Headlines News :
Home » , » Lagu Kebangsaan Kita Masih Sama

Lagu Kebangsaan Kita Masih Sama

Written By Pewarta News on Minggu, 10 Juni 2018 | 10.14

Eka Ilham, M.Si.
PEWARTAnews.com -- Lagu kita masih sama Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia yang kita selalu kumandangkan disetiap event-event kebangsaan maupun dalam lingkup keseharian kita dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Nasionalisme dan semangat patriotisme itu hadir disetiap sanubari kita di tengah kondisi kebangsaan yang mulai tercabik-cabik. Indonesia Raya adalah instrumen pemersatu kita sampai saat ini di tengah keberagaman kita. Lagu Indonesia Raya ini dikumandangkan pertama kali di bumi nusantara pada tanggal 28 Oktober 1928, pada saat kongres pemuda Indonesia lagu ciptaan W.R. Supratman, ini menandai kelahiran pergerakan nasional di seluruh Indonesia. Lagu Indonesia Raya mencerminkan identitas bangsa Indonesia. Simbol pemersatu bangsa dari sabang sampai Merauke. Lagu kita masih sama Indonesia Raya, masih bisa berdiri dan besar di Bumi Nusantara ini di tengah keberagaman kita.

Indonesia adalah negara yang dibangun dengan pondasi keberagaman. Agama, suku, bahasa, budaya, adat istiadat, pulau yang membentang dari sabang sampai Merauke merupakan identitas dari bangsa Indonesia. Bayangkan saja keberagaman ini kalaupun tidak dipersatukan oleh lagu Indonesia Raya, Bahasa Indonesia dan persamaan senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa yang pernah terjajah dan mampu memerdekan dirinya dari belenggu penjajahan mungkin kita tidak seperti ini hari ini. Toleransi menjadi kata kunci agar keberagaman itu tetap menjadi sebuah keutuhan yang hakiki. Mayoritas menghormati yang minoritas begitupun sebaliknya minoritas menghormati yang mayoritas. Rakyat Indonesia sadar keberagaman adalah sebuah keniscayaan itulah mengapa semboyan hidup bangsa kita adalah "Bhineka Tunggal Ika" dan Pancasila sebagai dasar negara kita.

Mengapa bahasa Indonesia sebagai sumber pemersatu bangsa?
Bahasa daerah adalah bahasa yang patut kita banggakan sebagai identitas nasional dari keberagaman itu sendiri. Bukan bermaksud membangun semangat primodial atau identitas kesukuan tetapi itulah hasanah budaya Indonesia yang membedakan dengan bangsa-bangsa yang lain. Dalam proses interaksi tentunya bahasa Indonesia adalah sebagai pemersatu semangat nasionalisme yang menjadikan kita secara kolektif mengakui bahwa kita masih mempunyai bahasa yang sama di tengah keberagaman yaitu bahasa Indonesia. Orang Jawa dalam komunitasnya menggunakan bahasa Jawa, orang Bima, Sumbawa, lombok dan daerah-daerah lainnya di nusantara ini dalam kesehariannya tentunya fitrah kedaerahannya menggunakan bahasa warisan leluhurnya yang mereka banggakan sebagai identitas lokalnya yang patut dilestarikan. Kita tidak bisa memungkiri fakta sejarah bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah peran dari para mantan pemilik republik ini yaitu para raja-raja atau sultan-sultan di seluruh nusantara ini walaupun pada saat ini mereka bukan lagi sebagai pemilik negeri ini paling tidak mereka adalah simbol identitas kebudayaan yang patut kita lestarikan. Bahasa Indonesia adalah pemersatu dari keberagaman dari setiap daerah itu sendiri. Disetiap bahasa daerah ada moral dan sikap dari si pemilik bahasa untuk melestarikan budayanya. Pendekatan budaya lokal lebih mengena pada setiap aktifitas berkehidupan. Tentunya semangat identitas lokal tersebut akan menjadi satu ketika bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu kita yang sampai hari ini memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa ini. Di tengah keberagaman kita Bahasa Indonesia mampu menjalin komunikasi dengan baik. Persamaan senasib dan seperjuangan yang meneguhkan kita sampai hari ini masih dalam bendera yang satu "Merah Putih". Melawan penjajahan dari bentuk penindasan pada saat itu yang menguatkan setiap rakyat Indonesia masih berdiri di tanah nusantara ini. Setiap daerah mempunyai kesaksian dalam membela bangsa Indonesia ini dalam belenggu penjajahan. Kalaupun tidak ada kesamaan senasib dan seperjuangan mungkin hari ini Indonesia akan tercabik-cabik menjadi negara masing-masing. Disentegrasi atau upaya-upaya memisahkan diri dari bangsa ini akan terjadi jika kita tidak memiliki semangat persamaan senasib dan seperjuangan dalam melepaskan dari penjajahan saat itu.

Semangat itulah yang sampai hari ini masih terpatri di diri setiap rakyat di nusantara ini. Patut disayangkan apabila hari ini masih ada saudara-saudara sebangsa dan setanah air masih berpikir bahkan upaya-upaya mereka lakukan untuk memisahkan diri dari bangsa Indonesia karena persoalan-persoalan ekonomi, keadilan dan upaya-upaya individu dan kelompok masyarakat yang memecah belah persatuan ini. Sangat mahal perjuangan para pahlawan dan para pendahulu bangsa Indonesia apabila persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini tercabik-cabik. Negara ini diperjuangkan oleh para pendahulu kita dari berbagai daerah dan keberagaman dengan satu tujuan memerdekakan Indonesia.

Mereka berjuang dengan hati yang tulus dan ikhlas dengan mengenyampingkan perbedaan suku, agama, budaya, bahasa dalam mempertahankan ibu pertiwi ini. Tidaklah elok semangat kebhinekaan yang sudah dibangun tercabik-cabik oleh orang- orang atau kelompok yang tidak menyukai persatuan dan kesatuan bangsa ini. Perbedaan jangan sampai melupakan tujuan kita dalam berbangsa dan bernegara. Semangat nasionalisme dan patriotisme itu lahir disetiap kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita bisa melihat bagaimana putra-putri terbaik kita mengaharumkan nama Indonesia dikancah international. Lagu kebangsaan dan bendera merah putih kita kumandangkan disetiap event-event dalam negeri dan luar negeri. Kita masih punya rakyat yang mencintai bangsa ini dengan karya-karya kreatif dan inovatif. Kita masih punya putra-putra daerah terbaik yang melestarikan budayanya sebagai identitas nasional. Kita sangat berutang pada anak-anak negeri yang masih setia dan bangga lahir di ibu pertiwi ini meneruskan dan mengisi cita-cita penerus bangsa Indonesia ini. Hidup dan mati di bumi ibu pertiwi.


Penulis: Eka Ilham, M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website