Headlines News :
Home » , » Bangga menjadi Anak Indonesia (Belajar, Berjuang, Bertaqwa, Berkarya dan Berprestasi)

Bangga menjadi Anak Indonesia (Belajar, Berjuang, Bertaqwa, Berkarya dan Berprestasi)

Written By Pewarta News on Jumat, 08 Juni 2018 | 04.51

PEWARTAnews.com -- Tulisan ini penulis persembahkan kepada seluruh rakyat Indonesia (pendidik, mahasiswa-mahasiswi, santri dan orang-orang yang mencintai dan peduli bangsa ini yang tidak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan penulis).

Alhamdulilah. Terimakasih sahabat, Mukaromah belajar banyak hal dari kalian. Memang benar adanya bahwa memaknai hidup dalam bergaul, berorganisasi dan bermasyarakat akan berjalan mengalir dengan melihat, mendengar,  mengamati, mencermati lalu menginternalisasikan dalam lubuk hati yang paling dalam baru kemudian mengaplikasikan (action) dalam tindakan nyata. (Nasihat yang diberikan bu dosen Muna).

Sebenarnya kunci utama dalam bergaul kepada orang entah itu di Pondok, kampus, organisasi maupun masyarakat adalah “ramah” dan “mudah bergaul”. That’s right. Kondisi itu pula yang menjadi ciri khas orang berpendidikan (dalam arti luas) dan paham agama. Oke, saatnya perkenalan. ini sahabat-sahabat saya di PAC IPNU IPPNU. Mereka adalah generasi muda Indonesia. Karena 15 tahun yang akan datang, Estafet kepemimpinan bangsa ini akan dipegang oleh generasi mudanya, termasuk kita dan kalian semua (pembaca).

Syubbaanul Yaum Rijaalul Ghodd, maju mundurnya bangsa ada di tangan pemudanya saat ini, Alaysa kadzalik? Berbicara tentang Bangsa Indonesia, humanisme Indonesia dibawah naungan PBB hanya sebagai objek/maf’ulun bihi, karena Indonesia lemah lahir dan batin. Maaf ini kritikan, karena saya melihat problematika Indonesia yang kian kompleks dan merajalela dari hari per hari. Baik itu dalam bidang agama, sosial humaniora, ekonomi maupun budaya. Seperti : kemiskinan, korupsi, narkoba, penegakan hukum yang lemah, kejahatan seksual, kualitas pendidikan yang lemah, pengelolaan SDA yang buruk (penebangan hutan secara liar, bom ikan dan sebagainya). Pengangguran dan problematika tersebut saling berkaitan antara problematika yang satu dengan yang lainnya. Sebagai generasi muda, apalagi pelajar hal yang harus dilakukan ialah dengan belajar bersungguh-sungguh. Belajar apapun itu, karena belajar tidak terbatas hanya di ruang kelas saja. Tetapi, belajar dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, asal disitu ada ilmu. Yakni belajar memaknai hidup dan menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain (khoirunnaas anfa’uhum linnaas).

Seperti nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya “Kiyai Haji Hasyim Asy’ari”, karya Heru Soekardi, cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko : “Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan  pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidak sabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.

Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan. Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.

Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan, dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,” dengan nasihat beliau, saya teringat ayat di dalam Al-Qur’an Qs. An Nisa' yang intinya, janganlah orangtua itu meningalkan anak-anaknya dalam keadaan dho’if atau lemah. Lemah dalam hal pikir, harta, jiwa maupun raga (spiritual). Lalu kenapa orangtua menyekolahkan bahkan menyantrikan anak-anaknya? Ya, karena orangtua sadar, kelak mereka akan meninggal dunia dan hanya anak-anaknya lah yang menjadi “harta berharga” bagi diri dan keluarganya. Karena sejatinya, pendidikan dalam arti seluas-luasnya adalah investasi masa depan, dan mungkin dengan melalui pendidikan, bangsa ini akan jauh lebih baik. Masih ingat dengan pidato pak Anies Baswedan saat melepaskan pengajar muda untuk mengabdi di daerah terpencil? Berikut intinya : “Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan (salah satunya ) yakni : “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Itu adalah hak dan kewajiban bagi rakyat Indonesia. Janji Mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya terpenuhi jika masih ada 1 saja anak Indonesia yang belum bisa merasakan bangku sekolah”.

Berdasar buku “Kisah Pengajar Muda” yang telah saya baca, di daerah terpencil masih banyak sekali anak-anak yang belum bisa merasakan nikmatnya sekolah. Bahkan fasilitas di sekolah pun masih jauh dikatakan layak. Semoga pemerintah lebih memperhatikan pendidikan khusunya di daerah yang jauh dari jangkauan pemerintah (3T).

Karena pada hakikatnya, mendidik bukan hanya tanggung jawab guru dan orangtua. Akan tetapi, mendidik adalah tanggung jawab semua orang yang memiliki ilmu walau qolil. Bukankah ballighu ‘anni walau aayah? Selain itu juga karena manusia adalah makhluk "educandum" (membutuhkan pendidikan) dan "educandus" (dapat mendidik orang lain). Mari, bersama-sama melunasi janji kemerdekaan RI dan bersatu membangun pendidikan yang lebih baik.

Saya mengutip makna pendidikan dari tokoh yang amat saya kagumi, yakni Ahmad D. Marimba:  Pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yang tujuannya agar kepribadian peserta didik terbetuk dengan sangat unggul. Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter.

Pendidikan yang baik itu tidak hanya mentransfer materi pelajaran/kuliah saja, akan tetapi yang lebih dari itu ialah penanaman karakter. Mengajarkan dan menanamkan sifat dan sikap yang terpuji pada anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh rasulullah. Terutama sifat jujur dan sikap tanggung jawab. Selain itu juga, membimbing dan memotivasi anak agar mereka mempunyai kepercayaan diri dan siap untuk menatap masa depan. Sehingga, peran guru tidak hanya sebagai pendidik dan fasilitator semata, tetapi juga harus (wajib ‘ain hukumnya) menjadi motivator dan inspirator anak Indonesia.


Dobalan, 19 Juli 2016
Penulis: Siti Mukaromah 
Mahasiswi Fakultas Tarbiyah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website