Headlines News :
Home » , » Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan dengan Spirit Al-Qur'an dan Relevansinya dengan Kemajuan Peradaban Islam

Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan dengan Spirit Al-Qur'an dan Relevansinya dengan Kemajuan Peradaban Islam

Written By Pewarta News on Minggu, 03 Juni 2018 | 21.53

PEWARTAnews.com -- Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat kompleks dan komprehensif yang tidak hanya merujuk pada penamaan sebuah lembaga formal yang berbentuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi. Hal ini senada dengan ungkapan Ki. Hajar Dewantara bahwa setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Itu artinya, dimanapun tempat-nya asal disitu ada ilmu, dapat disebut sebagai sekolah dalam arti generiknya (ladang ilmu dan pengetahuan) yang harus dimanfaatkan sebagai tambahan wawasan. Sebagaimana wahyu yang diturunkan Allah pertama kali yakni Qs. Al ‘Alaq yang menekankan perintah untuk mencari ilmu pengetahuan tanpa pandang bulu, baik yang tersirat maupun yang tersurat.

Jika berkaca pada abad 9-12 M, kehidupan ummat islam mengalami puncak kejayaan dalam segala aspek, termasuk dalam hal pendidikan. Hal tersebut karena dijiwai oleh spirit al qur’an yang tidak hanya sekedar dibaca dan dihafal namun dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk aktif bergerak dan terus mencari yang berimplikasi pada maju nya peradaban kala itu. Karena memang tak dapat dipungkiri bahwa kualitas suatu bangsa ditentukan oleh seberapa kualitas pendidikannya, seberapa sadar warga negaranya untuk mencari ilmu dan seberapa besar negara dalam ikut andil dalam mensupport (mendukung) suksesnya pembangunan nasional melalui program pendidikan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa salah satu indikator kemajuan suatu bangsa ialah patrol ilmu yakni mengakui pentingnya ilmu dan ilmuan.

Hal ini dapat dilihat dari negara-negara maju yang mayoritas sangat menghargai ilmu dan ilmuan (pendidik). Ilmuan-ilmuan tersebut sangat diapresiasi oleh negara baik dari segi materi maupun immateri (kesejahteraan maupun penghargaan atas dedikasinya). Karena mereka sadar, untuk membangun negara yang berkualitas dan bermartabat maka hal yang pertama kali dibutuhkan adalah sumber daya manusia-nya (SDM), karena itu yang akan mempengaruhi suksesnya roda pembangunan suatu negara.

Selain itu, urgensi mencari ilmu juga harus diinternalisasikan oleh berbagai macam elemen, tak terkecuali oleh setiap warga negara dengan menjadikan spirit Al-Qur’an wa fi anfusikum afalaa tubsirun bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang luar biasa senada dengan Qs. An Nahl ayat 78 yang seharusnya manusia bersyukur dengan memanfaatkan potensi tersebut dengan seoptimal mungkin. Dalam sejarah islam, dikenal dengan zaman keemasan pada zaman bani Abbasiyah yang mana terdapat ilmuan muslim yang tidak hanya cerdas dalam bidang agama, namun juga hebat dalam bidang umum seperti Al Khawarizmi, Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah dll.

Hal tersebut karena mereka mempunyai spirit al quran sekaligus spirit filsafat. Al Qur’an tidak hanya sebatas dibaca dan dihafal, namun yang lebih dari itu ialah dijadikan energi/ kekuatan dalam membangun peradaban yang lebih maju dan berkualitas.

Kenyataan yang tergambar demikian diatas, pantaslah Allah SWT memberikan pedoman kepada hamba-hamba-Nya sekaligus buku panduan dalam menjalani kehidupan melalui firman-Nya yang diturunkan dengan perantara malaikat Jibril dan diwahyukan kepada Nabiyullah Muhammad SAW yang berisi segala hal “rahasia dan tabir yang ada di alam  semesta dan seisinya”, terutama terkait dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, bunyi ayat afala yandzuruna ilal ilbili kaifa khuliqat memberikan rambu-rambu kepada manusia untuk memanfaatkan hewan-hewan yang ada di alam semesta untuk diolah dan dijadikan sarana li mardhatillah melalui teknologi, meskipun secara tekstual ayat tersebut mengatakan "Unta”.

Jika dimaknai secara tekstual, bagaimana mungkin Unta dapat hidup di Indonesia kecuali dengan pemeliharaan yang intensif seperti di kebun binatang? Dengan begitu, dapatkah Unta dijadikan sebagai sarana pengembang ilmu pengetahuan? Untuk memahami ini haruslah ada peran akal didalamnya, yakni merelevansikan dengan konteks yang ada. Seperti di Indonesia misalnya, bisa belalang, udang dan lain-lain. Bahkan kini, di daerah pesisir selatan pantai Jawa, belalang dan udang goreng menjadi makanan khas yang menjadi komoditas daerah tersebut. Sama halnya yang terjadi di daerah Bantul pembuatan keramik dari "tai (kotoran sapi)". Bahkan di Pondok Pesantren daerah Gunungkidul memafaatkan air kencing menjadi bio gas, hal ini karena dijiwai oleh spirit Al-Qur’an “Rabbanaa maa khalaqta hadza baathila” dengan mengintegrasikan akal sebagai sarana untuk memahami tekstual.

Apabila hal-hal semacam ini dikembangkan, maka penulis yakin peradaban Islam akan semakin maju. Namun realitanya, banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang hanya dijadikan “justifikasi” terhadap hal-hal yang sifatnya absurd. Penulis sering mendapatkan BC (broad cast) baik melalui WA maupun inbox FB yang mencocokkan hal-hal yang sifatnya kurang baik dengan al-Qur’an. Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki tahun politik. Bisa jadi nama CAPRES digabung-gabungin dengan surat Al-Quran, kebetulan ejaan namanya sesuai dengan surat al-Ghasyiah berarti "kiamat". Hal-hal seperti ini lah yang menghambat kemajuan peradaban Islam.

Upaya untuk menghidupkan kembali Ruh Pendidikan tidak hanya berhenti disini. Hal yang tidak kalah pentingnya ialah dengan memiliki paradigma berpikir yang inklusif dan multikultural. Artinya, mau dan bersedia belajar dengan siapapun. Sebagaimana hadist Nabi yang mengatakan bahwa “ambilah hikmah meskipun keluar dari mulut anjing”. Paradigma inklusif ini perlu pembiasaan. Semakin manusia banyak membaca, memahami dan menelaah maka akan semakin besar pula rasa “toleransinya” sehingga memandang orang tidak separated namun komprehensif. Sebagaimana petuah Gus Dur yang mengatakan “Jika Ruh Ketuhanan sudah ada dalam jiwamu, maka dalam memandang manusia kau tidak akan pernah memperdulikan apa golongan dan simbolnya, apa agamanya dan bagaimana latar belakangnya!”. Namun tentu, sebelum pada taraf berpikir inklusif hendaknya manusia memiliki pijakan terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya dapat memilah dan memilih mana yang positif dan mana pula yang negatif sebagaimana jargon para ulama’ “Al muhafadzatu ‘ala qadimish-shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah wal ashlah ilaa maa huwal ashlah”. Dari sinilah, seharusnya tidak perlu khawatir apabila outoff the box.

Mari, jadikan Al-Qur’an sebagai spirit untuk mewujdukan tatanan kehidupan yang beradab, adil, makmur dan diridhai Allah SWT.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website