Headlines News :
Home » » Ta’lilul Ahkam: Definisi dan Aplikasi (Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at, Isbal Celana/Sarung dan Janggot Panjang)

Ta’lilul Ahkam: Definisi dan Aplikasi (Hari Raya Bertepatan Hari Jum’at, Isbal Celana/Sarung dan Janggot Panjang)

Written By Pewarta News on Kamis, 14 Juni 2018 | 00.47

Wawan Gunawan Abdul Wahid. 
Definisi

Diantara satu kaedah yang perlu diperhatikan dalam penetapan hukum Islam adalah ketentuan ta’lilul ahkam. Ta’ill ahkam pada intinya menyatakan bahwa hukum-hukum itu ditetap dengan sebab yang menyertainya jika sebab yang menyertai hukum itu ada maka ketentuan dalam hukum itu dipraktekan. Jika sebab yang menyertai adanya hukum itu tidak ada maka ketentuannya tidak diterapkan. Aljukmu yaduuru ma’a ‘illatihu wujudan wa ‘adaman.

Aplikasi:
1. Tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Hadis-hadis terkait keringanan untuk tidak tunaikan shalat jumat dan diganti dengan shalat zhuhur manakala idul fithri atau idul adlha bertepatan dnegan hari jumat dibaca secara seksama mengacu pada sebab jarak antara rumah para shahabat dengan masjid Nabi saw dan lapangan yang dijadikan tempat shalat hari begitu jauhnya. Saat shalat shaat hari raya telah ditunaikan, Rasulullah sarankan kepada mereka yang rumahnya berjarak jauh dari masjid dan lapangan shalat id, untuk sementara tidak langsung pulang ke rumahnya. Mereka disarankan untuk menunggu shalat jumat. Sementara kepada mereka yang tetap memilih pulang Rasulullah berikan izin untuk tidak tunaikan shalat jum’at.

Saat ini jarak antara rumah dengan masjid untuk tunaikan shalat jumat, dan jarak antara rumah dengan pilihan lapangan untuk shalat hari raya relative dekat. Bahkan ketika begitu berjarak relative jauh pun ada kendaraan yang dapat antarkan kedua tempat yang mulia itu. Kerana itu alasan untuk keringanan tidak tunaikan shalat jum’at zaman kiwari nyaris tidak ada. Kerana itu pula tidak ada rukhshah tinggalkan jum’at ketika alasan jarak nyaris tidak ditemukan saat ini. Natijahnya pada saat hari raa bertepatan dengan hari jumat pilihan utamanya adalah tunaikan shalat jumat.

2. Larangan berisbal memanjangkan celana dan sarung hingga mata kaki itu jika disertai dengan motivas kesombongan. Jika itu dilakukan semata-mata sebagai pilihan keikhlasan sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq melakukannya maka larangan itu tidak ada.

3. Janggot panjang itu dianjurkan  Nabi saw untuk tujuan berbeda dengan non Muslim saat Mobilisasi Perang. Sebutlah itu sebagai jaggot ideologis. Peperangan mana yang diikuti oleh seorang Muslim sehingga mengharuskannya untuk memanjangkan janggotnya. Pada saat yang sama tidak sedikit yang berjenggot panjang itu adalah saudara-saudara kita yang non Muslim. Kerana itu saat Muslim kini memilih untuk berjenggot hendaknya niatnya tidak sebagai janggot ideologis pembeda dari non Muslim. Pilihan terbaik saat ini adalah berjanggot untuk keindahan. Sebutlah itu sebagai janggot asesoris. Janggot yang menambah keindahan tampilan. Innallaha jamilun yuhibbul jamaala;


Penulis: Wawan Gunawan Abdul Wahid
Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website