Headlines News :
Home » » Ujian Jomblo

Ujian Jomblo

Written By Pewarta News on Kamis, 07 Juni 2018 | 14.38

PEWARTAnews.com -- “Cinta” itu Anugrah Tuhan, yang tidak diberikan kepada sembarang orang, melainkan frekuensi-lah yang kelak akan mempertemukan keduanya. Namun tetap mencintai itu sewajarnya saja, sehingga pada saatnya nanti melepaskan pun juga tidak akan berat (Mukaromah, 2018).

Kadang, wanita dalam hal asmara sangat sensitif (read peka). Saking sensitifnya, terkadang berlebihan dalam mengekspresikan hasrat perasaan kepada orang yang dicintainya (dalam konteks ini pacar-nya). Ingin chat-nya selalu dibalas sampai dengan menaruh rasa cemburu yang berlebihan kepada orang yang dekat dengan pacarnya. Rasa cemburu yang berlebihan itu membuat dirinya terbelenggu oleh rasa sakit yang menyayat hati. Namun, meski sudah sakit hati wanita masih berbesar hati dengan berharap kepada pacarnya. Tapi berbeda halnya dengan rasa cemburu-nya terhadap wanita lain (saya sebut sebagai wanita B), ia menganggap wanita tersebut (B) perusak asmaranya, penghalang cinta-nya, orang ketiga bahkan ia (A) mengatakan “wanita (B) cocok bersanding dengan pacarnya tersebut dan menggantikan posisi dirinya”. Kata-kata seperti itu ditulis melalui status sosial media dengan mengungkapkan rasa kekecewaan dan rasa sakit hatinya terhadap si wanita B. Lalu si wanita (B) harus mengatakan apa dan bersikap bagaimana?

Memang, pikiran manusia itu relatif. Kadang, ia hanya melihat dari satu sisi, dari satu sudut pandang, satu jarak pandang yang sifatnya semu. Implikasinya, mudah menyimpulkan sesuatu. Padahal kesimpulan atas premis-premis tidak sesederhana itu. Namun harus dikaji, diteliti, diuji validitas dan keabsahannya dengan menggunakan akal pikiran dan disesuaikan dengan teori sebelumnya sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang “relatif” obyektif, empirik dan terukur, itu kalau didalam ilmu pengetahuan (science). Sama halnya dengan memandang manusia. Pun harus komprehensif, jangan asal menyimpulkan.

Dalam konteks diatas, lihat dulu wanita (B) yang sering dengan pacarnya itu posisinya apa dan bagaimana? Dia satu organisasi dengan cowok nya atau bukan? Sejurusan atau bukan? Kalau ketemu lalu ngobrol ya wajar dong. Se-organisasi pula, sudah otomatis sering ketemu, diskusi bareng, duduk bareng sambil makan juga tak menjadi persoalan. Oke tak hanya berhenti sampai situ. Terus cari lebih detail lagi, si cewek (B) itu bagaimana? Apa dia orangnya supel, mudah bergaul dan akrab dengan orang lain atau enggak? Patut dicurigai kalau ia hanya sering ngobrol dengan si pacarmu tadi. Kalau sama semua orang welcome, ya berarti dia ngobrol dengan pacarmu bukan menjadi suatu persoalan. Melainkan, pikiran-mu sendiri itu lah yang harus dibenahi mind-set nya, agar tidak su’udzan sama orang lain. Hehe. Masih harus terus dilanjutkan investigasinya, selanjutnya lihat karakter dan kepribadian si cewek B tadi. Dia punya pacar nggak, atau malah sudah punya calon? Hal ini bisa diinisiasi dengan bertanya pada kawan cewek B. Kalau tidak, ya adakan ngobrol bareng dengan basa-basi dikit lah, kalau masih bingung gimana caranya mungkin bisa baca buku tentang memimpin tanpa memerintah. Atau buku-buku sejenis tentang leadership dan psikologi untuk belajar memahami orang.

Yang perlu diingat, dewasa itu bukan persoalan umur. Tapi persoalan pola pikir yang tentu tidak terbentuk secara instan, namun harus ada millieu untuk mengasah dan mengembangkannya. Bisa dengan mengamati realitas sosial, menginternalisasi pengalaman hidup melalui DFC, bisa di organisasi, baca buku, dan lain-lain. Ada banyak cara menurutku dan itu bisa dipraktikkan saat ini juga. Hal ini penting, karena manusia akan mengarungi perjalanan hidup atas nama "Pernikahan". Apa yang terbesit dibenak terkait dengan pernikahan? Enak-kah, susah-kah, sering cek-cok-kah, tidak sevisi kah atau bagaimana? Lika liku rumah tangga tidak semulus yang dibayangkan oleh para pujangga. Jika dalam hal pacaran saja belum bisa mengendalikan rasa cemburu, bagaimana nanti ketika menikah? Sesak dada ketika melihat suaminya kerja dengan wanita lain, padahal itu tuntutan instansi misalnya. Atau bahkan ada sms/WA/inbox FB/DM instagram dari mantan pacarnya dulu, respon-mu gimana? Suruh blokir semua akun sosmed suamimu? Padahal cari nafkah tidak lepas dari sosmed, misalnya. Kan berabe to kalau cemburuan kayak gitu.

Pasti selalu ada hal-hal seperti itu jika antara keduanya tidak ada rasa saling keterbukaan (transparansi), saling memahami, saling percaya dan mempercayai serta saling menjaga. Ada domain lain yang seorang wanita tidak boleh terlalu mencampuri urusan lelaki-nya. Pun begitu sebaliknya, karena rasa yang “berlebihan” apalagi overprotective itu juga tidak baik. Mencintai itu sewajarnya saja, sehingga pada saatnya nanti melepaskan pun juga tidak akan berat.

Entah, aku seperti berada dalam drama sinetron yang masih akan ber-episode berikutnya. Antara aku, teman laki-laki-ku dan pacar-nya. Ku nikmati alur-nya saja, kelak waktu lah yang akan menjawab semuanya.

Untuk seorang wanita yang berada disana bersyukurlah bahwa kau masih bisa merasakan rasa yang bergejolak didalam hati. Tidak demikian dengan ku, aku harus terus mengarungi kehidupan sampai menemukan seseorang yang bisa membuka hati ini kembali, sama persis seperti 3 tahun silam. Artinya, aku dan pacarmu selamanya adalah sahabat seperjuangan yang pernah bersama-sama berjuang untuk ummat dan bangsa. Tidak kurang dan tidak akan lebih.

Rasa “cinta” merupakan Anugrah Tuhan, yang tidak diberikan kepada sembarang orang, melainkan frekuensi-lah yang kelak akan mempertemukan keduanya. Beruntung dan bersyukur-lah, bagi orang yang sudah menemukan lifepartner-nya.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website