Headlines News :
Home » , » Kawan-Kawan Pelajar yang Revolusioner

Kawan-Kawan Pelajar yang Revolusioner

Written By Pewarta News on Selasa, 05 Juni 2018 | 12.36

Muhaimin Deven. 
PEWARTAnews.com -- Ketika penulis di deploit ke Solo-Sukoharjo atas tugas kemanusiaan untuk turun ke massa rakyat yang berjuang mendapatkan udara segar yang di cemari oleh PT. RUM, penulis mendapat pengalaman yang berharga dalam hidup yang tidak pernah di ajarkan dalam dunia pendidikan.

Penulis bertemu dengan kawan-kawan yang revolusioner, mereka masih muda dan masih duduk di dunia pendidikan (SD, SMP, dan SMA). Mereka sangat semangat untuk berjuang bersama rakyat dan melakukan live in di rakyat Sukoharjo. Ketika penulis ngobrol dengan mereka dan melontarkan pertanyaan, "Apakah kalian tidak berangkat sekolah?". "Aku ingin berjuang seperti kalian," katanya dengan penuh semangat.

Ketika penulis bertanya kepada salahsatu kawan bernama Hasan yang masih duduk di bangku SD dengan pertanyaan yang sama, lalu dia menjawab, "Aku ingin melawan PT. RUM dan ingin ketemu sama Kribo (panggilan iss oleh Hasan), mereka masih mudah dan mau melawan dengan apa yang di rasakan oleh mereka bahwa bau racun limbah produksi PT RUM membuat rakyat Sukoharjo dan anak-anak untuk melawan.

Ketika aku ngobrol dengan mereka aku merasa malu ketika aku mengingat diriku waktu SD, sampai SMA yang tidak pernah melakukan apa yang seperti kawan-kawan muda ini lakukan.

Selesai ngobrol dengan mereka pada pagi hari jam 9.45, dan waktu sore hari jam 15.15 penulis berangkat konsolidasi sama kawan-kawan mahasiswa di salah satu sekret organisasi dan didalam konsolidasi baru mulai kawan-kawan mahasiswa yang katanya memiliki slogan agen perubahan satu-persatu meminta izin untuk kegiatan internal, dan disitu aku merasa bahwa mahasiswa yang katanya selaku agen perubahan memilih megurus internal dari pada mengurus rakyat hari ini yang di kriminalisasi. Konsolidasi tersebut dilanjutkan, sampai kawan-kawan dari SAMAR menyampaikan bahwa akan ada aksi untuk membebaskam kawan-kawan yang di tangkap oleh aparat kepolisian.

Ketika saat aksi tersebut dibawa hujan gerimis, kawan-kawan dan rakyat Sukoharjo melakukan aksi, didalam massa aksi yang dilakukan tersebut antara mahasiswa dan rakyat Sukoharjo lebih banyak rakyat Sukoharjo. Satu persatu mahasiswa banyak alasan minta pamit, seperti pamit kuliah dan kegiatan internal yang mencerminkan sikap mahasiswa kepada rakyat hari dewasa ini makin memudar, mereka lebih memilih hal tetek bengek dari pada melibatkan diri dalam perjuangan rakyat.

Pada saat malam hari selesai aksi penulis ngobrol dengan kawan Emon yang masih duduk di bangku SMA. Emon menceritakan bahwa mereka pernah melakukan pendudukan di kampus untuk meminta sumpah mahasiswa, namun hal itu nihil yang didapatkan oleh kawan-kawan yang masih duduk di bangku SMA tersebut, ini bagian mencerminkan sikap bahwa mahasiswa dewasa ini mengajarkan kepada kaum muda yang masih SMA menjadi apatis terhadap perjuangan rakyat.

Kawan Emon menceritakan bahwa ada salah satu mahasiswa mengatakan kepada mereka bahwa “kalian anak  SMA belum saatnya melakukan aksi, setelah menjadi mahasiswa baru pantas melakukan hal demikian (aksi)”, namun kawan-kawan yang masih SMA  yang menanggapi pernyataan tersebut dengan mengatakan kalian mahasiswa apa yang kalian lakukan sekarang? Mahasiswa tersebut mendengar bantahan dari kawan-kawan SMA hanya diam dan tidak menanggapi.

Apakah demikian bahwa mahasiswa memiliki sejarah gerakan langsung mengklaim bahwa hanya mereka yang bisa melakukan aksi solidaritas terhadap rakyat tersebut? Mahasiswa selaku mewakili kaum muda harus sadar dan berposisi kepada rakyat miskin untuk melawan perampasan ruang hidup mereka, dan melakukan ideologisasi terhadap rakyat miskin untuk percaya terhadap garis massa dan kekuatan persatuan bukan mengajarkan rakyat miskin untuk berkompromis dan menitipkan nasib mereka pada elit politik borjuasi busuk.

Mahasiswa selaku mewakili kaum muda harus mencerminkan moral perjuangan masa pada kaum muda yang lainnya, untuk peduli terhadap rakyat miskin yang hari ini di kriminalisasi dan di rampas raung hidup mereka, bukan mencerminkan sikap moral yang tidak peduli terhadap perjuangan rakyat, dan mengajarkan kaum muda yang lain untuk menjadi apatis terhadap solidaritas dan bersatu bersama rakyat miskin, ketika saat ini mahasiswa selaku mewakili kaum muda mengajarkan sikap apatis terhadap kaum muda yang lainnya maka mahasiswa telah memperpanjang penindasan terhadap rakyat miskin.

Mahasiswa sangat cukup tau dengan persoalan rakyat hari ini, jadi jangan pura-pura tidak tahu karena mahasiswa yang memiliki waktu panjang untuk belajar bukan seperti buruh yang bekerja 8 jam/hari.

Kembali ke kawan-kawan revolusioner yang masih muda, aku sangat malu terhadap mereka yang masih muda sudah berjuang bersama rakyat sedangkan mahasiswa yang memiliki slogan agen perubahan dan memiliki sejarah gerakan kini telah ditelan bumi.

Sekarang penulis menemukan mahasiswa yang masih berputar dalam alasan lumrah yang sering di dengar, seperti kuliah dan tetek bengeknya sehingga tidak bisa berjuang bersama rakyat, maka betul bahwa kebanyakan mahasiswa sekarang hanya memperpanjang penindasan terhadap rakyat miskin bukan membebaskan rakyat miskin dari ketertindasan yang di lakukan oleh oknum militerisme, kapitalisme dan imperialisme.


Penulis: Muhaimin Deven
Aktifis Pembebasan Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website