Headlines News :
Home » » NU, KH. Dalhar Nuri dan KKN

NU, KH. Dalhar Nuri dan KKN

Written By Pewarta News on Minggu, 05 Agustus 2018 | 06.29

PEWARTAnews.com -- Guru/Kiyai merupakan sosok yang membimbing santri dan jama’ah-nya untuk menemukan rencana Tuhan untuk diri mereka (Mukaromah, 2018)

Tak terasa 1 bulan berlalu begitu cepat. Itu artinya, hari-hari di tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dilalui dengan gembira dan bahagia juga tentunya terjamin. Hehehehe. Terjamin dalam hal apa? Terjamin dalam hal makanan (aspek dzahir, fisikal) mapun aspek spiritual (batiniah, ketentraman dan tentu keagamaan). Perlu diketahui bahwa tempat KKN saya di Jangkaran, Temon, Kulon Progo mayoritas adalah orang Nadhliyin (NU tulen) yang sudah pasti menjunjung tinggi “Islam NUsantara yang nguri-uri (melestarikan) adat istiadat dan budaya, seperti tahlilan, mujahadahan, tingkepan, slametan, takziah plus mendoakan mayit, pengajian, shalawatan, kenduri, thariqah-an dan lain-lain yang khas pedesaan. Sudah dapat dipastikan apabila ada acara semacam itu tentu ada pacitan/makanan-nya. Sehingga wajar apabila orang-orang NU di masyarakat sini ahli shadaqah dan seperti inilah surga bagi anak KKN. Ya itung-itung bisa ngirit lah. Meski dalam hal makanan anak-anak KKN UIN biasa-biasa saja alias tidak kekurangan.

Namun hidup haruslah seimbang, antara dzahir dan batin. Selain tercukupi dalam hal makanan, di desa ini juga selalu ada rutinan dan jarak rentang waktu acara pengajian pun hanya dekat sekali. Sistemnya holistik, ada pengajian khusus kampung ada pula yang se-kecamatan. Kemarin selama 3 hari berturut-turut ada pengajian besar di Jangkaran. Dua diantaranya pengajian rutin Senin legi dan Selasa pahing bersama dengan KH. Dalhar Nuri serta setiap malam Rabu rutinan kumpulan Ibu-ibu se-kecamatan Jangkaran. Masih ada rutinan lagi, tapi saya lupa setiap malam apa yang jelas kiyainya selalu KH. Dalhar Nuri.

Awal KKN kemarin, saya dan teman-teman diajak oleh ibu induk semang untuk pengajian disuatu masjid. Urutan dan sistemnya tidak jauh berbeda dengan rutinan pengajian di Bantul, lebih tepatnya di Desa saya, Dobalan. Hanya saja, menurutku ada yang sangat unik disini yakni kiyai-nya. Selesai tahlil dan shalawatan, diisi pengajian/mauidzah hasanah. Ceramahnya bagus, lucu, terkesan tidak monoton, variatif, suara lantang (ekspresif), bikin kocak diperut (karena tertawa saya berlebihan hahaha, habis lucu banget sih), tepat sasaran yang kolaboratif (dapat mengintegrasikan cara penyampaian kepada masyarakat umum/desa dan juga untuk mahasiswa) dengan ditopang keilmuan ala NU, sesuai realita (kasus saat ini) dan dibumbui dengan cakrawala yang luas.

Kebetulan saat itu tertutup tembok, jadi belum mengetahui yang ceramah siapa dan bentuk wajahnya bagaimana. Hanya saja saya sudah mengkantongi nama yakni KH. Dalhar Nuri, kata ibu-ibu disebelah saya. Setelah pengajian usai, saya sempatkan untuk “mengintip” dan ternyata oh beliau ta. Yayayaya (gumam hati saya). Saat itu beliau menyampaikan kitab tauhid tentang sifat wajib dan mokhal (Mustahil) Allah. Cara penyampaian-nya enak, lucu dan nyambung kemana-mana namun tetap kembali pada tema pembahasan. Seketika itu langsung “klik” dihati saya, karena baru kali ini saya bertemu dengan kiyai yang seperti ini, unik dan penjelasan-nya mendetail pun lucu sehingga tidak ngantuk. Diakhir-akhir mauidzah-nya beliau selalu berpesan untuk jangan pernah meninggalkan tahlil kepada leluhur serta senantiasa pegang teguh tali Nahdlatul ‘Ulama’ (NU) yang nguri-uri (melestarikan) tradisi dan budaya masyarakat namun tetap harus inklusif, tawasuth dan toleran sebagaimana Al Muhafadzatu ‘ala qadimish-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ashlah ilaa maa huwal ashlah.

Setiap saya bertemu dengan kiyai siapapun itu, pasti saya juga mengamati istrinya. Ternyata, istrinya KH. Dalhar Nuri cuantiknyaaaa masya Allah. Timbul pertanyaan, mengapa ya mayoritas istri kiyai kok cantik-cantik? Dan saya lebih suka kiyai yang istrinya hanya satu. Gak tau kenapa. Hahaha, mungkin karena saya wanita.

Siapapun yang membaca ini, tolong kirim Al Fatihah kagem KH. Dalhar Nuri Kulon Progo dan juga untuk kiyai-kiyai kita diseluruh Indonesia agar mereka senantiasa sehat serta selalu dalam naungan dan Ridha-Nya. Terimkasih pak kyai atas inspirasi dan ngaos roso (ngaji rasa). Sungguh, kulo remen sanget. Baarakallahu fiikum. Perlu diketahui, beliau dan KH. Thaifur merupakan tokoh penting di Kulon Progo serta yang menjadi perintis Jama’ah Thariqat Syadziliyah di Kulon Progo yang memiliki santri/jama’ah resmi sekitar 800 orang.


Penulis: S. Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website