Headlines News :
Home » , » Prof. Dawam Rahardjo Meninggal, HMI Berduka

Prof. Dawam Rahardjo Meninggal, HMI Berduka

Written By Pewarta News on Sabtu, 02 Juni 2018 | 01.38

Info duka Prof. Dawam Raharjo.
PEWARTAnews.com -- “Semua itu harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.” (Pramodya Ananta Toer, dikutip oleh Imam Ahmad dalam Demi Toleransi, Demi Pluralisme untuk menggambarkan kepenulisan Prof.  Dawam Rahardjo)

Prof. Dr. Dawam Rahardjo, nama tersebut tidak asing ditelingaku. Pertama kali membaca tulisan beliau didalam kata pengantar buku Islam Kemodernan dan Keindonesiaan karya Cak Nur. Sosok Dawam Rahardjo merupakan kawan akrab sekaligus partner diskusi dan menulis dari sejumlah kalangan aktivis di HMI, seperti Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur, Ahmad Wahib dan Djohan Effendi. Selama hidupnya, beliau mengabdikan dirinya di dunia Pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Hal tersebut dapat dilihat dalam rekam jejak Dawam Rahardjo yang pernah menjadi Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ketua Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Direktur LP3ES, Pemimpin Redaksi jurnal Ulumul Quran, Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), Ahli ekonomi, Pengusaha, Budayawan, Aktivis LSM, Pemikir Islam dan Penafsir.

Beliau telah banyak menulis buku baik dalam bidang ekonomi maupun keislaman. Adapun karya-karya beliau ialah Esai-esai Ekonomi Islam, Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa, Risalah Cendekiawan Muslim, Perspektif Deklarasi Makkah, Menuju Ekonomi Islam, Masyarakat Madani, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Ensiklopedia Al-Quran, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Islam dan Transformasi Sosial-Ekonomi, Islam dan Transformasi Sosial Budaya.

Bersama dengan Cak Nur, beliau merintis Yayasan Paramadina. Dan pada tahun 1988, beliau menjabat sebagai Direktur Pelaksana Yayasan Wakaf Paramadina dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Asyafi’iyah Jakarta. Gagasan dan ide Prof. Dawam Rahardjo tidak jauh berbeda dengan Cak Nur, yakni berkaitan dengan pluralisme, keadilan, kesejahteraan, dan teologi inklusif.

Menurut Prof. Dawam, pluralisme merupakan jalan menuju kedamaian dengan mengedepankan toleransi. Semakin orang banyak membaca dan menulis, maka akan semakin arif dan bijaksana dalam menyikapi suatu persoalan. Baginya, toleransi merupakan kunci menuju kemajuan. Tanpa toleransi, islam akan statis. Berdasar pada pengalaman spiritual Prof. Dawam Rahardjo, beliau mengatakan bahwa “semakin lebar rasa toleransi yang dimiliki oleh seseorang, maka ia akan semakin memahami akidahnya dengan baik”. Atas dasar itulah, Prof. Dawam Rahardjo membawa gagasan tentang pluralisme, liberalisme dan sekularisme.

Dalam buku Api Islam karya Ahmad Gaus disebutkan bahwa Prof. Dawam Rahardjo merupakan salah satu orang yang mendukung serta memberikan re-interpretasi terhadap gagasan dan ide yang diusung Cak Nur terkait dengan sekularisasi dan rasionalisasi yang banyak disalah pahami orang. Bahkan saat orang-orang kontra dengan penerbitan buku PPI karya Ahmad Wahib, Prof. Dawam Rahardjo tampil menjadi garda terdepan yang setia berada dibelakang Ahmad Wahib bukan berarti tanpa alasan. Hal itu karena bagi Prof. Dawam “Manusia bebas berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Tuhan memberikan akal sebagai instrumen dan anugrah yang luar biasa agar manusia bersyukur. Wujud syukur tersebut terimplementasi dengan kerja ilmiah dan amal shaleh dengan memanfaatkan akal sebaik mungkin.

Hal yang menarik dari diri Prof. Dawam Rahardjo ialah selain pemikir dan cendekiawan muslim, beliau merupakan orang yang hobi menulis. Disela-sela kesibukan menjadi aktivis dahulu, beliau sempatkan untuk menulis. Motto Prof. Dawam Rahardjo simple “Luangkan Waktu Untuk Menulis, jangan Menulis hanya diwaktu Luang, karena Menulis merupakan kerja Keabadian”.

Selamat jalan Kanda Prof. Dawam, Salam dari saya untuk Cak Nur, Gus Dur, Ahmad Wahib dan Djohan Effendi. InsyaAllah suatu saat nanti kita akan dipertemukan Allah di Jannah-Nya. Semoga kalian semua bersedia menerima diri ini menjadi santri panjenengan semua.

Meski jasad telah tiada (Prof. Dawam meninggal tepat pada 15 Ramadhan/30 Mei 2018) namun ide, gagasan dan pikiran-pikiran-nya akan terpatri dalam lubuk hati anak-anak muda Indonesia, dan Kader-kader HMI pada khususnya.

Kagem Cak Nur, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Gus Dur dan Prof. Dawam Rahardjo, Lahum Al faatihah.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi PAI 2015 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website