Headlines News :
Home » » Mengomentari hastag #2019gantipresiden

Mengomentari hastag #2019gantipresiden

Written By Pewarta News on Rabu, 18 Juli 2018 | 04.44

PEWARTAnews.com -- Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan hastag #2019gantipresiden. Walaupun saya bukan orang yang mendukungnya, bagi saya sah-sah saja adanya masyarakat yang menginginkan perubahan. Atau sebagai kritik terhadap pemerintah. Adapun belum adanya capres yang diusung, tetap tidak masalah. Hastag #2019gantipresiden adalah ekspresi sebagian rakyat Indonesia yang tidak puas terhadap pemerintah. Hal ini sah-sah saja dalam negara demokrasi.

Lambat laun, setelah saya mengikuti perkembangan hastag ini di facebook, whatsaapp dan instagram, saya mulai terusik. Mulai tidak nyaman. Karena setiap postingan-postingan akun-akun #2019gantipresiden tidak sehat. Adanya pencemaran nama baik, mengklaim mewakili Islam, menghujat ulama yang bersebrangan, dan lain-lain.

Pencemaran Nama Baik
Sepanjang pemerintahan kabinet "Kerja", kelompok pendukung #2019gantipresiden selalu menyerang sosok pribadi Pak Jokowi. Apakah salah? Tentu salah. Ini merupakan pencemaran nama baik. Kritik yang disertai hujatan harus kita tinggalkan. Terlebih kepribadian seorang pemimpin harus di jaga. Hal yang boleh dikritisi adalah kebijakannya. Boleh-boleh saja jika memprotes kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Itulah tugas oposisi. Mengawal pemerintahan.

Mengklaim mewakili Islam
Kalau kita ikuti, ada kata-kata yang biasa mereka ucapkan "Bela Ulama" "untuk Ummah". Yang perlu penulis tanyakan, emangnya tokoh-tokoh Islam yang dekat dengan pemerintah itu bukan ulama? Juga masyarakat yang mendukung pemerintah itu juga bukan ummah? diksi-diksi inilah yang melahirkan tuduhan kafir dan munafik kepada mereka yang bersebrangan. Sehingga memunculkan permusuhan sesama anak bangsa. Seakan-akan mereka yang bersebrangan bukanlah Islam.


Hal ini dimulai dari KH Ma'ruf amin yang waktu itu disinggung oleh Pak Ahok. Setelah itu, sontak hastag #belaulama muncul. Mereka dengan semangat membela KH. Ma'ruf Amin. Saya pun termasuk yang membela beliau, walaupun ada tokoh NU juga yang bersebrangan dengan KH. Ma'ruf, tapi tetap saya bela KH Ma'ruf. Saya kagum juga melihat mereka membela KH Ma'ruf. Tapi kemudian saya kecewa, karena mereka juga yang menyerang KH Ma'ruf saat beliau mengambil sikap. Astagfirullah. Bela Ulama atau memanfaatkan ulama? Hal ini pun terulang kembali kepada TGB yang berbalik mendukung Jokowi. Seorang Ulama yang Hafidz Qur'an itu pun di hujat habis-habisan.

Beberapa hal ini yang saya ikut menentang. Bahkan di salah satu grup Whatsapp yang mereka mayoritas pun saya gak peduli. Hal yang disayangkan jika mereka bersikap seperti ini, terlebih mereka dikenal lebih Islami.

Saran
Pertama, Berhentilah untuk bersikap seperti itu, karena itu mencoreng nama Islam sendiri. Juga menimbulkan perselisihan atas nama agama. Apalagi jika sampai tingkat mengkafirkan atau mencap munafik orang yang berbeda pilihan politiknya.

Kedua, Terus Kritik pemerintahan berdasarkan data. Hal ini bisa mencerdaskan rakyat untuk memahami permasalahan negara.

Ketiga, Hentikan hujatan terhadap pribadi pemimpin. Hal ini untuk menjaga wibawa pemimpin juga simbol negara kita.

Keempat, Jalin silaturahim dan dialog kepada tokoh-tokoh agama dan bangsa terhadap masalah-masalah negara seperti Pak Mahfud MD di segi hukum, Dahlan Iskan di segi BUMN, Choirul Tanjung di segi ekonomi. Semoga bisa memunculkan solusi atas permasalahan.

Setiap warga negara adalah saudara, Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetap satu jua. Termasuk perbedaan dalam hal politik. Walaupun berbeda politik, kita tetaplah saudara. Mereka tetaplah Islam. Jangan sebut kafir atau munafik. Jadikan Fastabiqul khoirot sebagai dasar bersaing politik. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Semoga manfaat.


Penulis: Ali Ruslan
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website