Headlines News :
Home » , » Sekilas tentang Etika Politik

Sekilas tentang Etika Politik

Written By Pewarta News on Sabtu, 25 Agustus 2018 | 03.28

PEWARTAnews.com -- Politik bagaikan perempuan, selalu menarik untuk di bicarakan, dinilai maupun untuk di cintai. Politik adalah seni untuk berinteraksi dengan yang lain, bisa menjadi jembatan penghubung antara masyarakat tertindas dengan kekuasaan. Politik bisa menjadi sistem atau menjadi suatu tujuan. Politik adalah tempat bertahtanya segala kewarasan dan ketidakwarasan dalam tatanan sosial. Setiap mereka yang terlibat, melihat atau mengamati pasti mempunyai pengertian yang berbeda-beda tentang politik. Tapi ya sudahlah, subjektifitas memang selalu unggul dalam segala hal. Pendekatan secara objektifitas pasti akan kalah dalam pertempuran paradigma. Apalagi pendekatan yang menggabungkan antara subjektifitas dengan objektifitas dalam waktu yang bersamaan, tentu sama sekali tidak masuk dalam perhitungan.

 Etika merupakan suatu sistem nilai dan makna, sistem nilai dan makna ini tidak boleh berbentur dengan diri sendiri, orang lain dan semesta. Sedangkan politik adalah akumulasi dari setiap keinginan-keinginan yang menempel pada diri manusia.

Berbicara etika politik sesungguhnya dia harus hidup berdampingan dengan kenyataan.  Kita tidak boleh terus mendiskusikan etika dalam meja-meja bundar, namun sesekali etika itu harus kita hirup disetiap interaksi sosial yang ada. Dalam arti, etika politik yang kita diskusikan harus berawal dari kenyaataan di sekitar kita, bukan di daerah yang lain, apalagi di negara lain. Nah untuk lebih memperjelas, penulis akan mencoba meraba-raba tentang sistem etika politik yang hidup di salah satu desa yang ada di Kabupaten Bima. Desa tersebut bernama Ncera.

Secara administratif Ncera merupakan desa yang berada di kecamatan Belo, dan kecamatan Belo itu merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Bima. Sedangkan kabupaten Bima itu merupakan salah satu daerah yang berada di wilayah timurnya pulau Sumbawa atau salah satu daerah yang berada di provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat).

Moment politik di desa Ncera sudah semakin dekat. Aroma kampanye dan spanduk-spanduk pencitraan sudah mulai bertebaran di setiap sudut desa. Berkunjung atau mengunjungi tentu tidak bisa lepas dari tradisi politik desa tersebut. Di hari-hari yang serba politik ini, para calon sangat sibuk untuk mengunjungi setiap orang, memasuki rumah demi rumah, melewati jalan demi jalan. Menyapa semua orang sangat penting, sebab kalau tidak di sapa pasti masyarakat akan beranggap agak sinis. Mendanai setiap keputusan dan pertemuan adalah hajad yang harus dilunasi oleh para calon. Membantu setiap persoalan sosial menjadikan para calon melejit naik popularitas dan citranya. Sekilas memang tidak ada yang harus di bantah atau dikritisi, sebab atmosfir politik seperti itu masih di anggap wajar dan sah-sah saja.

Disisi lain, ada fakta menarik yang penulis temukan di desa tersebut. Sebagian atau beberapa calon dengan sengaja melakukan kampaye di acara pernikahan, tahlilal kematian, aqiqoh anak, dan acara keagamaan lainnya. Ketika pertama kali penulis melihat style kampaye seperti ini, terbesit dalam pikiran penulis tentang pentingnya akal sehat dalam berpolitik. Adanya suatu acara dalam sosial bertujuan untuk menghibur setiap orang yang datang dan yang melaksanakan acara. Semisal acara pernikahan, acara pernikahan di maksudkan untuk memuaskan pengunjung dan yang berhajad. Pengunjung merasa puas dengan sajian yang di suguhkan oleh yang berhajad. Juga pasti merasa bahagia karena melihat orang sedang menikah. Begitu juga sebaliknya, mereka yang punya hajad apabila dihadirin oleh banyak orang pasti juga merasa senang dan bangga. Meskipun kebahagiaannya karena banyak amplop yang akan masuk ke saku yang menikah. Hehe.  Kalau sistem keharmonisan ini di intervensi oleh kepentingan yang lain, maka tidak menutup kemungkinan akan banyak orang yang tidak suka.  Ketidaksukaan ini bisa saja muncul dari akal sehat dan bisa juga muncul daei team atau calon yang lain.  Penulis sangat setuju kalau semisal setiap calon diberi jatah yang sama dalam acara suatu pernikahan. Tetapi kalau hanya di sabotase oleh seseorang calon berarti itu acara kampenya bukan acara pernikahan. Disinilah etika yang saya maksud pertama.

Selanjutnya, dalam acara tahlilan atau acara-acara keagamaan lainnya. Ditengah hati berduka karena terpisah dengan orang yang mereka cintai. Ternyata masih ada orang yang mengambil kesempatan ditengah belenggu yang meraja di lubuk hati keluarga yang di tinggalkan oleh yang mati itu. Semestinya di lingkungan itu hanya hidup do'a dan penyesalan, bukan tentang promosi tentang diri dan menjelekkan orang lain. Apalagi kalau pelaku dakwah politik adalah mereka yang agak paham agama. Etika politik yang kedua.

Selanjutnya, dakwah politik pada acara sunatan anak atau aqiqoh anak, pada kegiatan-kegiatan dan keagamaan lainnya. Semua orang yang datang berkewajiban untuk mendoakan anak yang di aqiqoh dengan berbagai macam ritualnya. Hanya anak itu yang punya kepentingannya, yang lain tidak wajib.

Biarkanlah setiap orang mengunyah dengan baik setiap tetesan makna yang terselip dibalik perkara agama. Harapannya agar mereka bisa jujur terhadap diri mereka sendiri, orang lain, dan Tuhan. Khawatirnya kalau komunikasi horizontal ini di ganggu maka akan terjadi ketidakutuhan dalam menerima informasi. Sebab informasinya bercampur aduk. Kalau bercampur aduk maka manusia akan hidup dalam keterasingan dengan diri,  orang lain dan Tuhan.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Eks Ketua Umum DPC PERMAHI DIY

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website