Headlines News :
Home » » Tiga Faktor Penyebab Prabowo Kalah pada Pilpres 2014

Tiga Faktor Penyebab Prabowo Kalah pada Pilpres 2014

Written By Pewarta News on Senin, 23 Juli 2018 | 10.00

PEWARTAnews.com -- Salah satu tokoh nasional yang sudah mendeklarasikan diri maju pada pilpres 2019 adalah pak Prabowo Subianto. Seorang pimpinan Partai Gerindra dan juga mantan perwira TNI angkatan darat. Selain itu beliau juga seorang pengusaha sukses. Beliau mendeklarasikan diri 3 bulan lalu, tepatnya 11 April 2018 di Hambalang pada Rakornas, Hambalang Jawa Barat.

Jika tahun depan beliau jadi capres di pilpres 2019 maka ini ketiga kalinya beliau mengikuti kontestasi pilpres. Pertama kali beliau mengikut pilpres tahun 2009 yaitu saat berpasangan dengan Ibu Megawati menjadi cawapresnya. Menghadapi pak SBY dan Pak Boediono. Kedua yaitu pada tahun 2014, berpasangan dengan pak Hatta Rajasa. Berhadapan dengan pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Namun, dari keduanya beliau masih belum beruntung.

Mengingat Pilpres tahun 2014 lalu, banyak yang sudah menebak kalau pemenangnya adalah pak Prabowo dengan merujuk dukungan koalisi yang gemuk, lawan yang fresh, dan juga pengalaman pada Pilpres sebelumnya. Bisa dipastikan bahwa Pilpres 2014 pemenangnya adalah pak Prabowo. Namun, prediksi hanyalah prediksi. Kenyatannya pak Prabowo kembali kalah. Bahkan kalah dengan orang terdekatnya. Orang yang beliau antar ke kursi DKI 1 yaitu Pak Ir Joko Widodo.

Setidaknya ada 3 faktor Pak Prabowo pada pilpres 2014 lalu, yang mengakibatkan beliau kalah.

Pertama, Berkoalisi dengan PKS
Partai yang terkenal paling solid itu adalah PKS. Namun, menjadi salah ketika pak Prabowo menjadikan partai sahabat atau partai koalisi utama di pilpres 2014. Partai ini menjadi partai yang tidak disukai oleh 2 ormas terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Selain itu, beberapa partai besar pun tidak menyukai partai ini. Partai ini dikenal memakai SARA disetiap kampanyenya. Pak Prabowo pun sebenarnya sudah mengetahui ini, karena sebelumnya partai ini adalah lawannya di Pilpres 2009 dan di Pilkada DKI 2012. Tentu hal ini tidak akan menyerap banyak suara dari warga NU dan Muhammadiyah.

Kedua, Jarang tampil di Televisi
Kampanye yang paling mempengaruhi pemilih pedesaan dan masyarakat menengah kebawah adalah pertelevisian. Jika kita melihat kembali bagaimana Gerindra menjadi partai besar, yaitu berkat kampanye di televisi. Sering tampil di televisi dengan iklan yang nasionalis. Namun di Pilpres 2014, intesitas beliau tampil di Televisi terlihat berkurang. Berbeda dengan lawannya yaitu pak Jokowi yang hampir tiap hari selalu tampil dan selalu ada berita tentang beliau.

Ketiga, Tidak mempunyai Tim Cyber
Dalam perebutan kursi RI 1, tentu terjadi peperangan opini. Peperangan opini yang paling terasa adalah perang opini di sosial media. Mengingat kembali bagaimana berisiknya Facebook saat Pilpres 2014. Di pihak lawan, punya tim cyber profesional yang bernama Jasmev. Sedangkan pak Prabowo tidak punya. Padahal tim cyber penting sekali. Peperangan di sosial media tidak sederhana yang terlihat. Harus punya strategi dan struktur. Sehingga pak Prabowo kalah di sosial media.

Setidaknya 3 hal itu, yang menjadi faktor kekalahan pak Prabowo. Walaupun begitu tentu di Pilpres 2014, penuh drama bagi pak Prabowo. Bagaimana beliau dikhianati oleh Partai Koalisi sebelumnya yaitu PDIP, lalu dikhianati kader yang diantarnya ke DKI 2, Pak Ahok dan juga orang yang diantar ke DKI 1, Pak Jokowi. Walaupun begitu beliau adalah patriot sejati yang mempunyai jiwa yang besar. Buktinya beliau hadir di pelantikan pak Jokowi dan bersedia ditemui oleh lawannya itu. Semoga beliau berhasil di Pilpres 2019.


Yogyakarta, 16 Juli 2018
Penulis: Ali Ruslan
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website