Headlines News :
Home » » Biasa-Biasa Saja

Biasa-Biasa Saja

Written By Pewarta News on Rabu, 18 Juli 2018 | 05.58

PEWARTAnews.com -- Tentang anak muda, kadang mereka sakit hati/patah hati disebabkan karena terlalu berharap kepada orang lain. Harapan tersebut mudah saja timbul apabila menaruh rasa “kagum yang berlebihan” kepada orang lain. Pernah tidak berpikir mengapa Gusti Allah selalu mempertemukan kita dengan berbagai macam orang yang berbeda karakter, kepribadian, latar belakang (keluarga, karier, pendidikan)? Semua tak lain agar kita tidak “gumunan”. Gumunan inilah yang menyebabkan mudah sakit hati. Ketika seseorang menaruh rasa kagum yang berlebihan, maka orang tersebut akan mudah menaruh harapan kepada orang yang bersangkutan. Entah berharap soal asmara, reputasi, karier ataupun hal-hal lain. Padahal agama mengajarkan bahwa sebaik-baik harapan hanyalah yang disandarkan kepada Allah SWT.

Boleh kagum kepada manusia, tapi sewajarnya saja. Pun begitupula dengan menjatuhkan perasaan kepada lawan jenis, sangat boleh. Namun yang perlu diingat, semua itu “biasa-biasa” saja, tidak usah memakai kata “banget”/ berlebihan. Bukankah perasaan cinta (kepada lawan jenis) merupakan anugrah yang diberikan Tuhan? Namun tetap mencintai itu sewajarnya saja, sehingga pada saatnya nanti melepaskan pun juga tidak akan berat. Atas dasar inilah, seharusnya manusia dapat memanage perasaannya dengan baik, jangan terlalu berharap / baper dan jangan pula berlebihan dalam memanifestasikan perasaan karena nanti akan berujung kepada sakit hati yang amat dalam.

Sikap seperti ini bukan berarti saya tidak pernah merasakan “gejolak asmara” atau hanya omong kosong belaka, akan tetapi berdasar pada pengalaman pribadi yang empirik. Pastilah semua manusia pernah merasakan gejolak asmara, entah sekilas atau bahkan dipendam sangat lama. Mungkin pembaca dapat berimajinasi komunikasi dengan tambatan hati-nya  (face to face, melalui WA atau telpon) dan si dia ngrespon. Ada stimulus yang pada akhirnya menimbulkan respon. Apa yang terjadi? Senang dan bahagia bukan? Begitu analogi yang tepat bagi kedua insan yang saling merespon “sesuatu”. Sesuatu ini bisa dimaknai apa saja, bisa perasaan, pembahasan, diskusi, atau hal-hal lain. Akan tetapi ingat, biasa-biasa saja. Tak usah “baper”. Karena yang biasa-biasa saja itulah yang akan selamat dari kejamnya sakit hati dan pedihnya harapan semu.

Kadang, ketika kita nyaman dengan seseorang inginnya WhatsApp-an terus, ketemu terus dan lain-lain. Itu jika kita menuruti perasaan yang ada dalam hati. Padahal semua itu harus ada “ritme, jeda dan spasi-nya”.

Aku pun juga demikian kalau dalam posisi “punya perasaan dengan seseorang”. Jika hanya menuruti ego dan kata hati sudah pasti ingin selalu chattingan dengan-nya. Tapi, takutku lebih besar daripada ingin-ku dan harapan-ku kepada-Nya jauh lebih besar daripada semuanya. Dan suatu saat nanti, yang biasa-biasa saja akan bertemu dengan yang biasa-biasa pula. Tidak over dan tidak pula baper.

Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir.


Penulis: S. Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website