Headlines News :
Home » » Sekilas tentang Kata "Merdeka"

Sekilas tentang Kata "Merdeka"

Written By Pewarta News on Kamis, 16 Agustus 2018 | 21.22

PEWARTAnews.com -- Moment 17 Agustus adalah sajadah untuk merefleksi sistem nilai, sosial, historis, dan kebudayaan yang sempat membiru di bumi nusantara. Refleksi itu bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa sesungguhnya telah ada fase sejarah yang dikhianati, kita lupakan atau sengaja diabaikan. Beragam-ragam bentuk orang merayakan itu, upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih adalah pilihan paling maestream yang kita tempuh sebagai bentuk keseriusan kita terhadap momentum sejarah tersebut. Disisi lain, corak dalam merayakan hari kemerdekaan bisa berbentuk permainan atau hiburan demi hiburan. Semua entitas kegiataan itu merupakan representasi dari sebuah kata 'Merdeka'.

Apakah hanya itu 'merdeka' di definisikan?

Saya pernah bertemu dengan orang yang tidak waras (gila) di salah satu desa yang berada di pulau Sumbawa, nama desa itu adalah Pidang. Posisi desanya tepat berada di wilayah timur pulau Sumbawa, terletak pada perbatasan antara Sumbawa dengan Dompu. Kasusnya begini, orang gila itu di usik, dicaci maki, di suruh kerja tampa upah, diperas tenaganya tampa gaji. Saya berfikir orang gila itu di larang untuk gila karena melihat berdasarkan perlakuan beberapa orang terhadapnya. Orang gila itu sudah tidak bisa merayakan bentuk gilanya karena di paksa berbuat bukan atas dasar kesukaannya ataupun kemauannya sebagai orang gila. Perlakuan ini terus terjadi sampai orang gila itu mati dalam keadaan lapar.

Dalam kasus sederhana itu ternyata, kemerdekaan seseorang itu hanya di pahami dari segi subjektif belaka. Kemerdekaan belum dipahami dua arah antara subjek dan objek yang terlibat dalam ruang tersebut. Begitu juga dalam bernegara, semestinya kemerdekaan harus bersifat desentralistik tidak boleh hanya bersifat sentralistik. Kemerdekan harus diposisikan tidak hanya untuk merayakan moment sejarah. Namun kemerdekan harus menyinggung juga persoalan sosial yang hidup sekarang. Kemerdekaan harus menemukan posisinya dalam masyarakat sebagai dasar, penyambung, maupun tujuan (dia harus tau bahwa merdeka itu bisa menjadi dasar atau ideologi, bisa menjadi penyambung antara beberapa hak dan kewajiban yang beriteraksi, bisa menjadi tujuan bagi setiap rutinitas manusia yang beragam bentuknya). Merdeka tidak boleh di pahami secara general, sebab Merdekanya orang waras dengan orang yang tidak waras tentu berbeda. Merdeka menurut si A dengan si B tentu berbeda pula. Berarti, kemerdekan harus di pahami dengan dua perdekatan. Pertama, kemerdekaan secara struktural atau secara formal. kemerdekaan secara formal merupakan tersedianya ruang yang bebas kepada setiap orang untuk menjalankan hak dan kewajibannya. Yang kedua, kemerdekaan secara esensial. Maksudnya, dalam menjalankan hak dan kewajibannya setiap orang harus merasa tenang dan bahagia. Namun sebagai cacatan, tenang dan bahagia disini tidak boleh berbenturan dengan nilai-nilai sosial yang ada.

Nah, Kalau setiap orang masih belum bisa menikmati itu, mendingan negara ngak usah merayakan hari kemerdekaan, kalau perayaan itu dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap subjek sejarah cukup kita kirimin Al-Fatihah yang banyak saja untuk mereka yang telah berjuang untuk bangsa dan negara.

Anggaran yang di gelontorkan untuk perayaan hari kemerdekaan mendingan di masukkan ke saku partai politik, supaya hasrat kekuasaannya berjalan mulus tampa kendala. Biar yang di pelosok tetap menjadi benalu dan di kota tetap menjadi bunga mawar.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Eks Ketua Umum DPC PERMAHI DIY
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website