Headlines News :
Home » , » Politik untuk Pembelajaran dan Mendidik Diri Sendiri

Politik untuk Pembelajaran dan Mendidik Diri Sendiri

Written By Pewarta News on Kamis, 28 Juni 2018 | 09.54

"PKS mungkin sering menyerang tadisi dan ulama NU (Nahdlatul Ulama), jika kader NU menyerang balik itu wajar dan sah secara syar'i. Tapi jika para saudaraku kaum santri membalas dan menanggapinya dengan akhlaq yang luhur, maka akan menjadi teladan yang berharga bagi pembangunan karakter bangsa dan sekaligus menjadi pendewasaan dan pematangan bagi kehidupan keberagamaan dan politik kebangsaan kita ke depan"

Umaruddin Masdar. 
Kekalahan Drs. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) di pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) dan Mbak Ida Fauziah di pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng) menjadi justifikasi sebagian saudara kader NU untuk menyerang dan menyimpulkan: Gus Ipul dan Mbak Ida kalah karena didukung partai keadilan sejahtera (PKS). Karena akhir-akhir ini sedang nge-trend hesteg #GuremkanPKS, Gus Ipul dan Mbak Ida kena imbasnya. Begitu kesimpulan sebagian saudaraku kader NU.

Simplifikasi seperti ini sah-sah saja, tapi kontraproduktif dan kurang mendukung cita-cita besar NU sendiri yang merupakan garda depan dan benteng kehidupan keagamaan dan politik yang damai dan toleran.

Ada tiga hal kondisi faktual yang perlu diperhatikan secara komprehensif dan arif di sini. Pertama, di berbagai daerah lain, NU dan PKS juga "berkoalisi" dan menang, seperti di Sumatera Utara. PKB mendukung Edy Rahmayadi, menang. Di Pamekasan, kader NU juga menang Pilkada, dan berkoalisi dengan PKS.

Politik bagi mereka yang tercerahkan justeru menjadi wahana efektif untuk mematangkan dan mendewasakan masyarakat sehingga sekat-sekat primordial dan perbedaan ideologi bisa diatasi dan dilampaui secara alami. Kalau pada tataran amaliah, NU dan PKS sering berbeda, tapi politik bisa mendamaikan keduanya. Ini artinya, politik bisa mendewasan kehidupan keberagamaan kita. Jangan dibiarkan sebaliknya: politik mendegradasikan keberagamaan kita yang pada ujungnya akan merusak kehidupan agama itu sendiri, dan kehidupan bangsa secara luas.

Kedua, ciri khas politik dan dakwah NU adalah merangkul dan menebar rahmat untuk semua. Hal ini karena dakwah dengan hikmah jauh lebih efektif dan menentu, daripada dakwah dengan menyerang. Di sisi lain, dalam pandangan sebagian besar ulama panutan NU: akhlaq berada di atas ilmu.

Cara berpolitik dan dakwah seperti ini sangat efektif untuk mencapai sasaran, seperti dicontohkan para ulama dan aulia.

Gus Dur misalnya mengesahkan Khonghucu sebagai agama resmi negara. Orang yang kurang memahami tradisi pemikiran NU, langkah Gus Dur dianggap keliru fatal. Tapi bagi yang bisa melihat dengan jernih dan seksama, langkah Gus Dur itu merupakan dakwah yang sangat dahsyat.

Di satu sisi Gus Dur menunjukkan kebesaran dan universalisme peradaban Islam sekaligus mengembalikan syariat kepada tujuan asasinya, yaitu melindungi keyakinan dan kepercayaan setiap manusia. Di sisi lain, dengan disahkannya agama Khonghucu, ratusan juta umat Islam di negeri China merasakan kebebasan menjalankan syariat agamanya.

Bagi kiai NU, hubungan baik Gus Dur dengan para tokoh di Israel (yang kemudian dilanjutkan oleh KH Yahya Staquf) dilihat dalam perspektif yang komprehensif, sebagai bagian dari perjuangan politik global dan dakwah universal. Perspektif ini sering tidak dimiliki oleh mereka yang berada di luar NU.

NU dengan tradisi berpikir mazhab yang sangat kokoh dan membumi, kata Gus Dur, bisa keluar dari cara pandang monokultural dan tunggal terhadap fakta politik dan realitas. Dan begitulah seharusnya kita melihat fakta koalisi pra pilkada, juga hasil pemilu pasca pilkada.

Ke-NU-an kita lebih sempurna jika kesadaran kita dalam beragama dan berbangsa sudah bisa menempatkan mereka yang di luar NU sebagai saudara. Mungkin mereka lawan kita dalam politik atau ideologi, tapi keluwesan NU tetap bisa merangkul dan menghormati mereka sebagai saudara sebangsa atau sesama manusia. Bukankah di sini letak keagungan konsep ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah dan ukhuwwah basyariah yang diusung para guru kita terdahulu?

Ketiga, mensyukuri kekalahan Gus Ipul dan Mbak Ida dan menyalahkan mereka karena didukung oleh PKS dari sudut akhlaq santri menjadi sesuatu yang kurang elok.

Bukankah di belakang Gus Ipul ada kiai-kiai besar NU seperti Gus Din Ploso, Mbah Nawawi Sidogiri, Ra Kholil Situbondo dan ratusan kiai dan para masyayikh yang lain? Demikian juga Mbak Ida didukung oleh kiai-kiai besar NU seperti Mbah Dim Kaliwungu, Mbah Subhan Brebes, Mbah Munif Mranggen, dan ratusan kiai NU di Jateng?

Menyerang dan menyalahkan Gus Ipul dan Mbak Ida, tanpa kita sadari sama artinya dengan menyerang, menyalahkan dan melukai hati para kiai yang mendukungnya.

Bagi para santri tradisi sami'na wa atho'na secara mutlak diyakini merupakan syarat untuk mendapatkan ilmu dan hidup yang manfaat-barokah. Menyerang atau menyakiti hati guru, adalah perbuatan yang masuk kategori "dosa besar".

Ketika seorang santri menghadapi suasana dilematis, misalnya para guru atau kiainya berbeda pendapat, maka sikap yang akan dipilih biasanya adalah "diam".

Seperti tercantum dalam kitab Zubadnya Ibnu Ruslan:
وما جرى بين الصحا ب نسكت

"Apa yang terjadi di kalangan para kiai, kita memilih sikap diam"

Sikap diam merupakan cara santri untuk menjaga akhlaq kepada guru dan para kiai, agar jangan sampai kita berprasangka buruk dan menyalahkan atau membuat para guru kita tidak ridho. Meski misalnya di mata seorang santri, pilihan politik kiainya adalah tidak tepat, si santri tetap tidak akan mengurangi sedikitpun penghormatan dan ketawadhuannya kepada kiai.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu: Syarh al Muhadzdzab, menulis kisah dan pesan yang sangat agung untuk kita semua warga NU yang ingin menjadi santri sejati:

وقد كان بعض المتقدمين إذا ذهب إلى معلمه تصدق بشيء وقال : اللهم استر عيب معلمي عني ، ولا تذهب بركة علمه مني

Ulama terdahulu ketika berjalan menuju tempat mengaji di hadapan gurunya, mereka bersedekah kepada orang yang ditemuinya.
Selama di dalam perjalanan itu, mereka berdoa:
“Ya Allah tutuplah aib guruku dari mataku (sehingga aku tidak melihat kekurangan pada diri guruku. Dan jangan sampai ada seorang pun yang memberitahukan aib guruku); dan jangan sampai hilang keberkahan ilmunya dariku."
Mereka khawatir jika mengetahui kekurangan gurunya akan mengurangi rasa hormat mereka pada gurunya.

Semoga kita bisa selalu menjaga akhlaq sebagai santri dan menjadikan setiap peristiwa politik sebagai pangkalan pendaratan untuk suatu proses transformasi diri dan masyatakat menuju tatanan yang lebih kokoh, dewasa dan damai, meski kita tetap berbeda-beda, baik berbeda sementara maupun selamanya. Semoga.

Malam Jumat Kliwon, bakda Yasinan-Tahlilan, Bantul, 28 Juni 2018


Penulis: Umaruddin Masdar
Pengasuh Majlis Zikir & Ta'lim "Hayatan Thoyyibah" & Sekretaris DPW PKB DIY

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website