Headlines News :
Home » , , » Wajah Pluralisme Indonesia dalam Balutan Asian Games 2018

Wajah Pluralisme Indonesia dalam Balutan Asian Games 2018

Written By Pewarta News on Rabu, 29 Agustus 2018 | 18.40

Dua atlet berhijab asal Indonesia peraih medali emas dalam ajang Asian Games 2018, Defia Rosmaniar (baju putih) dan Aries Susanti Rahayu (baju merah)
PEWARTAnews.com -- Pluralisme atau yang dalam bahasa Inggris disebut pluralism, berasal dari dua kata yaitu plural yang berarti kemajemukan atau beragam dan isme yang berarti paham. Pluralisme mempunyai arti paham tentang keberagaman. Hal ini bermakna memahami keberagaman untuk menghargai perbedaan. Namun terkadang pluralisme disalah artikan menjadi paham yang beragam. Bukan memahami keberagaman. Hal tersebut yang menyebabkan ambiguitas.

 Pluralisme di Indonesia terkait dengan banyaknya perbedaan agama, suku, ras, budaya, sosial, dan politik. Terlebih terkait agama yang akhir-akhir ini menimbulkan banyak konflik. Banyaknya organisasi masyarakat yang terkadang kurang toleran terhadap pemahaman atau dasar yang berbeda dengan ormas lain. Sehingga memaksa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi sebagaimana paham yang mereka anut, yakni salah satu Ormas yang menginginkan NKRI menjadi nagara khilafah sebagaimana zaman Rosulullah.

Banyak kita jumpai kerusuhan atau konflik yang berlatar belakang perbedaan agama, suku, dan budaya. Seperti perang Sampit. Perang antar suku Dayak dan Madura yang terjadi di Kalimantan menimbulkan banyak korban jiwa. Hal ini mengakibatkan perpecahan antar umat Islam sendiri, bahkan perpecahan bangsa jika tidak disikapi dengan adanya pluralisme. Indonesia mempunyai dasar pancasila dengan paham demokasi dimana memberi kebebasan pada rakyatnya untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
   
Sebagai upaya untuk itu pluralisme tersebut perlu ditanamkan kepada masyarakat, dimulai secara internal diri sendiri dengan menjalankan syariat agama, kebudayaan, atau apapun sesuai yang kita anut dan menghargai kepercayaan yang dianut orang lain dengan toleransi. Pluralisme bukan berarti kita mempercayai dan menjalani kepercayaan orang lain tapi menjalani kepercayaan masing-masing dengan saling menghargai pilihan agama dan kepercayaan masing-masing tersebut. Kondisi dari segi eksternal sendiri pemerintah mengambil langkah sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 yang salahsatu point intinya setiap pembelajaran disisipkan pendidikan karakter yang salah satunya adalah karakter toleransi dengan keberagaman yang ada. Hal ini diharapkan dapat memupuk pluralisme sehingga tercipta masyarakat yang damai, tentram dan harmonis dalam bingkai utuh NKRI.
     
 Sebuah pertanyaan muncul, apakah ada negara yang tidak menganut pluralisme? Menurut penulis semua negara pasti terdapat keberagaman, baik terkait agama, budaya, suku, ras, bahasa dan lain sebagainya sehingga perlu disikapi dengan pluralisme. Organisasi Internasional yang menaungi negara-nagara di dunia yaitu PBB pun sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) termasuk untuk baragama dan berbudaya.

Wajah pluralisme di Indonesia diperkenalkan kepada dunia dalam pembukaan pesta olahraga akbar dalam ajang Asian Games 2018 dimana Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah di ajang pesta olahraga 4 tahunan yang berlangsung pada tanggal 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018 di dua kota yaitu Jakarta dan Palembang. Perhelatan Asian Games diikuti oleh 45 negara dengan 462 nomor pertandingan dalam 40 cabang olahraga yang melibatkan kurang lebih 15.000 atlet.

Momentum dalam pembukaan pesta olahraga tersebut Indonesia berkesempatan menunjukkan wajah pluralismenya yang berhiaskan beraneka ragam suku, adat, dan budaya serta kekayaan alamnya. Acara dibuka dengan panampilan tari ratoh jaroe Aceh yang ditampilkan hingga mencapai 1600 penari.

Selain itu, ada satu segmen ditampilkan 19 tarian dari sabang hingga merauke yaitu saat segmen earth, dalam segmen tersebut ditampilkan tari dari Sumatera ada sipitu cawan, gending sriwijaya, tari piring, zapin, tarian transisi bunga, dan berbagai tarian dari berbagai daerah disertai dengan lagu daerah dan adat dari barbagai daerah di Indonesia.

Selain pada saat acara pembukaan yang sangat meriah, yang mengundang decak kagum dari masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri, wajah pluralisme Indonesia juga tampak dari para atletnya yang berasal dari berbagai daerah, dengan berbagai suku, adat, budaya, dan agama. Namun mereka semua berkompetisi dengan satu nama yaitu kontingen Indonesia. Atlet yang terlibat, mereka memaksimalkan tenaga dalam berjuang, semata-mata membawa harapan yang sama untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia tercinta dengan mengesampingkan segala perbedaan yang ada.

Tampilan dalam setiap laga pertandingan tidak tampak diskriminasi untuk kelompok tertentu, seperti halnya atlet taekwondo Indonesia yang berhasil menyabet medali emas di kelas poomsae putri yaitu Defia Rosmaniar yang tetap nyaman tampil dengan berhijab. Aries Susanti Rahayu, atlet panjat tebing yang juga berhasil menyumbang medali emas untuk kemenangan Indonesia pun demikian dengan hijabnya. Hal tersebut mencerminkan bahwa Indonesia merupakan negara penganut pluralisme yang menghargai keberagaman dan saling menghormati setiap prinsip yang diterapkan oleh individu.

Itulah sekelumit yang menjadi bagian dari wajah pluralisme Indonesia. Negara berkembang yang memiliki berbagai adat, suku, budaya, dan agama dalam kehidupannya namun tetap damai dengan saling menghargai dan berprestasi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.


Penulis: Mu’amaroh
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta / Email: anisrina@ymail.com
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website