Headlines News :
Home » » Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia yang Hanif

Kembali Kepada Fitrah Sejati Manusia yang Hanif

Written By Pewarta News on Rabu, 13 Juni 2018 | 10.31

PEWARTAnews.com -- Mengapa ayat Rabbana laa tuakhidznaa in nasiinaa au akhta’na memakai redaksi “au” bukan “wa”? Tanya Prof. Dr. KH. Muhammad Chirzin, M.Ag saat dalam perkuliahan Ma’anil Qur’an semester 3 yang lalu di IAT Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semua mahasiswa terdiam, dengan nada lirih beliau berkata ayat tersebut mengandung makna psikologi yang amat sangat dalam. Faktanya, manusia sering berbuat salah dan lupa. Tapi, Allah berkenan membesarkan hati kita seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat karena kesalahan atau kelupaan kita.

Dalam ayat yang lain dalam redaksi fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah/lupa) akan tetapi disisi lain manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al-Qur'an mengatakan manusia dengan ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
1. Potensi beragama (+)
2. Potensi akal  (+)
3. Potensi fisik (+)
4. Potensi Nafsu (+ dan -)

Potensi nafsu memiliki sisi positif dan negatif : Yang pertama ialah, Muthmainnah yang merupakan nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan berusaha menjadi yang terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan perdamaian dengan hati, diri sendiri maupun orang lain. Pun begitupula dengan hatinya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan mengingat Allah, maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus di manifestasikan dalam tindakan nyata sebagai wujud ketaqwaan kepada-Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dan lain-lain. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika kita mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insya Allah hati akan merasa tenang dan nyaman.

Yang kedua adalah nafsu Waswasah yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisannya. Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah lisan. Sebagaimana sabda Nabi SAW : "Jika tidak bisa berbicara baik, maka diam lah”. Diam merupakan kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan kita bersama.

Yang ketiga adalah nafsu Lawwamah yakni Nafsu yang mendorong manusia berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindarinya. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsunya dengan baik.

Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dari segala aspek dan dimensinya dengan mengaungrahinya akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia memiliki titik pembeda dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain, seperti hewan dan tumbuhan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Berbeda dengan manusia yang hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah menuju kehadirat Nya dengan jalan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al-Qur'an.

Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi. Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman-Nya : "wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna" (Qs. Al A’raf ayat 79).

Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam mengarungi kehidupan. Allah memberikan hati, agar manusia peka terhadap realitas sosial dengan dapat memahami dan merasakan keadaan orang yang berada dibawah-nya. Dengan mata, agar mampu melihat karunia dan ciptaan-Nya yang luar biasa. Dan dengan telinga, agar mampu mendengar jerit tangis orang-orang yang teraniyaya dan terdzalimi karena di rampas hak-hak hidupnya.

Adapun relevansinya dengan makna puasa ialah, tak lain agar dapat merasakan betapa perihnya orang yang kekurangan makanan, menahan diri dari sesuatu yang secara dzahir terlihat indah nan mempesona. Seperti kata guru spiritual saya, Mr. Radino Fernando, puasa itu belajar mati. Meskipun di iming-imingi sesuatu yang menggoda di depan mata, namun tidak akan tertarik untuk mencicipinya.

Seusai bulan Ramadhan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada manusia untuk berzakat. Mensucikan diri dari segala kotoran baik dzahir maupun batin. Serta mengasah kepedulian terhadap sesama dengan menyantuni fakir miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

Dengan demikian, mari kembalikan diri kepada Fitrah sejati manusia yang suci dan hanif untuk menuju insan paripurna dengan melepas segala hal yang membelenggu dalam hati, jiwa dan akal pikiran kita. Harus disadari bahwa seperti apapun manusia, tentu pernah berbuat salah dan khilaf kepada orang lain, sehingga harus saling memohon maaf dan memaafkan. Kerena  kedua hal tersebut merupakan wujud kasih sayang dan manifestasi hati yang mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, sehingga menyadari diri bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa. Bukan-kah "innal insana mahaalul khata'i wa nisyan"? Tak lain karena manusia ialah human being.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website