Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    Motivasi Menyelesaikan Skripsi Bagi Mahasiswa

    Mukaromah Zain.
    PEWARTAnews.com -- Skripsi merupakan salah satu prasyarat akademik yang harus dikerjakan oleh mahasiswa guna meyelesaikan studi di jenjang S1-nya. Di kampus-kampus tertentu skripsi dikenal dengan tugas akhir/laporan kerja akhir. Sistem dan tata caranya hampir sama dengan skripsi, yakni memakai kaidah karya tulis ilmiah. Seberat dan sesulit apapun “skripsi dan atau tugas akhir” haruslah diselesaikan karena itu merupakan salah satu persyaratan kelulusan bagi mahasiswa. Upaya dalam proses penyelesaian tersebut, mahasiswa mempunyai berbagai macam alasan dan atau motivasi, yakni sebagaimana penulis uraikan dibawah ini.

    Pertama, Tuntutan Waktu Kuliah
    Dibeberapa kampus dibatasi waktu maksimal kuliah adalah 14 semester (7 tahun bisa berubah-ubah seiring dengan kebijakan masing-masing kampus). Jika dalam kurun waktu yang telah ditetapkan belum dapat lulus, maka pihak kampus akan men-DO mahasiswa yang bersangkutan. Atas dasar inilah, biasanya mahasiswa ingin lulus tepat waktu, setidaknya tidak lebih dari 8 semester / 4 tahun.

    Kedua, Tuntutan dan Perjanjian Beasiswa
    Ada berbagai macam beasiswa bagi mahasiswa S1. Ada CSSMoRA, bidikmisi, Tahfidzul Qur’an, mahasiswa berprestasi, Beasiswa akademik dan non akademik, Besasiswa Djarum, Beasiswa Orbit, dan lain-lain. Beasiswa tersebut menetapkan kurun waktu tertentu. Seperti misalnya Beasiswa CSSMoRA, Bidikmisi dan tahfidzul Qur’an 30 juz biasanya memberikan beasiswa selama 4 tahun. Selebihnya biaya ditanggung sendiri. Hal ini berarti, mahasiswa penerima beasiswa tersebut harus betul-betul bertanggungjawab dalam mengemban amanah akademik yakni “lulus tepat waktu” paling tidak 8 semester/4 tahun.

    Ketiga, Ingin menjadi Lulusan Tercepat dan Terbaik di Fakultas Masing-Masing
    Biasanya pola pikir (mind set) seperti ini dimiliki oleh mahasiswa yang bertipe akademis. Bagi kalangan aktivis, terkadang tidak begitu meng-impikannya alias biasa-biasa saja. Di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga sendiri pun saling berkompetisi antar jurusan/prodi untuk memperebutkan kursi tercepat dan terbaik. Ada PAI, PBA, MPI, PGMI dan PIAUD. Masing-masing saling berlomba-lomba untuk memperebutkan kursi mahasiswa tercepat.

    Keempat, Tuntutan Orangtua dan Institusi
    Biasanya yang berada dalam level ini ialah orang-orang yang dibiayai oleh orangtuanya sedang disisi lain masih mempunyai banyak tanggungan (adik yang masih sekolah), sehingga membutuhkan biaya yang sangat banyak. Atas dasar itulah, si orangtua menginginkan agar anaknya cepat lulus dan segera mencari kerja. Adapun tuntutan institusi ialah, mahasiswa yang dibiayai oleh sekolah/institusi tertentu untuk melanjutkan studi. Selain itu, ada pula mahasiswa yang menjadikan (nomor 4) ini sebagai cambuk motivasi untuk menyelesaikan skripsi. Bukan karena gelar, tapi karena ingin membahagiakan orangtuanya.

    Kelima, Karena Gelar dan Karier
    Sudah menjadi hal yang biasa ketika pendidikan dijadikan suatu alat untuk mencari “nama”. Biasanya, hal ini termindset oleh materi, untuk melamar suatu pekerjaan tertentu, dibutuhkan gelar ini ini ini. Selain karena karier yang juga mengharuskan “gelar akademik”, ada pula mahasiswa yang gengsi dan ingin dibelakang namanya ada embel-embel akademik, seperti misalnya Maulana, S.Pd. Apalagi sekarang ada penyetaraan gelar antara kampus umum dan kampus Islam. Di Tarbiyah misalnya, dulu alumni tahun 2014 masih menggunakan S.Pd.I, namun sejak tahun 2015 berganti menjadi S.Pd. Begitu pula di Syariah jurusan Muamalat dan atau hukum gelarnya bukan S.H.I namun S.H. Keren ya. Sehingga tidak ada perbedaan yang mencolok terkait dengan gelar akademik kampus Islam maupun umum.

    Keenam, Karena Sudah ditunggu oleh seseorang (life-partner-nya)
    Ini biasanya yang mahasiswi. Lulus S1 dapat double ijazah. Pertama adalah Ijazah S1, dan yang kedua adalah IJAB-sah. Ada pula mahasiswi yang sudah mempunyai calon (tunangan) ditengah-tengan semester 6 atau 7 dan karena si pria ingin segera menikahi-nya, maka ia bantu untuk menyelesaikan skripsi agar segera lulus. Pengalaman penulis juga, biasanya si laki-laki nggak mau nunggu. Si cewek juga kadang begitu, baperan. Ingin banget wisuda ada yang “menemani dan membawakan bunga” sambil bilang dek, selamat ya. Kamu berhasil menyelesaikan tahap pertama untuk menjadi istriku. Wkwkwkwk, jangan bangga dulu dek. Masih ada tahap yang harus kamu selesaikan, mas siap nunggu kok. Hahaha, saya aja belum tau besok ada yang nemeni saya atau enggak. Wkwkwk.

    Ketujuh, Sebagai Salah Satu Prasyarat untuk Menikah dan atau Menikahi Seseorang
    Biasanya ini cowok/mahasiswa. Upaya untuk menjadi menantu seseorang, dia diharuskan menyelesaikan studinya terlebih dahulu baru kemudian mencari kerja dan dibolehkan untuk memboyong putrinya.

    Delapan, Sudah tidak Mau Mikir Lagi alias Mentok
    Hal-hal seperti inilah yang dirasakan oleh mahasiswa yang lebih suka kerja fisik daripada otak. Mereka termindset kuliah itu hanya menghabiskan biaya. Maka dari itu, salah satu caranya adalah segera menggarap skripsi.

    Sembilan, Bebas dari Biaya Kuliah
    Bisa dibayangkan mahasiswa mandiri yang tidak bergantung kepada orangtuanya. Ingin segera lulus agar tidak membuang-buang uang. Di otak mahasiswa yang aktif dan kritis, mereka memaknai pendidikan sebagai alat kapitalisme. Namun didalam otak santri yang namanya luru ngilmu/sekolah pastilah membutuhkan biaya dan juga bekal. Sebagaimana dalam syair ala-ala.

    Kesepuluh, Ingin segera Pulang ke Kampung Halaman
    Mahasiswa tipe ini ialah mereka yang sudah digadang-gadang oleh pamong masyarakat tempat tinggalnya untuk diberi amanah mengembangkan sumber daya di daerahnya serta untuk membangun desanya. Sehingga, ada tanggungjawab dan beban moral yang dimiliki mahasiswa yang bersangkutan agar segera menyelesaikan skripsi. Selain itu, bisa juga karena sudah ditunggu-tunggu oleh orangtuanya untuk berkarier dan atau menikah dengan orang yang sudah menunggu di daerahnya.

    Kesebelas, Ingin Segera Lanjut S2 dan Kemudian Menikah, Sehingga tidak Mau Terlalu Lama di S1
    Mahasiswa tipe ini adalah mereka yang apa-apa di target. Dari mulai lulus kuliah, kerja, lanjut studi dan juga menikah. Hal itu dikarenakan agar senantiasa ingat waktu dan memanfaatkan-nya dengan baik. Baik dari segi pendidikan, karier maupun jodoh.

    Kalian yang mana? Menurut kalian, saya termasuk yang nomor berapa? Tebak!


    Penulis: S. Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Gempa di Lombok Timur menurut Analisis Pengamat Politik Islam

    PEWARTAnews.com -- Kondisi dalam pandangan Penulis terkait terjadinya gempa yang melanda masyarakat Lombok dan Bima akhir-akhir ini sering terjadi pada jati diri manusia. Hal itu kenapa terjadi? Kondisi demikian, menurut penulis disebabkan tidak lain dan tidak bukan semata-mata karena ulah tangan manusia dan ulah tangan para pemimpin yang suka ingkar janji. Buah dari sikap inilah yang menjadi penyebab kemarah Allah SWT terhadap kita sebagai manusia di Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Akibat dari sikap kita sebagai manisia, tidak terlambat datang untuk merajut kepada seluruh alam semesta ini. Allah SWT memberikan guncangan pada kehidupan ini yang berupa tantangan dan rintangan maupun cobaan serta ujian untuk kita semua, termasuk penulis sendiri, kita berasal dari tanah tetap kembali pada tanah.

    Upaya yang perlu kita tengok kembali kenapa ada bencana dan gunung melutus serta banjir bandar memakan korban jiwa yang sekian banyak orang tenggelam. Kapal laut tenggelam, pesawat terbang jatuh, itu semua akibat kita manusia sendiri yang melakukan kesalahan maupun ingkar janji, memberikan pernyataan yang tidak sesui harapa umat dan keinginan Allah SWT. Maka oleh karna sebab itu, marilah kita senantiasa merenungkan persoalan bangsa Indonesia dan juga lebih khusus persoalan NTB.

    Pandangan dalam analisis penulis bahwa gempa bumi di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara itu akibat ulah tangan manusia yang banyak tempat wisata di jadikan maksiat, berlomba-lomba datang ke pantai untuk melakukan sesuatu yang tidak lazim. Turis-turis asing datang dengan membawa kehancuran, pakaian tidak sopan memperlihatkan auratnya sehingga bumi ini berguncang menandakan kemarahannya terhadap hal-hal yang di larang oleh sang Khaliq.

    Kondisi yang terjadi yakni, maksiat merajalela, legalkan minuman keras, judi, politik ingkar janji, ulama dukung penistaan agama, Parpol dukung kekuasaan zholim. Kita harus kembali mencintai alam semesta, tidak selama-lamanya kita hidup bebas dengan selaga dosa dan kesalahan, inilah yang menjadi persoalan kita sebagai manusia.

    Akibat ulah manusia, Allah SWT memberikan jawaban yang sangat dahsyat dan merugikan rakyat maupun umat manusia, itu semua akibat kita ingkar janji ulama dan umat Islam sehingga Allah SWT menjawab sikap kita dengan guncangan bencana alam. Banyak tempat wisata dijadikan tempat maksiat, berlomba-lomba datang untuk melakukan hal-hal yang menimbulkan kemarahan sang llam dan sang Illahi. Akibat ulah tangan kita manusia di atas muka bumi Allah SWT.

    Menurut penulis, secara umumnya bencana itu datang ketika para pemimpin di negeri ini tidak lagi menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Akibat demikian, maka kita tinggal menunggu waktu kapan atau tidak kita ketahui turunnya bencana alam it, hanya Allah SWT yang mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

    Saya akan menyimpulkannya bahwa terjadi gempa bumi di seluruh Indonesia ini karna ulah tangan manusia dan pemimpin yang melegalkan perjudian, minuman keras (Miras), pelacuran, tempat wisata dijadikan maksiat, pembunuhan, yang tidak muhrim berbuat jina di pinggir pantai, dan lain-lain.

    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat manusia dan pemimpin di negeri ini. Fastabiqul Khairat, mari sama-sama kita berlomba-lomba menuju kebaikan.


    Penulis: Fen Yasin Arfan
    Pengamat Politik Islam / Aktifis Muhammadiyah

    PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Gelar Aksi Galang Dana Peduli Gempa Lombok NTB

    Suasana PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta usai penggalangan dana untuk Lombok NTB.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pusat Studi Mahasiswa Pascasarja (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta melakukan aksi penggalangan dana sebagai bentuk peduli atas peristiwa gempa dengan kekuatan 6.4 SR yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara pada tanggal 29 Juli 2018. Aksi penggalangan dana dilakukan pada tanggal 30 Juli 2018 di titik nol Kota Yogyakarta mulai jam 16.00-20.00 WIB.

    Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Ilmidin, SKM melalui Sekretaris PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta Hamzah, S.Pd. membeberkan bahwasaanya apa yang terjadi di Lombok mengusik hati nurani keluarga besar PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta untuk berbuat sesuatu untuk meringankan beban korban. "Kemarin Lombok NTB di guncang gempa. Hal ini yang mengetuk hati nurani PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta untuk melakukan aksi kemanusian dengan bentuk penggalangan dana bantuan untuk korban musibah tersebut," beber Hamzah.

    Lebih lanjut Hamzah mengatakan bahwasannya melihat pemberitaan terkait kondisi yang terjadi di Lombok NTB rekan-rekan PUSMAJA langsung merespon. "Atas koordinasi dan arahan Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta yang kebetulan lagi gak ada di Jogja, kami mengajak sekitar 30 orang anggota dan pengurus untuk partisipasi aktif dalam aksi kemanusian untuk Lombok. Karena kami memandang aksi ini adalah bentuk rasa kemanusian/peduli kami terhadap musibah yang terjadi. Aksi ini mudah-mudahan sedikit membantu dan meringankan beban korban gempa tersebut." ucap Hamzah.

    Menurut pantauan PUSMAJA, adanya Gempa yang terjadi di Lombok banyak memakan korban jiwa meninggal dunia, sebagian besar di rawat di RS terdekat dan beberapa rumah roboh, hampir meratakan semua rumah-rumah saudara kita di Lombok Timur dan Lombok Utara.

    Lebih jauh, Hamzah mengucapkan, "Kami mengucapkan terimakasih atas sumbangsih masyarakat Yogyakarta yang sangat respon dan peduli terhadap kejadian gempa saat kami melakukan penggalangan dana. Aksi penggalangan dana yang dilakukan merupakan murni panggilan hati nurani rekan-rekan yang tergabung dalam organisasi PUSMAJA tanpa ada unsur pendorong yang bersifat politik dan lain-lain yang menyangkut keuntungan personal maupun kelompok. Organisasi PUSMAJA merupakan gabungan mahasiswa pascasarjana yang berasal dari kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu yang studi di Yogyakarta, karena pada prinsip dasarnya kedua kabupaten satu kota tersebut merupakan satu suku yang dinamakan suku Mbojo sehingga pada tahun 2008 silam dibentuklah nama organisasi bernama PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta untuk mewadahinya," kata Hamzah menginfokan.

    Sampai saat ini dana yang dikumpulkan PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta sudah lebih dari Rp. 1.300.000,-. Kalau tidak ada kendala yang berarti keesokan harinya (31 Juli 2018) akan melakukan aksi penggalangan dana lagi. Dalam aksi penggalangan dana hari pertama tersebut, hadir juga mantan Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta periode 2015-2017 M. Jamil, S.H., mantan Ketua Umum PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta periode 2017-2018 M. Saleh Ahalik, S.Pd., M.Pd. dan juga pengurus dan anggota PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta yang lainnya. (PEWARTAnews)

    Hafidh Asrom Serap Aspirasi Masyarakat Bantul


    Anggota DPD RI Hafidh Asrom saat menyerap aspirasi rakyat.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta Drs. A. Hafidh Asrom, MA melakukan turun ke bawah (Turba) melihat langsung kondisi masyarakat pada hari Senin, 30 Juli 2018 di Bantul Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta. Upaya Turba ini dilakulan Hafidh Asrom untuk menyerap aspirasi masyarakat yang akan di perjuangkan dalam ranah tugasnya sebagai anggota DPD RI.

    Hafidh Asrom mengucapkan suatu kesukuran karena dalam momen yang penuh bahagia itu bisa berkumpul langsung dengan masyarakat sebagai konstituen untuk menjaring aspirasi yang menjadi kebutuhan penting masyarakat. "Alhamdulillah bisa berkumpul dan berdialog dengan penggian seni dan tokoh masyarakat Bantul Barat, dalam rangka sosialisasi lembaga DPD RI dan penyerapan aspirasi", beber Hafidh Asrom.

    Fungsi, Tugas dan Wewenang Seorang DPD RI
    Sesuai amanah yang berikan konstitusi, format representasi DPD-RI dibagi menjadi fungsi legislasi, pertimbangan dan pengawasan pada bidang-bidang terkait dengan daerah.

    Sebagai upaya untuk melaksanakan Fungsi Legislasi, tugas dan wewenangnya adalah sebagai berikut: (1) Dapat mengajukan rancangan undang-undang (RUU) kepada DPR; dan (2) Ikut membahas RUU. Bidang Terkait yang bisa diajukan dan turut andil untuk ikut dibahas oleh DPD RI adalah RUU yang berkaitan dengan : Otonomi daerah; Hubungan pusat dan daerah; Pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; Pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi lainnya; Perimbangan keuangan pusat dan daerah.

    Selain fungsi legislasi, DPD RI juga memiliki Fungsi Pertimbangan, yakni memberikan pertimbangan kepada DPR. Selain itu, ada juga fungsi pengawasan.

    Adapun tugas dan wewenang dalam ranah Fungsi Pengawasan adalah: (1) Dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan menyampaikan hasil pengawasannya kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti; dan (2) Menerima hasil pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan BPK.

    Bidang Terkait yang bisa digarap DPD RI dalam ranah tugas dan wewenangnya terkait Fungsi Pengawasan adalah sepanjang berkaitan dengan : Otonomi daerah; Hubungan pusat dan daerah; Pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan daerah; Pengelolaan sumberdaya alam serta sumberdaya ekonomi lainnya; Perimbangan keuangan pusat dan daerah; Pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN); Pajak, pendidikan, dan agama. (PEWARTAnews)

    NU Care-LAZISNU NTB dan IKSASS NTB Beri Santunan Korban Gempa Lombok

    Tim NU Care LAZISNU NTB saat menyerahkan simbolis bantuan melalui Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH.
    Lombok, PEWARTAnews.com -- Tim Tanggap Darurat NU CARE - LAZISNU NTB dan Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafiiyah Situbondo Rayon NTB (IKSASS NTB) Menyisir Korban Gempa Lombok pada hari Senin, 30 Juli 2018 di Dusun Batu Rakit, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

    Tim dari NU CARE - LAZISNU NTB terdiri dari Wakil Ketua PW LAZISNU NTB, Ustz Syukri, Direktur NU CARE - LAZISNU NTB Refreandi Haeri dan relawan lainnya. Tim dari IKSASS NTB terdiri dari Ketua IKSASS Kota Mataram dan pengurus lainnya.

    Tim yang hadir diterima langsung oleh Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar, SH, MH. Bupati Lombok Utara menyampaikan terimakasih Tim NUCARE LAZISNU NTB yang telah datang dan menyumbang untuk korban yang kena dampak Gempa. "Terimakasih kepada Tim NU CARE - LAZISNU NTB dan IKSASS NTB yang telah membantu masyarakat kami yang terdampak gempa di lombok utara, kebutuhan mendesak yang sangat dibutuhkan saat ini adalah selimut dan obat-obatan untuk para pengungsi", bebernya.

    Wakil Ketua LAZISNU NTB membeberkan bahwasannya salahsatu program LAZISNU adalah terkait siaga bencana. "NU CARE  - LAZISNU NTB merupakan lembaga yang salah satu programnya adalah siaga bencana, oleh karena itu bantuan hari ini adalah bentuk kepedulian kami beserta keluarga besar NU NTB dan para donatur kepada warga yang terdampak musibah gempa hari minggu kemarin. Selanjutnya pemberian bantuan akan dilanjutkan besok pagi ke kabupaten lombok timur sebagai daerah yang terdampak paling dekat dengan pusat gempa", ucapnya.

    Momentum yang sama, Ketua IKSASS Kota Mataram turut berduka cita atas peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Lombok.  "Kami mewakili semua alumni dan santri Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo turut berduka cita atas musibah yang menimpa saudara-saudara kami di Kabupaten Lombok Utara. Penyaluran bantuan ini merupakan implementasi pesan dari KHR. M. Azaim Ibrahimy (Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo) agar alumni peduli kepada masyarakat", katanya. (rls / PEWARTAnews)

    Wahai Akhi, belajarlah agama di NU

    PEWARTAnews.com -- Semangat beragama yang tinggi tanpa di dasari dengan ilmu yang madani akan memunculkan sikap yang sok tahu. Sikap yang sok tahu ini memunculkan sikap-sikap negatif lainnya. Seperti menyalahkan pendapat orang lain, menutup diri dari nasihat orang lain, mengganggap dirinya paling benar, dan lain-lain. Tentu akan berbahaya saat ada seseorang yang sudah dianggap orang alim dalam agama, tapi ternyata nihil. Saat orang lain bertanya pada dirinya mengenai perihal agama, dia akan memberikan jawaban yang menyesatkan.

    Hal ini berjamur di kalangan mahasiswa, orang-orang perkotaan dan kalangan artis. Mereka yang biasanya disibukkan dalam hal dunia yang sebelumnya tidak pernah atau jarang mengaji, tiba-tiba menyadari kalau dirinya haus akan siraman rohani. Kemudian di sela-sela kesibukannya, mereka belajar agama melalui internet. Website, Youtube dan Instagram agamis mereka kunjungi untuk mengaji.  Kondisi dengan semangat beragama yang tinggi, mereka pun “ngaji online”.

    Dari hasil ngaji online-nya, kemudian mulai nampak perubahan pada dirinya. Kondisi yang sebelumnya suka kumpul dengan temannya, kini mulai menyendiri. Kondisi yang sebelumnya suka ketawa bersama, kini mulai suka “menasihati” teman-temannya. Kondisi yang sebelumnya berpenampilan modis, kini tampilannya “aneh”. Mereka menyebut dirinya hijrah. Ternyata perubahan yang ada pada dirinya membuat khawatir keluarga dan orang-orang terdekatnya.

    Kekhawatiran keluarga dan orang-orang terdekatnya disebabkan dirinya tidak mau bersosialisasi, suka menyalahkan orang-orang yang berbeda dengan dirinya dan tidak mau dinasihati. Fenomena ini ternyata sudah meresahkan. Bagaimana sebagian orang belajar agama dengan instans lalu seolah-olah sudah menguasai ilmu agama. Kemudian dengan percaya dirinya berdakwah bagaikan ustadz-ustadzah yang sudah pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren bertahun-tahun. Hal ini bukan semangatnya yang salah tapi belajarnya yang salah.

    Wahai, Akhi belajarlah agama di NU

    Belajar agama tidaklah sederhana. Belajar agama tidak cukup hanya bermodalkan semangat. Belajar agama tidak hanya tentang benar dan salah. Belajar agama tidak hanya tentang surga dan neraka. Tapi, belajar agama lebih dari itu. Belajar agama tentang bagaimana seorang makhluk mengenal Tuhannya. Belajar agama tentang bagaimana seorang makhluk bisa bermanfaat kepada makhluk lainnya, dan belajar agama tentang bagaimana seorang makhluk menyadari akan eksistensi dirinya sebagai seorang makhluk yang tidak bisa apa-apa dan memiliki apa-apa. Di Nahdlatul Ulama (NU) akan diajari hal-hal seperti ini.

    Selain itu, di dalam agama ada banyak perbedaan pendapat. Ulama masyhur yang diikuti oleh mayoritas umat Islam setidaknya ada 4 yaitu Imam Syafi’I, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Hanafi. Mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti Imam Syafi’i. Hal ini tentu tidak akan didapat jika hanya “ngaji online”. Apalagi kalau “ngaji online” kepada ustadz yang tidak jelas latar belajang pendidikan agamanya. Hanya di NU, akan dikenalkan perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam. Sehingga bisa bijak dalam beragama.

    Belajarlah agama di NU, yang banyak ulamanya dan jelas keilmuannya.


    Yogyakarta, 18 Juli 2018
    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sebuah Cita-Cita seorang Cak Imin?

    M. Jamil, S.H. dan Cak Imin.
    PEWARTAnews.com -- Saat masih kecil, di bangku sekolah dasar, depan kelas pasti sering ditanyain guru-guru kita, "Apa cita-cita mu?", jawabannya pasti beragam. Ada yang bercita-cita sebagai guru, polisi, menteri, dosen, dan tidak jarang banyak juga yang bercita-cita sebagai presiden/wakil presiden. Apakah seorang yang masih bocah dipandang wajar bercita-cita setinggi langit? Mayoritas pasti bilang itu suatu kewajaran, walaupun secara nalar, sekilas kita bisa bilang, "masa seorang bocah bercita-cita setinggi langit. Apa bisa ia capai?" Namun secara akal sehat pula, sebuah cita-cita tidak ada yang tidak mungkin bila kita bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Apakah kita tidak menyadari, awal mula para Presiden Republik Indonesia seperti Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), SBY, dan lain-lainnya juga pada masa kecilnya pernah melewati masa-masa sebagai seorang bocah. Bahkan sebagian dari mereka, di masa kecilnya mungkin tidak bercita-cita sebagai presiden.

    Pada prinsipnya, siapa pun manusia berhak bercita-cita setinggi langit. Apalagi cita-cita itu adalah sebuah cita-cita yang baik, cita-cita yang mulia, yakni ingin memimpin negara. Kita kontekskan dengan kondisi dewasa ini. Sebagai contoh, ada seorang insan, bisa dibilang tokon nasional (setidak-tidaknya menurut orang-orang yang mengakui ketokohannya, karena pada prinsipnya seberapa besar pun prestasi yang dilakukan, dimata orang yang tidak suka bukanlah apa-apa), Dr. (HC) Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si. namanya, yang biasa dikenal luas dengan sebutan Cak Imin. Cak Imin sudah malang melintang di jabatan mentereng nasional. Pernah Eksekutif yakni jadi salahsatu Menteri pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jabatan di Legislatif, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Kondisi yang terjadi, banyak dibicarakan secara nasional, bahkan banyak pemberitaan yang kita saksikan, baik di media lokal serta media nasional (media cetak maupun media online) tentang keinginan Cak Imin tampil di bursa Calon Wakil Presiden (Capres) tahun 2019. Kondisi yang paling penting secara politis adalah seorang Cak Imin kini sedang menjabat sebagai ketua umum salahsatu partai politik, apalagi partai politik tersebut didirikan oleh para ulama, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Selain itu, Cak Imin juga sudah terlatih sebagai pemimpin sejak kecil.

    Keinginan Cak Imin akan jadi Cawapres tidak jarang yang nyinyir, bahkan tidak jarang juga yang bilang Cak Imin maju cuman dengan modal dengkul. Para penyinyirnya mungkin tidak sadar, bahwa Cak Imin punya modal politik yang sangat besar untuk itu. Cak Imin punya masa riil sebagai pendukungnya, selain ia bisa kerahkan mesin partainya dari dewan pimpinan pusat sampai tingkat ranting, ia juga punya massa riil warga Nahdlatul Ulama (NU). Karena disadari atau tidak perjuangan yang dilakukan NU dan perjuangan yang dilakukan PKB adalah sama. Sebagai pembedanya hanyalah PKB ditugaskan dalam ranah politik praktisnya.

    Terkait Cak Imin, bahkan belum lama ini salahsatu tokoh Muhammadiyyah yakni Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui akan kehebatan dan peluang seorang tokoh bernama Cak Imin. Dahnil memandang bahwasannya seorang Cak Imin lebih pantas maju sebagai calon presiden (Capres) ketimbang menjadi calon wakil presiden (Cawapres). Dahnil memandang, Joko Widodo akan merugi bila tidak memilih seorang Cak Imin sebagai wakilnya pada kontestasi 2019 mendatang, bisa-bisa Jokowi game over alias hancur. Pandangan seorang Dahnil bukan tanpa dasar, karena unsur-unsur untuk itu melekat erat dan ada pada Cak Imin.

    Keinganan Cak Imin sama halnya seperti keinginan-keinginan tokoh lain yang juga berkeinginan maju sebagai Capres/Cawapres, seperti Prabowo dengan kendaraan Gerindra-nya, Presiden Joko Widowo yang ingin maju lagi dua periode. Itu semua sah-sah saja, karena ikhtiar baik perlu kita dorong bersama. Siapa pun orangnya berhak mencalonkan diri sebagai presiden asalkan punya kapasitas untuk itu. Karena pada prinsipnya manusia di ciptakan dimuka bumi ini untuk menjadi seorang pemimpin. Seperti halnya sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, yang artinya:

    Dari Abdullah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. ....... Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Sahih al-Bukhori: 4789). Hadits tersebut mengisyaratkan bahwasannya siapa pun di muka bumi ini, lebih sempitnya siapa pun di Negara Indonesia ini berhak menjadi pemimpin --mencalonkan diri jadi Capres/Cawapres--, tidak terkecuali seorang Cak Imin.

    Walaupun demikian, kita sebagai manusia (rakyat Indonesia), tidak bisa menjamin siapa yang akan memimpin Indonesia satu periode kedepan, seperti halnya  Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah: 247, yang artinya:

    "Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui." (QS. al-Baqarah: 247).

    Dari ayat diatas mengisyaratkan bahwasannya Allah SWT pasti akan menetapkan seseorang pemimpin (raja) yang terbaik dari yang baik, siapa yang dititahkan oleh Allah sebagai raja/pemimpin (kita kontekskan dengan Indonesia, presiden), maka itulah yang terbaik dan yang akan terpilih jadi presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Untuk menggapai cita-cita, sebagai manusia kita hanya berupaya sekuat tenaga untuk menggapainya. Ending akhirnya, seberapa besar pun upaya yang kita lakukan untuk itu, tetap atas seizin Allah yang menjadi akhir dari apa yang menjadi hasil dari pencapaian tersebut. Karena sesungguhnya sang pencipta alam semesta maha mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.


    Penulis: M. Jamil, S.H.
    Mahasiswa Pascasarjana Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada 

    Tiga Faktor Penyebab Prabowo Kalah pada Pilpres 2014

    PEWARTAnews.com -- Salah satu tokoh nasional yang sudah mendeklarasikan diri maju pada pilpres 2019 adalah pak Prabowo Subianto. Seorang pimpinan Partai Gerindra dan juga mantan perwira TNI angkatan darat. Selain itu beliau juga seorang pengusaha sukses. Beliau mendeklarasikan diri 3 bulan lalu, tepatnya 11 April 2018 di Hambalang pada Rakornas, Hambalang Jawa Barat.

    Jika tahun depan beliau jadi capres di pilpres 2019 maka ini ketiga kalinya beliau mengikuti kontestasi pilpres. Pertama kali beliau mengikut pilpres tahun 2009 yaitu saat berpasangan dengan Ibu Megawati menjadi cawapresnya. Menghadapi pak SBY dan Pak Boediono. Kedua yaitu pada tahun 2014, berpasangan dengan pak Hatta Rajasa. Berhadapan dengan pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Namun, dari keduanya beliau masih belum beruntung.

    Mengingat Pilpres tahun 2014 lalu, banyak yang sudah menebak kalau pemenangnya adalah pak Prabowo dengan merujuk dukungan koalisi yang gemuk, lawan yang fresh, dan juga pengalaman pada Pilpres sebelumnya. Bisa dipastikan bahwa Pilpres 2014 pemenangnya adalah pak Prabowo. Namun, prediksi hanyalah prediksi. Kenyatannya pak Prabowo kembali kalah. Bahkan kalah dengan orang terdekatnya. Orang yang beliau antar ke kursi DKI 1 yaitu Pak Ir Joko Widodo.

    Setidaknya ada 3 faktor Pak Prabowo pada pilpres 2014 lalu, yang mengakibatkan beliau kalah.

    Pertama, Berkoalisi dengan PKS
    Partai yang terkenal paling solid itu adalah PKS. Namun, menjadi salah ketika pak Prabowo menjadikan partai sahabat atau partai koalisi utama di pilpres 2014. Partai ini menjadi partai yang tidak disukai oleh 2 ormas terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Selain itu, beberapa partai besar pun tidak menyukai partai ini. Partai ini dikenal memakai SARA disetiap kampanyenya. Pak Prabowo pun sebenarnya sudah mengetahui ini, karena sebelumnya partai ini adalah lawannya di Pilpres 2009 dan di Pilkada DKI 2012. Tentu hal ini tidak akan menyerap banyak suara dari warga NU dan Muhammadiyah.

    Kedua, Jarang tampil di Televisi
    Kampanye yang paling mempengaruhi pemilih pedesaan dan masyarakat menengah kebawah adalah pertelevisian. Jika kita melihat kembali bagaimana Gerindra menjadi partai besar, yaitu berkat kampanye di televisi. Sering tampil di televisi dengan iklan yang nasionalis. Namun di Pilpres 2014, intesitas beliau tampil di Televisi terlihat berkurang. Berbeda dengan lawannya yaitu pak Jokowi yang hampir tiap hari selalu tampil dan selalu ada berita tentang beliau.

    Ketiga, Tidak mempunyai Tim Cyber
    Dalam perebutan kursi RI 1, tentu terjadi peperangan opini. Peperangan opini yang paling terasa adalah perang opini di sosial media. Mengingat kembali bagaimana berisiknya Facebook saat Pilpres 2014. Di pihak lawan, punya tim cyber profesional yang bernama Jasmev. Sedangkan pak Prabowo tidak punya. Padahal tim cyber penting sekali. Peperangan di sosial media tidak sederhana yang terlihat. Harus punya strategi dan struktur. Sehingga pak Prabowo kalah di sosial media.

    Setidaknya 3 hal itu, yang menjadi faktor kekalahan pak Prabowo. Walaupun begitu tentu di Pilpres 2014, penuh drama bagi pak Prabowo. Bagaimana beliau dikhianati oleh Partai Koalisi sebelumnya yaitu PDIP, lalu dikhianati kader yang diantarnya ke DKI 2, Pak Ahok dan juga orang yang diantar ke DKI 1, Pak Jokowi. Walaupun begitu beliau adalah patriot sejati yang mempunyai jiwa yang besar. Buktinya beliau hadir di pelantikan pak Jokowi dan bersedia ditemui oleh lawannya itu. Semoga beliau berhasil di Pilpres 2019.


    Yogyakarta, 16 Juli 2018
    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    DPW PKB DIY gelar Tasyakuran dan Doa Peringati Harlah ke-20

    Suasana perayaan HARLAH PKB di pantai Kwaru, Bantul, DIY.
    Bantul, PEWARTAnews.com -- Dewan Perwakilan Wilayah  Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Daerah Istimewa Yogyakarta  menggelar Tasyakuran dan Doa Bersama Harlah  ke-20 di Pantai Kwaru, Bantul. Senin, 23 Juli 2018, sekira pukul 13.00 WIB.

    Harlah 20 PKB DIY ini dikonsep sederhana dengan acara ramah tamah dilanjut makan ikan bersama.

    Sekretaris Wilayah DPW PKB, Kiai Umaruddin Masdar mengatakan bahwasannya untuk menyambut hari lahir PKB, merupakan momentum yang tepat untuk mengajak masyarakat supaya mendoakan PKB menang di tahun 2019 mendatang. "Kami sengaja mengundang pengurus, kader dan masyarakat menghadiri Tasyakuran dan doa Harlah 20 PKB DIY, terutama bagi mereka pencinta PKB, agar terjadi harmonisasi dan interaksi komunikasi yang baik antara PKB dan Masyarakat. Dan Jangan lupa mendokan PKB menjadi partai pemenang Pemilu 2019 dan Cak Imin Dilantik Wapres 2019 ," ujar Kiai Umaruddin Masdar.

    Sementara, dalam sambutannya Ketua DPW PKB DIY, Agus Sulistiyo  mengajak para kader dan Simpatisan Agar Terus Berjuang dan berkomitmen membesarkan PKB DIY dan Saya Berharap Perolehan Kursi DPRD Meningkat dari tahun kemarin, Imbuhnya. Berlanjut dengan pemotongan tumpeng dan  ditutup dengan Doa.

    Harlah PKB 20 DIY dihadiri sekitar 100 orang Pengurus, Kader dan Simpatisan, acaranya berlangsung dengan santai dan penuh keakraban. (rls / PEWARTAnews)

    Agar Tulisan Tak Raib

    PEWARTAnews.com -- Satu-satunya langkah yang wajib ditempuh oleh seseorang agar bisa menghasilkan sebuah tulisan adalah dengan menulis. Hanya itu saja. Tak ada yang lain. Ya, sederhananya, ingin punya tulisan, ya silakan mulai menulis. Ingin punya karya buku, silakan wujudkan dengan cara menulis dan menulis.

    Dalam melakukan aktivitas yang satu ini, tentu ada banyak hal yang dirasakan oleh setiap penulis. Misalnya, senang dan bahagia. Seorang penulis akan senang, juga bahagia, apabila tulisannya telah rampung. Saat tangan dan jemari mencoba mengukir kata-kata di akhir sebagai penutup sebuah tulisan, maka di sinilah kebahagiaan pertama yang dinikmati seorang penulis.

    Kebahagiaan itu kian bertambah, jikalau karya tulisnya tersebut dihargai dan dibaca oleh orang lain. Terlebih bisa menjadi buku. Namun, sepertinya puncak kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang penulis itu adalah kala tulisannya tersebut mampu mengubah hidup orang lain, dan menjadikan orang yang membacanya juga ikut termotivasi untuk mau menulis dan menelurkan buku. Inilah mungkin kebahagiaan level teratas.

    Namun, dalam aktivitas merajut aksara, tak terlepas juga dari yang namanya “duka”. Baik itu yang berasal dari luar, maupun yang bersumber dalam diri kita sendiri. Dari luar, misalnya tak dihargai, dimaki, dan dikritik oleh orang lain. Bagi saya pribadi, hal yang seperti ini tak menjadi masalah. Andai karya tulis saya tak dihargai oleh seseorang, saya tetap mengucapkan syukur dan terima kasih. Tak menjadikan saya untuk berhenti menulis. Dimaki pun tak mengapa. Dikritik, malah bagus. Ini bisa menjadi masukkan buat karya selanjutnya. Juga, sebagai motivasi dan cambuk penyemangat agar terus berkarya.

    Sementara, “duka” yang datang dari dalam diri, adalah ketika seorang penulis tak hati-hati dengan tulisan yang sudah dirajutnya. Maksudnya, adalah tidak mewaspadai akan hilang atau raibnya tulisan yang sudah jadi. Kita tak tahu ke depannya. Bisa saja goresan pena kita hilang atau hal serupa lainnya. Sakit sekali efek yang diakibatkan oleh yang satu ini.

    Saya pernah mengalami hal demikian. Tentu, di luar dugaan saya. Ya, suatu waktu, tulisan yang saya hasilkan dalam kurun waktu satu tahun lebih, tiba-tiba hilang di tempat penyimpanan saya. Saya menyimpannya di Flasdisk (FD). Setelah saya periksa, ternyata semua data yang ada di dalamnya kena virus dan raib. File dan data yang dimaksud sama sekali tak bisa dikembalikan.

    Tangan saya gemetar seketika. Badan saya dingin seketika. Sebab, beberapa naskah buku yang telah saya selesaikan hilang ditelan virus ganas dalam sekejap. Jumlahnya ratusan halaman. Hal ini terjadi, karena FD yang saya gunakan untuk menyimpan file tulisan tersebut, sering dipakai untuk memindahkan data dari laptop ke laptop. Sehingga, pas dimasukkan di salah satu laptop teman saya yang penuh virus, isi FD tersebut menjadi salah satu korbannya.

    Hanya saja, waktu itu, kegelisahan saya tak begitu lama. Sebab, sebagian besar naskah yang saya tulis tersebut sudah saya simpan di surat elektronik (surel), dan yang utuh ada di laptop adik sepupu saya. Namun, yang tersisa hanya file cadangan yang saya simpan di surel. Sedangkan, yang di laptop adik sepupu saya juga tak bisa diselamatkan, oleh karena laptopnya rusak total dan tak bisa diperbaiki.

    Ya, begitulah yang terjadi. Kenyataan demikian harus saya terima. Setidaknya, sebagian besar naskah tulisan tersebut ada di tempat lain (surel). Dan, mau tidak mau, untuk menggenapinya, beberapa tulisan yang hilang harus saya ketik ulang, kendati tak bisa sama sepenuhnya seperti semula. Tentu, hal yang seperti ini menjadi pelajaran saya ke depannya, agar tak ceroboh, dan tetap mewaspadai agar tetap mengabadi.

    Maka, bagi Anda yang telah menghasilkan tulisan dan naskah buku, saya sarankan agar tak menyimpan file dalam satu tempat. Jika Anda membuat tulisan atau mengetik di dalam komputer atau laptop, maka jangan hanya simpan di tempat itu. Usahakan beli Flasdisk atau Hardisk khusus untuk menyimpan file tulisan yang dimaksud. Bisa juga Anda menyimpannya di surel atau email. Atau, buat blog khusus untuk menampung tulisan Anda sendiri. Boleh juga di-share sepenuhnya di linimasa Facebook. Ini juga cara cerdas, di samping menyimpan tulisan, juga agar tulisan yang dimaksud bisa langsung dinikmati dan dibaca oleh orang lain. Lebih bagus lagi, setiap selesai menulis, lalu Anda mencetaknya (print), dan disimpan di tempat yang aman.

    Lantas, bagaimana jika menulislah di buku tulis? Ya, tinggal Anda kondisikan saja. Simpan baik-baik buku yang dipakai untuk menulis tersebut agar tak hilang. Bila perlu fotocopy perbanyak, sebagai cadangannya. Saya rasa Anda yang lebih tahu.

    Sekali lagi, Anda yang telah menghasilkan banyak tulisan dan naskah buku, jangan sampai menangis darah di kemudian hari. Waspadai dan periksa naskah Anda, jangan sampai hilang atau raib di tengah jalan. Usahakan simpan di banyak tempat, agar kejadian yang saya rasakan tidak menimpa Anda sekalian. Selamat menulis dan salam literasi!

    Wallahu a’lam.Gunawan.



    Penulis: Gunawan
    Pemuda Asal Dompu NTB

    Pak Jokowi 2 Periode? Why Not?

    PEWARTAnews.com -- Presiden RI yang ke 7 bernama Ir Joko Widodo. Seorang tokoh sederhana dari Solo. Penulis pikir beliau tidak pernah merencanakan sebelumnya, bahkan penulis pikir bermimpi untuk menjadi Presiden pun beliau tidak pernah. Diawali karirnya menjadi seorang walikota Solo. Kemudian di gadang-gadang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Belum genap 2 tahun duduk menjadi Gubernur, kemudian bim sala bim beliau menjadi Presiden sejak tahun 2014. Politisi yang sangat beruntung, dengan waktu singkat bisa mencapai puncak.

    Sosoknya yang muncul di publik memang penuh pro kontra dan sulit ditebak. Banyak sudah cobaan-cobaan yang beliau hadapi selama menjadi pejabat publik. Setidaknya hal ini dimulai saat beliau dicalonkan menjadi gubernur DKI. Cobaan-cobaan beliau diantaranya maju berpasangan dengan non muslim, menggagas mobil esemka, berhadapan dengan Pak Prabowo, tidak membaca apa yang ditanda tangani, merangkul minoritas, Rupiah semakin menurun dan janji-janji politik lainnya kepada rakyat yang belum terpenuhi.

    Sebenarnya penulis mau menjabarkan setiap cobaan-cobaan yang beliau hadapi. Tapi akan panjang sekali tulisan ini. Kondisi yang menjadi point utama dari setiap cobaan yang beliau hadapi adalah beliau selalu menghadapinya dan berkomunikasi dengan para ahli untuk mendapatkan solusi yang tepat.

    Saat ada pertanyaan "apakah pantas Pak Jokowi 2 periode?" Saya pikir pantas-pantas saja. Kenapa tidak? Dalam undang-undang beliau masih punya hak untuk maju kembali menjadi presiden di pemilu selanjutnya. Setidaknya untuk 1 periode lagi. Seperti halnya Pak SBY, yang menjabat menjadi presiden 2 periode. Secara konstitusi sah-sah saja. Selama rakyat menghendakinya di Pemilu 2019.

    Apa yang menjadi pertimbangan beliau masih layak menjadi presiden. Setidaknya ada 4 hal yang saya catat, lantas menjadikan beliau layak menjadi presiden 2 periode.

    Pertama, Jokowi Dekat dengan Ulama dan Kaum Santri
    Isu kalau Pak Jokowi anti Ulama itu tidak benar. Selama beliau menjabat menjadi Presiden, beliau menyambangi pondok-pondok pesantren. Bersilaturahim dan berkomunikasi dengan para ulama dan santri. Jokowi lakukan dengan gaya khasnya, yakni bercanda dengan para santri lalu menggelar kuis berhadiah sepeda. Terlebih yang terus di kenang oleh para santri adalah, Jokowi menetapkan hari santri Nasional. Kondisi yang terjadi demikian adalah menjadi sebuah bukti bahwa Pak Jokowi dekat dengan ulama dan kaum santri. Pemerintahan yang dekat dengan ulama, semoga selalu dilindungi oleh Allah SWT dan dilimpahkan rahmat-Nya.

    Kedua, Memunculkan hal-hal yang Baru
    Banyak hal-hal baru yang terjadi saat Pak Jokowi menjadi presiden. Seperti halnya mengangkat seorang menteri yang hanya lulusan SMP yaitu Bu Susi Pudjiastuti. Menetapkan hari santri Nasional, tidak melibatkan anak-anaknya di dunia politik. Sosoknya bukanlah petinggi partai. Berurusan dengan PT. Freeport. Kira-kira hal baru apa yang akan beliau munculkan jika lanjut 2 periode?

    Ketiga, Perhatian terhadap Indonesia Bagian Timur
    Saat kita mendengar wilayah bagian timur, sekilas kita tergambarkan daerah yang jauh dari peradaban. Tapi kini, gambaran itu sudah mulai pudar. Sekarang mulai tergambarkan bagaimana asiknya pariwisata daerah timur. Seperti kepulauan raja ampat. Selain itu infrastruktur pun digalakkan seperti pembangunan jalan transpapua. Tentu belum semuanya, karena masih ada yang banyak di benahi seperti pendidikan dan sosial di Papua. Lalu bagaimana jika beliau 2 periode?

    Keempat, Sosok Presiden Kekinian
    Saat Pak Jokowi menjabat menjadi Presiden, saat itu juga hilanglah kesan kalau pejabat haruslah formal dan kaku. Jokowi tampil dengan selera musik mentalis, lalu tampilan sederhana dan kekinian. Terlebih beliau suka buat vlog pada agenda-agenda kepresidenan. Terlihat bahwa Pak Jokowi adalah sosok Presiden yang memiliki jiwa muda dan dekat dengan anak-anak muda.

    Dilihat dari empat hal diatas, maka jika ada pertanyaan, "Bagaimana jika Pak Jokowi 2 periode? jawabnya why not? Kita lihat nanti di pemilu 2019.


    Yogyakarta, 15 Juli 2018
    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Dollar, UMR dan Beras Jelang Reformasi dan Era Jokowi

    PEWARTAnews.com -- Beberapa waktu terakhir banyak orang membandingkan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar sudah menyamai kegentingan seperti 20 tahun lalu menjelang reformasi. Mereka mengidentikan situasi ekonomi yang sama daruratnya dengan situasi di jelang kejatuhan Presiden Soeharto.

    Apakah benar demikian? Mari kita bandingkan data-datanya antara Dollar, UMR dan harga beras.

    Pertama, Nilai Dollar dan UMR

    Nilai tukar Dollar di akhir Agustus 1997 berada di kisaran 1 USD senilai Rp 2.500,-. Sementara pada saat yang sama, UMR (Upah Minumum Regional) DKI di tetapkan Rp 172.500 per bulan atau sekitar 69 USD per bulan.

    Kondisi yang terjadi dalam waktu tidak lebih dari 10 bulan dari jelang akhir Agustus 1997 hingga rentang Januari - Juli 1998 nilai tukar Dollar merayap naik lalu melonjak mendekati Rp 16,800-. Di saat Dollar menyentuh Rp 16.800 itu UMR DKI ada di angka Rp 192.000 per bulan atau satu bulan UMR setara dengan 11,4 USD.

    Dari 1997 ke 1998 kenaikan UMR hanya Rp 20.000 atau sekitar 13% sementara kenaikan nilai Dollar mencapai 600%.

    Berdasar data itu maka turunnya daya beli masyarakat saat jelang Reformasi memang sangat tajam. UMR 1997 yang setara dengan 69 USD di tahun 1998 terjun bebas menjadi setara dengan 11,4 USD. Situasi ini di sisi lain juga membuat banyak perusahaan yang gulung tikar diikuti PHK massal.

    Sekarang kita bandingkan dengan situasi hari ini di era pemerintahan Jokowi. Pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden, Oktober 2014 nilai tukar Dollar berada di kisaran Rp 12.200,- pada saat yang sama UMR DKI berada di angka Rp 2.441.000 per bulan. Artinya di bulan Oktober 2014 UMR DKI setara dengan 200 USD.

    Hari ini Juli 2018 nilai tukar Dollar ada di kisaran Rp 14.400,- sementara UMR DKI Rp 3.648.000 per bulan atau setara dengan 253 USD.

    Dari Oktober 2014 hingga Juli 2018 Dollar merayap naik Rp 2.200 atau sekitar 18% sementara kenaikan UMR DKI dari Rp 2.441.000 menjadi Rp 3.648.000 atau naik sekitar Rp 1.200.000,- yaitu sekitar 49% dari Oktober 2014.

    Perbandingan kurs Dollar dengan UMR saat ini menunjukan bahwa naiknya kurs Dollar sebesar 18% tidak berdampak pada daya beli seperti pada situasi Mei - Juli 1998 dikarenakan pada kurun waktu yang sama saat ini UMR justru mengalami kenaikan 49%. Jika di konversi dengan Dollar maka dari tahun 2014 hingga 2018 UMR naik 26% dari 200 USD menjadi 253 USD.

    Jika di bandingkan dengan nilai tukar Dollar dan UMR pada Mei - Juli 1998 maka situasinya tentu jauh berbeda karena UMR Mei - Juli 1998 setara dengan 11,4 USD sementara dengan nilai tukar Dollar hari ini UMR setara dengan 253 Dollar artinya daya beli Rakyat jika menggunakan UMR sebagai alat ukur justeru lebih besar 23 kali lipat dari Mei - Juli 1998.

    Kedua, UMR dan Harga Beras

    Mari kita bandingkan daya beli masyarakat tahun 1998 dan hari ini dengan menggunakan perbandingan UMR dan harga beras. Pada Juli 1998 besaran UMR Rp 192.000 per bulan. Harga beras medium saat itu Rp 2800 per kilogram. Artinya pada saat itu Rakyat dengan UMR-nya hanya dapat membeli 69 kg beras perbulan.

    Saat ini UMR Rp 3.648.000 per bulan sementara Harga beras Medium sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) berada di kisaran Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kg. Dengan demikian saat ini setiap bulan Rakyat bisa membeli 364 kg beras hingga 384 kg beras per bulan.

    Jika dibandingkan kemampuan Rakyat membeli beras tahun 1998 dan saat ini maka kemampuan membeli beras naik dari 69 kg menjadi 384 kg per bulan atau naik sekitar 315 kg lebih banyak per bulan. Peningkatan ini hampir 6 kali lipat dari tahun 1998.

    Dari perbandingan-perbandingan tersebut di atas maka tentu tidak tepat jika nilai tukar Dollar hari ini yang berada di kisaran Rp 14.400 di samakan dengan kegentingan ekonomi yang sama dengan tahun 1998.

    Hanya ada dua kemungkinan kenapa ada orang-orang yang menyamakan nilai tukar Dollar hari ini sudah segenting 20 tahun lalu. Pertama mereka itu hanya melihat angka Dollar tapi tidak mengetahui angka angka lainnya termasuk UMR artinya data yang di miliki orang-orang itu sangat minim sementara nafsu bicara mereka sangat besar.

    Kedua, mereka paham data-data tersebut di atas tapi mereka mencoba mendramatisir situasi seolah menakutkan dan berbahaya. Opini ini bisa jadi di desain untuk tujuan politik.

    Desainer opini bermotif politik itu tentu berharap Rakyat percaya bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar di pemerintahan Jokowi seolah-olah sedang berada dalam situasi yang persis sama dengan situasi 20 tahun lalu.


    Jakarta, 19 Juli 2018
    Penulis: Adian Napitupulu
    Anggota DPR RI FPDI Perjuangan.
    Dapil Jabar V - Kab Bogor.

    Biasa-Biasa Saja

    PEWARTAnews.com -- Tentang anak muda, kadang mereka sakit hati/patah hati disebabkan karena terlalu berharap kepada orang lain. Harapan tersebut mudah saja timbul apabila menaruh rasa “kagum yang berlebihan” kepada orang lain. Pernah tidak berpikir mengapa Gusti Allah selalu mempertemukan kita dengan berbagai macam orang yang berbeda karakter, kepribadian, latar belakang (keluarga, karier, pendidikan)? Semua tak lain agar kita tidak “gumunan”. Gumunan inilah yang menyebabkan mudah sakit hati. Ketika seseorang menaruh rasa kagum yang berlebihan, maka orang tersebut akan mudah menaruh harapan kepada orang yang bersangkutan. Entah berharap soal asmara, reputasi, karier ataupun hal-hal lain. Padahal agama mengajarkan bahwa sebaik-baik harapan hanyalah yang disandarkan kepada Allah SWT.

    Boleh kagum kepada manusia, tapi sewajarnya saja. Pun begitupula dengan menjatuhkan perasaan kepada lawan jenis, sangat boleh. Namun yang perlu diingat, semua itu “biasa-biasa” saja, tidak usah memakai kata “banget”/ berlebihan. Bukankah perasaan cinta (kepada lawan jenis) merupakan anugrah yang diberikan Tuhan? Namun tetap mencintai itu sewajarnya saja, sehingga pada saatnya nanti melepaskan pun juga tidak akan berat. Atas dasar inilah, seharusnya manusia dapat memanage perasaannya dengan baik, jangan terlalu berharap / baper dan jangan pula berlebihan dalam memanifestasikan perasaan karena nanti akan berujung kepada sakit hati yang amat dalam.

    Sikap seperti ini bukan berarti saya tidak pernah merasakan “gejolak asmara” atau hanya omong kosong belaka, akan tetapi berdasar pada pengalaman pribadi yang empirik. Pastilah semua manusia pernah merasakan gejolak asmara, entah sekilas atau bahkan dipendam sangat lama. Mungkin pembaca dapat berimajinasi komunikasi dengan tambatan hati-nya  (face to face, melalui WA atau telpon) dan si dia ngrespon. Ada stimulus yang pada akhirnya menimbulkan respon. Apa yang terjadi? Senang dan bahagia bukan? Begitu analogi yang tepat bagi kedua insan yang saling merespon “sesuatu”. Sesuatu ini bisa dimaknai apa saja, bisa perasaan, pembahasan, diskusi, atau hal-hal lain. Akan tetapi ingat, biasa-biasa saja. Tak usah “baper”. Karena yang biasa-biasa saja itulah yang akan selamat dari kejamnya sakit hati dan pedihnya harapan semu.

    Kadang, ketika kita nyaman dengan seseorang inginnya WhatsApp-an terus, ketemu terus dan lain-lain. Itu jika kita menuruti perasaan yang ada dalam hati. Padahal semua itu harus ada “ritme, jeda dan spasi-nya”.

    Aku pun juga demikian kalau dalam posisi “punya perasaan dengan seseorang”. Jika hanya menuruti ego dan kata hati sudah pasti ingin selalu chattingan dengan-nya. Tapi, takutku lebih besar daripada ingin-ku dan harapan-ku kepada-Nya jauh lebih besar daripada semuanya. Dan suatu saat nanti, yang biasa-biasa saja akan bertemu dengan yang biasa-biasa pula. Tidak over dan tidak pula baper.

    Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir.


    Penulis: S. Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Mengomentari hastag #2019gantipresiden

    PEWARTAnews.com -- Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan hastag #2019gantipresiden. Walaupun saya bukan orang yang mendukungnya, bagi saya sah-sah saja adanya masyarakat yang menginginkan perubahan. Atau sebagai kritik terhadap pemerintah. Adapun belum adanya capres yang diusung, tetap tidak masalah. Hastag #2019gantipresiden adalah ekspresi sebagian rakyat Indonesia yang tidak puas terhadap pemerintah. Hal ini sah-sah saja dalam negara demokrasi.

    Lambat laun, setelah saya mengikuti perkembangan hastag ini di facebook, whatsaapp dan instagram, saya mulai terusik. Mulai tidak nyaman. Karena setiap postingan-postingan akun-akun #2019gantipresiden tidak sehat. Adanya pencemaran nama baik, mengklaim mewakili Islam, menghujat ulama yang bersebrangan, dan lain-lain.

    Pencemaran Nama Baik
    Sepanjang pemerintahan kabinet "Kerja", kelompok pendukung #2019gantipresiden selalu menyerang sosok pribadi Pak Jokowi. Apakah salah? Tentu salah. Ini merupakan pencemaran nama baik. Kritik yang disertai hujatan harus kita tinggalkan. Terlebih kepribadian seorang pemimpin harus di jaga. Hal yang boleh dikritisi adalah kebijakannya. Boleh-boleh saja jika memprotes kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Itulah tugas oposisi. Mengawal pemerintahan.

    Mengklaim mewakili Islam
    Kalau kita ikuti, ada kata-kata yang biasa mereka ucapkan "Bela Ulama" "untuk Ummah". Yang perlu penulis tanyakan, emangnya tokoh-tokoh Islam yang dekat dengan pemerintah itu bukan ulama? Juga masyarakat yang mendukung pemerintah itu juga bukan ummah? diksi-diksi inilah yang melahirkan tuduhan kafir dan munafik kepada mereka yang bersebrangan. Sehingga memunculkan permusuhan sesama anak bangsa. Seakan-akan mereka yang bersebrangan bukanlah Islam.


    Hal ini dimulai dari KH Ma'ruf amin yang waktu itu disinggung oleh Pak Ahok. Setelah itu, sontak hastag #belaulama muncul. Mereka dengan semangat membela KH. Ma'ruf Amin. Saya pun termasuk yang membela beliau, walaupun ada tokoh NU juga yang bersebrangan dengan KH. Ma'ruf, tapi tetap saya bela KH Ma'ruf. Saya kagum juga melihat mereka membela KH Ma'ruf. Tapi kemudian saya kecewa, karena mereka juga yang menyerang KH Ma'ruf saat beliau mengambil sikap. Astagfirullah. Bela Ulama atau memanfaatkan ulama? Hal ini pun terulang kembali kepada TGB yang berbalik mendukung Jokowi. Seorang Ulama yang Hafidz Qur'an itu pun di hujat habis-habisan.

    Beberapa hal ini yang saya ikut menentang. Bahkan di salah satu grup Whatsapp yang mereka mayoritas pun saya gak peduli. Hal yang disayangkan jika mereka bersikap seperti ini, terlebih mereka dikenal lebih Islami.

    Saran
    Pertama, Berhentilah untuk bersikap seperti itu, karena itu mencoreng nama Islam sendiri. Juga menimbulkan perselisihan atas nama agama. Apalagi jika sampai tingkat mengkafirkan atau mencap munafik orang yang berbeda pilihan politiknya.

    Kedua, Terus Kritik pemerintahan berdasarkan data. Hal ini bisa mencerdaskan rakyat untuk memahami permasalahan negara.

    Ketiga, Hentikan hujatan terhadap pribadi pemimpin. Hal ini untuk menjaga wibawa pemimpin juga simbol negara kita.

    Keempat, Jalin silaturahim dan dialog kepada tokoh-tokoh agama dan bangsa terhadap masalah-masalah negara seperti Pak Mahfud MD di segi hukum, Dahlan Iskan di segi BUMN, Choirul Tanjung di segi ekonomi. Semoga bisa memunculkan solusi atas permasalahan.

    Setiap warga negara adalah saudara, Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetap satu jua. Termasuk perbedaan dalam hal politik. Walaupun berbeda politik, kita tetaplah saudara. Mereka tetaplah Islam. Jangan sebut kafir atau munafik. Jadikan Fastabiqul khoirot sebagai dasar bersaing politik. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga manfaat.


    Penulis: Ali Ruslan
    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sekelumit Rahasia Wanita

    PEWARTAnews.com -- Berdasar pada wawancara temen-temen saya di kampus, pondok maupun organisasi kemasyarakatan. Mereka (para wanita) lebih nyaman dengan laki-laki yang memberikan peluang dan kesempatan untuk berbicara. Artinya, sebelum wanita selesai berbicara jangan sampai dipotong terlebih dahulu. Hal itu pasti langsung menurunkan mood nya. Bagi wanita (single) yang mudah memahami lelaki, mungkin hal itu tidak menjadi persoalan rumit hanya saja ia telah sedikit “mengkantongi”  alasan untuk tidak menerima ajakannya menikah. 

    Kadang, ego lelaki tidak mau mengalah. Dia ingin segala apa yang dikatakan dapat diterima, padahal sangat perlu dan harus ada masukan-masukan terutama dari wanita. Ada pertanyaan menarik dari temen “bagaimana cara memilih pasangan yang baik”? Saya hanya mengatakan, Pertama kali pilihlah pasangan yang Agamanya baik, dzahir dan bathin. Keshalehan laki-laki terletak pada Agamanya, namun kegantengan-nya terletak pada “bersedia-nya Tahlil dan Shalawat-an”. Rasionalisasinya, leluhur yang sudah tiada saja diperhatikan dan dimuliakan, apalagi pasangannya. Kedua, lihat bagaimana dia berbicara dengan ibumu. Ketiga, rasakan setiap kali mengobrol dengan-nya, bagaimana cara dia merespon dan memberikan feedback/umpan balik. Yang ke-empat temukan kenyamanan, keamanan dan kebahagiaan saat bersama-nya. Rasa nyaman dan aman inilah yang terkadang mudah dirasakan apabila “hati sudah satu frekuensi”.Karena itulah, jangan heran apabila ada pasangan yang sangat ganteng menikah dengan wanita yang biasa-biasa saja, atau bahkan sebaliknya. Karena bukan fisik yang utama, melainkan rasa nyaman dan aman itu lah yang menjadi pondasi dan patokan utama lelaki dan perempuan mantap mengarungi bahtera kehidupan bersama.

    Terakhir, seperti apapun wanita. Dia tetap-lah wanita yang membutuhkan lelaki. Sebagaimana “Arrijaalu qawwamuna ‘ala an-nisaa’. Redaksi ayat tersebut menggunakan ‘ala bukan fauqa padahal memiliki arti yang sama, tak lain lafal ‘ala bermakna “menempel” sedangkan fauqa “tidak”. Artinya, sejauh apapun wanita melangkah, secerdas apapun dia, sebaik dan seburuk apapun ia, laki-laki adalah tempat pulang yang paling nyaman.

    Sama halnya dengan rasa cinta dan sayang dari seorang anak perempuan kepada Bapak-nya. Ya Allah, Titip rindu untuk Bapak yang ada disana, Lahu Al Fatihah.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Sekolahan Binatang

    Sastro Jendro.
    PEWARTAnews.com -- Al kisah, di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah para  binatang. Layaknya sekolah manusia. Kurikulum sekolah tersebut mewajibkan setiap siswa lulus semua pelajaran untuk mendapatkan ijazah.

    Terdapat 5 mata pelajaran dalam sekolah tersebut:

    a. Terbang
    b. Berenang
    c. Memanjat
    d. Berlari
    e. Menyelam

    Banyak siswa yang bersekolah di "animals school", ada elang, tupai, bebek, kelinci dan kura2. Terlihat di awal masuk sekolah, masing masing siswa memiliki keunggulan pada mata pelajaran tertentu.

    Elang, sangat unggul dalam terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada di atas kemampuan binatang lain.

    Demikian juga kura2, sangat mahir pada pelajaran menyelam.

    Namun, beberapa waktu kemudian karena "animals school" mewajibkan semua harus lulus 5 Mapel.

    Maka mulailah si Elang belajar memanjat dan berlari.

    Tupai pun berkali-kali jatuh dari dahan yg tinggi karena belajar terbang.

    Bebek seringkali ditertawakan meski sudah bisa berlari dan sedikit terbang. Namun sudah mulai tampak putus asa ketika mengikuti pelajaran memanjat.

    Semua siswa berusaha dengan susah payah namun belum juga menunjukkan hasil yang lebih baik.

    Tidak ada siswa yang menguasai 5 mapel tersebut dengan sempurna.

    Kini, lama kelamaan. Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat berenang dengan baik karena sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek, karena terlalu sering belajar memanjat.

    Sahabat...
    Kondisi inilah yang saat ini terjadi mirip dengan kondisi pendidikan kita.

    Senin, 16 Juli 2018 anak-anak kita sudah mulai masuk sekolah lagi. Ada baiknya kita sedikit  merenung dalam menghadapi Tahun ajaran baru nanti.

    Hampir semua orangtua berharap anaknya serba bisa. Dan menjadi sangat stress ketika matematikanya dapat nilai 5.

    Maka si anakpun dipacu dengan: Les A, Kursus B, Privat C, Les khusus D, dan sebagainya serta berjibun kegiatan lainnya  tanpa memperhatikan dan fokus pada potensi dan bakat anaknya masing masing.

    Mari kita syukuri karunia  luar biasa yang sudah Tuhan berikan pada kita  para orang tua yang diamanahi anak-anak yang sehat,  lucu dan lincah.

    Setiap anak memiliki belahan otak dominannya masing masing. Ada yang dominan di limbik kiri, neokortek kiri, limbik kanan, neokortek kanan, juga batang otak. Sehingga masing masing memiliki kelebihan dan talentanya sendiri sendiri.

    Fokuslah dengan kelebihan itu, kawal, stimulasi dan senantiasa fasilitasi agar mereka terus berkembang optimal. Janganlah kita disibukkan dengan kekurangan anak kita, tapi fokuslah pada kelebihan dan bakatnya.

    Karena sesungguhnya setiap anak yang terlahir di dunia ini adalah cerdas dengan kelebihannya masing-masing, istimewa dengan bakatnya dan mereka adalah laksana bintang gemintang yang bersinar di antara kegelapan malam.

    Inilah saatnya kita sebagai orang tua bergandeng tangan menggali potensi diri anak dan anak didik kita seoptimal mungkin.

    Selamat berjuang Bapak Ibu Guru, Ayah dan Bunda. Semoga Tuhan mudahkan segala usaha kita untuk mengawal dan mengiringi kesuksesan peserta didik serta putra putri kelak di dunia dan di akhirat.


    Penulis: Sastro Jendro
    Pemuda Pencinta Islam Ramah, Islam Nusantara

    Ada Apa Dibalik Nama?

    “Memanggil orang dengan menyebut namanya, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwa-nya” (Mukaromah, 2018)

    PEWARTAnews.com – Sepele, tapi sesungguhnya sangat berarti dan bermakna. Saya merupakan salah satu orang yang sulit sekali menghafal nama orang, kecuali kalau orang tersebut mempunyai ciri khas dan karakteristik tertentu. Sudah hampir 6 bulan saya mengajar disebuah sekolah, tapi belum hafal juga nama-nama siswa dikelas tersebut, kecuali kalau siswa tersebut sering bertanya, kritis, aktif dan murah senyum. Sikap yang seperti itu mudah sekali untuk dihafal. Mungkin hal seperti ini dapat terjadi juga dikalangan dosen dan mahasiswa. Biasanya kalau dosen, cepat hafal nama mahasiswa yang “sering” duduk di depan dan yang sering bertanya.

    Memanggil seseorang dengan menyebutkan “nama-nya” merupakan sentuhan psikologi yang amat dalam. Hal ini mudah saja diamati dan dirasakan oleh setiap manusia. Seperti di Media sosial misalnya. Lebaran Idul Fitri kemarin banyak orang yang mengucapkan permintaan maaf dan selamat Idul Fitri dengan mengetik panjang lebar dan di share ke orang yang bersangkutan, namun tanpa menyebutkan nama orang yang dituju. Rasanya (orang yang dituju) ah nanti dulu-lah balasnya, mungkin ini hanya di broadcast (BC) ke semua orang.

    Jadi yang merasa melakukan hal semacam itu, jangan sakit hati ya apabila nggak dibalas-balas. Soalnya nggak jelas sih minta maaf sama siapa. Biasanya benar, hanya BC-an dan dishare ke semua kontak, untuk lebih mengefektifkan waktu dan kata. Memang pada dasarnya, semua amal perbuatan tergantung pada niatnya. Niat-nya sudah bagus ingi minta maaf dan lain-lain, tapi cara-nya saja yang kurang pas. Akan lebih baik apabila diedit dengan menyebutkan nama masing-masing orang yang akan dituju. Misal, “dek Mukaromah, kulo banyak salahnya mohon dimaafkan ya lahir batin dan kita saling mendoakan”. Redaksi seperti itu jauh lebih menyentuh hati dan membuat orang yang bersangkutan bergegas untuk membalas. Beda dengan Selamat hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, Salam Mukaromah sekeluarga. Coba deh rasakan pakai hati. Beda kan?

    Begitu halnya dengan pemanggilan langsung/face to face. Mudah ditebak, bagi orang yang lupa-lupa ingat nama orang yang disapa, ia hanya akan memanggil/menjawab panggilan orang dengan sebutan “mbak, mas, om, bang, bung”. Kalau orang nggak peka, rasanya biasa aja alias tidak terlalu mempersoalkan pemanggilan yang penting tatapan mata dan wajahnya menghadap ke yang bersangkutan. Akan tetapi, ingatlah bahwa ketika kita menyapa orang lain dengan melampirkan namanya, maka orang tersebut akan sangat senang, merasa dihargai dan merasa namanya terkenang.

    Selain itu, saya sendiri suka membedakan pemanggilan nama. Kata “Bang + nama yang bersangkutan (ybs)” biasa saya lontarkan kepada temen-temen aktivis di kampus. Kata “mbak + nama ybs” saya ucapkan kepada teman-teman perempuan pada umumnya, sedangkan saya hanya memanggil nama “jeng + nama ybs” kepada orang yang benar-benar udah nempel dihati. Lain halnya dengan kata “Master, suhu, pak, kiyai, bu + nama ybs” saya berikan kepada senior saya. Adapun kata “Kang + nama ybs” biasanya saya pakai kata ini untuk temen organisasi kemasyarakatan. Sedangkan yang terakhir kata “Mas/Ms + nama ybs” hanya untuk orang-orang tertentu saja.

    Biasanya bagi wanita ada satu kata yang sangat terkesan dibenak-nya, ketika ada yang memanggil dengan sebutan “dek + nama”. Apalagi yang manggil tersebut orang yang disukai/dicintainya. Ah sepertinya ceprik-ceprik dihati, jangan baper yang masih jomblo.

    Marilah, kita belajar menghargai dan menghormati orang lain melalui hal-hal yang sangat sepele/kecil namun efeknya sangat luar biasa, yakni membiasakan memanggil nama orang dengan menyertakan namanya.


    Penulis: Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


    FBN RI Se-DIY Gelar Syawalan dan Keakraban

    Pengurus FBN RI Kota Yogyaakarta usai acara Syawalan FBN RI se-DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Minggu 1 Juli 2018 berlangsung rangkaian kegiatan syawalan dan keakraban Forum Bela Negara Republik Indonesia se-Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengusung tema “Semangat Kebersamaan Untuk Mewujudkan Bela Negara.” Kegiatan yang berlangsung di D’Barracs Coffee Shop ini diikuti sekitar 50 orang peserta yang pernah mengikuti Pendidikan Kader Bela Negara di Daerah Istimewa Yogyakarta.


    Diungkapkan oleh Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. selaku Sekretaris Forum Bela Negara Kota Yogyakarta, menurutnya kegiatan Syawalan/Halal bi Halal ini digunakan sebagai ajang silaturrahim seluruh anggota FBN. "Halal bi Halal ini memberikan kedamaian dan sebagai ajang silaturahim antar pengurus maupun anggota. Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk saling berbaik hati, berkata lembut, tolong menolong. Namun kadang kala, ada beberapa yang melakukan perbuatan tercela seperti menyakiti hati, mencuri dan lain sebagainya," ucapnya.

    Selain itu, Ricco berpesan untuk senantiasa kita meminta maaf dan memohonkan maaf kepada sesama jika pernah ada kesalahan tanpa harus menunggu momen lebaran.

    Kegiatan Halal Bihalal yang merupakan tradisi di Indonesia ini telah dikenal sejak lama. Menurut Ricco, istilah tersebut digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri NU. "Kisah tersebut bermula ketika Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara pada pertengahan bulan Ramadhan, untuk dapat dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat," beber Ricco.

    Dalam momentum yang sama, Wakil Sekretaris FBN RI Kota Yogyakarta M. Jamil, S.H., juga mengatakan bahwasannya momentum Syawalan FBN se-DIY ini merupakan ajang konsolidasi pengurus dan anggota agar terus membangun kesadaran masyarakat di lingkungan dan profesinya masing-masing, itu semua sebagai bentuk begitu pentingnya keterlibatan kita dalam upaya bela negara. "Kita sebagai masyarakat dan juga pengurus FBN harus terus semangat dalam upaya bela negara sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kita terhadap NKRI," katanya.

    Dalam kegiatan Syawalan/halal bi halal tersebut, selain hadir pengurus FBN RI DIY, hadir pula para pengurus harian FBN RI Kabupaten Sleman, FBN RI Kota Yogyakarta, FBN RI Kabupaten Gunungkidul, FBN RI Kabupaten Bantul dan FBN RI Kabupaten Kulonprogo. Beberapa pejabat lokal turut hadir dalam acara yang dibalut dengan kemeriahkan musik dan ditutup dengan Ikrar Syawalan dan Foto Bersama. (PEWARTAnews)

    FKPP Kota Yogyakarta Gelar Silaturrahim dengan Kapolresta

    FKPP foto bersama Kapolresta Kota Yogyakarta usai pertemuan, (03/07/2018).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta periode 2015 -2017, H. Ahmad Yubaidi, SH MH,  yang sekarang  menduki jabatan Wakil Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Yogyakarta, bersama Ketua FKPP Hj Fatimah Asmuni, beserta bapak Kasi Pontren Drs H.  Bambang Inanta, pada hari Selasa, 3 Juli 2018 pukul 13.00 diterima oleh Kapolresta  Yogyakarta, Kombes Pol. Armaini, SIK di Mapolresta Yogyakarta.

    Kunjungan silaturahim masih dalam suasana bulan syawal yang dipergunakan halal bi halal karena selama ini sudah terjalin komunikasi antara FKPP Yogyakarta dengan Kapolresta. Masih dalam suasana tugas awal di Yogyakarta dalam waktu 2 bulan kapolresta sudah sibuk dengan tugas. Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat adalah tugas yang sudah ditekuni sejak lulus Akpol Semarang angkatan 96.

    Wakil Ketua FKPP Kota Yogyakarta Ahmad Yubaidi, SH MH mengatakan bahwasannya Kapolresta Yogyakarta dalam silaturahim ini menerima baik undangan dari FKPP yang akan mengadakan Halal bi Halal di Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta pada hari Jumat, tanggal 6 Juli 2018. "Halal bi halal akan dihadiri Kapolresta Yogyakarta dan juga dihadiri Kakankemenag Yogyakarta,  Drs Sigit Warsita. Selain itu, di diundang pula Walikota Yogyakarta dan Ketua DPRD Kota Yogyakarta," ujarnya.

    Lebih lanjut, Ahmad Yubaidi menghapkan seluruh Pondok Pesantren datang lebih awal dan memanfaatkan sebaik mungkin pertemuan ini untuk ajang silaturrahim antar ponpes se-Kota Yogyakarta. "Diharapkan pengasuh Pondok Pesantren Yogyakarta dapat hadir lebih awal dan memanfaatkan silaturahim yang sudah difasilitasi oleh FKPP Kota Yogyakarta. Setiap pesantren yang diundang diwakili oleh 1 orang pengasuh dan 1 orang ketua/lurah pondok," bebernya. 

    Lebih jauh, dalam kesempatan halal bi halal yang akan di helat beberapa hari lagi, wakil ketua FKPP menghimbau Ponpes dan semua elemen masyarakat agar bahu membahu menyuarakan gerakan ayo mondok. Selain itu, kata Ahmad Yubaidi, untuk lebih luas dan masif lagi penyebaran hal-hal positif dalam islam, seorang harus mempunyai akhlak yang baik. "Untuk mendakwahkan Islam dan memperbaiki akhlak masyarakat perlu digerakkan teladan dari para pemimpin (eksekutif legislatif yudikatif dan tokoh masyarakat serta orang tua)," katanya. (rls / PEWARTAnews)

    Hal Penting untuk Anak yang Luput dari Perhatian sebagian Orangtua

    PEWARTAnews.com -- Menafkahi, mendidik, mengayomi, dan memberi teladan kepada anak, sudah menjadi kewajiban bagi Orang tua sebagai bentuk pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat kelak. Pertanggungjawaban itu tidak bisa luput dari kita mulai dari dalam perut ibunya sampai dia sudah menemukan jodohnya dan kita mengesahkannya, bahkan sebagian dari kewajiban di atas, masihlah melekat pada kita sebagai orang tua, artinya walaupun pada kenyataan secara agama (Islam) bahwa anak kita setelah ijab dan kabul, maka sama halnya dengan menyerahkan sang anak untuk dinafkahi, dididik, dipelihara, diayomi, dan diteladankan oleh orang yang menjadi pilihan pasangan hidupnya tentang segala sesuatu yang bersifat duniawi dan ukhrawi.

    Selain tugas-tugas di atas, ada hal lain, yang oleh sebagian orangtua mengabaikannya, padahal itu merupakan salah satu yang mendukung tentang kebutuhan perasaan dan rasa bahagianya di masa umur sekitar 1,5 tahun sampai sekitar usia 6 tahun. Penyataan demikian, terpancar dari ekspresi dari raut dan tindakan mereka setelah berada pada objek yang kita pilihkan. Meskipun itu, bukan menjadi kewajiban bagi kita, tetapi demi kebahagiaan di masa usianya seperti yang sudah digariskan di atas, sifatnya cukuplah menunjang bagi dirinya sehingga tidaklah terkesan seperti yang biasa dilontarkan oleh sebagian orang menyatakan "kurang bahagia di masa kecil", walaupun demikian hanyalah pernyataan lelucon terhadap usia remaja atau dewasa yang mungkin menunggangi patung-patung hewan atau bermain kuda-kudaan yang kebetulan terlihat oleh teman-teman sejawatnya.

    Tindakan itu adalah mengajak dia untuk bermain atau menemaninya di tempat-tempat bermain yang layak dan sesuai dengan usianya. Seperti usia yang dikisarkan di atas, berdasarkan pengamatan dan atau pengalaman penulis, maka tempat yang dianggap cocok adalah, taman-taman mainan anak yang di dalamnya terdapat patung-patung buatan dari berbagai jenis hewan atau satwa yang bisa ditunggangi atau hanya sekadar ia berdiri di sampingnya sambil dia memegang atau merabanya, terlebih lagi ditunjang dengan pandangan yang asri dari berbagai pepohonan, dan bunga-bunga yang ditata rapi serta tempat yang agak luas beralaskan rerumputan yang terus-menerus dipelihara demi kenyaman pengunjung taman, yakni taman-taman seperti yang disiaplan oleh pemerintah kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat. Selain daripada itu, bisa juga diarahkan pada taman-taman buatan yang dikelola swasta yang apabila memasukinya menggunakan tiket dengan nominal yang bervariasi bergantung sungguh dari kapasitas dan kekayaan akan isi taman tersebut.

    Kemudian, dapat juga di ajak pada tempat yang memang terdapat wahana permainan, hewan-hewan atau satwa yang asli, tetapi jangan sampai terlalu mendekati tempat satwa tersebut, terutama terhadap binatang-binatang buas, apalagi berbadan besar dan bersuara besar meskipun pada tempat yang sudah dipagari atau dikurung karena bisa saja anak-anak kita merasa ketakutan dikarenakan mungkin berbagai kondisi tubuh dan psikis yang bervariatif bahkan bisa mengakibatkan rasa trauma walaupun tidak juga bisa dipungkiri ada kalanya anak usia 1,5 sampai 6 tahun itu sebagai pemberani dan bahkan berkeinginan menunggangi hewan-hewan atau satwa tersebut.

    Mengapa perlu ada perhatian kita mengajak ke taman bermain atau tempat satwa yang ditunjang dengan taman-taman yang penuh dengan bunga dan pepohonan yang penuh kehijauan dan beralaskan rerumputan yang terus-menerus dipelihara?

    Menurut Penulis, ada beberapa hal akan dialami dan dirasakan langsung oleh anak kita, baik laki-laki maupun perempuan.

    Pertama, rasa nyaman yang terlihat pada rautnya karena dia melihat pemandangan lain dari yang pernah dilihat di rumah dan sekitarnya. Tentu saja, anak kita kegirangan karena tempat yang dianggap beda luas dan bervariasi isinya. Efeknya adalah suasana yang nyaman dan anak kita akan lebih leluasa berlari dan berkeliling mengitari luasnya taman. Di samping itu, mereka akan lebih leluasa merenggangkan otot-ototnya dengan berlari-lari menuju tumbuh-tumbuhan, pepohonan, dan patung hewan serta wahana permainan. Dari itu, tumpukan atau sisa-sisa makanan dalam bentuk cairan yang tidak dimanfaatkan lagi oleh tubuh, dapat dengan sendirinya keluar melalui saluran-saluran atau pori-pori dalam bentuk keringat. Pada akhirnya, secara perasaan dan kondisi badannya akan dirasakan nyaman, sepeti halnya kita yang dewasa selesai berolah raga dan mandi usai olah raga tersebut.

    Kedua, rasa bahagia dikarenakan melihat wahana permainan, patung-patung satwa atau dalam bentuk aslinya, serta melihat banyaknya teman-teman sebayanya yang ada pada saat itu. Dari rasa itu, tentu akan lebih memotivasi lagi dirinya dengan memacu keingintahuannya terhadap apa yang dilihat dan diraba olehnya, apalagi sambil kita memberitahu dan menjelaskannya. Belum lagi, rasa ingin bermain bersama teman sebaya dengan mendatangi seakan sudah pernah mengenal sebelumnya kemudian mengajaknya bermain secara langsung melalui tindakan nyata. Pada akhirnya, dia dengan sendirinya menanamkan sifat sosial seakan kembali mengingatkan kita untuk terus bersilaturrahim dan memperbanyak kawan serta tidak memandang siapa dan orang mana.

    Ketiga, memacu kepekatan matanya terhadap warna, baik dari bunga, pepohonan, dan rerumputan yang ada di sekitar tempat ia bermain. Efek yang akan didapatkannya, seperti pandangan dari Psikologi warna bahwa dengan melihatnya akan menyehatkan mata. "Maka, mulailah dengan mengucap bismillah dan lihatlah keindahan pemandangan tumbuhan-tumbuhan hijau disekitar Anda yang mana tanpa sengaja, hal itu selain bisa membuat Anda senang, itu juga dapat membuat mata Anda sehat, menghilagkan stres, dan juga membuat fikiran menjadi santai (Mishba7 blog).

    Keempat, merangsang otaknya untuk terus bekerja. Dengan banyaknya hal yang berbeda dari yang ia lihat, tentu matanya akan terus memanah objek-objek yang ada, apalagi bentuk pepohonan yang bervariasi, baik dari ukuran tinggi, besar, dan warna pepohonan tersebut. Kemudian dari patung satwa atau bentuk yang asli, dilihatnya berbagai bentuk, jenis, warna, dan ukurannya. Ini semua sudah pasti membuat otaknya harus memroses semua dari berbagai yang dilihat. Ditambah lagi otak mereka masih banyak yang kosong, maka akan tambah memacunya. Di sinilah, si anak akan terus berpikir dari berbagai apa yang dilihatnya yang kemudian secara otomatis, otaknya akan terus bekerja, menghadirkan referensi baginya yang akan ia interpretasikan ketika ia besar nanti, atau setidak-tidaknya yang ia akan dapatkan di masanya adalah nama atau identitas dari yang dilihatnya atas informasi yang diberitahukan pada saat kita mendampinginya. Hukum kausalitasnya adalah banyak yang dilihat, dibaca, dan didengar, tentu banyak yang menjadi referensi untuk diproduksi melalui verbal maupun tangan kita.

    Dengan demikian, perbanyaklah mengajak anak kita pada usia 1,5 sampai 6 tahun bahkan sampai ia sebelum usia 13 tahun, ke tempat-tempat yang baginya adalah baru dan penuh fasilitas, baik dari mainan, satwa (patung atau asli, bunga-bunga, rerumputan, dan pepohonan yang banyak dan rindang. Maka, Insya Allah anak kita akan tumbuh dengan penuh semangat, sehat matanya dari berbagai warna yang ia lihat dan sehat tubuhnya dari udara segar yang ia hirup serta banyak pengalaman dan atau pengetahuannya dari yang ia peroleh di sekitar tempat yang dia datangi.

    Demokrasi: Kedaulatan Ada di Tangan Allah SWT

    PEWARTAnews.com -- Demokrasi dalam pandangan masyarakat Indonesia sebagian besar ada di tangan rakyat. Adigium suara rakyat di tangan tuhan dan dari rakyat untuk rakyat adalah cerminan demokrasi yang menjadi kalimat sakti bagi para politisi yang terlibat langsung dalam proses pilkada gubernur, bupati, walikota. Begitupun dalam tingkat demokrasi pemilihan legistatif dan pemilihan presiden. Suara rakyat adalah suara tuhan yang menjadikan dalam setiap keputusan, nasib dan takdir sesorang dalam proses di atas ada di tangan rakyat. Uji strategi dan kemampuan figur dan tim sukses dalam mengambil hati rakyat untuk meyakinkan pilihannya merupakan yang terbaik adalah modal utama bagi para figur untuk memenangkan pertarungannya.

    Visi dan misi calon menjadi alat instrumen untuk meyakinkan rakyat bahwa inilah yang akan dilaksanakan ketika sudah terpilih nanti. Namun dalam proses demokrasi acap kali calon, timses, bahkan oknum rakyat itu sendiri melakukan hal-hal yang menodai proses demokrasi itu sendiri. Peran opini atau isu yang bersliweran di berbagai dunia maya dan real masyarakatnya menjadi catatan dalam proses demokrasi di Indonesia baik di tingkat pusat sampai ke daerah. Gerakan-gerakan 'black campain' atau menghancurkan pihak lawan menjadi salah satu warna yang nampak dalam pemilihan gubernur, bupati, walikota, dan presiden. Berita hoaks yang sengaja diciptakan dan dibenturkan oleh kepentingan partai, kelompok tertentu dan pribadi telah merusak tatanan dalam proses demokrasi di indonesia.

    Tahun ini pemilihan pilkada serentak di berbagai daerah Indonesia telah selesai di laksanakan pada hari Rabu, 27 Juni 2018. Hasil pemenangnya melalui versi Quick Qouent lembaga survei telah di ketahui pemenangnya. Salim klaim kemenangan menjadi warna tersendiri namun kita tunggu hasil penghitungan KPU di setiap daerah dan ketetapan dari Allah SWT yang memberikan kewenangan sebesarnya untuk menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Semuanya sudah menjadi ketentuanNya dan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

    Dalam geliat proses demokrasi tersebut sesungguhnya yang harus tertanam pada setiap pribadi manusia sebagai ulil amri dan khalifah di dunia ini ketetapan dari Allah SWT menjadi suara tertinggi di setiap proses manusia. Manusia hanya bisa berusaha atas ikhtiar yang di inginkan, namun kesemuanya itu kembali ketetapan Allah SWT termasuk dalam pandangan Islam tentang demokrasi. Ketentuan dan ketetapan dari Allah SWT menjadi pondasi dasar dan mindset kita dalam menentukan langkah dan sikap kita dalam meyakinkan rakyat untuk memilih setiap pemimpin dan wakil rakyat merupakan ketetapan Allah SWT. Segala upaya dan usaha sudah di gariskan oleh Allah SWT akan menjadi apa kita ini. Pada prinsipnya setiap manusia adalah pemimpin. Pemimpin bagi diri sendiri, keluarga, kelompok, masyarakat, bangsa dan negaranya. Ketika kita meyakini 100 % ketetapan demokrasi itu dari Allah SWT maka kita siap menerima sebuah kekalahan dan kemenangan dalam proses demokrasi ini. Sesungguhnya apa yang kita alami saat ini. Problem kebangsaan dan demokrasi ini kalaupun kita kembali meyakini bahwa segala sesuatu itu kembali ke Allah SWT maka dari itu kita harus taat kepada ketentuan Allah SWT. Kun Fayakun, jadi maka jadilah. Makna dari itu semua manusia hanya bisa berusaha namun ketetapan-Nya menjadi ketentuan akhir dari segala upaya.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima.
     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website