Headlines News :
Home » , » Sentilan Allah yang Menyentil Segalanya

Sentilan Allah yang Menyentil Segalanya

Written By Pewarta News on Sabtu, 23 Juni 2018 | 11.31

 “Shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya” (K. Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd saat menjelaskan Syarah Hadist Arba'in Nawawi, 3 years ago).

Sudah beberapa kali saya mengalami kejadian hal yang tidak mengenakkan ketika dijalan. Siang tadi, ada motor yang melaju begitu cepat. Tiba-tiba ada barangnya yang jatuh, sontak saat itu pula ia mengerem mendadak. Saya yang berada dibelakangnya pun kaget dan karena motor tidak bisa dikendalikan akhirnya duerrrrrr, nabrak. Saat itupula saya terjatuh dan seperti mimpi. Sadar dan tidak sadar. Sangat irasional. Bagaimana tidak? Jika dinalar dengan akal manusia yang sifatnya nisbi, hal seperti itu tentu sudah bonyok-bonyok. Motor juga peot dan entah saya seperti apa. Akan tetapi, atas kuasa dan pertolongan Allah kami baik-baik saja bahkan kedua motor pun juga tak ada yang rusak.

Sejenak aku termenung karena masih kaget. Tiba-tiba saja teringat nasihat almarhum bapak saya dahulu, “Sik... Ojo kesusu muring-muring meski sebenarnya kamu tidak salah”. Melihat ibu yang ketakutan (mungkin dikira saya akan menunutut) dia terus memandangi-ku. Dalam batinku, kenapa ibu ini tidak minta maaf? Padahal jelas salah loh, batinku. Karena harapanku kepada Tuhan jauh lebih besar dibanding emosi marah dan rasa tak terima-ku, akhirnya aku putuskan “Ya buk, saya salah jennegan juga salah, kita saling memaafkan ya. Beres. Silahkan lanjutkan perjalanan kembali,”. Suami dari ibu itu pamitan pergi. Tinggal saya yang masih minum air putih karena dikasih ibu paruh baya penjaga toko di sebrang Lapangan Kremalan.

Setiap hal, setiap peristiwa dan setiap tempat pasti ada ilmu, uswah dan ibrah-nya. Termasuk kejadian yang saya alami siang ini tadi. Yang pertama, Jangan pernah meremehkan do'a. Saya teringat kata ibuku beberapa bulan yang lalu “Nok, doaku itu supaya kamu dijalan selalu dilindungi Gusti Allah”. Benar adanya, meski terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan saat dijalan, tapi selalu dilindungi Gusti Allah dalam artian tidak berat luka dan juga rugi-nya. Yang ada hanyalah pembelajaran dan hikmah untuk tetap waspada dan berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan, ini juga karena doa dari kalian (teman-teman / netizen), guru dan juga dosen-dosenku serta doa dari orang-orang yang dipermudah jalannya melalui perantara al-Qur’an.

Yang kedua, memaafkan dengan menata hati, mengingat Allah dan mengingat jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain. Dahulu saya pernah mengerem mendadak, tapi ternyata orang yang berada dibelakangku tidak marah dan memaafkan kesalahanku. Begitupula dengan hal ini. Karena dulu saya ditolong dan dimaafkan orang, baiklah. Ini balasan terimakasihku kepada orang yang menolongku dengan cara memaafkan kesalahan orang lain (read orang yang mengerem mendadak tersebut).

Yang ketiga, menghemat energi. Memaafkan jauh lebih indah dan mulia daripada marah-marah. Sama-sama dirasakan oleh hati, namun efeknya berbeda. Memang sih, lega banget kalau udah melampiaskan kemarahan. Tapi? Efeknya nanti dibelakang pasti menyesal. Berbeda halnya ketika memaafkan kesalahan orang, maka hati akan lebih mudah menyambung pada Tuhan dan akhirnya cahaya dan rahmah Allah akan mudah dirasakan oleh hati. Hal tersebut nantinya akan berimplikasi kepada ketenangan batin, mudah memahami orang lain dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Yang keempat, ingat kesalahan kita dimasa lalu. Dalam Qs. Al-Isra’ disebutkan bahwa, "in ahsantum ahsantum li anfusikum......." "perbuatan baik dan buruk tak lain akan kembali pada diri kita". Untuk lebih njembarke ati, maka harus flash back. Dahulu pernah tidak mengerem mendadak? Jika pernah, ya mungkin ini kausalitasnya. Hehe, Ya biar ngerasain sakitnya orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita. Agar bisa sama-sama merasakan meski dengan objek dan konteks yang berbeda.

Yang kelima, Ingat harapan yang disematkan kepada Tuhan. Barangkali kemudahan dan keberkahan hidup yang Allah berikan kepada kita bukan karena kita kaya, karena cerdas, karena punya jabatan, dan lain-lain. Tapi karena mudah memaafkan orang dan pandai mengambil ibrah dan uswah dari setiap alur peristiwa sejarah yang Tuhan berikan. Niatkan saja, semoga dengan peristiwa ini Allah berkenan memberikan kekuatan dan membukakan pintu kemudahan untuk meraih segala hal yang dicita-citakan.

Yang keenam, jangan pernah berharap dan menginginkan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, karena itu hanya akan menggelapkan hati (ndogkolke ati). Hal tersebut tercermin dengan batin saya tadi, kenapa sih ibu ini tidak minta maaf padahal salah loh. Kalau saya masih memegang erat kata-kata tersebut, yang ada hanyalah sakit hati. Karena ketidaksesuaian keinginanku dengan realita yang ada.

Yang ketujuh, Karena peristiwa ini, saya dipertemukan dengan kawan SD yang 10 tahun tidak bertemu. Dahulu temen-temen sering nyomblangin dia sama aku. Hahaha, konyol. Ternyata dia masih ingat sama aku. "Eh Mukaromah," sapanya.

Yang kedelapan, istiqamahkan shadaqah. Saya masih teringat nasihat Guru Tafsir Aliyah, Kyai Ahmad Lutfian Antoni saat menjelaskan Syarah Hadist Arabain Nawawi, beliau ngendiko bahwa shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya. Yang harus diingat shadaqah itu tidak hanya berbentuk materi (uang), namun bisa hal-hal lain sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Bisa ucapan yang baik, perbuatan yang adil, perlindungan dan rasa aman terhadap makhluk-makhluk Tuhan serta hal-hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat.

Dan terkadang, doa lebih maqbul apabila diucapkan oleh orang yang berada dibawah kita (entah dalam hal ekonomi maupun fisiknya). Oleh karena itu, jangan sampai lupa memohon doa kepada orang-orang yang kita permudah jalannya, serta yang kita bantu. Bisa jadi, hal tersebut dapat menjadi lantaran rahmat, kasih sayang dan perlindungan yang Allah berikan kepada kita, sehingga dalam hal apapun kita tidak terlepas dari belas kasihan-Nya.


Yogyakarta, 23 Juni 2018
Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website