Headlines News :
Home » , » Kuliah Kerja Nyata dalam Paradigma Mahasiswa

Kuliah Kerja Nyata dalam Paradigma Mahasiswa

Written By Pewarta News on Kamis, 28 Juni 2018 | 10.29

PEWARTAnews.com -- Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja --KKN merupakan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo --KKN adalah moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner --KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah” (Mukaromah, 2018).

KKN merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tidak suka, mau tidak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah Action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.

Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mereka berpendapat bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.

Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Dapat dibayangkan, bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/ pemasukan. Kemarin sempat mengobrol dengan teman yang sudah ngajar di suatu sekolah (SD di daerah Magelang), ternyata tidak boleh cuti, sedangkan penempatan KKN dia ada di Gunung Kidul. Ah, saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Inilah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar, dan lain-lain) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah bentuk jihad dan pengabdian yang sesungguhnya.

Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, bayangkan ya 2 bulan bersama. Insya Allah cukuplah yak untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter dan sifatnya. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mungkin mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Barangkali, ada yang mau mencoba ini. Monggo, terutama bagi yang masih jomblo, dan bagi yang sudah mempunyai pasangan, jangan lupa ya Profile WhatsApp nya diganti bersama pasangan-nya masing-masing agar tidak di baper-baperi sama temen se-posko. Hahaha, hanya saran.

Terakhir, KKN merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis di organisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi nggak untuk masyarakat? Dalam bahasa Jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik nggak? Itu yang diperlukan.

Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan. Dan bagi seorang wanita, seperti apapun dia (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun wanita karier)  juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

Selamat KKN, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama! Jadi, santai saja. Nggak usah sepaneng. Hehe.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website