Headlines News :
Home » » Inspira KKN Ku

Inspira KKN Ku

Written By Pewarta News on Senin, 13 Agustus 2018 | 04.27


Para tohon inspirasi dalam tulisan ini.
“Jangan pernah mengatakan tidak penting, karena kepentingan orang itu berbeda-beda”. (Mukaromah, 2018)

Setiap kali kawan bertanya kabar, baik melalui WA ataupun face to face hal yang pertama kali ditanyakan ialah sudah cinlok (cinta lokasi) atau belum? Sangat jarang sekali yang bertanya “di KKN dapat inspirasi apa”? Maklum biasanya yang seperti itu, hanya nge-tes saja, dikira saya tidak bisa jatuh cinta. Hahaha.

Hal yang harus diketahui, bahwa tidak semua hal bisa digeneralisasikan dengan “witing trisno jalaran seko kulina”. Karena proses menemukan cinta itu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Bisa jadi yang baru sekali bertemu, langsung bisa meluluhkan hati dan sampai pada perpaduan, namun bisa juga yang sudah hidup satu atap seperti misalnya di KKN malah tidak bisa jatuh cinta. Padahal di KKN sudah saling mengatahui dan paham karakter, kebiasaan, kelemahan, kelebihan, rajin ngaji atau tidak, subuhannya kesiangan atau tidak  (coba baca tulisan saya beberapa minggu yang lalu tentang KKN). Tak lain, sekali lagi proses menemukan cinta antara satu orang dengan yang lain itu berbeda. Ada yang mudah, ada pula yang sulit. Hanya saja belum bertemu dengan tukang kuncinya, kalau sudah bertemu pasti hati yang tertutup pun bisa terbuka kembali. Saya termasuk orang yang sulit jatuh cinta, namun sekali jatuh cinta insya Allah setia. Hehe.

Meski di KKN ini saya 'tidak' cinlok atau bahkan jatuh cinta dengan kawan laki-laki, namun saya mendapatkan inspirasi banyak dari mereka, salah satunya dari tetangga fakultas yakni Fak. Syariah prodi PM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, namanya Bang Fahruddin Bin Zakariya. Beliau asli Negeri Jiran (Bukan Indonesia) yang hobi-nya mengembara dari satu negara ke negara lain. Sebelum kuliah di UIN, beliau sudah menyelesaikan kuliah-nya di Fak. Ushuluddin dan Saintek di Negaranya sendiri, namun disana tidak ada gelar “formalitas”. Beda dengan di Indonesia, D-3 saja ada gelarnya, apalagi S1.

Memang benar adanya, bahwa salah satu indikator seseorang dikatakan bejo/beruntung manakala Allah mempertemukan seseorang yang mempunyai kesamaan hobi/kesukaan/interest. Alhamdulillah-nya saya dipertemukan dengan orang yang suka diskusi. Jadi, Bang Fahruddin ini adalah salah satu kawan diskusi saya di Posko. Dia sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri.

Banyak inspirasi dan ilmu yang saya dapatkan dari-nya. Sering kita membahas terkait dengan pemikiran, ideologi golongan yang nantinya berimplikasi kepada politik dan sejarah bahkan sampai dia menceritakan terkait dengan realita negara-nya (sosial, budaya, ekonomi, politik dan pendidikan). Banyak masukan konstruktif yang ia sampaikan terkait dengan skripsi-ku. Saran-nya, harus memperdalam genealogi pemikiran dari tokoh yang bersangkutan sekaligus guru-nya. Serta bagaimana pandangan orang terkait dengan paradigma berpikir orang tersebut. Jadi jangan hanya melihat dari satu sisi, namun harus melihat dari sisi-sisi yang berbeda meski tokoh yang dijadikan rujukan sama. Seperti Ibnu Taimiyah misalnya, antara orang Wahabi, NU, Muhammadiyah, HTI, Salafi tentu berbeda pandangan dan pendapat mengenai tokoh tersebut.

Selain itu, Bang Fahruddin juga bercerita mengenai kunjungan kuliah-nya beberapa bulan yang lalu ke tokoh-tokoh golongan Islam seperti NU, Muhammadiyah, HTI, Persis, Salafi, Wahabi dan lain-lain. Hanya berkunjung, bertanya dan wawancara, bukan men-tarbiyah apalagi men-dakwahi mereka. Hehehe. Hal yang bikin tertawa saya ialah ada teman-nya yang tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh golongan-golongan tersebut, rasanya panas. Maklum, orang-orang seperti ini biasa-nya yang sangat fanatik dengan golongan yang dianutnya dan menutup diri dari golongan-golongan lain, atau bisa juga orang seperti ini tidak mau digoyahkan iman-nya karena sudah yakin dengan golongan-nya. Tak hanya itu, dia juga bercerita mengenai ciri khas tempat, alur pemikiran, per-kaderan jama’ah, strategi dan pendekatan.

Dia juga bercerita tentang kondisi di negara-nya, termasuk dalam hal politik. Ada partai A, B dan C. Sudah beberapa periode partai A menang. Tak disangka, tahun kemarin yang menang ialah partai C. Sehingga siapa yang menang, dialah yang berkuasa. Tentu suatu partai membawa misi dan ideologi yang diusungnya. Dan ini berkaitan dengan “siapa saja sih yang berada dibelakang-nya”. Justru yang dilihat bukan “siapa sih yang ada didepan/siapa sih pemimpin-nya”, tapi lebih kepada siapa saja sih orang-orang yang ada dibelakang-nya. Dari sinilah pembahasan kita sampai kepada realita politik di Indonesia. Maklum, di posko saya setiap malam tidak pernah absen untuk menonton Mata Najwa dan ILC. Hehehehe.

Selain bang Fahruddin, saya juga mendapatkan inspirasi dari Dewi. Meski umurnya masih belia namun semangat mengaji-nya luar biasa. Gak hanya shalehah ya dek, tapi juga cantik dan cerdas. Hehehe.

Inspirasi selanjutnya ialah dari gadis kecil nan cantik. Namanya Vanessa. Dia siswi kelas 3 di SDN Jangkaran yang kebetulan rumahnya berada tepat didepan posko saya. Ayahnya sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Namun dia selalu ceria dan bahagia seakan semua baik-baik saja. Entahlah, saya harus belajar kepada-nya bagaimana “menyimpan rasa rindu” kepada bapak. Pernah suatu ketika aku menangis, karena kangen kepada almarhum Bapak. Tiba-tiba Vanessa menghampiri-ku dan bertanya ada apa mbak, kenapa menangis? Lalu aku cerita dan bla bla bla, dia memberikan secercah cahaya kepada-ku hingga akhirnya kita tertawa bahagia. Terimakasih Vanessa, simpan senyum-mu selamanya yak.

Terakhir, gadis kecil itu namanya Diva. Dia merupakan putri pertama-nya pak dukuh. Gadis kecil mungil yang manut. Setiap kali aku mendampingi dia baca Qur’an, seakan-akan melihat potret masa depan. Senangnya mempunyai anak yang sami’na wa atha’na. Disuruh ngaji segera ngaji, diajari hafalan cepet nyantol, diajari tata krama juga nurut. Shalehah, cantik dan cerdas lahir batin. Karena sesungguhnya, anak adalah investasi dunia dan akhirat.

Begitulah, inspirasi itu ada disekitar kita, disetiap alur cerita kehidupan yang Tuhan gariskan kepada kita. Dan mari, istiqamahkan membaca doa Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqinaa imaamaa.


Penulis: S. Mukaromah
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website