Headlines News :
Home » » Kerukunan dan Kerjasama Antar Umat Beragama Dalam Bingkai Pancasila guna Menunjang Pembangunan Nasional

Kerukunan dan Kerjasama Antar Umat Beragama Dalam Bingkai Pancasila guna Menunjang Pembangunan Nasional

Written By Pewarta News on Selasa, 05 Juni 2018 | 13.24

PEWARTAnews.com -- Salah satu komponen penting yang harus dimiliki oleh suatu negara ialah mempunyai dasar negara/ideologi negara. Para pendiri bangsa yang telah melahirkan dan membentuk negara ini dengan pemikiran yang arif dan bijaksana telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan teguh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari berbagai macam ancaman dan gangguan baik dari dalam maupun dari luar yang dikenal dengan pancasila. Penamaan dasar negara ini membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Berawal dari Piagam Jakarta Charter dimana founding father sepakat untuk menjadikan dasar negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan. Muncul problem saat kalimat ketuhanan ini berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at-syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalimat tersebut mengandung makna pendeskreditan golongan non-islam, padahal sebenarnya Indonesia merupakan negara majemuk. Oleh karena itu, Soekarno bangkit dan mengatakan ketidaksetujuan dengan teks tersebut dengan alasan akan menimbulkan perpecahan sesama warga negara.

Situasi dalam perdebatan yang sangat panjang, akhirnya teks tersebut diganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Betapa bijaknya Ir. Soekarno karena berkat gagasannya itulah negari ini bisa seperti sekarang dan berdiri hingga kini dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Sila pertama itulah, yang mampu menyatukan semua komponen bangsa dalam nanugan NKRI hingga detik ini. Pancasila adalah konsesus dasar dari seluruh bangsa Indonesia bahwa di Indonesia “tidak ada seorang pun” yang didiskriminasikan atas dasar latar belakang agama (demikian juga budaya, suku dan daerah). Pancasila juga mengamanatkan kesediaan mayoritas muslim Indonesia untuk menerima sebuah kerangka kebijakan dan UU negara yang tidak memperlakukan islam secara khusus. Hal ini lah yang menjadi faktor utama mengapa Indonesia masih tegak sebagai negara dan akan tetap menjadi negara yang satu hingga saat ini

Memahami sila Pancasila dengan baik dan benar, akan membuka wawasan dan cakrawala kebangsaan. Karena didalam Pancasila berisi konsep yang mengandung gagasan, cita-cita dan nilai dasar yang bulat, utuh dan mendasar mengenai eksistensi manusia dan hubungan dengan lingkungannya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Demikian pula didalam Pancasila mengandung spirit keislaman dan kebangsaan. Hal tersebut tercermin didalam aspek Religiusitas, Humanitas, Nasionalitas yang menyatakan bahwa manusia yang bertempat tinggal di bumi nusantara adalah suatu kelompok yang disebut dengan bangsa, Sovereinitas yang berdaulat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah rakyat dengan demokrasi yang bercirikan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan, serta spirit Sosialitas yang merupakan penggambaran cita-cita atas dasar Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan perorangan/kelompok tertentu. Hal tersebut syarat dengan esensi persatuan dan kesatuan warga negaranya, yakni kedamaian, keimanan, ketaqwaan, keadilan, kesetaraan, keselarasan, keberadaban, mufakat dan musyawarah, kebijaksanaan, dan kesejahteraan.

Atas dasar itulah mengapa bentuk negara Indonesia bukan negara khilafah dengan dasar Al-Qur’an hadist secara simbolik. Karena tak bisa dipungkiri, apabila negara menggunakan sistem khilafah, sudah jelas orang non muslim akan terdiskriminasi. Mereka tidak boleh lebih kaya daripada orang Islam, pun tidak boleh lebih cerdas dan sukses daripada orang Islam. Padahal Nabi Muhammad SAW dahulu membangun negara Madinah dengan mempersatukan ummat dari berbagai macam etnis, suku, budaya dan bahasa atas dasar persamaan derajat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan.

Indonesia merupakan negara majemuk yang yang terdiri dari 633 kelompok suku besar dengan 16.056 pulau (data 2017 oleh UNCSGN), 34 Provinsi dan 6 agama besar. Hal ini merupakan salah satu asset bangsa yang dapat digunakan untuk menunjang pembangunan nasional. Tata organisasi dan tradisi pelembagaan dari agama-agama itu merupakan potensi dan kekayaan yang besar bagi pembinaan mental dan spiritual bangsa dan sekaligus dapat menjadi jembatan untuk memasyarakatkan pembangunan dalam lingkungan umat beragama

Berdasar pada data yang penulis dapatkan dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa seluruh agama di Indonesia mempunyai tujuan yang sama, yakni bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, adil, makmur dan sejahtera. Hal ini harus selalu dipupuk, dijaga dan dikembangkan dengan sikap sadar akan keberagaman dan saling menghormati dan menghargai antar perbedaan yang ada, sehingga dapat memperkecil jurang konflik antar agama. Terakhir, Semua agama sepakat bahwa ideologi agama-agama di Indonesia menganut sistem Pancasila. Oleh karena itu, Pancasila dapat dipandang sepenuhnya sebagai titik temu (common platfrom) agama-agama di Indonesia. Pancasila merupakan manifestasi esensi Islam yang mengandung spirit Ketuhanan/monotheistik, Kemanusiaan, Nasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial.

NKRI Harga mati, Pancasila Jaya!


Bahan Rujukan :

Burhanuddin Dzikri (terj), Equality and Plurality dalam Konteks Hubungan Antar Agama, (Yogyakarta : CRSD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008), hlm.10.
Almasyah Ratu Perwiranegara, Pembinaan Kehidupan Beragama di Indonesia, (Jakarta :  PT Karya Unipress, 1982), hlm. 25.
Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan, (Jakarta : Paramadina, 2010), hlm.98.
Departemen Agama RI, Musyawarah Intern Umat Beragama, (Jakarta : Proyek Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama, 1981), hlm. 103.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website