininya dengan penuh keyakinan. Betapa bahagiannya mereka dalam menyambut hari itu. Kebahagiaan tersebut, terkadang tidak terbendungi. Hal demikian terjadi, bukan karena mereka dapat bertemu, bersilaturrahmi, dan berkumpul bersama keluargannya saja, melainkan puncak pengorbanan dan jihatnya dalam memerangi hawa nafsunya untuk membentengi diri dari berbagai hal yang dapat mengurangi ridha-Nya dalam prosesi ibadah puasa telah berhasil ia maksimalkan.

    Pemahaman satu Syawal itu sebenarnya bukan satu-satunya momentum untuk saling berjabat tangan ataupun menelpon dalam rangka meraih pengguguran atas kekhilafan atau salah dan dosa yang telah diperbuat terhadap sesama manusia yang terlanjur terlampiaskan terhadap tindakan asbab dari munculnya kesalahan atau dosa terhadap mereka. Tetapi, tindakan yang sebenarnya bahwa kekeliruan dan dosa, baik yang disengaja maupun tidak, itu lazimnya tidak menunggu momen tahunan, melainkan kapan waktu dari tindakan yang menyakitkan atau mengganggu perasaan itu terjadi. Baiknya adalah ketika kita langsung merendahkan ego untuk meraih secepat mungkin permaafan dari mereka. Hal demikian harus menjadi perhatian serius bagi kita, sebab ajal yang menjemput tidak pernah ada yang tahu, apakah masih dalam hitungan tahun, bulan, minggu, maupun hari kehadirannya dalam menjemput diri kita. Sebaliknya, akan menjadi aneh apabila, khilaf dan dosa itu diundur-undur sampai berminggu-mimggu atau berbulan-bulan. Pertanyaannya, apakah kita mengetahui jadwal penjemputan oleh malaikat pencabut nyawa?

    Tetapi, karena satu Syawal sudah menjadi tradisi umat Islam Indonesia, maka tidak mengapa hal maaf-memaafkan itu dilangsungkan, yang terpenting bagi kita, tidak menjadikan tradisi tahunan untuk menggugurkan salah atau khilaf kita terhadap sesama muslim atau manusia secara umum. Mari, kita sama-sama menyadari bahwa satu Syawal, bukanlah semata untuk meraih pemaafan, melainkan pada saat ini adalah penuh dengan ucapan selamat antarsesama muslim bahwa kemenangan telah diraih olehnya sebagai puncak dari satu bulan penuh atas puasa dan amal ibadah lain yang telah dimaksimalkannya dengan mengikuti prosedur dari Allah dan Rasulullah.

    Mari kita saling memaafkan antar satu sama lain, dengan tidak lagi ada kerikil pengganjal satu pun dalam diri kita sehingga peluang kesucian bagi saudara-saudara kita sangat terbuka. Kemudian, tidak lupa juga bagi kita, dari kebiasaan yang baik-baik pada prosesi puasa kita yang baru saja kita lewati, untuk kita terus menjaga dan bila mungkin dan sanggup, kita tingkatkan hal itu, seperti bacaan Qur'an, salat taraweh (salat malam/tahajud), sedekah, infak, dan senang berbagi antarsesama.

    Akhirnya, semoga Allah meridhai semua amal ibadah yang kita jalankan mulai dari awal sampai akhir ramadhan dan kefitrahan yang dijanjikan mudah-mudahan dapat kita raih sebagai salah satu hadiah dari-Nya (Bagi yang sungguh-sunggu menjalankan ibadah puasannya). Mari, kita sama-sama tingkatkan amal ibadah kita kemudian kita berharap agar bulan ramadhan berikutnya kembali bertemu lagi dengan kita.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Semoga Kita Kembali Fitrah.


    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Ta’lilul Ahkam: Definisi dan Aplikasi (Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at, Isbal Celana/Sarung dan Janggot Panjang)

    Wawan Gunawan Abdul Wahid. 
    Definisi

    Diantara satu kaedah yang perlu diperhatikan dalam penetapan hukum Islam adalah ketentuan ta’lilul ahkam. Ta’ill ahkam pada intinya menyatakan bahwa hukum-hukum itu ditetap dengan sebab yang menyertainya jika sebab yang menyertai hukum itu ada maka ketentuan dalam hukum itu dipraktekan. Jika sebab yang menyertai adanya hukum itu tidak ada maka ketentuannya tidak diterapkan. Aljukmu yaduuru ma’a ‘illatihu wujudan wa ‘adaman.

    Aplikasi:
    1. Tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Hadis-hadis terkait keringanan untuk tidak tunaikan shalat jumat dan diganti dengan shalat zhuhur manakala idul fithri atau idul adlha bertepatan dnegan hari jumat dibaca secara seksama mengacu pada sebab jarak antara rumah para shahabat dengan masjid Nabi saw dan lapangan yang dijadikan tempat shalat hari begitu jauhnya. Saat shalat shaat hari raya telah ditunaikan, Rasulullah sarankan kepada mereka yang rumahnya berjarak jauh dari masjid dan lapangan shalat id, untuk sementara tidak langsung pulang ke rumahnya. Mereka disarankan untuk menunggu shalat jumat. Sementara kepada mereka yang tetap memilih pulang Rasulullah berikan izin untuk tidak tunaikan shalat jum’at.

    Saat ini jarak antara rumah dengan masjid untuk tunaikan shalat jumat, dan jarak antara rumah dengan pilihan lapangan untuk shalat hari raya relative dekat. Bahkan ketika begitu berjarak relative jauh pun ada kendaraan yang dapat antarkan kedua tempat yang mulia itu. Kerana itu alasan untuk keringanan tidak tunaikan shalat jum’at zaman kiwari nyaris tidak ada. Kerana itu pula tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Natijahnya pada saat hari raa bertepatan dengan hari jumat pilihan utamanya adalah tunaikan shalat jumat.

    2. Larangan berisbal memanjangkan celana dan sarung hingga mata kaki itu jika disertai dengan motivas kesombongan. Jika itu dilakukan semata-mata sebagai pilihan keikhlasan sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq melakukannya maka larangan itu tidak ada.

    3. Janggot panjang itu dianjurkan  Nabi saw untuk tujuan berbeda dengan non Muslim saat Mobilisasi Perang. Sebutlah itu sebagai jaggot ideologis. Peperangan mana yang diikuti oleh seorang Muslim sehingga mengharuskannya untuk memanjangkan janggotnya. Pada saat yang sama tidak sedikit yang berjenggot panjang itu adalah saudara-saudara kita yang non Muslim. Kerana itu saat Muslim kini memilih untuk berjenggot hendaknya niatnya tidak sebagai janggot ideologis pembeda dari non Muslim. Pilihan terbaik saat ini adalah berjanggot untuk keindahan. Sebutlah itu sebagai janggot asesoris. Janggot yang menambah keindahan tampilan. Innallaha jamilun yuhibbul jamaala;


    Penulis: Wawan Gunawan Abdul Wahid
    Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

    Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia yang Hanif

    PEWARTAnews.com -- Mengapa ayat Rabbana laa tuakhidznaa in nasiinaa au akhta’na memakai redaksi “au” bukan “wa”? Tanya Prof. Dr. KH. Muhammad Chirzin, M.Ag saat dalam perkuliahan Ma’anil Qur’an semester 3 yang lalu di IAT Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semua mahasiswa terdiam, dengan nada lirih beliau berkata ayat tersebut mengandung makna psikologi yang amat sangat dalam. Faktanya, manusia sering berbuat salah dan lupa. Tapi, Allah berkenan membesarkan hati kita seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat karena kesalahan atau kelupaan kita.

    Dalam ayat yang lain dalam redaksi fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah/lupa) akan tetapi disisi lain manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al-Qur'an mengatakan manusia dengan ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
    1. Potensi beragama (+)
    2. Potensi akal  (+)
    3. Potensi fisik (+)
    4. Potensi Nafsu (+ dan -)

    Potensi nafsu memiliki sisi positif dan negatif : Yang pertama ialah, Muthmainnah yang merupakan nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan berusaha menjadi yang terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan perdamaian dengan hati, diri sendiri maupun orang lain. Pun begitupula dengan hatinya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan mengingat Allah, maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus di manifestasikan dalam tindakan nyata sebagai wujud ketaqwaan kepada-Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dan lain-lain. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika kita mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insya Allah hati akan merasa tenang dan nyaman.

    Yang kedua adalah nafsu Waswasah yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisannya. Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah lisan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Jika tidak bisa berbicara baik, maka diam lah”. Diam merupakan kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan kita bersama.

    Yang ketiga adalah nafsu Lawwamah yakni Nafsu yang mendorong manusia berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindarinya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsunya dengan baik.

    Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dari segala aspek dan dimensinya dengan mengaungrahinya akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia memiliki titik pembeda dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Berbeda dengan manusia yang hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah menuju kehadirat Nya dengan jalan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al-Qur'an.

    Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi. Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman-Nya : "wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna" (Qs. Al A’raf ayat 79).

    Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam mengarungi kehidupan. Allah memberikan hati, agar manusia peka terhadap realitas sosial dengan dapat memahami dan merasakan keadaan orang yang berada dibawah-nya. Dengan mata, agar mampu melihat karunia dan ciptaan-Nya yang luar biasa. Dan dengan telinga, agar mampu mendengar jerit tangis orang-orang yang teraniyaya dan terdzalimi karena di rampas hak-hak hidupnya.

    Adapun relevansinya dengan makna puasa ialah, tak lain agar dapat merasakan betapa perihnya orang yang kekurangan makanan, menahan diri dari sesuatu yang secara dzahir terlihat indah nan mempesona. Seperti kata guru spiritual saya, Mr. Radino Fernando, puasa itu belajar mati. Meskipun di iming-imingi sesuatu yang menggoda di depan mata, namun tidak akan tertarik untuk mencicipinya.

    Seusai bulan Ramadhan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada manusia untuk berzakat. Mensucikan diri dari segala kotoran baik dzahir maupun batin. Serta mengasah kepedulian terhadap sesama dengan menyantuni fakir miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

    Dengan demikian, mari kembalikan diri kepada Fitrah sejati manusia yang suci dan hanif untuk menuju insan paripurna dengan melepas segala hal yang membelenggu dalam hati, jiwa dan akal pikiran kita. Harus disadari bahwa seperti apapun manusia, tentu pernah berbuat salah dan khilaf kepada orang lain, sehingga harus saling memohon maaf dan memaafkan. Kerena  kedua hal tersebut merupakan wujud kasih sayang dan manifestasi hati yang mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, sehingga menyadari diri bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa. Bukan-kah "innal insana mahaalul khata'i wa nisyan"? Tak lain karena manusia ialah human being.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    NOL

    M. Kholid Syeirazi.
    PEWARTAnews.com -- Banyak orang sudah datang ke Israel, bicara baik-baik dengan politisi, pemuka agama, dan NGO baik yang pro maupun kontra-zionisme untuk mengusahakan perdamaian dengan Palestina—hasilnya NOL.

    Banyak juga yang sudah datang ke Palestina bawa uang, menggotong senjata, bertempur dan terbunuh, entah sudah beratus, beribu, atau beratus ribu nyawa melayang—hasilnya juga NOL.

    Hampir tidak ada kemajuan apa pun, dari saya kecil sampai beranak-pinak dan entah sampai kapan, terkait prospek perdamaian di kawasan itu. Situasinya seperti buntu.

    Saya kira sebagian besar kita, termasuk saya, menganggap Israel bangsa agresor yang dipimpin politisi zionis yang tidak mau berbagi tempat dengan Palestina. Di sisi lain, pejuang kemerdekaan Palestina terbelah. Hamas (حركة المقاومة الاسلامية), faksi terkuat selain Fatah (حركة التحرير الوطني الفلسطني), juga ngotot tidak mau berbagi tempat dengan Israel, mengabaikan fakta bahwa negeri itu telah menjelma menjadi raksasa militer dan ekonomi dengan jaringan lobi terkuat di dunia. Apa mungkin mengusir Israel dari tanah yang telah diklaimnya dan memindahkannya ke kawasan antah berantah? Kalau mungkin, mau dipindah kemana? Kalau seluruh dunia bersatu, dan ini agaknya mustahil, apa Israel mau? Mereka mengkoloni daerah itu karena klaim teologis dan historis tentang Tanah Israel (Eretz Yisrael) yang dijanjikan Tuhan di sebuah bekas wilayah Kerajaan Yehuda kuno.

    Israel menjadi bangsa kuat karena ketakutan dan ancaman. Mereka pernah diaspora, hidup terlunta-lunta tanpa tanah air, diusir Firaun dan diburu Hitler, mengalami Holocaust, dan nyaris punah karena sentimen anti-semit yang meluas di Eropa. Berkat Deklarasi Balfour 1917 dan Mandat Britania atas Palestina 1922, mereka kembali ke tempat yang disangka menjadi tanah yang dijanjikan. Mereka bahkan tidak peduli bahwa di situ telah tinggal bangsa lain yang menetap turun temurun, punya hak hidup sebagai bangsa merdeka: Palestina.

    Perjanjian Oslo 1993 menyepakati solusi dua negara, tetapi tidak gampang. Perjanjian ini diteken di bawah otoritas PLO/Fatah dengan Israel, tetapi ditolak Hamas. Hamas ingin mendirikan Palestina berdasarkan Islam, PLO/Fatah berhaluan nasionalis sekuler. Fatah mengakui negara Israel, Hamas menolak. Hamas ingin Israel terhapus dari peta dunia. Hamas dan Fatah terkunci dalam perang saudara (صراع الأخوة ) pada 2006. Sejak saat itu, Hamas menguasai Gaza, Fatah menguasai Tepi Barat. Fatah yang kompromis dan setuju solusi dua negara dalam  rangka peaceful co-existence juga gamang terkait status Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Seluruh faksi ingin tiga wilayah itu menjadi bagian tak terpisah dari negara Palestina merdeka. Situasinya menjadi buntu karena Israel juga telah menetapkan Jerusalem sebagai Ibu Kota yang tak terbagi.

    Siapa pun tidak punya kemampuan menerobos kebuntuan ini. Andaikata kita demo tiap hari mengutuk Israel, Israel tidak akan mundur. Andaikata kita ikut memanggul senjata dan jihad bersama Hamas, itu hanya jalan pintas menambah daftar korban nyawa. Harus dicatat, Israel adalah negara kecil dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Setiap kali Hamas menembakkan roket, Israel akan membalasnya dengan lebih sadis dan brutal. Melawan Israel dengan kekerasan hanya menambah jumlah korban nyawa, termasuk warga sipil yang tidak berdosa. Andaikata kita pakai jalur ekonomi dengan memboikot produk-produk Israel, ini juga tidak akan benar-benar efektif selagi Amerika di belakang mereka. Kita juga tahu, produk-produk Israel dan Yahudi telah menyusup banyak dalam kehidupan manusia zaman now.

    Sekarang kita rame-rame mencaci maki Gus Yahya C. Staquf karena mendatangi Israel tetapi tidak menyinggung isu Palestina. Andaikata Gus Yahya ngomong berbuih-buih soal Palestina, apa Israel bergeming? Apa tiba-tiba orang-orang zionis jadi lebih welas asih dan ingin hidup damai dengan menyerahkan Jerusalem kepada rakyat Palestina? Never!

    Politik LN RI sudah tegas, mendukung kemerdekaan Palestina dengan Jerusalem sebagai Ibu Kota. Apa yang kita lakukan sudah benar, meski kita tahu hasilnya NOL. Kita ibarat semut di zaman Namrudz. Dia menadah air dan menampungnya untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim. Ketika dicela bahwa perbuatan itu sia-sia, semut menjawab: “Aku tahu perbuatanku tidak berguna, tetapi aku perlu tunjukkan kepada siapa aku berpihak.”

    Sampai saat ini, dan entah sampai kapan, konflik Palestina-Israel belum akan selesai. Apakah ini kutukan sejarah karena di tempat itu dulu tertumpah darah para Nabi dan Rasul? Wallahu a’lam. Segala jurus sudah ditempuh, dari diplomasi damai hingga moncong senapan. Dua-duanya hasilnya NOL! Saya kira Gus Yahya tahu. Beliau tidak akan mampu mengubah peta. Dugaan saya, beliau cuma ingin kirim pesan: meskipun sampai saat ini belum ada hasilnya, dialog, negosiasi, diplomasi harus tetap berdiri di depan dalam menyelesaikan konflik ketimbang kekerasan. Masa depan peradaban manusia terletak dalam dialog di mimbar nalar, bukan kekerasan di ujung senapan!


    Penulis: M Kholid Syeirazi
    Sekretaris Jenderal PP Ikatan Sarjana NU, Direktur Eksekutif Center for Energy Policy

    Sumber: Personal Facebook M Kholid Syeirazi

    Memahami Pesan Rahmah KH Yahya Cholil Staquf

    Sisi lain. Dari sudut pandang yang berbeda.

    Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sebagai pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yang memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!

    Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yang bisa dimainkan oleh Kiai, NU dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yang melampaui keadilan yang diperebutkan dan perdamaian yang dipertarungkan, yaitu pesan Rahmah.

    Rahmah tidak hanya menuntut tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yang bertikai.

    Betapa sering kita menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa Rahmah, kita hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yang menohok.

    Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah anda juga memberi keadilan pada pihak lain.

    Pahamkah anda apa yang dituju Kiai Yahya?

    Pesan Rahmah disampaikan dengan cara yang Rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yg bertikai, tapi semua yang paham bisa merasakan pembelaan yang jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

    Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah Rahmah!

    ‘I stand with palestine’ dimaknai lewat pesan Rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri” karena pesan Rahmah disampaikan dengan kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina bukan karena membenci Israel, tapi karena perwujudan Rahmah. Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!

    Dunia telah melihat seorang Kiai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerussalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep Rahmah yg merangkul, bukan memukul.

    Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit.

    Peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus untuk menyampaikan pesan Rahmah. Sebelumnya Kiai Yahya sudah ke gedung putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerussalem, tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia.

    Anda boleh tidak setuju dengan apa yang dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan Rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi ada di sana saat pesan Rahmah itu diucapkan Kiai Yahya.

    “Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

    Setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan Rahmah yang telah diajarkan Nabi, sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad.

    Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU dan Indonesia.

    Pesan langit sdh disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sudah beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yang paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bershalawat pada Kanjeng Nabi.

    Mari kita terus sampaikan pesan Rahmah ini🙏

    Tabik,


    Penulis: Prof. Nadirsyah Hosen
    Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
    Australia - New Zealand

    FIMNY Gelar Buka Puasa Bersama Warga Bima di Yogyakarta

    Suasana Bukber FIMNY (11/06/2018).

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Indahnya bersilaturrahim dan berbagi. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan juga bulan penuh berkah. Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa, tinggal beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan suci ramadhan 1439 Hijriah. Momentum yang mulia ini, dimanfaatkan juga oleh keluarga besar Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) untuk bersilaturrahim dan buka puasa bersama dengan masyarakat Bima yang berada di Yogyakarta, pada hari Senin, 11 Juni 2018 di Aula Asrama Bima Sultan Abdul Kahir Yogyakarta.

    Salahsatu senior FIMNY Ismail, S.H.I., yang biasa dikenal dengan nama Bung Is, mengatakan bahwasannya momentum buka puasa bersama ini digunakan untuk salahsatu ajang silaturrahim dan berbagi canda tawa. "Terimakasih atas kehadiran semuanya. Momen ini digunakan juga untuk FIMNY bersilaturrahim dengan warga asrama dan warga Bima di Yogyakarta. Kami ucapkan terimakasih atas kehadiran semuanya. Mudahan rejeki kita makin ditambah dan selalu berkah," beber Bung Is.

    Lebih lanjut, Bung Is menyampaikan mohon maaf lahir batin dalam momentum ramadhan tahun ini. "Bulan ramadhan penuh berkah. Atasnama pribadi dan atasnama FIMNY kami mengucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan juga selamat menyambut hari raya Idul Fitri," ucap Bung Is.

    Acara bukber terlihat ramai di aula Asrama Bima. Lebih dari 40 orang memadati ruangan Aula. Selain hadir warga Bima yang lain, hadir juga Eks Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta yang juga senior FIMNY M. Jamil, S.H., Pengusaha Bawang Merah mister Dani, Eks Ketua Umum FIMNY Bukhari Muslim, S.Kom., Eks Ketua Umum HMI Insan Cita Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Nurhaidah, Tokoh Asrama Bima Yogyakarta ustad Ikhlas, dan warga Asrama Bima Yogyakarta lainnya. (PEWARTAnews)

    Andai Sekolah Sebagai Tempat Belajar Sastra

    Eka Ilham saat mengajarkan sastra teater pada salahsatu siswanya di Bima NTB.
    "Karya sastra mengajarkan kita tentang bercermin diri, tidak ada yang tersakiti dan menyakiti karena sesungguhnya kita sedang menertawakan diri kita sendiri untuk itu mari kita tertawa bersama-sama" (Eka Ilham)

    PEWARTAnews.com -- Kelas terasa indah dan menarik ketika anak-anak didikku membacakan puisi "Guru Itu Melawan" sebuah kumpulan puisi kesaksian potret dunia pendidikan di negeri ini. Negeri pungli, sang guru, sekolah Petruk dan guru terpencil. Merupakan sederet puisi karya gurunya mereka sendiri mereka bacakan setiap 15 menit sebelum mata pelajaran inti di mulai. Sesering mungkin aku membiasakan murid-muridku untuk membaca karya sastra di setiap mata pelajaran yang aku ajarkan sebagai guru bahasa inggris. Dengan leluasanya dan kejujurannya setiap murid mengekspresikan bait-bait puisi guru itu melawan. Tidak ada ketakutan yang aku lihat di raut wajah murid-muridku, yang ada jiwa-jiwa kritis dan menuturkan kejujuran dari potret pendidikan negeri ini. Suasana kelas seperti zaman revolusi mereka memaknai puisi dengan penuh semangat. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk melantunkan bait-bait puisi guru itu melawan jeritan hati para pendidik dan potret negeri ini.

    Andaikan sekolah-sekolah di negeri ini anak-anak didiknya berpuisi, guru-gurunya berpuisi, kepala sekolah berpuisi, kepala dinas pendidikan berpuisi, menteri pendidikan berpuisi dan presiden pun berpuisi sungguh indah puisi-puisi itu dilantunkan. Kelas serasa tidak membosankan para murid tidak dikekang kreativitasnya, mereka bebas berekspresi dengan kejujurannya masing-masing. Slogan pendidikan karakter sebenarnya ada lewat murid-muridku di desa kecilku ini. Setiap sore mereka mendatangi rumahku hanya sekedar untuk berekspresi melantunkan bait-bait puisiku. Aku menemukan jiwa-jiwa pendidikan yang bebas, mereka bebas mengkritikku sebagai seorang guru, mereka bebas berpendapat kenapa guru itu harus melawan. Pertanyaan-pertanyaa­n muridku membuatku tersadar bahwa sekolah bukan lagi sebagai taman berekspresi bagi mereka tetapi mereka sebagai anak yang patuh pada aturan-aturan kaku yang menyeragamkan mereka.

    Guru adalah 'Tuhan' Guru adalah 'Hakim' Guru adalah 'kumpulan serdadu' yang tidak bisa dibantah dan selalu benar dan murid tidak boleh melawan. Kelas seperti ruang penjara dan penyiksaan bagi anak-anak negeri ini. Aku coba melawan tatanan itu dengan menghadirkan kelas berpuisi dan berdebat bukan hanya disekolah tetapi berbagai ruang tempat dan kreativitas. Faktanya murid-muridku ini mampu memberikan prestasi bagi sekolah mereka. Mereka berhasil meraih prestasi di lomba-lomba dan festival seni budaya tingkat kota dan provinsi. Pada tahun 2017 dinas pendidikan provinsi NTB memberikan kepercayaan kepada sekolahku sebagai sekolah untuk program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) pada khususnya seni teater. Selama tiga bulan siswa melaksanakan latihan teater untuk di pentaskan pada akhir kegiatan GSMS. Betapa antusiasnya peserta didik mengikuti kegiatan ini selama tiga bulan. Pada akhirnya mereka menampilkan sebuah karya pementasan teater yang begitu menakjubkan dengan sebuah cerita masyarakat Bima “Wadu Ntanda Rahi”. Pengalaman yang bersejarah bagi mereka sekali seumur hidup melalui karya sastra.

    Aku ajarkan mereka karya sastra yang merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Aku ajarkan mereka menulis puisi dengan bahasanya, ide, gagasan, pengalaman, dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembacanya dan penikmatnya. Dengan harapan, apa yang disampaikan itu menjadi masukan, sehingga pembaca dan penikmatnya dapat mengambil kesimpulan dan menginterpretasikann­ya sebagai sesuatu yang dapat berguna bagi perkembangan hidupnya. Hal ini membuktikan, bahwa sekolah dan murid-murid dapat bebas berekspresi tampa takut pada aturan-aturan sekolah seperti serdadu. Dengan kalimat lain, puisi memberikan keberanian dan menghilangkan rasa takut. Hal itu bisa terjadi, apabila setiap sekolah memberikan kebebasan berekspresi sesuai dengan keunikan murid-muridnya. Setiap murid punya jiwa seni.

    Aku akan memberikan rangsangan bagi kebebasan yang ada dalam diri murid-muridku, melalui puisi menyajikan kebebasan yang ingin diungkapkan oleh murid-muridku. Itulah sebabnya pada saat-saat tertentu sekolah harus memberikan toleransi yang semakin besar terhadap puisi. Puisi itu mendidik, memperluas pengetahuan tentang kehidupan, meningkatkan kepekaan perasaan, dan membangkitkan kesadaran. Puisi tidak mengajarkan siswa untuk berpura-pura tanpa pamrih, berpura-pura objektif terhadap masalah yang ada di dunia. Puisi memberikan inspirasi bagi murid-muridku untuk menggapai masa depannya.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima


    PP Ulul Albab Silaturrahim dan Beri Santunan Masyarakat Yogyakarta

    Suasana usai santunan PP Ulul Albab Balirejo. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Bulan Ramadhan merupakan bulan berkah dan juga bulan mulia untuk bersilaturrahim dan berbagi kasih sayang sesama insan. Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa, tinggal beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan suci ramadhan 1439 Hijriah. Momentum yang mulia ini, untuk menyambut hari raya Idul Fitri yang tidak begitu lama lagi, dimanfaatkan juga oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta untuk bersilaturrahim, memberikan santunan dan bingkisan lebaran untuk masyarakat Yogyakarta pada hari Minggu, 10 Juni 2018 pukul 12.00-14.00 WIB di Aula lantai 3 Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta.

    Suasana yang begitu bersahabat, kehadiran tamu undangan disambut langsung dengan hangat oleh keluarga Ulul Albab Balirejo, terutama ibu Hj. Arum, S.H., Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn., Dellarious Yubaidi, S.Ked., dan yang lainnya. Terlihat lebih dari 200 masyarakat datang memadati ruangan pertemuan itu.

    Sohibul hajat yang juga sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta H. Ahmad Yubaidi, S.Pd., S.H., M.H., dalam sambutannya, mengucapkan terimakasih yang sesungguhnya atas kehadiran masyarakat untuk memenuhi undangan yang diberikan. "Dengan sepenuh hati, kami ucapkan terimakasih pada ibu-ibu dan bapak-bapak telah meluangkan waktu berharganya untuk memenuhi undangan kami. Seharusnya kami yang datang kerumah untuk menghampiri ibu-ibu dan bapak-bapak, karena dengan kerendahan hati ibu dan bapak, saat ini hadir di tempat kami (PP Ulul Albab). Sekali lagi kami ucapkan terimakasih," beber Ahmad Yubaidi.

    Ada salahsatu hadits nabi Muhammad SAW, "Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” (Shahiih Al-Bukhari No. 2067). Hal itu juga yang di ungkapkan Ahmad Yubaidi, bahwa pentingnya silaturrahim itu bisa memperluar rezeki dan memanjangkan umur manusia. "Dengan silaturrahim kita dipanjangkan umur serta diluangkan rezeki oleh Allah SWT," ucap Yubaidi.

    Untuk memperlancar acara, hadir sebagai pembawa acara --Master of Ceremonies (MC)-- M. Jamil, S.H. (Ketua Kader Inti Pemuda Anti Narkoba Kota Yogyakarta). Pembaca do'a oleh ustad Wahyudi.

    Selain keluarga besar Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta dan tamu undangan, hadir juga dalam acara tersebut, Komandan Banser NU Kotagede H. Zaidun beserta pasukannya. (PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website