Headlines News :
Home » » Hari Raya Idhul Adha atau Hari Raya Qurban

Hari Raya Idhul Adha atau Hari Raya Qurban

Written By Pewarta News on Rabu, 22 Agustus 2018 | 03.21

PEWARTAnews.com -- Setiap makhluk yang dilabeli dengan sebutan manusia mungkin tidak asing lagi dengan kata 'Idhul Adha', lebih-lebih yang beragama Islam. Ada banyak manusia yang memberikan penafsiran terkait hari tersebut. Mulai dari penafsiran secara eksplisit sampai ke yang implisit, dari yang formil sampai ke materil, dengan cara yang vertikal sampai ke horizontal. Pendekatannya bermacam-macam dan pasti membuahkan hasil yang beragam juga. Tentu itu bukan soal, karena yang terpenting adalah memposisikan Idhul Adhal sebagai suatu sistem sosial dan melibatkan Tuhan dalam proses suatu kenyataan sampai pada kesimpulan dari kenyataan tersebut.

Kondisi demikian bermakna begini, Idhul Adha menawarkan dua cara mengabdi. Pertama, mengabdi kepada Tuhan. Kedua, mengabdi kepada 'diri'. Mengabdi kepada Tuhan tentu kita harus berkiblat pada peristiwa nabi Ibrahim yang menyembeli nabi Ismail. Sedangkan mengabdi kepada 'Diri' adalah upaya menemukan Tuhan dalam setiap gerak dan aktivitas manusia. Mempelajari diri tentu kita akan membahas tentang hati dan nafsu (keinginan). Ada banyak hal yang harus kita telusuri ketika Ibrahim berniat menyembeli Ismail. Kita bisa mulai dari pendekatan epistemik. Kenapa Allah menyuruh Ibrahim menyembeli Ismail? Upaya untuk menemukan jawabannya, kita harus mencari berdasarkan teks sejarah. Setelah itu, kita harus melakukan dekonstruksi terhadap kejadian tersebut. Keterlibatan fakta sejarah dan makna sejarah adalah kunci untuk sampai pada jawaban. Apa alasan penyembelian itu harus dilakukan? Alasan disini terletak pada Ibrahim sebagai Ayah, Ismail sebagai anak, Tuhan sebagai pihak ketiga, dan hewan sebagai pihak keempat. Semuanya bisa menjadi alasan atas kejadian itu. 

Selanjutnya, untuk apa penyembelihan itu dilakukan? Berbicara manfaat dan nilai, dalam hal ini untuk Ibrahim, Ismail dan Tuhan. Kemudian, untuk siapa penyembelian itu dilakukan? Maksudnya masih hal yang senyawa dengan yang diatas, cuman titik fiksnya yang berbeda. Apa yang bisa kita dapatkan dari proses penyembelihan itu? Kalau jawaban-jawabannya sudah kita temukan. Maka berjalanlah kita dengan jiwa yang di sembelih setiap detik oleh Tuhan. Oleh karenanya, menurut penulis, puncak tertinggi berkorban adalah terletak disitu.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Eks Ketua Umum DPC PERMAHI DIY

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website