Headlines News :
Home » » Literasi Cinta

Literasi Cinta

Written By Pewarta News on Jumat, 22 Juni 2018 | 10.52

PEWARTAnews.com -- Sudah lama aku mengenalmu. Kira-kira sepuluh tahun silam. Di situlah aku mulai jatuh hati padamu. Mencoba mendekatimu. Mencari cara bagaimana supaya aku bisa dekat denganmu. Selalu berusaha agar aku bisa terus berada di sampingmu.

Meski sudah lama kuusahakan hal demikian, bahkan sampai tertatih, namun entah mengapa hatiku masih saja belum begitu fokus. Aku belum bisa serius. Aku masih belum percaya diri sepenuh hati. Aku masih terus dihantui oleh rasa takut, dan seabrek rasa lainnya.

Sering kali orang-orang mencibirku. Menganggapku aneh, bahkan gila. Sebab, tak ingin jauh darimu. Barangkali, itu yang membuatku masih setengah-setengah terhadapmu. Belum terlalu serius memerhatikanmu. Belum terlalu paham terhadap kehadiranmu yang semestinya sangat berarti dalam hidupku. Entahlah, mungkin aku memang belum begitu paham ihwal itu.

Bertahun-tahun, aku memang tak begitu peduli terhadap keberadaanmu. Aku hanya menganggapmu seolah angin lalu. Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku. Menganggapmu tak begitu penting. Padahal, dulu, aku begitu jatuh hati padamu, dan tak ingin jauh darimu. Itu bermula, kala aku melihat dan berkunjung ke beragam tempat, yang di dalamnya terdapat banyak orang yang mencoba menyapa dan ingin juga memilikimu.

Namun demikian, aku terus berusaha untuk lebih dekat denganmu. Seluruh tenaga kukerahkan untuk memahamimu sepenuh hati. Mencoba menggali, seberapa besar peranmu terhadap semesta ini. Mencoba berkontemplasi, memikirkan sejauh mana kontribusimu di alam nyata maupun maya. Itu terus kulakukan. Meski, terkadang aku harus melawan rasa malas dan egoku. Mencoba mengusirnya, agar tak terus hinggap dalam diriku.

Berkat kerja keras itu, aku jadi sadar. Hadirmu memang begitu berarti dalam hidupku. Darimulah aku belajar banyak hal. Engkau mengajarkanku arti dan makna suatu kehidupan. Engkaulah yang mencoba mengajarkanku agar tak lupa kepada Sang Pencipta. Keberadaanmu di hatiku memang begitu indah. Andaikan aku tak memahamimu sepenuh hati dan sungguh-sungguh, mungkin aku takkan bisa seperti sekarang ini.

Itulah mengapa pada akhir 2016 silam, aku memantapkan jiwaku untuk merawatmu. Mencoba membuat komitmen agar terus bisa dan selalu bersamamu tiap hari. Aku ingin terus menemanimu. Sebab, engkau telah membuatku bahagia. Engkau membuatku “hidup.” Keberadaanmu membuatku nyaman. Engkau mampu mengusir rasa sombong dari hatiku. Engkau mengajarkanku agar terus rendah hati. Hadirmu membuatku menjadi manusia yang pandai bersyukur dan menerima apa adanya. Pada intinya, engkau hadir demi memberiku sesuatu yang positif. Aku begitu berterima kasih.

Kini, meski belum genap dua tahun, aku begitu menikmati keberadaanmu. Ya, sangat dahsyat. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Setiap hari, aku selalu mencintaimu. Ingin tetap bertahan denganmu, hingga napasku tak lagi bisa menghembus.

Sungguh indah dan nikmat memang. Mungkin itulah alasan orang-orang yang ingin juga memiliki dan berada di dekatmu. Karena mereka sudah mengetahui begitu besar dan pentingnya kehadiranmu.

Aku terus berharap pada Tuhan, semoga saja cintaku padamu tetap terjaga. Insyaallah, api cinta ini akan terus dan tetap kupertahankan. Jangan sampai padam. Aku akan selalu menjaga dan merawatmu agar tetap menyala. Semoga terus menyala dan mengabadi.

Wallahu a’lam.


Penulis: Gunawan
Pemuda Asal Dompu NTB
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website