Headlines News :
Home » , » Rais dan Al-Qur'an serta relevansinya dengan Pendidikan Anak di Keluarga

Rais dan Al-Qur'an serta relevansinya dengan Pendidikan Anak di Keluarga

Written By Pewarta News on Minggu, 10 Juni 2018 | 09.57

Fafiz Indonesia 2018, Rais. 
PEWARTAnews.com -- Kecerdasan dan keshalehan anak tidak hanya bergantung pada pola dan strategi pendidikan yang diterapkan dalam keluarga, melainkan karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya, Mukaromah 2018.

Rais namanya. Asli Balikpapan. Umurnya masih sangat belia, 5 tahun. Namun dibalik itu ada ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh anak-anak seumuran pada umumnya. Selain telah hafal 11 jus, Rais juga hafal nama-nama bendera negara di seluruh dunia lengkap dengan ibu kota dan benua di dunia. Tak hanya itu, Rais juga dapat mengklasifikasi nama-nama hewan berdasar pada jenis-nya. Seperti herbivora, karnivora dan omnivora.

Kita sebagai orang dewasa tentu akan mengatakan dia anak hebat, anak cerdas. Tapi pernah tidak berpikir bahwa dibalik anak hebat, tentu ada orangtua yang lebih hebat daripada anak tersebut? Siapakah mereka? Mereka adalah kedua orangtuanya. Dan sosok Ibu-lah yang lebih utama. Karena sosok ibu menjadi penentu pertama pijakan dari seorang anak. Saat Ibunya Rais ditanya oleh kak Irfan Hakim terkait dengan pola pendidikan yang diterapkan didalam keluarga, ibunya mengatakan bahwa hal pertama kali yang ia ajarkan kepada anak-anaknya adalah Al-Qur’an. Ya, Al-Qur’an. Terbukti dengan kakaknya Rais yang bernama Athifa umur 10 tahun sudah hafal 20 juz.

Saat Al-Qur’an telah tertancap dalam dada anak, maka anak akan mempunyai energi, ‘azam dan ghirah untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. Dengan Al-Qur’an, maka akan terasa mudah belajar banyak hal, seperti yang dialami oleh Rais. Dia hafal lambang bendera beserta ibu kota negara dan benua karena belajar otodidak. Seusai menghafal Qur’an, ia lanjutkan untuk membaca buku. Hal tersebut masih ada kaitan dengan tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang membangkitkan spirit intelektualisme dengan Al-Qur’an yang mana para ilmuan muslim dahulu tidak hanya expert dalam bidang keislaman, namun juga menguasai ilmu-ilmu eksak/umum, karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai pintu gerbang pertama/pijakan pertama yang wajib dikuasai sebelum menguasai ilmu-ilmu lain.

Bagi saya pribadi, pendidikan yang diterapkan oleh keluarga Rais merupakan suatu hal yang luar biasa. Tentu sesuatu yang terjadi bukan tanpa alasan. Namun karena ada “sebab yang menyebabkan suatu akibat. Menurutku inilah yang dinamakan dengan hukum kausalitas. Sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam Qs. Al-Isra’ : 7, Qs. Az-Zalzalah :7-8, Qs. Luqman : 16, Qs. Al Anbiya’ : 7 tentang hukum kausalitas. Meski secara tekstual ayat tersebut berbicara mengenai perbuatan baik buruk manusia, namun dalam kontekstualnya dapat direlevansikan dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam mencetak dan mendidik generasi/anak.

Kecerdasan dan keshalehan anak tidak hanya bergantung pada pola dan strategi pendidikan yang diterapkan dalam keluarga, melainkan karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Pertama, faktor makanan yang masuk ke dalam perut anak. Pastikan makanan tersebut benar-benar yang halal 100%. Halal dari segi wujud serta cara mendapatkan. Kedua, bagi orangtua sangat penting memperhatikan pekerjaan/profesi yang digelutinya. Karena profesi menentukan income/pemasukan dalam keluarga yang tentu nanti berimplikasi pada anak. Jika makanan yang diberikan kepada anak adalah hasil dari pekerjaan yang halal dan jelas, biasanya anak tersebut tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mudah diatur. Berdasar pada pengamatan empirik yang saya lakukan, keluarga yang membesarkan anak-anaknya dengan cucuran keringat, ternyata ketika dewasa anak-anak tersebut tumbuh menjadi orang sukses (shalih, cerdas lahir batin). Tentu bukan berarti mendeskriditkan anak-anak yang susah diatur dan ngeyel, atau bahkan bodoh dsb. Karena didunia ini tidak ada anak yang bodoh. Hanya saja, pola pendidikan yang diberikan kurang tepat. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada hal-hal lain yang menyebabkan begitu, salah satunya terkait dengan profesi orangtuanya.

Dengan demikian, penting bagi orangtua untuk muhasabah diri terlebih dahulu sebelum menyalahkan anak gara-gara anak ngeyel/bandel, sulit menerima pelajaran sekolah dll. Bertanya-lah pada hati apakah makanan yang masuk ke dalam perut anak sudah benar-benar berasal dari pekerjaan yang halal dan jelas cara mendapatkan-nya? Pastikan itu ya. Bukan karena sedikit atau banyak-nya yang diterima. Melainkan keberkahan suatu hal. Barangkali orangtuanya biasa-biasa saja, namun anak-anaknya luar biasa. Karena Berkah itu ziyadatul khair dan inilah inti dari kehidupan dengan menjadikan Allah selalu hadir dalam setiap hal, termasuk dalam mencari nafkah.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website