Headlines News :
Home » » Agar Tulisan Tak Raib

Agar Tulisan Tak Raib

Written By Pewarta News on Sabtu, 21 Juli 2018 | 07.40

PEWARTAnews.com -- Satu-satunya langkah yang wajib ditempuh oleh seseorang agar bisa menghasilkan sebuah tulisan adalah dengan menulis. Hanya itu saja. Tak ada yang lain. Ya, sederhananya, ingin punya tulisan, ya silakan mulai menulis. Ingin punya karya buku, silakan wujudkan dengan cara menulis dan menulis.

Dalam melakukan aktivitas yang satu ini, tentu ada banyak hal yang dirasakan oleh setiap penulis. Misalnya, senang dan bahagia. Seorang penulis akan senang, juga bahagia, apabila tulisannya telah rampung. Saat tangan dan jemari mencoba mengukir kata-kata di akhir sebagai penutup sebuah tulisan, maka di sinilah kebahagiaan pertama yang dinikmati seorang penulis.

Kebahagiaan itu kian bertambah, jikalau karya tulisnya tersebut dihargai dan dibaca oleh orang lain. Terlebih bisa menjadi buku. Namun, sepertinya puncak kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang penulis itu adalah kala tulisannya tersebut mampu mengubah hidup orang lain, dan menjadikan orang yang membacanya juga ikut termotivasi untuk mau menulis dan menelurkan buku. Inilah mungkin kebahagiaan level teratas.

Namun, dalam aktivitas merajut aksara, tak terlepas juga dari yang namanya “duka”. Baik itu yang berasal dari luar, maupun yang bersumber dalam diri kita sendiri. Dari luar, misalnya tak dihargai, dimaki, dan dikritik oleh orang lain. Bagi saya pribadi, hal yang seperti ini tak menjadi masalah. Andai karya tulis saya tak dihargai oleh seseorang, saya tetap mengucapkan syukur dan terima kasih. Tak menjadikan saya untuk berhenti menulis. Dimaki pun tak mengapa. Dikritik, malah bagus. Ini bisa menjadi masukkan buat karya selanjutnya. Juga, sebagai motivasi dan cambuk penyemangat agar terus berkarya.

Sementara, “duka” yang datang dari dalam diri, adalah ketika seorang penulis tak hati-hati dengan tulisan yang sudah dirajutnya. Maksudnya, adalah tidak mewaspadai akan hilang atau raibnya tulisan yang sudah jadi. Kita tak tahu ke depannya. Bisa saja goresan pena kita hilang atau hal serupa lainnya. Sakit sekali efek yang diakibatkan oleh yang satu ini.

Saya pernah mengalami hal demikian. Tentu, di luar dugaan saya. Ya, suatu waktu, tulisan yang saya hasilkan dalam kurun waktu satu tahun lebih, tiba-tiba hilang di tempat penyimpanan saya. Saya menyimpannya di Flasdisk (FD). Setelah saya periksa, ternyata semua data yang ada di dalamnya kena virus dan raib. File dan data yang dimaksud sama sekali tak bisa dikembalikan.

Tangan saya gemetar seketika. Badan saya dingin seketika. Sebab, beberapa naskah buku yang telah saya selesaikan hilang ditelan virus ganas dalam sekejap. Jumlahnya ratusan halaman. Hal ini terjadi, karena FD yang saya gunakan untuk menyimpan file tulisan tersebut, sering dipakai untuk memindahkan data dari laptop ke laptop. Sehingga, pas dimasukkan di salah satu laptop teman saya yang penuh virus, isi FD tersebut menjadi salah satu korbannya.

Hanya saja, waktu itu, kegelisahan saya tak begitu lama. Sebab, sebagian besar naskah yang saya tulis tersebut sudah saya simpan di surat elektronik (surel), dan yang utuh ada di laptop adik sepupu saya. Namun, yang tersisa hanya file cadangan yang saya simpan di surel. Sedangkan, yang di laptop adik sepupu saya juga tak bisa diselamatkan, oleh karena laptopnya rusak total dan tak bisa diperbaiki.

Ya, begitulah yang terjadi. Kenyataan demikian harus saya terima. Setidaknya, sebagian besar naskah tulisan tersebut ada di tempat lain (surel). Dan, mau tidak mau, untuk menggenapinya, beberapa tulisan yang hilang harus saya ketik ulang, kendati tak bisa sama sepenuhnya seperti semula. Tentu, hal yang seperti ini menjadi pelajaran saya ke depannya, agar tak ceroboh, dan tetap mewaspadai agar tetap mengabadi.

Maka, bagi Anda yang telah menghasilkan tulisan dan naskah buku, saya sarankan agar tak menyimpan file dalam satu tempat. Jika Anda membuat tulisan atau mengetik di dalam komputer atau laptop, maka jangan hanya simpan di tempat itu. Usahakan beli Flasdisk atau Hardisk khusus untuk menyimpan file tulisan yang dimaksud. Bisa juga Anda menyimpannya di surel atau email. Atau, buat blog khusus untuk menampung tulisan Anda sendiri. Boleh juga di-share sepenuhnya di linimasa Facebook. Ini juga cara cerdas, di samping menyimpan tulisan, juga agar tulisan yang dimaksud bisa langsung dinikmati dan dibaca oleh orang lain. Lebih bagus lagi, setiap selesai menulis, lalu Anda mencetaknya (print), dan disimpan di tempat yang aman.

Lantas, bagaimana jika menulislah di buku tulis? Ya, tinggal Anda kondisikan saja. Simpan baik-baik buku yang dipakai untuk menulis tersebut agar tak hilang. Bila perlu fotocopy perbanyak, sebagai cadangannya. Saya rasa Anda yang lebih tahu.

Sekali lagi, Anda yang telah menghasilkan banyak tulisan dan naskah buku, jangan sampai menangis darah di kemudian hari. Waspadai dan periksa naskah Anda, jangan sampai hilang atau raib di tengah jalan. Usahakan simpan di banyak tempat, agar kejadian yang saya rasakan tidak menimpa Anda sekalian. Selamat menulis dan salam literasi!

Wallahu a’lam.Gunawan.



Penulis: Gunawan
Pemuda Asal Dompu NTB
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website