Headlines News :
Home » » Andai Sekolah Sebagai Tempat Belajar Sastra

Andai Sekolah Sebagai Tempat Belajar Sastra

Written By Pewarta News on Minggu, 10 Juni 2018 | 22.46

Eka Ilham saat mengajarkan sastra teater pada salahsatu siswanya di Bima NTB.
"Karya sastra mengajarkan kita tentang bercermin diri, tidak ada yang tersakiti dan menyakiti karena sesungguhnya kita sedang menertawakan diri kita sendiri untuk itu mari kita tertawa bersama-sama" (Eka Ilham)

PEWARTAnews.com -- Kelas terasa indah dan menarik ketika anak-anak didikku membacakan puisi "Guru Itu Melawan" sebuah kumpulan puisi kesaksian potret dunia pendidikan di negeri ini. Negeri pungli, sang guru, sekolah Petruk dan guru terpencil. Merupakan sederet puisi karya gurunya mereka sendiri mereka bacakan setiap 15 menit sebelum mata pelajaran inti di mulai. Sesering mungkin aku membiasakan murid-muridku untuk membaca karya sastra di setiap mata pelajaran yang aku ajarkan sebagai guru bahasa inggris. Dengan leluasanya dan kejujurannya setiap murid mengekspresikan bait-bait puisi guru itu melawan. Tidak ada ketakutan yang aku lihat di raut wajah murid-muridku, yang ada jiwa-jiwa kritis dan menuturkan kejujuran dari potret pendidikan negeri ini. Suasana kelas seperti zaman revolusi mereka memaknai puisi dengan penuh semangat. Setiap siswa diberikan kesempatan untuk melantunkan bait-bait puisi guru itu melawan jeritan hati para pendidik dan potret negeri ini.

Andaikan sekolah-sekolah di negeri ini anak-anak didiknya berpuisi, guru-gurunya berpuisi, kepala sekolah berpuisi, kepala dinas pendidikan berpuisi, menteri pendidikan berpuisi dan presiden pun berpuisi sungguh indah puisi-puisi itu dilantunkan. Kelas serasa tidak membosankan para murid tidak dikekang kreativitasnya, mereka bebas berekspresi dengan kejujurannya masing-masing. Slogan pendidikan karakter sebenarnya ada lewat murid-muridku di desa kecilku ini. Setiap sore mereka mendatangi rumahku hanya sekedar untuk berekspresi melantunkan bait-bait puisiku. Aku menemukan jiwa-jiwa pendidikan yang bebas, mereka bebas mengkritikku sebagai seorang guru, mereka bebas berpendapat kenapa guru itu harus melawan. Pertanyaan-pertanyaa­n muridku membuatku tersadar bahwa sekolah bukan lagi sebagai taman berekspresi bagi mereka tetapi mereka sebagai anak yang patuh pada aturan-aturan kaku yang menyeragamkan mereka.

Guru adalah 'Tuhan' Guru adalah 'Hakim' Guru adalah 'kumpulan serdadu' yang tidak bisa dibantah dan selalu benar dan murid tidak boleh melawan. Kelas seperti ruang penjara dan penyiksaan bagi anak-anak negeri ini. Aku coba melawan tatanan itu dengan menghadirkan kelas berpuisi dan berdebat bukan hanya disekolah tetapi berbagai ruang tempat dan kreativitas. Faktanya murid-muridku ini mampu memberikan prestasi bagi sekolah mereka. Mereka berhasil meraih prestasi di lomba-lomba dan festival seni budaya tingkat kota dan provinsi. Pada tahun 2017 dinas pendidikan provinsi NTB memberikan kepercayaan kepada sekolahku sebagai sekolah untuk program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) pada khususnya seni teater. Selama tiga bulan siswa melaksanakan latihan teater untuk di pentaskan pada akhir kegiatan GSMS. Betapa antusiasnya peserta didik mengikuti kegiatan ini selama tiga bulan. Pada akhirnya mereka menampilkan sebuah karya pementasan teater yang begitu menakjubkan dengan sebuah cerita masyarakat Bima “Wadu Ntanda Rahi”. Pengalaman yang bersejarah bagi mereka sekali seumur hidup melalui karya sastra.

Aku ajarkan mereka karya sastra yang merupakan kristalisasi nilai-nilai dari suatu masyarakat. Meskipun karya sastra yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi masyarakat mau tidak mau tercermin dalam karya sastra tersebut. Aku ajarkan mereka menulis puisi dengan bahasanya, ide, gagasan, pengalaman, dan amanat yang ingin disampaikan kepada pembacanya dan penikmatnya. Dengan harapan, apa yang disampaikan itu menjadi masukan, sehingga pembaca dan penikmatnya dapat mengambil kesimpulan dan menginterpretasikann­ya sebagai sesuatu yang dapat berguna bagi perkembangan hidupnya. Hal ini membuktikan, bahwa sekolah dan murid-murid dapat bebas berekspresi tampa takut pada aturan-aturan sekolah seperti serdadu. Dengan kalimat lain, puisi memberikan keberanian dan menghilangkan rasa takut. Hal itu bisa terjadi, apabila setiap sekolah memberikan kebebasan berekspresi sesuai dengan keunikan murid-muridnya. Setiap murid punya jiwa seni.

Aku akan memberikan rangsangan bagi kebebasan yang ada dalam diri murid-muridku, melalui puisi menyajikan kebebasan yang ingin diungkapkan oleh murid-muridku. Itulah sebabnya pada saat-saat tertentu sekolah harus memberikan toleransi yang semakin besar terhadap puisi. Puisi itu mendidik, memperluas pengetahuan tentang kehidupan, meningkatkan kepekaan perasaan, dan membangkitkan kesadaran. Puisi tidak mengajarkan siswa untuk berpura-pura tanpa pamrih, berpura-pura objektif terhadap masalah yang ada di dunia. Puisi memberikan inspirasi bagi murid-muridku untuk menggapai masa depannya.


Penulis: Eka Ilham, M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website