Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Momentum 21 Juni 2018 (Mengenang Bung Karno, HUT Hamdan Zoelva dan Presiden Jokowi, Pernikahan Kerabat dan Sahabat, serta Hari Krida Pertanian)

    Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. dan M. Jamil, S.H.
    PEWARTAnews.com -- Suasana haru biru mencekam, itulah yang dirasakan oleh warga Indonesia saat meninggalnya Presiden Soekarno di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun. Hari ini, tanggal 21 Juni yang juga hari meninggalnya sang putra fajar bung Karno. Jasa-jasanya untuk bangsa ini tidak akan bisa terlupakan sepanjang masa. Lahumul fatihah. Semoga arwahnya ditempatkan pada tempat yang istimewa, dan juga semoga jerih payah perjuangan bung Karno mampu diteruskan oleh pemuda dan kita semua sebagai penerus bangsa. Aamiin.

    Topik berbeda. Kita tahu bersama bahwasannya Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi yang menerapkan teori trias politika. Teori ini untuk pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Trias Politika yang kini banyak diterapkan, salahsatunya di Indonesia, adalah pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif.

    Berbicara Yudikatif, di Indonesia kita kenal salahsatunya Mahkamah Konstitusi (MK). Obrolin seputar MK, pasti kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa menafikkan kontribusi besar yang pernah dilakukan oleh Ketua MK RI keempat 2013-2015 asal Bima NTB yakni Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., hari ini, 21 Juni adalah hari bahagianya, karena pada hari ini adalah Hari Ulang tahunnya. Selamat Ulang Tahun buat pak Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.H., semoga sehat selalu dan terus semangat berkontribusi untuk bangsa ini. Aamiin.

    Usai obrolin Yudikatif. Kita kembali ke Eksekutif. Ranah Eksekutif, sederhananya kita pahami yakni tupoksinya Presiden, Wakil Presiden dan para Menterinya. Obrolin seputar tanggal 21 Juni, ternyata hari ini juga merupakan hari ulang tahun Presiden Joko Widodo. Terlepas dari pro dan kontra dari kontribusi yang telah dilakukan presiden Jokowi, seorang Presiden merupakan salahsatu roh utama dari sebuah negara. Jokowi di pilih secara konstitusi. Jadi sebagai warga Indonesia, sepatutnya bahu membahu, sama-sama berkontribusi dan juga mendukung kontribusi positif yang dipersembahkan pemerintah. Apabila ada kekeliruan dalam menjalankan pemerintahan ini, juga perlu kita ingatkan bersama.

    Terkait taat dan perlunya mendukung pemerintah, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (baca: pemimpin) di antara kamu. ....”. (QS. An-Nisa’ ayat 59). Selain itu, juga telah di anjurkan dalam hadist, sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Mendengar (mematuhi) dan menaati (pemerintah) adalah suatu kewajiban, selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan. .....” (HR. Bukhari: 2738, Muslim: 3423)

    Hal yang lain, entah layak atau tidaknya Presiden Jokowi melanjutkan estafet kepemimpinannya, biarlah seluruh rakyat Indonesia menentukannya sendiri pada tahun 2019 nanti. Selamat Ulang Tahun buat Presiden Joko Widodo, mudahan sehat terus dan tetap selalu tegar dalam memimpin bangsa ini sampai amanah rakyat bersandar secara konstitusi di punggungmu. Aamiin. Semoga jajaran Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif juga terus harmonis dalam menjaga keutuhan bangsa ini. Aamiin.

    Oh iya yach, tahun ini, karena sesuatu dan lain hal yang perlu dituntaskan, jadi saya tidak pulang kampung menikmati liburan ramadhan bersama sanak saudara. Oh iya yach, mengingat-ingat lagi tanggal 21 Juni, saya punya sepupu, Syamsil, S.Pd. namanya. Syamsil baru saja usai melangsungkan akad nikahnya kemarin pada tanggal 20 Juni 2018, hari ini tanggal 21 Juni 2018 sedang merayakan resepsi pernikahannya di lapangan Desa Diha, Kecamatan Belo, Bima, NTB. Saya sangat bahagia mendengar pernikahanmu bro, walau sedikit agak tidak enak juga dalam hati karena tidak bisa menghadiri momen bahagiamu. Selamat berbahagia saudaraku, semoga keberkahan selalu menyertai pernikahanmu. Aamiin.

    Berbicara momentum bahagia dengan hari pernikahan, pada tanggal 21 Juni tahun 2018 ini juga saya melewati hari bahagia serepsi pernikahan teman-teman saya, yakni saudara Samrin yang melangsungkan pernikahannya di Kota Bima, NTB. Di tempat yang berbeda juga ada pernikahan teman saya Munazar yang berlangsung di Sila Kabupaten Bima. Maafkan saya karna tidak bisa melihat langsung momentum terindah kalian. Walau demikian, do'a terindah teruntuk pernikahan kalian, semoga selalu bahagia dengan dambaan hati kalian. Aamiin.

    Kembali lagi kita melirik secara nasional. Kisaran bulan Juni-Juni, secara nasional memasuki masa panen raya, kita patut berbangga dan acungin jempol pada para petani-petani yang masih setia di garis perjuangan merawat dan memelihara tanaman serta budidayanya. Sebagai salahsatu penghormatan nasional, maka hari ini, 21 Juni diperingati dengan Hari Krida Pertanian. Selamat Hari Krida Pertanian untuk petani Indonesia. Semoga para petani di seluruh Indonesia tahun ini mengalami panen raya yang berlimpah ruah dan hasil panennya mendapatkan keberkahan. Aamiin.


    Yogyakarta, 21 Juni 2018
    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Keluarga, Sahabat, dan Rakyat Indonesia.

    Menjadi Pemilih Pemerhati Pemilu

    PEWARTAnews.com -- Indonesia saat ini lagi dihadapkan dengan pemilihan serentak tahap ketiga, yakni pada Juni 2018 akan dilaksanakan pilkada di 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Agenda yang sama, sebelumnya juga telah dilakukan pada tahun 2015, menjadi tahun pertama Pilkada serentak  yang berlangsung pada tanggal 9 Desember 2015 di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 36 kota. Selanjutnya Pilkada serentak tahap kedua telah dilaksanakan pada Februari 2017 di 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Kemudian, secara nasional, pilkada serentak akan digelar pada tahun 2027, di 541 daerah. (PresidenRI.co.id)

    Momentum pelaksanaan pemilu, bagi negara yang menganut demorasi adalah menjadi sarana memilih pemimpin (Pemda/Pemkot, Pemprov, dan Presiden) dan wakil rakyat (DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD RI). Ajang Pemilu ini, tentu menjadi perhatian serius bagi kita sebagai pemilih. Menjadi pemilih, pastikan kita terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di masing-masing Kabupaten/Kota yang seterusnya akan dinaikkan statusnya dalam bentuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) di tingkat provinsi, sehingga secara nasional pun akan dapat diketahui jumlah pemilih yang ditetapkan sah memberikan hak suaranya. Namun, sebelum itu tentu dalam penentuan DPT telah melalui tahapan-tahapan, mulai dari pencocokan dan penelitian (Coklit), kemudian ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Sementara (DPS), setelah di pleno kemudian ditetapkan menjadi DPT pada tingkat kabupaten/kota masing-masing.

    Sebagai masyarakat Indonedia yang sudah ditetapkan sebagai DPT, memilih pemimpin atau anggota legislatif adalah menjadi keharusan. Ini merupakan konsekwensi logis bagi Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi langsung (dipilih oleh dan untuk rakyat). Namun, sebelum berangkat memilih, maka perlu kita menyiapkan persyaratan untuk bisa memilih/menyoblos (tahapan sekarang), yakni membawa E-KTP/Surat keterangan (Suket) dari capil setempat dan surat pemberitahuan waktu dan tempat pemungutan suara (C6-KWK) yang telah dibagikan oleh petugas setempat, yakni Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat Desa/Kampung yang diteruskan ke Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada Desa/Kampung tersebut.

    Setelah persyaratan itu disiapkan, hal lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat sebagai pemilih adalah menentukan siapa yang akan kita pilih. Kaitan dengan ini, ada beberapa yang penulis bisa rekomendasikan untuk pembaca yang budiman, antara lain, Pertama melihat atau memahami visi dan misi pasangan calon. Poin ini akan menjadi perhatian utama bagi kita yang mengingikan masa depan daerah kita masing-masing. Baik dan tidaknya perkembangan daerah tersebut akan bergantung sungguh pada pemimpin yang telah dirumuskan dalam bentuk visi-misi kepemimpinannya.

    Kedua, Membaca atau bertanya mengenai jejak kepemimpinan atau biografi kehidupan calon. Pengalaman selama hidupnya, baik akademik, karir politik, karir organisatoris, dan menejemen kehidupan lain yang memiliki relevansi dengan urusan sosial lainnya juga berpengarus terhadap kepemimpinannya nanti setelah ia menduduki posisi kepemimpinan dan atau menjadi wakil rakyat karena berhasil tidaknya seseorang bergantung sungguh juga dari kebiasaan baiknya selama ia belum menjabat atau setelah menjabat bagi yang menghendaki maju untuk kedua kalinya pada posisi tertentu/jabatan politik lain.

    Ketiga, memperhatikan apakah bermain uang atau tidak. Jika diketahui calon tersebut bermain uang dalam berkampanye, terutama memberikan langsung dalam bentuk nominal dan atau barang serta dalam bentuk bantuan untuk pembangunan supaya dirinya dipilih maka, tindakan seperti ini dapat disebut sebagai politik perut atau dengan istilah lain, yakni politik uang (money politics). Hal demikian, sungguh berbahaya bagi demokrasi kita karena bisa saja dengan taktik itu dapat mencederai kemurnian hati pemilih sehingga mempengaruhi idealisme pemilih itu sendiri. Di sisi lain, politik perut ini juga ada indikasi mencerminkan kepemimpinan yang tidak bersih karena bisa saja seseorang yang sudah menghabiskan uangnya, apalagi dalam bentuk miliaran, maka kemungkinan akan memikirkan bagaimana uang itu kembali. Pertanyaannya, apakah hanya mengembalikan uangnya yang sudah terpakai saat kampanye? Jawabannya, kembali kepada pembaca yang budiman.

    Keempat, memilih pemimpin yang seaqidah. Ini perlu menjadi perhatian, apabila dari berbagai calon terdapat yang berbeda agama, maka pilih yang sesama agama karena kita tidak paham bagaimana kriteria menjalankan roda kepemimpinan berdasarkan ajaran agama mereka atau pengaturan sosial kemasyarakatan, perekonomian, dan perpolitikan mereka. Akan tetapi, jika semuanya beragama yang beda keyakinan dengan pemilih, maka carilah yang lebih baik dari sekian calon yang ada. Begitu juga yang sekeyakinan dengan pemilih, maka pilihlah yang paling baik di antara mereka. Hal demikian ditegaskan oleh Syaikh Yusuf Qardhawi menuliskan, "Setidaknya ada tiga cara dalam mempertimbangkan pilihan: (1) Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. (2) Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. (3) Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

    Kelima, jika terasa bimbang, dalam pandangan pembaca, misalkan semuanya baik atau semuanya buruk, maka shalat istikharah politiklah agar mendapatkan petunjuk mengenai siapa yang layak dipilih (seperti ungkapan Abdul Somad). Jangan karena semuanya tidak baik bagi pemilih lalu memutuskan untuk golput, sebab orang di luaran sana, baik yang seaqidah maupun yang sesama punya kebiasaan/niat jahat akan memenangkan Pemilu, yang mana akibatnya akan terjadi sesuatu yang mungkin banyak kebijakannya tidak cocok dengan pemilih tersebut atau pemilih lain pada umumnya sehingga mengakibatkan kehidupan sosial-keagamaan, sosial-ekonomi, dan sosial-politik tidak berjalan kondusif.

    Apabila pemilih mendapatkan calon yang terbukti mengecewakan dari berbagai calon yang ada, baik dari Capres, Cagub, Cabup/Cawakot, dan wakil rakyat yang calon DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD RI, maka sebaiknya mempertimbangkan saran dari Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil., menjelaskan, "Jika Anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau Parpol Islam. Itu hak Anda, tetapi ingat, jika Anda dan jutaan yang lain tidak ikut Pemilu, maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan".

    Masing-masing kita mempunyai hak dan kewajiban untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang baik-baik dari yang kita ketahui karena memilih itu juga merupakan persaksian yang kita pertanggungjawabkan di hadapan Yang Kuasa (Abdul Somad dari Syaikh Yusuf Qardhawi). Selain itu juga, supaya menghindari kesempatan atau merajalelanya bakal pemimpin yang tidak adil, mementingkan diri sendiri, dan tidak pandai. Sebab, apabila orang baik diam dan tidak mau memilih, maka akan meraja lela kezaliman. Pernyataan demikian, sebenarnya telah lama dipesankan oleh sahabat Nabi Muhammad s.a.w, yakni Ali bin Abi Thalib r.a. mengatakan “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.” Hal serupa juga muncul dari Recep Toyyib Erdogan, menuliskan, "Jika orang baik tidak ikut terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya".

    Jadilah pemilih yang cerdas, bersih dari money politics, tidak terlalu terobsesi akan tawaran jabatan atau berharap akan jabatan, dan pemilih yang tidak memandang karena dia adalah orang yang dekat dengannya (padahal dia kurang bagus) sedangkan yang lain sudah terbukti. Wallahu a'lam bisshowab.



    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Idul Fitri adalah Momentum untuk Saling Membahagiakan dan Mempererat Persaudaraan

    KH. Ahmad Ishomuddin
    PEWARTAnews.com -- Tidak terasa, Ramadlan yang penuh berkah telah berlalu dan kini hari raya idul fitri (lebaran) telah tiba. Bukan hanya umat Islam yang menjadi sibuk oleh segala tradisi berlebaran itu, melainkan juga non muslim yang terlihat ikut bergembira dan dengan suka rela mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri. Itulah ciri khas budaya kita yang lebih mengedepankan rasa persaudaraan dan menghindarkan segala yang berpotensi merusakkannya.

    Baik muslim maupun non muslim terlihat berbaur sangat akur, tanpa rasa permusuhan dan saling berinteraksi (ber-muamalah) secara baik-baik di pasar-pasar tradisional hingga mall-mall yang penuh sesak sejak awal Ramadlan hingga menjelang lebaran dan setelahnya. Para pedagang menangguk keuntungan dari para pembeli yang berjubel mengantri. Rumah-rumah mereka pun dibersihkan, dicat ulang, dirapikan, dihiasi dan bahkan pembangunannya segera dituntaskan sekedar untuk menyambut lebaran itu. Jalan-jalan raya, pelabuhan-pelabuhan laut dan bandar-bandar udara pun dipenuhi oleh para pemudik. Ada banyak aktifitas lain dilakukan seperti mempersiapkan kue-kue lebaran dengan membuatnya sendiri dan atau membelinya. Para orang tua yang berkemampuan pun disibukkan memilih dan membelikan beragam pakaian untuk anak-anak mereka dan untuk diri mereka sendiri agar tampil pantas dan wajar saat saling bertemu, bertamu, atau menerima tamu.   

    Banyak juga di antara kita yang berbagi hadiah-hadiah lebaran seperti parcel atau THR dan zakat fitrah. Nabi pernah berpesan, "saling berbagi hadiah lah, agar kalian bisa saling mencintai." Pendek kata pada hari lebaran semuanya harus ikut bergembira, bersuka cita, dan tidak boleh ada saudara-saudara  kita yang bersedih dan menderita pada hari raya. "Pada harta orang-orang kaya itu ada kewajiban yang dimaklumi untuk diberikan kepada orang yang (berani) memintanya (karena sangat membutuhkan) dan orang yang membutuhkan namun tidak memintanya (karena menjaga kehormatan)." Demikian disebutkan dalam firman Allah. Sedangkan Rasulullah SAW pun berpesan kepada kita "cukupilah mereka (kaum fakir-miskin) agar mereka tidak meminta-minta pada hari raya." Demikian pesan Rasulullah kepada kita semua.

    Siapa yang bisa melaksanakan kewajiban berbagi atau memberi hendaklah dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin puja-puji, dan  jangan pernah menyombongkan diri, sedangkan siapa saja yang menerima apa yang menjadi haknya jangan pula berkecil hati, merasa hina dan rendah diri. Orang-orang  yang dianugerahi kelapangan rizki wajib bersyukur antara lain dengan cara berbagi atau bersedekah, sedangkan mereka yang sempit dan sangat terbatas rizkinya wajib bersabar dan tidak perlu iri dengki. Bila saja orang-orang kaya memerhatikan nasib kaum yang miskin, niscaya harta benda bahkan nyawa mereka akan aman dan kejahatan tidak merajalela. Siapa saja yang belum mampu bersedekah dengan hartanya, hendaklah is bersedekah dengan ucapan dan sikap baiknya. Memasukkan rasa gembira ke dalam hati orang yang beriman adalah sedekah. Tersenyum di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Meringankan bebannya dengan akal pikiran atau tenagamu juga merupakan sedekah. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada mereka juga menjadi sedekah.

    Selain itu, telah sejak lama mentradisi di negeri kita, bahwa berlebaran adalah momentum untuk halal bi halal yang biasanya diisi dengan aktifitas saling bersilaturrahmi, saling kunjung mengunjungi, saling maaf memaafkan, dan yang tidak boleh terlewatkan adalah untuk saling membahagiakan. Meskipun semua itu bisa saja dilakukan pada selain hari lebaran.

    Meski dalam berlebaran itu telah mentradisi bahwa yang muda mengunjungi yang tua sebagai bentuk penghormatan, namun juga tidak ada salahnya bila sesekali yang  tua atau yang dituakan "sedikit mengalah" mengunjungi yang muda sebagai perwujudan rasa kasih sayang. Siapa yang tidak datang maka jika sempat datangi saja. Dalam membangun persaudaraan  maka sikap "saling" tersebut harus terus dijaga. Jangan seperti Ka'bah di Makkah yang selalu mau dikunjungi namun tidak pernah mau mengunjungi.

    Berlebaran dalam suasana liburan harus diisi dengan kegiatan-kegiatan positif. Perjumpaan dengan orang lain harus diisi dengan aktifitas untuk berpesan mengenai tiga hal,  yakni saling nasehat menasehati untuk melaksanakan kebenaran (tawashau bil-haqqi), bersabar (tawashau bish-shobri) dan menebarkan sikap saling menyayangi (tawashau bil-marhamah). Dalam perjumpaan dengan setiap orang pada hari raya atau pada saat lainnya hendaklah kita menjaga lidah dari menyakiti perasaan orang lain dan menahan diri dari apa saja yang merugikan atau membahayakan orang lain.  Allah telah memerintahkan kepada kita "berkatalah kalian kepada manusia dengan perkataan yang baik." Sehingga tidak patut kiranya jika momen lebaran digunakan untuk kegiatan negatif seperti menggunjing, marah-marah, menebar kebencian, memfitnah, mengadu domba dan lain-lain berupa maksiat kepada Allah atau merugikan orang lain. Tidak ada kebajikan dalam ucapan manusia kecuali yang berisi perintah untuk bersedekah, perintah berbuat baik, atau untuk mendamaikan orang-orang yang berselisih.

    Saat berlebaran adalah sebagaimana saat lainnya, bukan momentum untuk memamerkan segala yang dipunyai dan bukan pula waktu untuk  menonjolkan diri,  dan bukan saat untuk merasa lebih dalam segalanya dari orang lain. Sepanjang hayat harus ada kesadaran diri bahwa "banyak orang melebihi kita". Seseorang hanya bisa menghormati orang lain jika ia telah memiliki sifat rendah hati, menyadari sepenuh hati bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dan  jauh dari segala sifat kesempurnaan.

    Sebaliknya, setelah berakhirnya ibadah puasa Ramadlan kita berkewajiban untuk menjadi manusia yang mulia di sisi Allah dan merasa hina di hadapan manusia lain. Pandang lah orang lain  dengan  pandangan penuh penghormatan, tanpa diskriminasi,  dan dengan rasa kasih sayang karena banyaknya kekurangan dalam diri kita, dan jangan memandang  orang lain dengan pandangan yang menghinakan atau penuh kebencian karena pada diri mereka ada banyak kelebihan yang mungkin saja tidak ada pada diri kita. Terhadap orang yang dikenal jahat pun kita perlu bersikap baik, apalagi terhadap orang baik-baik. Rasanya tidak ada penjahat yang sama sekali tidak pernah berbuat baik dan sebaliknya tidak ada orang baik yang tidak pernah berbuat salah. Semoga momentum idul fitri menjadikan kita semua berbahagia, membahagiakan orang lain,  dan lebih mempererat persaudaraan antara sesama warga bangsa ini.


    Penulis: K.H. Ahmad Ishomuddin, M.Ag.
    Rais Syuriah PBNU

    Bupati Bima Melantik Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, melantik Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta.

    Merenungi Momentum Perayaan Satu Syawal 1439 H

    PEWARTAnews.com -- Umat muslim Indonesia baru saja merayakan hari kemenangannya di bulan ramadhan pada 1 Syawal 1439 H yang jatuhnya bersamaan dengan hari Jum'at, 15 Juni 2018 M. Hari kemenangan ini oleh umat muslim dianggap sebagai hari kembali fitrahnya umat manusia berdasarkan literatur umat Islam yang di dalamnya telah dijanjikan oleh Allah setelah satu bulan penuh menjalankan perintah-Nya berupa puasa dan ibadah wajib serta sunah lainnya dalam bulan ramadhan.

    Momentum ini tidak ada satu orang pun yang tidak merasa bahagia atas kehadiran 1 Syawal, apabila dilihat dari esensinya oleh mereka yang telah menganggap dan meyakininya dengan penuh keyakinan. Betapa bahagiannya mereka dalam menyambut hari itu. Kebahagiaan tersebut, terkadang tidak terbendungi. Hal demikian terjadi, bukan karena mereka dapat bertemu, bersilaturrahmi, dan berkumpul bersama keluargannya saja, melainkan puncak pengorbanan dan jihatnya dalam memerangi hawa nafsunya untuk membentengi diri dari berbagai hal yang dapat mengurangi ridha-Nya dalam prosesi ibadah puasa telah berhasil ia maksimalkan.

    Pemahaman satu Syawal itu sebenarnya bukan satu-satunya momentum untuk saling berjabat tangan ataupun menelpon dalam rangka meraih pengguguran atas kekhilafan atau salah dan dosa yang telah diperbuat terhadap sesama manusia yang terlanjur terlampiaskan terhadap tindakan asbab dari munculnya kesalahan atau dosa terhadap mereka. Tetapi, tindakan yang sebenarnya bahwa kekeliruan dan dosa, baik yang disengaja maupun tidak, itu lazimnya tidak menunggu momen tahunan, melainkan kapan waktu dari tindakan yang menyakitkan atau mengganggu perasaan itu terjadi. Baiknya adalah ketika kita langsung merendahkan ego untuk meraih secepat mungkin permaafan dari mereka. Hal demikian harus menjadi perhatian serius bagi kita, sebab ajal yang menjemput tidak pernah ada yang tahu, apakah masih dalam hitungan tahun, bulan, minggu, maupun hari kehadirannya dalam menjemput diri kita. Sebaliknya, akan menjadi aneh apabila, khilaf dan dosa itu diundur-undur sampai berminggu-mimggu atau berbulan-bulan. Pertanyaannya, apakah kita mengetahui jadwal penjemputan oleh malaikat pencabut nyawa?

    Tetapi, karena satu Syawal sudah menjadi tradisi umat Islam Indonesia, maka tidak mengapa hal maaf-memaafkan itu dilangsungkan, yang terpenting bagi kita, tidak menjadikan tradisi tahunan untuk menggugurkan salah atau khilaf kita terhadap sesama muslim atau manusia secara umum. Mari, kita sama-sama menyadari bahwa satu Syawal, bukanlah semata untuk meraih pemaafan, melainkan pada saat ini adalah penuh dengan ucapan selamat antarsesama muslim bahwa kemenangan telah diraih olehnya sebagai puncak dari satu bulan penuh atas puasa dan amal ibadah lain yang telah dimaksimalkannya dengan mengikuti prosedur dari Allah dan Rasulullah.

    Mari kita saling memaafkan antar satu sama lain, dengan tidak lagi ada kerikil pengganjal satu pun dalam diri kita sehingga peluang kesucian bagi saudara-saudara kita sangat terbuka. Kemudian, tidak lupa juga bagi kita, dari kebiasaan yang baik-baik pada prosesi puasa kita yang baru saja kita lewati, untuk kita terus menjaga dan bila mungkin dan sanggup, kita tingkatkan hal itu, seperti bacaan Qur'an, salat taraweh (salat malam/tahajud), sedekah, infak, dan senang berbagi antarsesama.

    Akhirnya, semoga Allah meridhai semua amal ibadah yang kita jalankan mulai dari awal sampai akhir ramadhan dan kefitrahan yang dijanjikan mudah-mudahan dapat kita raih sebagai salah satu hadiah dari-Nya (Bagi yang sungguh-sunggu menjalankan ibadah puasannya). Mari, kita sama-sama tingkatkan amal ibadah kita kemudian kita berharap agar bulan ramadhan berikutnya kembali bertemu lagi dengan kita.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Semoga Kita Kembali Fitrah.


    Penulis: Saharudin, S.Pd., M.Pd.I.
    Dosen STIE Muhammadiyah Berau / Dosen STIT Muhammadiyah Berau / Dosen STIPER BERAU / Pemuda Asal Bima NTB / saharudin.yuas178@gmail.com

    Ta’lilul Ahkam: Definisi dan Aplikasi (Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at, Isbal Celana/Sarung dan Janggot Panjang)

    Wawan Gunawan Abdul Wahid. 
    Definisi

    Diantara satu kaedah yang perlu diperhatikan dalam penetapan hukum Islam adalah ketentuan ta’lilul ahkam. Ta’ill ahkam pada intinya menyatakan bahwa hukum-hukum itu ditetap dengan sebab yang menyertainya jika sebab yang menyertai hukum itu ada maka ketentuan dalam hukum itu dipraktekan. Jika sebab yang menyertai adanya hukum itu tidak ada maka ketentuannya tidak diterapkan. Aljukmu yaduuru ma’a ‘illatihu wujudan wa ‘adaman.

    Aplikasi:
    1. Tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Hadis-hadis terkait keringanan untuk tidak tunaikan shalat jumat dan diganti dengan shalat zhuhur manakala idul fithri atau idul adlha bertepatan dnegan hari jumat dibaca secara seksama mengacu pada sebab jarak antara rumah para shahabat dengan masjid Nabi saw dan lapangan yang dijadikan tempat shalat hari begitu jauhnya. Saat shalat shaat hari raya telah ditunaikan, Rasulullah sarankan kepada mereka yang rumahnya berjarak jauh dari masjid dan lapangan shalat id, untuk sementara tidak langsung pulang ke rumahnya. Mereka disarankan untuk menunggu shalat jumat. Sementara kepada mereka yang tetap memilih pulang Rasulullah berikan izin untuk tidak tunaikan shalat jum’at.

    Saat ini jarak antara rumah dengan masjid untuk tunaikan shalat jumat, dan jarak antara rumah dengan pilihan lapangan untuk shalat hari raya relative dekat. Bahkan ketika begitu berjarak relative jauh pun ada kendaraan yang dapat antarkan kedua tempat yang mulia itu. Kerana itu alasan untuk keringanan tidak tunaikan shalat jum’at zaman kiwari nyaris tidak ada. Kerana itu pula tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Natijahnya pada saat hari raa bertepatan dengan hari jumat pilihan utamanya adalah tunaikan shalat jumat.

    2. Larangan berisbal memanjangkan celana dan sarung hingga mata kaki itu jika disertai dengan motivas kesombongan. Jika itu dilakukan semata-mata sebagai pilihan keikhlasan sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq melakukannya maka larangan itu tidak ada.

    3. Janggot panjang itu dianjurkan  Nabi saw untuk tujuan berbeda dengan non Muslim saat Mobilisasi Perang. Sebutlah itu sebagai jaggot ideologis. Peperangan mana yang diikuti oleh seorang Muslim sehingga mengharuskannya untuk memanjangkan janggotnya. Pada saat yang sama tidak sedikit yang berjenggot panjang itu adalah saudara-saudara kita yang non Muslim. Kerana itu saat Muslim kini memilih untuk berjenggot hendaknya niatnya tidak sebagai janggot ideologis pembeda dari non Muslim. Pilihan terbaik saat ini adalah berjanggot untuk keindahan. Sebutlah itu sebagai janggot asesoris. Janggot yang menambah keindahan tampilan. Innallaha jamilun yuhibbul jamaala;


    Penulis: Wawan Gunawan Abdul Wahid
    Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

    Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia yang Hanif

    PEWARTAnews.com -- Mengapa ayat Rabbana laa tuakhidznaa in nasiinaa au akhta’na memakai redaksi “au” bukan “wa”? Tanya Prof. Dr. KH. Muhammad Chirzin, M.Ag saat dalam perkuliahan Ma’anil Qur’an semester 3 yang lalu di IAT Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semua mahasiswa terdiam, dengan nada lirih beliau berkata ayat tersebut mengandung makna psikologi yang amat sangat dalam. Faktanya, manusia sering berbuat salah dan lupa. Tapi, Allah berkenan membesarkan hati kita seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat karena kesalahan atau kelupaan kita.

    Dalam ayat yang lain dalam redaksi fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah/lupa) akan tetapi disisi lain manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al-Qur'an mengatakan manusia dengan ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
    1. Potensi beragama (+)
    2. Potensi akal  (+)
    3. Potensi fisik (+)
    4. Potensi Nafsu (+ dan -)

    Potensi nafsu memiliki sisi positif dan negatif : Yang pertama ialah, Muthmainnah yang merupakan nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan berusaha menjadi yang terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan perdamaian dengan hati, diri sendiri maupun orang lain. Pun begitupula dengan hatinya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan mengingat Allah, maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus di manifestasikan dalam tindakan nyata sebagai wujud ketaqwaan kepada-Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dan lain-lain. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika kita mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insya Allah hati akan merasa tenang dan nyaman.

    Yang kedua adalah nafsu Waswasah yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisannya. Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah lisan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Jika tidak bisa berbicara baik, maka diam lah”. Diam merupakan kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan kita bersama.

    Yang ketiga adalah nafsu Lawwamah yakni Nafsu yang mendorong manusia berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindarinya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsunya dengan baik.

    Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dari segala aspek dan dimensinya dengan mengaungrahinya akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia memiliki titik pembeda dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Berbeda dengan manusia yang hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah menuju kehadirat Nya dengan jalan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al-Qur'an.

    Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi. Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman-Nya : "wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna" (Qs. Al A’raf ayat 79).

    Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam mengarungi kehidupan. Allah memberikan hati, agar manusia peka terhadap realitas sosial dengan dapat memahami dan merasakan keadaan orang yang berada dibawah-nya. Dengan mata, agar mampu melihat karunia dan ciptaan-Nya yang luar biasa. Dan dengan telinga, agar mampu mendengar jerit tangis orang-orang yang teraniyaya dan terdzalimi karena di rampas hak-hak hidupnya.

    Adapun relevansinya dengan makna puasa ialah, tak lain agar dapat merasakan betapa perihnya orang yang kekurangan makanan, menahan diri dari sesuatu yang secara dzahir terlihat indah nan mempesona. Seperti kata guru spiritual saya, Mr. Radino Fernando, puasa itu belajar mati. Meskipun di iming-imingi sesuatu yang menggoda di depan mata, namun tidak akan tertarik untuk mencicipinya.

    Seusai bulan Ramadhan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada manusia untuk berzakat. Mensucikan diri dari segala kotoran baik dzahir maupun batin. Serta mengasah kepedulian terhadap sesama dengan menyantuni fakir miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

    Dengan demikian, mari kembalikan diri kepada Fitrah sejati manusia yang suci dan hanif untuk menuju insan paripurna dengan melepas segala hal yang membelenggu dalam hati, jiwa dan akal pikiran kita. Harus disadari bahwa seperti apapun manusia, tentu pernah berbuat salah dan khilaf kepada orang lain, sehingga harus saling memohon maaf dan memaafkan. Kerena  kedua hal tersebut merupakan wujud kasih sayang dan manifestasi hati yang mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, sehingga menyadari diri bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa. Bukan-kah "innal insana mahaalul khata'i wa nisyan"? Tak lain karena manusia ialah human being.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    NOL

    M. Kholid Syeirazi.
    PEWARTAnews.com -- Banyak orang sudah datang ke Israel, bicara baik-baik dengan politisi, pemuka agama, dan NGO baik yang pro maupun kontra-zionisme untuk mengusahakan perdamaian dengan Palestina—hasilnya NOL.

    Banyak juga yang sudah datang ke Palestina bawa uang, menggotong senjata, bertempur dan terbunuh, entah sudah beratus, beribu, atau beratus ribu nyawa melayang—hasilnya juga NOL.

    Hampir tidak ada kemajuan apa pun, dari saya kecil sampai beranak-pinak dan entah sampai kapan, terkait prospek perdamaian di kawasan itu. Situasinya seperti buntu.

    Saya kira sebagian besar kita, termasuk saya, menganggap Israel bangsa agresor yang dipimpin politisi zionis yang tidak mau berbagi tempat dengan Palestina. Di sisi lain, pejuang kemerdekaan Palestina terbelah. Hamas (حركة المقاومة الاسلامية), faksi terkuat selain Fatah (حركة التحرير الوطني الفلسطني), juga ngotot tidak mau berbagi tempat dengan Israel, mengabaikan fakta bahwa negeri itu telah menjelma menjadi raksasa militer dan ekonomi dengan jaringan lobi terkuat di dunia. Apa mungkin mengusir Israel dari tanah yang telah diklaimnya dan memindahkannya ke kawasan antah berantah? Kalau mungkin, mau dipindah kemana? Kalau seluruh dunia bersatu, dan ini agaknya mustahil, apa Israel mau? Mereka mengkoloni daerah itu karena klaim teologis dan historis tentang Tanah Israel (Eretz Yisrael) yang dijanjikan Tuhan di sebuah bekas wilayah Kerajaan Yehuda kuno.

    Israel menjadi bangsa kuat karena ketakutan dan ancaman. Mereka pernah diaspora, hidup terlunta-lunta tanpa tanah air, diusir Firaun dan diburu Hitler, mengalami Holocaust, dan nyaris punah karena sentimen anti-semit yang meluas di Eropa. Berkat Deklarasi Balfour 1917 dan Mandat Britania atas Palestina 1922, mereka kembali ke tempat yang disangka menjadi tanah yang dijanjikan. Mereka bahkan tidak peduli bahwa di situ telah tinggal bangsa lain yang menetap turun temurun, punya hak hidup sebagai bangsa merdeka: Palestina.

    Perjanjian Oslo 1993 menyepakati solusi dua negara, tetapi tidak gampang. Perjanjian ini diteken di bawah otoritas PLO/Fatah dengan Israel, tetapi ditolak Hamas. Hamas ingin mendirikan Palestina berdasarkan Islam, PLO/Fatah berhaluan nasionalis sekuler. Fatah mengakui negara Israel, Hamas menolak. Hamas ingin Israel terhapus dari peta dunia. Hamas dan Fatah terkunci dalam perang saudara (صراع الأخوة ) pada 2006. Sejak saat itu, Hamas menguasai Gaza, Fatah menguasai Tepi Barat. Fatah yang kompromis dan setuju solusi dua negara dalam  rangka peaceful co-existence juga gamang terkait status Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Seluruh faksi ingin tiga wilayah itu menjadi bagian tak terpisah dari negara Palestina merdeka. Situasinya menjadi buntu karena Israel juga telah menetapkan Jerusalem sebagai Ibu Kota yang tak terbagi.

    Siapa pun tidak punya kemampuan menerobos kebuntuan ini. Andaikata kita demo tiap hari mengutuk Israel, Israel tidak akan mundur. Andaikata kita ikut memanggul senjata dan jihad bersama Hamas, itu hanya jalan pintas menambah daftar korban nyawa. Harus dicatat, Israel adalah negara kecil dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Setiap kali Hamas menembakkan roket, Israel akan membalasnya dengan lebih sadis dan brutal. Melawan Israel dengan kekerasan hanya menambah jumlah korban nyawa, termasuk warga sipil yang tidak berdosa. Andaikata kita pakai jalur ekonomi dengan memboikot produk-produk Israel, ini juga tidak akan benar-benar efektif selagi Amerika di belakang mereka. Kita juga tahu, produk-produk Israel dan Yahudi telah menyusup banyak dalam kehidupan manusia zaman now.

    Sekarang kita rame-rame mencaci maki Gus Yahya C. Staquf karena mendatangi Israel tetapi tidak menyinggung isu Palestina. Andaikata Gus Yahya ngomong berbuih-buih soal Palestina, apa Israel bergeming? Apa tiba-tiba orang-orang zionis jadi lebih welas asih dan ingin hidup damai dengan menyerahkan Jerusalem kepada rakyat Palestina? Never!

    Politik LN RI sudah tegas, mendukung kemerdekaan Palestina dengan Jerusalem sebagai Ibu Kota. Apa yang kita lakukan sudah benar, meski kita tahu hasilnya NOL. Kita ibarat semut di zaman Namrudz. Dia menadah air dan menampungnya untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim. Ketika dicela bahwa perbuatan itu sia-sia, semut menjawab: “Aku tahu perbuatanku tidak berguna, tetapi aku perlu tunjukkan kepada siapa aku berpihak.”

    Sampai saat ini, dan entah sampai kapan, konflik Palestina-Israel belum akan selesai. Apakah ini kutukan sejarah karena di tempat itu dulu tertumpah darah para Nabi dan Rasul? Wallahu a’lam. Segala jurus sudah ditempuh, dari diplomasi damai hingga moncong senapan. Dua-duanya hasilnya NOL! Saya kira Gus Yahya tahu. Beliau tidak akan mampu mengubah peta. Dugaan saya, beliau cuma ingin kirim pesan: meskipun sampai saat ini belum ada hasilnya, dialog, negosiasi, diplomasi harus tetap berdiri di depan dalam menyelesaikan konflik ketimbang kekerasan. Masa depan peradaban manusia terletak dalam dialog di mimbar nalar, bukan kekerasan di ujung senapan!


    Penulis: M Kholid Syeirazi
    Sekretaris Jenderal PP Ikatan Sarjana NU, Direktur Eksekutif Center for Energy Policy

    Sumber: Personal Facebook M Kholid Syeirazi

    Memahami Pesan Rahmah KH Yahya Cholil Staquf

    Sisi lain. Dari sudut pandang yang berbeda.

    Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sebagai pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yang memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!

    Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yang bisa dimainkan oleh Kiai, NU dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yang melampaui keadilan yang diperebutkan dan perdamaian yang dipertarungkan, yaitu pesan Rahmah.

    Rahmah tidak hanya menuntut tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yang bertikai.

    Betapa sering kita menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa Rahmah, kita hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yang menohok.

    Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah anda juga memberi keadilan pada pihak lain.

    Pahamkah anda apa yang dituju Kiai Yahya?

    Pesan Rahmah disampaikan dengan cara yang Rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yg bertikai, tapi semua yang paham bisa merasakan pembelaan yang jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

    Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah Rahmah!

    ‘I stand with palestine’ dimaknai lewat pesan Rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri” karena pesan Rahmah disampaikan dengan kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina bukan karena membenci Israel, tapi karena perwujudan Rahmah. Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!

    Dunia telah melihat seorang Kiai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerussalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep Rahmah yg merangkul, bukan memukul.

    Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit.

    Peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus untuk menyampaikan pesan Rahmah. Sebelumnya Kiai Yahya sudah ke gedung putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerussalem, tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia.

    Anda boleh tidak setuju dengan apa yang dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan Rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi ada di sana saat pesan Rahmah itu diucapkan Kiai Yahya.

    “Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

    Setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan Rahmah yang telah diajarkan Nabi, sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad.

    Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU dan Indonesia.

    Pesan langit sdh disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sudah beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yang paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bershalawat pada Kanjeng Nabi.

    Mari kita terus sampaikan pesan Rahmah ini🙏

    Tabik,


    Penulis: Prof. Nadirsyah Hosen
    Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
    Australia - New Zealand

    FIMNY Gelar Buka Puasa Bersama Warga Bima di Yogyakarta

    Suasana Bukber FIMNY (11/06/2018).

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Indahnya bersilaturrahim dan berbagi. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan juga bulan penuh berkah. Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa, tinggal beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan suci ramadhan 1439 Hijriah. Momentum yang mulia ini, dimanfaatkan juga oleh keluarga besar Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) untuk bersilaturrahim dan buka puasa bersama dengan masyarakat Bima yang berada di Yogyakarta, pada hari Senin, 11 Juni 2018 di Aula Asrama Bima Sultan Abdul Kahir Yogyakarta.

    Salahsatu senior FIMNY Ismail, S.H.I., yang biasa dikenal dengan nama Bung Is, mengatakan bahwasannya momentum buka puasa bersama ini digunakan untuk salahsatu ajang silaturrahim dan berbagi canda tawa. "Terimakasih atas kehadiran semuanya. Momen ini digunakan juga untuk FIMNY bersilaturrahim dengan warga asrama dan warga Bima di Yogyakarta. Kami ucapkan terimakasih atas kehadiran semuanya. Mudahan rejeki kita makin ditambah dan selalu berkah," beber Bung Is.

    Lebih lanjut, Bung Is menyampaikan mohon maaf lahir batin dalam momentum ramadhan tahun ini. "Bulan ramadhan penuh berkah. Atasnama pribadi dan atasnama FIMNY kami mengucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan juga selamat menyambut hari raya Idul Fitri," ucap Bung Is.

    Acara bukber terlihat ramai di aula Asrama Bima. Lebih dari 40 orang memadati ruangan Aula. Selain hadir warga Bima yang lain, hadir juga Eks Ketua Umum Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta yang juga senior FIMNY M. Jamil, S.H., Pengusaha Bawang Merah mister Dani, Eks Ketua Umum FIMNY Bukhari Muslim, S.Kom., Eks Ketua Umum HMI Insan Cita Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Nurhaidah, Tokoh Asrama Bima Yogyakarta ustad Ikhlas, dan warga Asrama Bima Yogyakarta lainnya. (PEWARTAnews)

    Andai Sekolah Sebagai Tempat Belajar Sastra

    Eka Ilham saat mengajarkan sastra teater pada salahsatu siswanya di Bima NTB.
    "Karya sastra mengajarkan kita tentang bercermin diri, tidak ada yang tersakiti dan menyakiti karena sesungguhnya kita sedang menertawakan diri kita sendiri untuk itu mari kita tertawa bersama-sama" (Eka Ilham)

    PEWARTAnews.com -- Kelas terasa indah dan menarik ketika anak-anak didikku membacakan puisi "Guru Itu Melawan" sebuah kumpulan puisi kesaksian potret dunia pendidikan di negeri ini. Negeri pungli, sang guru, sekolah Petruk dan guru terpencil. Merupakan sederet puisi karya gurunya mereka sendiri mereka bacakan setiap 15 menit sebelum mata pelajaran inti di mulai. Sesering mungkin aku membiasakan murid-muridku untuk membaca karya sastra di setiap mata pelajaran yang aku ajarkan sebagai guru bahasa inggris. Dengan leluasanya dan kejujurannya setiap murid mengekspresikan bait-bait puisi guru itu melawan. Tidak ada ketakutan yang aku lihat di raut wajah murid-muridku, yang ada jiwa-jiwa kritis dan menuturkan kejujuran dari potret pendidikan negeri ini. Suasana kelas seperti zaman revolusi mereka memaknai puisi dengan penuh semangat. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk melantunkan bait-bait puisi guru itu melawan jeritan hati para pendidik dan potret negeri ini.

    Andaikan sekolah-sekolah di negeri ini anak-anak didiknya berpuisi, guru-gurunya berpuisi, kepala sekolah berpuisi, kepala dinas pendidikan berpuisi, menteri pendidikan berpuisi dan presiden pun berpuisi sungguh indah puisi-puisi itu dilantunkan. Kelas serasa tidak membosankan para murid tidak dikekang kreativitasnya, mereka bebas berekspresi dengan kejujurannya masing-masing. Slogan pendidikan karakter sebenarnya ada lewat murid-muridku di desa kecilku ini. Setiap sore mereka mendatangi rumahku hanya sekedar untuk berekspresi melantunkan bait-bait puisiku. Aku menemukan jiwa-jiwa pendidikan yang bebas, mereka bebas mengkritikku sebagai seorang guru, mereka bebas berpendapat kenapa guru itu harus melawan. Pertanyaan-pertanyaa­n muridku membuatku tersadar bahwa sekolah bukan lagi sebagai taman berekspresi bagi mereka tetapi mereka sebagai anak yang patuh pada aturan-aturan kaku yang menyeragamkan mereka.

    Guru adalah 'Tuhan' Guru adalah 'Hakim' Guru adalah 'kumpulan serdadu' yang tidak bisa dibantah dan selalu benar dan murid tidak boleh melawan. Kelas seperti ruang penjara dan penyiksaan bagi anak-anak negeri ini. Aku coba melawan tatanan itu dengan menghadirkan kelas berpuisi dan berdebat bukan hanya disekolah tetapi berbagai ruang tempat dan kreativitas. Faktanya murid-muridku ini mampu memberikan prestasi bagi sekolah mereka. Mereka berhasil meraih prestasi di lomba-lomba dan festival seni budaya tingkat kota dan provinsi. Pada tahun 2017 dinas pendidikan provinsi NTB memberikan kepercayaan kepada sekolahku sebagai sekolah untuk program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) pada khususnya seni teater. Selama tiga bulan siswa melaksanakan latihan teater untuk di pentaskan pada akhir kegiatan GSMS. Betapa antusiasnya peserta didik mengikuti kegiatan ini selama tiga bulan. Pada akhirnya mereka menampilkan sebuah karya pementasan teater yang begitu menakjubkan dengan sebuah cerita masyarakat Bima “Wadu Ntanda Rahi”. Pengalaman yang bersejarah bagi mereka sekali seumur hidup melalui karya sastra.

    Aku ajarkan mereka karya sastra yang merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Aku ajarkan mereka menulis puisi dengan bahasanya, ide, gagasan, pengalaman, dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembacanya dan penikmatnya. Dengan harapan, apa yang disampaikan itu menjadi masukan, sehingga pembaca dan penikmatnya dapat mengambil kesimpulan dan menginterpretasikann­ya sebagai sesuatu yang dapat berguna bagi perkembangan hidupnya. Hal ini membuktikan, bahwa sekolah dan murid-murid dapat bebas berekspresi tampa takut pada aturan-aturan sekolah seperti serdadu. Dengan kalimat lain, puisi memberikan keberanian dan menghilangkan rasa takut. Hal itu bisa terjadi, apabila setiap sekolah memberikan kebebasan berekspresi sesuai dengan keunikan murid-muridnya. Setiap murid punya jiwa seni.

    Aku akan memberikan rangsangan bagi kebebasan yang ada dalam diri murid-muridku, melalui puisi menyajikan kebebasan yang ingin diungkapkan oleh murid-muridku. Itulah sebabnya pada saat-saat tertentu sekolah harus memberikan toleransi yang semakin besar terhadap puisi. Puisi itu mendidik, memperluas pengetahuan tentang kehidupan, meningkatkan kepekaan perasaan, dan membangkitkan kesadaran. Puisi tidak mengajarkan siswa untuk berpura-pura tanpa pamrih, berpura-pura objektif terhadap masalah yang ada di dunia. Puisi memberikan inspirasi bagi murid-muridku untuk menggapai masa depannya.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima


    PP Ulul Albab Silaturrahim dan Beri Santunan Masyarakat Yogyakarta

    Suasana usai santunan PP Ulul Albab Balirejo. 
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Bulan Ramadhan merupakan bulan berkah dan juga bulan mulia untuk bersilaturrahim dan berbagi kasih sayang sesama insan. Waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa, tinggal beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan suci ramadhan 1439 Hijriah. Momentum yang mulia ini, untuk menyambut hari raya Idul Fitri yang tidak begitu lama lagi, dimanfaatkan juga oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta untuk bersilaturrahim, memberikan santunan dan bingkisan lebaran untuk masyarakat Yogyakarta pada hari Minggu, 10 Juni 2018 pukul 12.00-14.00 WIB di Aula lantai 3 Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta.

    Suasana yang begitu bersahabat, kehadiran tamu undangan disambut langsung dengan hangat oleh keluarga Ulul Albab Balirejo, terutama ibu Hj. Arum, S.H., Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn., Dellarious Yubaidi, S.Ked., dan yang lainnya. Terlihat lebih dari 200 masyarakat datang memadati ruangan pertemuan itu.

    Sohibul hajat yang juga sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta H. Ahmad Yubaidi, S.Pd., S.H., M.H., dalam sambutannya, mengucapkan terimakasih yang sesungguhnya atas kehadiran masyarakat untuk memenuhi undangan yang diberikan. "Dengan sepenuh hati, kami ucapkan terimakasih pada ibu-ibu dan bapak-bapak telah meluangkan waktu berharganya untuk memenuhi undangan kami. Seharusnya kami yang datang kerumah untuk menghampiri ibu-ibu dan bapak-bapak, karena dengan kerendahan hati ibu dan bapak, saat ini hadir di tempat kami (PP Ulul Albab). Sekali lagi kami ucapkan terimakasih," beber Ahmad Yubaidi.

    Ada salahsatu hadits nabi Muhammad SAW, "Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” (Shahiih Al-Bukhari No. 2067). Hal itu juga yang di ungkapkan Ahmad Yubaidi, bahwa pentingnya silaturrahim itu bisa memperluar rezeki dan memanjangkan umur manusia. "Dengan silaturrahim kita dipanjangkan umur serta diluangkan rezeki oleh Allah SWT," ucap Yubaidi.

    Untuk memperlancar acara, hadir sebagai pembawa acara --Master of Ceremonies (MC)-- M. Jamil, S.H. (Ketua Kader Inti Pemuda Anti Narkoba Kota Yogyakarta). Pembaca do'a oleh ustad Wahyudi.

    Selain keluarga besar Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta dan tamu undangan, hadir juga dalam acara tersebut, Komandan Banser NU Kotagede H. Zaidun beserta pasukannya. (PEWARTAnews)

    Lagu Kebangsaan Kita Masih Sama

    Eka Ilham, M.Si.
    PEWARTAnews.com -- Lagu kita masih sama Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia yang kita selalu kumandangkan disetiap event-event kebangsaan maupun dalam lingkup keseharian kita dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Nasionalisme dan semangat patriotisme itu hadir disetiap sanubari kita di tengah kondisi kebangsaan yang mulai tercabik-cabik. Indonesia Raya adalah instrumen pemersatu kita sampai saat ini di tengah keberagaman kita. Lagu Indonesia Raya ini dikumandangkan pertama kali di bumi nusantara pada tanggal 28 Oktober 1928, pada saat kongres pemuda Indonesia lagu ciptaan W.R. Supratman, ini menandai kelahiran pergerakan nasional di seluruh Indonesia. Lagu Indonesia Raya mencerminkan identitas bangsa Indonesia. Simbol pemersatu bangsa dari sabang sampai Merauke. Lagu kita masih sama Indonesia Raya, masih bisa berdiri dan besar di Bumi Nusantara ini di tengah keberagaman kita.

    Indonesia adalah negara yang dibangun dengan pondasi keberagaman. Agama, suku, bahasa, budaya, adat istiadat, pulau yang membentang dari sabang sampai Merauke merupakan identitas dari bangsa Indonesia. Bayangkan saja keberagaman ini kalaupun tidak dipersatukan oleh lagu Indonesia Raya, Bahasa Indonesia dan persamaan senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa yang pernah terjajah dan mampu memerdekan dirinya dari belenggu penjajahan mungkin kita tidak seperti ini hari ini. Toleransi menjadi kata kunci agar keberagaman itu tetap menjadi sebuah keutuhan yang hakiki. Mayoritas menghormati yang minoritas begitupun sebaliknya minoritas menghormati yang mayoritas. Rakyat Indonesia sadar keberagaman adalah sebuah keniscayaan itulah mengapa semboyan hidup bangsa kita adalah "Bhineka Tunggal Ika" dan Pancasila sebagai dasar negara kita.

    Mengapa bahasa Indonesia sebagai sumber pemersatu bangsa?
    Bahasa daerah adalah bahasa yang patut kita banggakan sebagai identitas nasional dari keberagaman itu sendiri. Bukan bermaksud membangun semangat primodial atau identitas kesukuan tetapi itulah hasanah budaya Indonesia yang membedakan dengan bangsa-bangsa yang lain. Dalam proses interaksi tentunya bahasa Indonesia adalah sebagai pemersatu semangat nasionalisme yang menjadikan kita secara kolektif mengakui bahwa kita masih mempunyai bahasa yang sama di tengah keberagaman yaitu bahasa Indonesia. Orang Jawa dalam komunitasnya menggunakan bahasa Jawa, orang Bima, Sumbawa, lombok dan daerah-daerah lainnya di nusantara ini dalam kesehariannya tentunya fitrah kedaerahannya menggunakan bahasa warisan leluhurnya yang mereka banggakan sebagai identitas lokalnya yang patut dilestarikan. Kita tidak bisa memungkiri fakta sejarah bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah peran dari para mantan pemilik republik ini yaitu para raja-raja atau sultan-sultan di seluruh nusantara ini walaupun pada saat ini mereka bukan lagi sebagai pemilik negeri ini paling tidak mereka adalah simbol identitas kebudayaan yang patut kita lestarikan. Bahasa Indonesia adalah pemersatu dari keberagaman dari setiap daerah itu sendiri. Disetiap bahasa daerah ada moral dan sikap dari si pemilik bahasa untuk melestarikan budayanya. Pendekatan budaya lokal lebih mengena pada setiap aktifitas berkehidupan. Tentunya semangat identitas lokal tersebut akan menjadi satu ketika bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu kita yang sampai hari ini memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa ini. Di tengah keberagaman kita Bahasa Indonesia mampu menjalin komunikasi dengan baik. Persamaan senasib dan seperjuangan yang meneguhkan kita sampai hari ini masih dalam bendera yang satu "Merah Putih". Melawan penjajahan dari bentuk penindasan pada saat itu yang menguatkan setiap rakyat Indonesia masih berdiri di tanah nusantara ini. Setiap daerah mempunyai kesaksian dalam membela bangsa Indonesia ini dalam belenggu penjajahan. Kalaupun tidak ada kesamaan senasib dan seperjuangan mungkin hari ini Indonesia akan tercabik-cabik menjadi negara masing-masing. Disentegrasi atau upaya-upaya memisahkan diri dari bangsa ini akan terjadi jika kita tidak memiliki semangat persamaan senasib dan seperjuangan dalam melepaskan dari penjajahan saat itu.

    Semangat itulah yang sampai hari ini masih terpatri di diri setiap rakyat di nusantara ini. Patut disayangkan apabila hari ini masih ada saudara-saudara sebangsa dan setanah air masih berpikir bahkan upaya-upaya mereka lakukan untuk memisahkan diri dari bangsa Indonesia karena persoalan-persoalan ekonomi, keadilan dan upaya-upaya individu dan kelompok masyarakat yang memecah belah persatuan ini. Sangat mahal perjuangan para pahlawan dan para pendahulu bangsa Indonesia apabila persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini tercabik-cabik. Negara ini diperjuangkan oleh para pendahulu kita dari berbagai daerah dan keberagaman dengan satu tujuan memerdekakan Indonesia.

    Mereka berjuang dengan hati yang tulus dan ikhlas dengan mengenyampingkan perbedaan suku, agama, budaya, bahasa dalam mempertahankan ibu pertiwi ini. Tidaklah elok semangat kebhinekaan yang sudah dibangun tercabik-cabik oleh orang- orang atau kelompok yang tidak menyukai persatuan dan kesatuan bangsa ini. Perbedaan jangan sampai melupakan tujuan kita dalam berbangsa dan bernegara. Semangat nasionalisme dan patriotisme itu lahir disetiap kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita bisa melihat bagaimana putra-putri terbaik kita mengaharumkan nama Indonesia dikancah international. Lagu kebangsaan dan bendera merah putih kita kumandangkan disetiap event-event dalam negeri dan luar negeri. Kita masih punya rakyat yang mencintai bangsa ini dengan karya-karya kreatif dan inovatif. Kita masih punya putra-putra daerah terbaik yang melestarikan budayanya sebagai identitas nasional. Kita sangat berutang pada anak-anak negeri yang masih setia dan bangga lahir di ibu pertiwi ini meneruskan dan mengisi cita-cita penerus bangsa Indonesia ini. Hidup dan mati di bumi ibu pertiwi.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima


    Rais dan Al-Qur'an serta relevansinya dengan Pendidikan Anak di Keluarga

    Fafiz Indonesia 2018, Rais. 
    PEWARTAnews.com -- Kecerdasan dan keshalehan anak tidak hanya bergantung pada pola dan strategi pendidikan yang diterapkan dalam keluarga, melainkan karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya, Mukaromah 2018.

    Rais namanya. Asli Balikpapan. Umurnya masih sangat belia, 5 tahun. Namun dibalik itu ada ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh anak-anak seumuran pada umumnya. Selain telah hafal 11 jus, Rais juga hafal nama-nama bendera negara di seluruh dunia lengkap dengan ibu kota dan benua di dunia. Tak hanya itu, Rais juga dapat mengklasifikasi nama-nama hewan berdasar pada jenis-nya. Seperti herbivora, karnivora dan omnivora.

    Kita sebagai orang dewasa tentu akan mengatakan dia anak hebat, anak cerdas. Tapi pernah tidak berpikir bahwa dibalik anak hebat, tentu ada orangtua yang lebih hebat daripada anak tersebut? Siapakah mereka? Mereka adalah kedua orangtuanya. Dan sosok Ibu-lah yang lebih utama. Karena sosok ibu menjadi penentu pertama pijakan dari seorang anak. Saat Ibunya Rais ditanya oleh kak Irfan Hakim terkait dengan pola pendidikan yang diterapkan didalam keluarga, ibunya mengatakan bahwa hal pertama kali yang ia ajarkan kepada anak-anaknya adalah Al-Qur’an. Ya, Al-Qur’an. Terbukti dengan kakaknya Rais yang bernama Athifa umur 10 tahun sudah hafal 20 juz.

    Saat Al-Qur’an telah tertancap dalam dada anak, maka anak akan mempunyai energi, ‘azam dan ghirah untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. Dengan Al-Qur’an, maka akan terasa mudah belajar banyak hal, seperti yang dialami oleh Rais. Dia hafal lambang bendera beserta ibu kota negara dan benua karena belajar otodidak. Seusai menghafal Qur’an, ia lanjutkan untuk membaca buku. Hal tersebut masih ada kaitan dengan tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang membangkitkan spirit intelektualisme dengan Al-Qur’an yang mana para ilmuan muslim dahulu tidak hanya expert dalam bidang keislaman, namun juga menguasai ilmu-ilmu eksak/umum, karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai pintu gerbang pertama/pijakan pertama yang wajib dikuasai sebelum menguasai ilmu-ilmu lain.

    Bagi saya pribadi, pendidikan yang diterapkan oleh keluarga Rais merupakan suatu hal yang luar biasa. Tentu sesuatu yang terjadi bukan tanpa alasan. Namun karena ada “sebab yang menyebabkan suatu akibat. Menurutku inilah yang dinamakan dengan hukum kausalitas. Sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam Qs. Al-Isra’ : 7, Qs. Az-Zalzalah :7-8, Qs. Luqman : 16, Qs. Al Anbiya’ : 7 tentang hukum kausalitas. Meski secara tekstual ayat tersebut berbicara mengenai perbuatan baik buruk manusia, namun dalam kontekstualnya dapat direlevansikan dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam mencetak dan mendidik generasi/anak.

    Kecerdasan dan keshalehan anak tidak hanya bergantung pada pola dan strategi pendidikan yang diterapkan dalam keluarga, melainkan karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Pertama, faktor makanan yang masuk ke dalam perut anak. Pastikan makanan tersebut benar-benar yang halal 100%. Halal dari segi wujud serta cara mendapatkan. Kedua, bagi orangtua sangat penting memperhatikan pekerjaan/profesi yang digelutinya. Karena profesi menentukan income/pemasukan dalam keluarga yang tentu nanti berimplikasi pada anak. Jika makanan yang diberikan kepada anak adalah hasil dari pekerjaan yang halal dan jelas, biasanya anak tersebut tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mudah diatur. Berdasar pada pengamatan empirik yang saya lakukan, keluarga yang membesarkan anak-anaknya dengan cucuran keringat, ternyata ketika dewasa anak-anak tersebut tumbuh menjadi orang sukses (shalih, cerdas lahir batin). Tentu bukan berarti mendeskriditkan anak-anak yang susah diatur dan ngeyel, atau bahkan bodoh dsb. Karena didunia ini tidak ada anak yang bodoh. Hanya saja, pola pendidikan yang diberikan kurang tepat. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada hal-hal lain yang menyebabkan begitu, salah satunya terkait dengan profesi orangtuanya.

    Dengan demikian, penting bagi orangtua untuk muhasabah diri terlebih dahulu sebelum menyalahkan anak gara-gara anak ngeyel/bandel, sulit menerima pelajaran sekolah dll. Bertanya-lah pada hati apakah makanan yang masuk ke dalam perut anak sudah benar-benar berasal dari pekerjaan yang halal dan jelas cara mendapatkan-nya? Pastikan itu ya. Bukan karena sedikit atau banyak-nya yang diterima. Melainkan keberkahan suatu hal. Barangkali orangtuanya biasa-biasa saja, namun anak-anaknya luar biasa. Karena Berkah itu ziyadatul khair dan inilah inti dari kehidupan dengan menjadikan Allah selalu hadir dalam setiap hal, termasuk dalam mencari nafkah.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Rayakan HUT Ke-X, FIMNY Gelar FIC dan Pentas Seni


    Suasana acara FIMNY Intelektul Club (1/6/2018).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) merayaakan hari ulang tahun (Jumat-Sabtu, 01-02 Juni 2018), acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh pengurus FIMNY dan Acara perayaan HUT FIMNY yang ke-X terdapat dua rangkaian acara, yang pertama acara FIMNY Intelektual Club (FIC) dan Penyambutan Mahasiswa Baru-Bima Dompu tahu 2018 bertema “Menjaga Esensi dan Eksistensi Mahasiswa sebagai pelopor di Era Milenial” yang dilangsung pada Jum’at, 1 Juni 2018 pukul 20:30-selesai dan bertempat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat D.I.Y (Jl. Sorowajan Baru Nomor 1, Sorowajan, Banguntapan, Bantul, DIY), acara kedua yaitu acara Pentas Seni yang bertema “Ta Kasama Weki di Salaja FIMNY Ara Dana Loja” yang berlangsung pada Sabtu, 2 Juni 2018 pukul 22:00 WIB-selesai dan bertempat di Omah PMII-Yogyakarta. Kedua rangkaian acara tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa Bima-Dompu yang Ada di Yogyakarta dan acara tersebut berlangsung dengan lancar dan damai.

    FIMNY Intelektual Club dan Penyambutan Mahasiswa Baru Bima-Dompu tahun 2018 dihadiri oleh ketiga pemateri, pemateri pertama yaitu Ketua Umum PUSMAJA Mbojo Yogyakarta Periode 2015-2017 M. Jamil, S.H. (Pandangan dari Sisi Akademis), pemateri kedua Ketua DPC GMNI Yogyakarta Julio Adi Putra Hutabarat (Pandangan dari Segi Aktivis) dan pemateri ketiga Ketua DPC PKB Kota Yogyakarta dan juga Ketua Karang Tarunan Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (Pandangan dari Segi Politisi). Untuk memperlancar berjalannya acara, maka dimoderatori oleh Abdurrahman Ismail.

    Saat hari kedua, Pentas Seni, berbagai macam hiburan yang di tampilkan pada acara tersebut diantaranya, tari tradisional Bima (Tari Wura Bongi Monca, Tari Sangiang, Tari Haju Jati, Tari Kipas, Tari Gantao, Tari Wa’a Mama), Akustik, Kalero, Drama dan Kareku Kandei.

    Terkait rangkaian acara yang diselenggarakan FIMNY, berbagai apresiasi yang disampaikan, terutama dari para pemateri FIC. M Jamil, S.H., selaku senior FIMNY berimakasih kepada seluruh pengurus dan panitia HUT FIMNY atas inisiasi yang dilakukan. “Acaranya luar biasa bagus tinggal dimasifkan lagi kepeloporannya, hindari segala sesuatu kesalahan-kesalahannya, mudah-mudahan kedepannya lebih baik lagi dan lebih jaya lagi, sukses buat FIMNY, jayalah FIMNY, siaplah bertempur untuk memberikan kontribusi yang nyata untuk bangsa dan dunia,” beber Jamil.

    Senada dengan itu, Ketua Karang Tarunan Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. juga mengapresiasi kegiatan FIMNY. “Acaranya sudah sangat bagus sekali, mohon untuk ditingkatkan, syukur acara ini dari kepatiaannya bisa bersinergi dengan pemerintah setempat, artinya ada apresiasi langsung yang nantinya agar lebih menunjang baik untuk organisasi maupun secara personal kemampuan intelektual teman-teman FIMNY dan mampu menjalin komunikasi tidak hanya dengan mahasiswa saja, tapi juga mencoba untuk mulai menggandeng pemerintah setempat sehingga bisa di lirik dan tentunya untuk eksistensinya agar lebih mengalami level Up,” ucap Solihul Hadi. 

    Hal yang sama, apresiasi, juga diberikan oleh Ketua DPC GMNI Yogyakarta Julio Adi Putra Hutabarat. “Jangan sampai organisasi daerah itu menjadi organisasi yang akskusif terhadap bangsa dan negara karena sejarah mencatat organisasi daerah menjadi salah satu organisasi penting yang ikut membicarakan bangsa dan negara sebelum kita merdeka, karena kondisi nasional mempengaruhi kondisi Bima dan yang menjadi catatan adalah bagaimana mahasiswa Bima meningkatkan semangat belajar di Yogyakarta, ambillah dan curilah ilmu sebanyak-banyaknya di kota pendidikan ini karena kedepan Bima ada ditangan kawan-kawan,” katanya. (Siti Hawa / PEWARTAnews)

    Suasana acara Pentas Seni FIMNY (2/6/2018)

    Mudik: Asli Kampung dari Kampung untuk Kampung

    Eka Ilham. 
    PEWARTAnews.com -- Mudik merupakan tradisi masyarakat indonesia untuk pulang ke kampung halamannya yang setiap tahun menjelang idul fitri atau lebaran mengalami arus mudik yang sangat padat. Kembalinya para perantau dan masyarakat yang tinggal diperkotaan menuju kampung halamannya sangat massive sekali. Eksistensi mudik tidah terbantahkan lagi. Kegiatan mudik ini memiliki tujuan yang sangat mulia sekali yaitu memupuk dan menjalin semangat silaturahim dengan orang tua, keluarga, saudara, sahabat, dan lingkungan di kampungnya. Semangat mudik ini merupakan identitas yang muncul di setiap bulan ramadhan. Kerinduan akan kampung halaman merupakan salah satu alasan masyarakat indonesia untuk melaksanakan tradisi mudik.

    Sejak zaman dulu tradisi mudik merupakan suatu hal yang sangat membahagiakan bagi masyarakat yang sebagian besar berasal dari asli kampung. Mereka kembali ke kampung halamannya karena mereka tahu berasal dari kampung dan kembali untuk kampung tanah kelahirannya. Tradisi mudik juga memunculkan berbagai macam kegiatan seperti buka puasa bersama, reuni sekolah SD, SMP, SMA/SMK, perguruan tinggi berbagai angkatan kerap kali di adakan untuk menyambung kembali kerinduan dan silaturahim yang cukup lama tidak terjalin setelah sekian lama. Tradisi mudik merupakan jembatan dari pertemuan-pertemuan tersebut.

    Mudik juga memberikan energi baru bagi para pemudik untuk lebih bersemangat untuk bekerja setelah mereka pulang dari kampung halamannya. Bagi-bagi THR atau tunjangan hari raya merupakan ciri khas dari tradisi mudik setelah sekian lama mengumpulkan pundi-pundi uang di ibu kota baik yang bekerja di pemerintah dan swasta, pada hari kemenangan Idul Fitri menjadi momen terbaik untuk saling berbagi antar sesama. Kami datang untuk sesuatu yang hilang yaitu sebuah kerinduan akan kampung halaman tanah kelahirannya. Tradisi mudik juga merupakan jalan untuk berziarah ke kuburan orang tua, keluarga dan sahabat. Eksistensi mudik merupakan tradisi yang tidak akan pernah hilang terutama pada setiap hari lebaran. Aktivitas arus mudik dan arus balik akan menjadi pemandangan yang padat kita lihat sepanjang perjalalanan baik darat, laut dan udara.

    Selama kita masih memiliki kampung halaman tentunya tidak akan pernah hilang tradisi mudik ini. Mudik juga memberikan kesempatan juga untuk memperatkan hubungan yang lama tidak tersambung lagi. Di hari kemenangan Idul Fitri persaudaran sangat erat sekali. Mudik bukan hanya sekedar mununjukkan eksistensi bahwa mereka telah berhasil di perantuan secara material dan non material namun lebih pada kita coba menunjukkan bahwa kita asli kampung dari kampung dan untuk kampung dalam suatu bingkai semangat silaturahim.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima.

    NU Se-Bantul Barat Dukung Umaruddin Masdar Jadi Caleg DPRD DIY

    Suasana Halaqoh Ulama di Bantul, (9/6/2018)
    Bantul, PEWARTAnews.com -- “NKRI harga mati, bersatu lawan radikalisme untuk Indonesia. Islam Indonesia cinta perdamaian,” inilah kalimat yang sering diucapkan MC yang juga Diajeng Putri Bantul 2017 Aslih Rina dalam acara Halaqah Ulama keluarga besar NU se-Bantul (09/06/2018). Kalimat ini menggambarkan bagaimana jamaan salah satu organsasi terbesar di Indonesia yakni NU memiliki semangat dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

    Halaqah ulama yang dilaksanakan di kantor PC NU Bantul ini juga dihadiri oleh tokoh agama seperti KH Abdul Choliq Syifa’ Rois Syuriah NU Bantul yang juga pimpinan PP Al-Anwar Bantul. Hadir juga Dr. KH. Hilmy Muhammad atau yang akrab dipanggil Gus Hilmy Calon DPD RI tahun 2019-2024 dan juga Ketua LPNU Kota Yogyakarta Rochmad. Selain silaturahim, halaqah kali ini juga menyatakan dukungan terhadap Kiai Umaruddin Masdar, Sekjend DPW PKB Yogyakarta untuk maju dalam kompetisi pilihan legislatif tahun depan (2019).

    “Pak Umar ini saya kenal sekira 5 tahun lalu. Beliau sangat getol menjaga dan menyebarkan ahlus sunnah wal jamaah annahdliyah ke seluruh Indonesia,” tutur Gus Hilmy disela-sela acara berlangsung.

    Lebih jauh Gus Hilmy membeberkan, “Bahkan jauh sebelum PKP dan MKD NU ada, pak Umar sudah memgambil peran itu melalui dengan Densus 26 NU-nya. Maka dari itu pak Umar sangat perlu kita dukung,"  Imbuh lagi Gus Hilmy.

    Senada dengan Gus Hilmy, Ketua PC Muslimat NU Bantul, Ibu Nyai Nadhiroh Mujab Mahalli menyampaikan terima kasihnya kepada Kiai Umar yang telah turut berperan aktif menyebarkan ahlus sunnah waljamaah annahdliyah dan mendukung Kiai Umar untuk menjadi Calon Anggota Legislatif DPRD DIY 2019.

    Acara Halaqah Ulama ini di tutup dengan penanda tanganan pernyataan dukungan Keluarga Besar NU se-Bantul Barat kepada Kiai Umar, doa sekaligus buka bersama. Terlihat hadir sekaligus memberi dukungan kepada Kiai Umar Relawan Umarudin Masdar Istimewa bersama tokoh masyarakat beserta tokoh-tokoh muda NU. Seusai acara Halaqah, Kiai Umar beranjak ke Masjid Al-Wustho, Sanden, Poncosari, Srandakan, Bantul untuk melakukan Safari Taraweh DPW PKB DIY bersama DPC PKB Bantul. (rls / PEWARTAnews)


    Pendidikan yang Idialisme Kritik dan Militan

    Fen Yasin Arfan. 
    PEWARTAnews.com -- Kondisi bangsa dalam pandangan penulis, saat ini pendidikan dijadikan praktisi politik oleh kekuasaan, yang terjadi tidak lagi sesuai harapan masyarakat Indonesia dan amanah yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 45). Akibatnya, pendidikan menjadi permainan oknum politisi yang berkuasa.

    Berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan masih kurang jelas dalam penerapan sistem yang dipakai, hal inilah yang penulis ragukan bahwa pemerintah telah mengabaikan kepentingan rakyat terkait pendidikan.

    Bagaimana kita memandang dan menyelesaikan permasalahan tersebut, seringkali mencerminkan pandangan filosofi kita. Peraturan dan prosedur yang digunakan sekolah untuk menyelesaikan masalah dalam pendidikan seringkali juga mencerminkan filsafat yang mendasarinya. Harapannya, dengan mempelajari berbagai aliran filsafat pendidikan, kita dapat mengembangkan pandangan kita dalam memandang semua permasalahan di bidang pendidikan. Plato adalah generasi awal yang telah membangun prinsip-prinsip idealisme kritik dalam pendidikan yang berbasis pendidikan kapitalisme. Hal tersebut tidak lagi menjadi pendidikan yang sesuai dengan harapan generasi muda Indonesia, tidak lagi sesuai dengan nilai yang terkandung dalam GBHN dan UUD 1945.

    Konsep dasar aliran idealisme dalam pendidikan karakter militan dunia pendidikan dewasa ini telah beda dengan apa yang di harapkan masyarakat. Menurut penulis, paham idealisme pendidikan yang sesungguhnya nyata adalah ruh, mental atau jiwa. Alam semesta ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada manusia yang punya kecerdasan dan kesadaran atas keberadaannya. Materi apapun ada karena di rasakan dengan panca indra dan dipersepsikan oleh otak manusia. Inilah muncul kecerdasan yang biasa dikenal dengan kecerdasan IQ.

    Penulis berharap, pendidikan sekarang bisa di jamin oleh negara sesuai dengan amanah UU Sisdiknas dan UUD 1945. Apabila tidak, maka akan muncul hal-hal yang merusak generasi intelektual yang ingin menjadi kader umat dan kader bangsa Indonesia.

    Upaya yang perlu kita lakukan sesungguhnya sudah ada dalam jiwa setiap insan yang berjiwa pendidik. Tugas pendidik adalah membuat pengetahuan yang tersimpan dalam hati menjadi kesadaran. Para pendidik berusaha agar murid mencapai keadaan dalam kesempurnaannya. Hal ini diharapkan untuk menjadi manusia sempurna dan memiliki idealisme kritik dan militan dalam seperangkat kurikulum pendidikan sekarang.

    Semua orang berhak mendapatkan pegetahuan dalam dunia pendidikan, karna itu sudah diamanahkan konstitusi bangsa Indonesia. Sehingga seluruh masyarakat berhak mengenyam dulia pendidikan (sekolah). Meski demikian, tidak setiap orang mempunyai kemampuan intelektual yang sama, yang belum cerdas perlu mendapatkan tantangan dan didikan yang lebih dari guru. Karena sesungguhnya tujuan pembelajaran adalah memupuk kreatifitas.

    Banyak hal yang menjadi pengaruh idealisme di dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Kita semua, terutama pendidik menjadi agen penting dalam menolong siswa untuk mengembangkan potensinya yang di hadapkan dengan pertentangan dengan materialisme. Idealisme menurut ilmu sosial adalah doktrin bahwa ciri-ciri dasar kehidupan sosial maupun kemasyarakatan, kemanusiaan dan kesadaran kita sebagai pengajar merupakan hasil dari sifat dasar pemikiran dan ide manusia. Sedangkan materialisme menurut ilmu sosial merupakan cara pandang bahwa keadaan dasar kehidupan sosial berasal dari "kondisi material kehidupan sosial", seperti ekonomi, lingkungan dan fisik.

    Wajah pendidikan di Indonesia tak lagi seperti yang diharapkan oleh rakyat Indonesia yang sebenarnya adalah tanggung jawab moral bangsa Indonesia dan UUD 1945.

    Semoga bermanfaat untuk para kader-kader FIMNY, pejuang pendidikan dan seluruh lapisan masyarakat.


    Penulis: Fen Yasin Arfan
    (Senior FIMNY / Pengurus PP Pemuda Muhammadiyah)

    Peringati HUT Ke-10, FIMNY gelar FIMNY Intelektual Club Ala-Ala ILC

    Suasana usai acara FIC dalam rangka peringati HUT FIMNY ke-10.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Tidak terasa, tahun ini Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) --salah satu organisasi Daerah dibawah naungan keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta -- kini menginjak usia yang ke-10 tahun. Sebagai upaya untuk memeriahkan hari ulang tahunnya, FIMNY menggelar dua agenda besar, yakni FIMNY Intelektual Club (IFC) dan juga sebagai puncaknya terselenggara agenda Pentas Seni.

    Selain untuk memperingati HUT ke-10, saat acara FIC Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) juga dirangkaikan dengan Penyambutan Mahasiswa Baru Bima-Dompu 2018.

    FIC mengangkat tema “Menjaga Esensi dan Eksistensi Mahasiswa sebagai Pelopor di Era Milenial”. Diselenggarakan pada Tanggal 1 Juni 2018 di Aula Kementerian Pendidikan (Balai Pengembangan PAUD dan Pendidikan Masyarakat DIY), Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Acara IFC mendatangkan tiga elemen pemateri yang kompeten dalam bidangnya, diantaranya, dari unsur Akademisi menghadirkan M. Jamil, S.H. (Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta periode 2015-2017), unsur Politisi menghadirkan Solihul Hadi, S.H. (Ketua Tanfidziyah DPC PKB Kota Yogyakarta), dan unsur Aktifis menghadirkan Julio Adi Putra Mutabarat (Ketua Umum DPC GMNI Yogyakarta). Sebagai  Presiden FIC untuk pemandu acara hadir Abdurahman Ismail (Koordinator Bidang Sumber Daya Manusia FIMNY).

    M. Jamil memandang bahwa mahasiswa seorang mahasiswa harus memahami secara sungguh-sungguh makna dari Tri Darma Perguruan Tinggi, dengan memaknainya, kata Jamil, mahasiswa mampu mengejawantahkan diri seutuhnya sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. "Pijakan dasar seorang mahasiswa terletak pada tri darma perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa juga perlu menggembleng dirinya dalam berproses di organisasi intra dan ekstra kampus, namun memperhatikan juga tugas utama sebagai mahasiswa, yakni juga tidak mengabaikan tugas-tugas kuliah," beber Jamil.

    Hadir juga dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum FIMNY Gajali, Direktur Pusat Studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta, Pengurus KEPMA Bima-Yogyakarta Amar, senior-senior FIMNY, Pengurus IKPM Dompu-Yogyakarta, perwakilan-perwakilan organisasi dibawah naungan KEPMA Bima-Yogyakarta dan juga para calon mahasiswa baru. (PEWARTAnews)

    Bangga menjadi Anak Indonesia (Belajar, Berjuang, Bertaqwa, Berkarya dan Berprestasi)

    PEWARTAnews.com -- Tulisan ini penulis persembahkan kepada seluruh rakyat Indonesia (pendidik, mahasiswa-mahasiswi, santri dan orang-orang yang mencintai dan peduli bangsa ini yang tidak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan penulis).

    Alhamdulilah. Terimakasih sahabat, Mukaromah belajar banyak hal dari kalian. Memang benar adanya bahwa memaknai hidup dalam bergaul, berorganisasi dan bermasyarakat akan berjalan mengalir dengan melihat, mendengar,  mengamati, mencermati lalu menginternalisasikan dalam lubuk hati yang paling dalam baru kemudian mengaplikasikan (action) dalam tindakan nyata. (Nasihat yang diberikan bu dosen Muna).

    Sebenarnya kunci utama dalam bergaul kepada orang entah itu di Pondok, kampus, organisasi maupun masyarakat adalah “ramah” dan “mudah bergaul”. That’s right. Kondisi itu pula yang menjadi ciri khas orang berpendidikan (dalam arti luas) dan paham agama. Oke, saatnya perkenalan. ini sahabat-sahabat saya di PAC IPNU IPPNU. Mereka adalah generasi muda Indonesia. Karena 15 tahun yang akan datang, Estafet kepemimpinan bangsa ini akan dipegang oleh generasi mudanya, termasuk kita dan kalian semua (pembaca).

    Syubbaanul Yaum Rijaalul Ghodd, maju mundurnya bangsa ada di tangan pemudanya saat ini, Alaysa kadzalik? Berbicara tentang Bangsa Indonesia, humanisme Indonesia dibawah naungan PBB hanya sebagai objek/maf’ulun bihi, karena Indonesia lemah lahir dan batin. Maaf ini kritikan, karena saya melihat problematika Indonesia yang kian kompleks dan merajalela dari hari per hari. Baik itu dalam bidang agama, sosial humaniora, ekonomi maupun budaya. Seperti : kemiskinan, korupsi, narkoba, penegakan hukum yang lemah, kejahatan seksual, kualitas pendidikan yang lemah, pengelolaan SDA yang buruk (penebangan hutan secara liar, bom ikan dan sebagainya). Pengangguran dan problematika tersebut saling berkaitan antara problematika yang satu dengan yang lainnya. Sebagai generasi muda, apalagi pelajar hal yang harus dilakukan ialah dengan belajar bersungguh-sungguh. Belajar apapun itu, karena belajar tidak terbatas hanya di ruang kelas saja. Tetapi, belajar dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, asal disitu ada ilmu. Yakni belajar memaknai hidup dan menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain (khoirunnaas anfa’uhum linnaas).

    Seperti nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya “Kiyai Haji Hasyim Asy’ari”, karya Heru Soekardi, cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko : “Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan  pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidak sabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.

    Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan. Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.

    Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan, dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,” dengan nasihat beliau, saya teringat ayat di dalam Al-Qur’an Qs. An Nisa' yang intinya, janganlah orangtua itu meningalkan anak-anaknya dalam keadaan dho’if atau lemah. Lemah dalam hal pikir, harta, jiwa maupun raga (spiritual). Lalu kenapa orangtua menyekolahkan bahkan menyantrikan anak-anaknya? Ya, karena orangtua sadar, kelak mereka akan meninggal dunia dan hanya anak-anaknya lah yang menjadi “harta berharga” bagi diri dan keluarganya. Karena sejatinya, pendidikan dalam arti seluas-luasnya adalah investasi masa depan, dan mungkin dengan melalui pendidikan, bangsa ini akan jauh lebih baik. Masih ingat dengan pidato pak Anies Baswedan saat melepaskan pengajar muda untuk mengabdi di daerah terpencil? Berikut intinya : “Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan (salah satunya ) yakni : “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Itu adalah hak dan kewajiban bagi rakyat Indonesia. Janji Mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya terpenuhi jika masih ada 1 saja anak Indonesia yang belum bisa merasakan bangku sekolah”.

    Berdasar buku “Kisah Pengajar Muda” yang telah saya baca, di daerah terpencil masih banyak sekali anak-anak yang belum bisa merasakan nikmatnya sekolah. Bahkan fasilitas di sekolah pun masih jauh dikatakan layak. Semoga pemerintah lebih memperhatikan pendidikan khusunya di daerah yang jauh dari jangkauan pemerintah (3T).

    Karena pada hakikatnya, mendidik bukan hanya tanggung jawab guru dan orangtua. Akan tetapi, mendidik adalah tanggung jawab semua orang yang memiliki ilmu walau qolil. Bukankah ballighu ‘anni walau aayah? Selain itu juga karena manusia adalah makhluk "educandum" (membutuhkan pendidikan) dan "educandus" (dapat mendidik orang lain). Mari, bersama-sama melunasi janji kemerdekaan RI dan bersatu membangun pendidikan yang lebih baik.

    Saya mengutip makna pendidikan dari tokoh yang amat saya kagumi, yakni Ahmad D. Marimba:  Pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yang tujuannya agar kepribadian peserta didik terbetuk dengan sangat unggul. Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter.

    Pendidikan yang baik itu tidak hanya mentransfer materi pelajaran/kuliah saja, akan tetapi yang lebih dari itu ialah penanaman karakter. Mengajarkan dan menanamkan sifat dan sikap yang terpuji pada anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh rasulullah. Terutama sifat jujur dan sikap tanggung jawab. Selain itu juga, membimbing dan memotivasi anak agar mereka mempunyai kepercayaan diri dan siap untuk menatap masa depan. Sehingga, peran guru tidak hanya sebagai pendidik dan fasilitator semata, tetapi juga harus (wajib ‘ain hukumnya) menjadi motivator dan inspirator anak Indonesia.


    Dobalan, 19 Juli 2016
    Penulis: Siti Mukaromah 
    Mahasiswi Fakultas Tarbiyah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website