Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    IKA-IH dan HMPS-IH UIN Sunan Kalijaga Gelar Workshop Profesi Hukum

    Pengurus IKA-IH UIN SUKA usai pelantikan, 27/09/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Hari Kamis 27 September 2018 mulai pukul 08.30-17.00 WIB telah diselenggarakan Workshop Profesi Hukum dengan tema “Membangun Mahasiswa Hukum yang Professional dan Berintegritas Tinggi Sebagai Pemegang Keadilan di Masa Depan.” Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPS-IH) yang bekerjasama dengan Ikatan Alumni Ilmu Hukum (IKA-IH) di Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini bersifat terbuka bagi umum dan dihadiri lebih 100 orang peserta.

    Sebelum workshop profesi hukum digelar, terlebih dahulu dilaksanakan pelantikan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga (IKA-IH UIN SUKA) Yogyakarta periode 2018-2023. Pelantikan ini hadiri dan dilantik langsung oleh Ibu Dr. Sri Wahyuni selaku Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Seusai pelantikan tersebut, M. Jamil, S.H. selaku ketua pengurus IKA-IH UIN SUKA memberikan sambutan. Dalam kesempatannya, ia menyampaikan terimakasih kepada panitia pelaksana yang telah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan hingga pelantikan berjalan dengan lancar. “Semoga pelantikan ini tidak hanya sebatas serimonial lima tahunan saja melainkan dapat memberikan kontribusi yang nyata kepada almamater,” Tegasnya. “Setelah keluar dari ruangan ini, pengurus IKA-IH akan menjembatani alumni untuk memberikan beasiswa mahasiswa Ilmu Hukum yang memiliki kendala finasial berbentuk beasiswa (adik asuh),” Imbuhnya.

    Lebih lanjut M. Jamil mengatakan, “Selain menjembatani para alumni untuk memiliki adik asuh, IKA-IH juga akan berupaya terus membina adik-adik mahasiswa dalam mengembangkan bakat profesi yang dimiliki para mahasiswa dengan melibatkan para alumni. Hal ini juga sebagai momentum berharga bagi para alumni untuk berkontribusi pada almamater tercinta,” bebernya.

    Setelah pelantikan ini selesai, lalu dilanjutkan dengan penggelaran workshop profesi hukum. Acara ini dihadiri oleh empat narasumber yang diantaranya adalah Perdana Nur Ambar Setyawan, S.H. selaku Advokat Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) yang berbicara banyak tentang tugas pokok dan fungsi dari seorang pengacara dan sejarah pengacara di Indonesia.

    Pembicara kedua adalah Putri Dresthiana Werdoyo, S.H., M.Kn. selaku Notaris yang dalam pemaparannya lebih fokus pada bagaimana kedudukan seorang notaris di Indonesia. Sedangkan, Amalia Kamiliya, S.H.I., M.H. selaku Calon Hakim Pengadilan Agama Sleman membahas peran seorang hakim dalam penegakan hukum di Indonesia Dan Purwanto, S.H., M.H. selaku pembicara terakhir dan sekaligus sebagai Lagal Drafter KemenkumHAM DIY lebih banyak mengupas isi dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 11 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

    Masing-masing narasumber secara umum memaparkan terkait profesi yang digelutinya. Hanya saja, di antara mereka ada yang memberikan tips untuk menjadi calon penegak hukum yang professional dan berintegritas tinggi. Salah satunya adalah Perdana (Advokat). Ia menyampaikan, “Satu modal penting yang harus dimiliki oleh seorang penegak hukum yaitu keyakinan (soft skill) dan kepiawayan dalam bersikap, bertindak di muka publik,” ucap Perdana. (Saiful)

    Puisi-Puisi Karya" Dicky Julkarnain"

    Dicky Zulkarnain.
    Ilustrasi yang Dibatasi

    B22-09D

    Satu sampai seribu  kenangan yang tak terlupakan
    Saat ayah kita
    Saat ibu kita membangun tembok pemisah antara aku dan engkau
    Saat aku
    Saat engkau
    Saat kita sama-sama meyakinkan bahwa kita siap untuk berjuang bersama dan mengikatkan diri pada tembok pemisah itu.

    Aku rela meninggalkan kampung halaman
    Yang beru saja engkau datangi
    Rela meninggalkan senyuman ayah ibu yang kian lama memendam rindu.

    Sungguh berat rasanya, tetapi itu tidak mengerutkan semangat juang kita untuk belajar memaknai hidup
    Serta menjadi insan yang mandiri dan bertanggung jawab agar bisa  di andalkan oleh empat malaikat itu.

    Kita penuh dengan impian yang menggebu
    Mata dan jiwa kita selalu mengobarkan semangat
    Sampai kita tak peduli betapa lelahnya berilustrasi
    Hingga kita sama-sama mengeluh bahwa ada yang membatasi dari ilusi kita.

    Sayang, betapaun engkau ingin melakukan sesuatu
    Jangan engkau remehkan jiwamu
    Karna dia juga butuh istrahat dan tahu yang namanya lelah.

    Apa yang paling menyedihkan kecuali mendengarmu kesakitan
    Sedangkan aku tak mampu berada di sampingmu
    Karna tembok pemisah masih saja memisahkan kita.

    Baik-baik di sana sayang , semoga perjuangan kita di mudahkan segalanya.


    Yogyakarta, 18 Agustus 2018



    Jatuh Lalu Bangkit

    B22-09D

    Aku dan engkau dulu pernah merasakan kisah yang sama
    Bahkan kita pernah terjatuh
    Dan saat ini kita dengan mudah menggantikan masalalu menjadi masa depan

    Sejujurnya aku tidak merasa rugi dan menyesal
    Hanya saja aku manusia,
    Jangan khawatir guruuu sakit itu tidak berdarah hanya saja berbekas

    Lalu saat hidup hampa  tampa kehadiranmu di hari-hariku
    Dan aku yakin engkau pasti datang dengan menyapaku dengan basa basi
    Yang bunyinya sudah makan, sudah mandi???
    Dan pastinya engkau datang karna engkau sudah tenggelam dengan rindu yang membanjiri kamarmu

    Engkau boleh saja datang bahkan beribu ribu kalipun tidak akan aku larang
    Tetapi engkau pasti mengatakan tidak mudah untuk datang
    Karna ada tembok penghalang yang masih saja memisahkan antara engkau dan aku

    Bahwasanya engkau tidak rela melepasku dan meninggalkanmu
    Lalu engkau menenggelamkanku dalam sebuah ruang yang sering orang bilang “lingi ade”

    Setelah banyak waktu yang aku miliki
    Tapi semua itu hanya menanggung tangisan yang engkau rencanakan
    Aku coba membendung air mata agar tak bertetesan dalam pipiku
    Tapi aku gagal menahan air mata itu
    Dan akhirnya aku menemukan beberapa hal yang aku dapati dari akhir pertemuan kita
    Pertama, aku menyayangimu. Kedua, aku perlu maju. Ketiga, aku harus bangkit.

    Sekarang semuanya sudah jelas
    Terima kasih karena engkau telah membuatku menangis dan membuatku mejadi dewasa
    Tentu aku masih belajar menjadi lebih dewasa

    Kini aku yakin, sesuatu kebahagiaan telah menunggu kita di depan sana
    Terima kasih tuhan, engkau telah mempertemukan aku dengan dia yang lebih baik
    Dan mengajarkan aku untuk bangkit dari keterpurukan
    Dia juga yang membebaskanku dari kejamnya keterpurukan karna bayang-bayangnya

    Yogyakarta, 18 Agustus 2018


    Karya: Dicky Julkarnain
    Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta / Email: dickyrakateza58499@gmail.com






    Manusia dan Penderitaan

    PEWARTAnews.com -- Dunia yang kita huni adalah tempat bertahtanya langit dan bumi, tempat dimana rembulan dan matahari bernyanyi. Siang dan malam yang saling merayu, bahagia dan derita datang dan berganti, lalu masa lalu dan masa depan menjadi harapan. kesenangan dan derita bergiliran untuk memelukmu, air mata dan senyuman berkecamuk dan menunduk. kesepian dan kemalangan adalah seruling bagi masing-masing jiwa. Manusia berteman diri, dan manusia berteduh dibawah derita.

    Mula-mulanya penderitaan turun lewat kesunyian malam, dibalik wajah keheningan ia bersembunyi, berkembanglah dia menjadi kesepian. Dan kesepian itu menampakkan wajahnya dalam bentuk derita. Semua manusia punya wujud deritanya masing-masing, tentu akan berdampak pada cara merawat dan berdamai dengan deritanya. Tidak ada yang benar-benar merasa paling bahagia dan tidak ada yang benar-benar merasa paling menderita. Sebab gunung dimata anak kecil dengan gunung dimata seorang pejalan sunyi berbeda. Cara orang buta dalam melihat dengan orang yang tidak buta jelas terpisah. patokannya bukan tergantung pada sesuatu yang menyebabkan sesuatu. Tapi bergantung pada kedalaman diri manusia untuk mencerna sesuatu.

    Bahagia dan derita bukan tentang statistik atau data kualitatif, namun dia adalah rasa yang telah mendapatkan ruang dalam diri manusia. Ruang itu dirawat dan ditambah secara terus menerus setiap hari. Kadar yang diterima dan dialami tentu berbeda setiap orang, teegantung dari cara mereka merayu diri, alam dan semesta.

    Kalau malam adalah derita dan siang adalah bahagia.Tentu disitu ada ilmu dan rahasia yang terbentang. bahagia berwujud ilmu sedangkan derita berwujud rahasia. Maka tebarkanlah kebahagiaan di seluruh semesta, jagalah dengan nurani jiwa dan buatlah dia tetap utuh. Tapi derita harus kita rahasiakan dari diri kita sendiri, apalagi dari orang lain. Siang tidak akan terjadi apabila malam enggan untuk 'ada'. Kebagiaan tidak akan bermekaran kalau dibalik bunga mawar tidak tumbuh duri yang menjaganya. Maka berbisiklah mereka kepadaku "bahagia dan derita adalah satu meskipun tidak menyatu". Kemarin dan hari ini sama saja. Masa lalu dan masa depan begitu juga, kamu dengan mereka tidak ada yang berbeda. Sama-sama anak dari bahagia dan derita.


    Penulis: Dedi Purwanto
    Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

    Kemahasiswaan

    Muhammad Fauzi.
    Definisi Mahasiswa

    Secara administratif mahasiswa adalah seseorang yang sudah terdaftar di perguruan tinggi, dalam artian sudah melewati jenjang-jengjang, seperti TK, SD, SMP, SMA/SMK. Serta terbukti dengan adanya KTM dan sudah terdaftar namanya di dikte. Namun definisi mahasiswa tidak hanya se-sempit itu, karena  mahasiswa mengandung pengertian yang cakupanya lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri.

    Secara etimologis, mahasiswa berarti siswa yang di-maha-kan, siswa yang  di hormati, dan di hargai di lingkungan sekitar. Lalu secara substansial mahasiswa di tuntut untuk mandiri, kreatif, dan independen dalam menjalankan segala aktivitasnya.

    Jadi tidak heran lagi bahwasannya komunitas mahasiswa sangat dikenal dengan jiwa militannya dan pengorbanan mempertahankan idealismenya. Mahasiswa di kenal sebagai motor penggerak perubahan. Bahkan sejarah mencatat bahwa yang membawa perubahan bangsa dan negara Indonesia adalah merupakan sebagianya merupakan dari kalangan mahasiswa. Cerita tentang reformasi 1998 masih melekat kuat dalam memori masyarakat Indonesia. Terjadi asosiasi antara peristiwa 1998 tersebut dengan mahasiswa dalam pikiran sebagian besar masyarakat bangsa ini.

    Terkadang juga tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, bahwa menjadi mahasiswa adalah memang suatu kelebihan, bahkan bisa menjadi suatu kebanggaan. Jadi ada sebuah cerita di suatu daerah yang ada di pelosok desa, tepatnya di desa Ncera, Belo, Bima, NTB, yang memang mayoritasnya adalah petani. Kondisi yang terjadi di desa itu kulturnya memang mengamini bahwa dengan menyekolahkan anaknya untuk menjadi seorang mahasiswa adalah suatu kekayaan terbesar dan sekaligus kebanggaan tersendiri yang dimiliki oleh orang tuanya, jadi nyambung dengan cerita di atas bahwasanya jika di lihat dengan posisi normal maka dapat di lihat bahwa posisi mahasiswa berada di atas rata-rata, di bandingkan dengan masyarakat yang lainya, karena setidaknya mahasiswa harus mempunyai pemikiran yang lebih maju di antara golongan masyarakat lainya. Jadi disitulah adanya perbedaan yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri. Apa yang tergambar diatas, tidak berlebihan juga jika kita menyebutnya sebagai orang yang spesial di mata masyarakat. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bahwa seorang mahasiswa melakukan hal-hal yang sifatnya melebihi masyarakat pada umumnya, karena kesempatanya pun lebih besar. Seorang mahasiswa tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri, akan tetapi tidak boleh juga terlepas dari masyarakat sekitar maupun bangsa dan negara. Mahasiswa hendaknya memberikan konstribusi positif dan konstruktif demi kemajuan.

    Berdasarkan hal di atas, mahasiswa mempunyai peran yang sangat kompleks sebagai pembelajaran bagi masyarakat. Karena  menyandang gelar sebagai mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang di emban mahasiswa sangatlah besar. Jadi peran mahasiswa yang kompleks itu yang biasanya di kelompokkan menjadi 4 fungsi: yaitu, agent of change, iron stock, social control, dan moral force.

    Peran dan Fungsi Mahasiswa
    Sebagai mahasiswa berbagai macam labelpun disandang, dan label itu sendiri melekat pada diri mahasiswa.

    Agent of change, yang di maksud di sini adalah mahasiswa sebagai pembawa perubahan. Perubahan dalam artian bahwasanya disini mahasiswa mempunyai peran yang sangat vital sekali untuk bagaimana menggagas suatu perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.

    Iron stock, karena memang sumber daya manusianya tak akan pernah punah. Artinya mahasiswa ini sebagai pengganti generasi-generasi sebelumnya, tentu dengan kemampuan, keterampilan dan akhlak mulia yang inheren dalam dirinya. Kondisi seperti ini berarti, mahasiswa merupakan aset, cadangan, dan harapan bangsa untuk masa depan.

    Social control, mahasiswa sebagai pengontrol dalam beraktivitas maupun dalam konteks sosial. Karena selain tanggung jawab individu, disini mahasiswa mempunyai peranan sosial, bahwasanya segala perbuatan dan keberadaanya tidak hanya di fungsikan dan dimanfaatkan untuk dirinya sendiri, melainkan ada yang memang menjadi suatu keharusan untuk memfungsikan dirinya untuk membawa manfa’at bagi masyarakat sekitarnya.

    Moral force, mahasiswa itu adalah kumpulan dari orang-orang yang bermoral, artinya disini mahasiswa berperan sebagai penanggung jawab moral, karena disinilah fungsi mahasiswa untuk memberantas berbagai macam dekadensi moral yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

    Sebenarnya tidak hanya sebatas ini peranya seorang mahasiswa itu sendiri, melainkan masih banyak peran-peran lain yang harus dilaksanakannya. Contohnya peranan intelektual. Karena memang mahasiswa adalah orang yang di sebut-sebut dan di beri gelar sebagai insan yang berintelektual. Maka dari itu tidak cukup hanya dijadikan sebagai penyandang gelar untuk bagaimana menambah title kehidupan juga, akan tetapi harus di wujudkan dan diterapkan dalam kehidupan nyata (masyarakat). Karena ilmu pengetahuan yang di dapat dalam dunia pendidikan yang di emban oleh insan yang berintelektual yang menyandang nama sebagai mahasiswa itu, akan percuma sekali kalaupun tidak di amalkan dalam bentuk penerapan sosial.

    Disamping itu mahasiswa juga mempunyai perang dan fungsi yang di sebut sebagai “pelopor perubahan” maksudnya disini bahwa mahasiswa bukan hanya sebagai pembawa dan pencipta perubahan, melainkan bagaimana mahasiswa menggandeng rakyat untuk menjadi garda terdepan atau orang-orang yang berada di barisan terdepan untuk bagaimana mewujudkan suatu perubahan itu sendiri, karena analoginya begini, tidak cukup hanya ketika kita ingin apa yang kita tanam itu tumbuh dengan normal, baik, dan bagus, tanpa kita berproses melalui praktek langsung untuk bagaimana merawatnya, seperti hal dalam menyiramnya, memupuk, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan yang dimaksud sebagai pelopor perubahan itu sendiri.

    Jadi mahasiswa harus memiliki idealisme dan ideologi yang mendasari segala sikap dan tindakanya. Karena mahasiswa mempunyai peran untuk menjaga moral dan sikapnya di tengah arus masyarakat yang sangat kacau. Karena hanya sedikit dari rakyat Indonesia yang dapat menikmati dan mempunyai kesempatan dalam hal memperoleh pendidikan itu sendiri, disebabkan sistem perekonomian di Indonesia yang sangat merosot sekali, dan maraknya kapitalisasi pendidikan yang sangat begitu miris sekali, sehingga pendidikan layaknya di jadikan sebagai alat untuk melakukan transformasi bisnis, nyatanya pendidikan hari ini bukan lagi untuk bagaimana melakukan suatu transformasi pengetahuan dan hal-hal maju lainya. Sehingga pendidikan itu sendiri identik dengan pabrik yang sedang memproses dan mengolah suatu produk, yang akan nantinya melahirkan generasi yang kolot, yang seharusnya melahirkan generasi yang berkualitas. Karena saking meraja lelanya penerapan dalam kapitalisasi pendidikan itu sendiri sehingga masyarakat yang sebagianya kekurangan dalam hal ekonomi pun tidak bisa mengenyam dan menikmati yang namanya pendidikan itu sendiri, sehingga tidak jarang sekali orang mengatakan bahwasanya pendidikan dan ilmu pengetahuan sekarang ini hanya dijadikan sebagai alat untuk menikmati empuknya ranjang yang di sebut universitas itu sendiri. Saking mirisnya juga, sehingga  mereka bahkan lupa akan ketentuan UUD 1945 khususnya Pasal 28 C ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan tekhnologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia”. Jadi disini tertera dengan jelas bahwasanya setiap orang berhak memenuhi kebutuhanya, sepertinya dalam hal mendapatkan pendidikan yang layak. Maka dari itu bunyi pasal yang disebut dalam UUD 1945 tidak lagi diindahkan sama sekali kalau kita kontekskan dalam kondisi penerapan pendidikan era-era sekarang ini.

    Jadi sedikit ada motivasi, lebih-lebih untuk diri saya sendiri. “Teruslah berkarya, karena tidak ada satu problempun di dunia ini yang tidak dapat di pecahkan. Jangan mengeluh jika jatuh, tapi tetap keluarkan api perjuangan untuk bagaimana kita bangkit kembali”.

    Sekian tulisan sederhana ini penulis sampaikan. Jadi untuk menutup tulisan ini jangan lupa katakan: “Wabillahi taufikh walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh”.


    Yogyakarta, 26 September 2018
    Penulis : Muhammad Fauzi
    Koordinator Hubungan Masyarakat (Humas) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Jurusan Manajemen Perusahaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta


    Pergulatan Wacana Umat Islam di Indonesia Era Reformasi

    Buku "Berebut Wacana"
    PEWARTAnews.com -- Buku Carool Kersten ini mengulas secara jernih dan jelas tentang isu-isu yang menonjol dalam pergulatan wacana umat Islam Indonesia. Ia melirik pergulatan politik dan wacana keislaman Indonesia pada masa transisi demokrasi tahun 1997 hingga 2014 . Menurut Carool, bergantinya Orde Baru oleh optimisme dan harapan Reformasi, cara-cara baru yang makin kritis dan pelik dalam memikirkan Islam pun mulai berkembang di Indonesia. Lajur-lajur pemikiran tersebut menggabungkan berbagai gagasan kreatif dan inovatif yang di cetuskan oleh intelektual-aktivis NU dan Muhammadiyah generasi kedua dan ketiga pasca kemerdekaan. Sewalaupun para pengagas tersebut mempunyai cara dan metode sendiri dalam mengembangkan pemikiran keislaman tetapi mereka disatukan oleh keinginan untuk menjaga dan merawat sekularisme, liberalisme dan pluralisme sebagai norma di ruang publik Indonesia (hlm. 33).

    Presiden Abdurrahman Wahid (gus dur) adalah figur yang merupakan salah satu tokoh utama  dalam membentuk formasi diskursif Islam baru yang kini dikembangkan dan diterjemahkan oleh para sarjana dan aktivis. Tetapi, optimisme tersebut memudar hanya beberapa tahun saja ketika Abdurrahman Wahid dimakzulkan (Juli 2001). Peristiwa ini juga mengalihkan perhatian intelektual muda Muslim Indonesia. Alih-alih sibuk dengan politik, mereka lebih tertarik pada persoalan-persoalan filosofis yang mendasar, yaitu ketika studi komperhensif tentang dimensi epistemologis dan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan Muslim Indonesia. Pada masa ini muncul critical juncture atau momen kritis dalam sejarah intelektual Indonesia (hlm 81).

    Carool Kersten menjelaskan dengan apik tentang perdebatan legal formalis dan subtantivis hukum Islam pada masa transisi demokrasi. Ia menggambarkan manuver politik antara 1999 dan 2002 menghalangi upaya para aktivis dan politisi Muslim untuk mencantumkan syari’at Islam dalam konstitusi Indonesia, sehingga  para pengusung formalisasi hukum Islam terpaksa mencari jalur lain. Kesempatan itu baru terbuka pada capaian Reformasi ketika desentralisasi pemerintahan dan pelimpahan kekuasaan dari pemerintah pusat dan daerah. Kesempatan tersebut melahirkan inisiatif untuk legislasi Islam di daerah melalui peraturan daerah (perda). Sedangkan lawan dari kubu pendukung aspek legak-formal hukum Islam, yaitu pendukung penafsiran syari’ah subtantif tidak menggugat peran penting syari’ah dalam pandangan hidup  Muslim dan peluangnya untuk diakomodasi di dalam arsitektur hukum Indonesia. Sebaliknya, perdebatan intelektual yang mendasar, yaitu tentang peran agama di masyarakat Muslim dan seputar konsep syari’at yang sangat abstrak (hlm 199).

    Terakhir, Carool Kersten membedah tiga isu kunci pemicu perdebatan dalam wacana keislaman Indonesia, yaitu  pluralisme agama, hak asasi manusia dan kebebesan berpikir. Karool menggambarkan perdebatan sengit antara kubu yang pro dan kontra terhadap tiga isu itu pun tidak dapat terhindarkan. Diawali dengan fatwa MUI (2005) tentang pengharaman pluralisme, liberalisme dan sekuralisme sehingga membuat pluralisme dan toleransi beragama menjadi medan pertarungan antara pendukung dan penentang, tarik menarik pun tidak dapat terhindarkan dari kedau kubu yang berseteru (hlm 249). Dari perdebatan-perdebatan yang Carool Kersten sugukan dari awal sampai akhir buku ini sampailah Ia pada kesimpulan dari penemuanya. Bahwa yang betul-betul yang dipertaruhkan dalam kontekstasi intelektual adalah bagaimana Muslim Indonesia menilai pemerintah, masyarakat sipil dan kebebasan sipil. Kemanapun arahnya, akan menjadi contoh bagaimana agama sebagai tujuan eksistensial terus berjalin berkelidan dengan transformasi sosial. Ini pada giliranya mempengaruhi bagaimana Muslim Indonesia menanggapi proses sekularisasi dan seruan toleransi beragama, yang akan sangat menetukan negara seperti apa yang akan dituju Indonesia, bagaimana negara memperlakukan warganya, dan bagaimana para warganya bersikap satu sama lain (hlm 328). Buku Carool Kersten ini cocok di baca oleh semua kalangan, khusunya para dosen dan mahasiswa yang ingin mandalami tentang pergulatan wacana keislaman Indonesia. Buku ini menjelaskan secara komperhensif tentang wacana keislaman di Indonesia sehingga memberikan gambaran yang utuh dan jernih pada pembacanya.

    Identitas Buku
    Judul        : Berebut Wacana; Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi
    Penulis     : Carool Kersten
    Penerbit   : PT Mizan Pustaka
    Cetakan   : 1, Maret 2018
    Halaman  : xxvi + 366 hlm
    ISBN       : 978-602-441-060-5
    Peresensi : Abdul Gafur (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) 


    Karang Taruna Kota Yogyakarta Gelar Lomba Siskamling Kreatif

    Suasana Acara Karang Taruna Kota Yogyakarta.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Karang Taruna Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melaksanakan lomba Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) Kreatif. Kegiatan positif kepemudaan ini mengangkat tema “Kita Pancasila”, sebagai upaya pemuda untuk memupuk nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

    Agenda lomba yang diikuti total 45 peserta ini, telah terpilih lima besar terbaik, yakni Karang Taruna Kelurahan Giwangan, Gondokusuman, Mantrijeron, Conkrodiningratan, dan Karang Taruna Kotagede. Para juara tersebut, memperoleh piagam, trofi, dan uang pembinaan. Penyerahan hadiah dilaksakan pada hari Senin (17/09/2018) lalu di Kantor Kecamatan Jetis,  Kota Yogyakarta.

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, S.H., mengatakan, sebagai generasi muda milenial, Karang Taruna dituntut berkreasi positif. “Tidak bisa dipungkiri, generasi muda milenial memiliki banyak inspirasi kreatif yang dapat diimplementasi dalam lingkungan masyarakat, karena itu kami menggelar lomba ini,” kata Solihul melalui rilisnya 25/09/2018.

    Menurut mahasiswa Notariat FH UGM ini, lomba Siskamling Kreatif ini dilaksanakan untuk mengedukasi makna Pancasila secara menyeluruh. “Dengan menghidupkan Siskamling, otomatis kita telah melestarikan budaya nusantara, karena makna Siskamling bukan sekadar menjaga keamanan, namun juga berfungsi merawat kebersamaan dalam membangun semangat gotong-royong untuk mengembalikan fungsi sosial yang bertanggung jawab,” tandasnya.

    Ketua Panitia Lomba Siskamling Kreatif, Suprihatin menambahkan, lomba ini memberikan ruang terhadap pemuda se-Kota Yogyakarta untuk ikut menjaga keamanan kampungnya, sekaligus membumikan nilai-nilai Pancasila.

    Hal yang sama diungkapkan Ketua Karang Taruna Karangwaru, Saleh mengatakan bahwa Siskamling Kreatif ini sangat positif untuk mendukung para pemuda. “Kegiatan ini sangat positif untuk mensupport pemuda peduli dengan lingkungannya. Apalagi diberi tema Pancasila, sehingga memiliki multi manfaat, salah satunya memupuk nilai-nilai Pancasila pada diri pemuda itu sendiri,” ungkapnya.

    Lebih jauh, Saleh berharap dengan adanya lomba tersebut, tidak hanya dilakukan saa ini saja. Tapi berkelanjutan. “Karena ini positif, sebagai pemuda kami berharap agar lomba ini bisa berjalan secara continue, berkelanjutan, sehingga nilai-nilai pancasila dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

    Gelar Aksi Tanggap Bencana Lombok, KEPMA Bima-Yogyakarta: Terimakasih pada Seluruh Warga Jogja

    Suasana Penyaluran bantuan dari KEPMA Bima-Yogyakarta di Lombok NTB.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Gerakan Peduli Bencana Gempa Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mengalir. Berbagai kalangan melalui beragam cara menggalang dana bantuan untuk korban bencana gempa Lombok yang terjadi beberapa waktu lalu.

    Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta mengadakan kegiatan Penggalangan dana dengan beberapa cara salah satunya dengan turun kejalan/lampu merah, meminta solidaritas dari seluruh elemen masyarakat Yogyakarta yang tengah berlalu lintas di sore hari, selain itu KEPMA Bima-Yogyakarta juga membangun posko tanggap bencana gempa Lombok di Asrama Bima Yogyakarta  Jalan Gondosuli GK IV No 155 Kota Yogyakarta. Selain membuka posko di Yogyakarta, KEPMA Bima-Yogyakarta juga membuka posko di Lombok NTB.

    Kegiatan penggalangan dana ini berlangsung dari taggal 6-11 Agustus 2018 dan Allhamdulillah dapat mengumpulkan dana bantuan berupa uang tunai sebesar RP. 105.051.600, selain uang tunai ada juga yang menyumbang berupa pakain-pakain bekas layak pakai seperti baju, celana, selimut dan sarung. Dari dana yang tersebutkan di atas, digunakan untuk pengadaan barang bantuan berupa beras 3 Ton 250 KG, air mineral, mie instan, susu, roti kering, sabun mandi, sabun cuci, obat-obatan, kebutuhan bayi, selimut, perlengkapan ibadah seperti sajadan, sarung, Al-Qur’an dan buku iqro. Barang bantuan ini di salurkan secara bertahap di di beberapa titik yang ada di lombok utara dan Lombok Barat.   

    Ketua posko Tanggap Bencana KEPMA Bima-Yogyakarta, Ismail, S.H. mewakili seluruh masyarakat lombok dan keluarga besar KEPMA Bima Yogyakarta  menyampaikan terimakasi kepada seluruh elemen masyarakat Yogyakarta yang telah membantu meringankan beban seluru warga masyarakat Lombok NTB. “Terimakasih yang tak terhingga pada seluruh warga Jogja yang telah rela menyisihkan rezekinya untuk membantu keluarga kita semua di Lombok NTB. Selain itu, kami mengajak seluruh masyarakat Jogja untuk bahu membahu menanggapi semua bencana yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” beber Ismail, 24/09/2018 di Yogyakarta.

    Lebih jauh, Ismail mengatakan, peristiwa yang menimpa warga NTB adalah peristiwa yang sudah ditakdirkan tuhan. Jadi, kata Ismail, kejadian tersebut tidak ada yang mampu mengelak. “Peristiwa di NTB sudah menjadi takdir, kita hanya bisa mendoakan seluruh korban, semoga seluruh korban tabah menghadapinya. Selanjutnya, tugas kita sebagai warga negara Indonesia adalah sama-sama membantu mereka agar bisa bangkit kembali, dan melanjutkan aktifitasnya seperti sedia kala,” ucap Ismail. (PEWARTAnews)

    Tentang Letto

    Letto. Foto: tribunnews.com.
    PEWARTAnews.com -- Dahulu sepulang dari sekolah (SD) yang pertama kali saya tonton di TV adalah lagu-lagu POP. Masih teringat sampai saat ini, channel TV yang sering saya tonton adalah Global TV dan RBTV karena kedua channel tersebut selalu menyajikan lagu-lagu POP dengan beberapa nominasi. Tibalah saat itu, saya jatuh cinta dengan lagu-nya Letto yang berjudul “Sebelum Cahaya, Permintaan hati dan Sandaran hati”. Enak didengar dan dirasa. Bahkan sampai sekarang, saya masih hafal lirik lagu tersebut.

    Lambat laun, saya melupakan artis-artis Indonesia karena jarang nonton mereka. Tapi ketika ada lagu bagus, saya tertarik untuk mendengarkan dan bergegas untuk nyari di internet (saat itu nyebutnya begitu, belum kenal dengan nama Youtube). Haha #ndeso. Tentu lagu yang menarik dan bagus itu “relatif” ya. Bisa jadi, bagi saya bagus namun bagi orang lain biasa-biasa aja. Maklum, selera orang beda-beda. Hehehe. Tergantung konteks dan situasi hati juga.

    Setelah beberapa tahun lamanya saya jarang nonton TV, bahkan tak tau kabar letto bagaimana, udah rilis lagu baru apa saja pun saya tak tahu. Saat saya kelas 3 Aliyah, ibu saya bilang kalau ternyata Putra-nya Cak Nun itu Mas Sabrang (Voc. Letto Band). Dengan santai saya respon oh iya to.
    Karena pada saat itu saya belum tertarik dengan Cak Nun dan mengenal dekat Cak Nun, jadi ya biasa-biasa saja. Mungkin ini bisa dianalogikan dengan ketika kita jatuh cinta. Perasaan kita biasa-biasa saja karena memang kita belum mengenal dekat dengan-nya. Namun ketika sudah mengenal dekat, bahkan sangat dekat, ikatan emosional itu akan terjalin dan pada akhirnya cinta dan saling mencintai. Begitu pula yang saya alami terhadap Cak Nun.

    Waktu terus berputar. Kebutuhan emosional, intelektual dan spiritual saya juga menuntut untuk terus diberi amunisi, hingga akhirnya saya mengikuti salah satu pengajian yang kebetulan menghadirkan Cak Nun dan Kiyai Kanjeng. Seseorang yang jatuh cinta pasti ada sebab, alias semua hal ada asbab-nya. Kalian dinikahi dengan seseorang, itu juga karena sebab. Sama halnya yang saya alami ketika mengikuti pengajian Cak Nun. Pengen ikut terus, kemanapun beliau pergi. Ya, saya “mendeklarasikan diri sebagai santri beliau”. Lalu seusai pengajian tersebut, saya stalking di medsos dan tanya-tanya pada kawan. Ternyata oh ternyata, Cak Nun punya jama’ah Maiyah setiap tanggal 17 setiap bulannya di Kadipiro. Sejak saat itulah, selalu saya sempatkan untuk datang ke majlis beliau (tepat ketika saya semester 5) sekitar bulan Oktober 2017. Bulan itulah pertama kali saya mengenal Cak Nun langsung sampai ke hati. Hehehehe.

    Setiap Maiyah pada tanggal 17 tersebut, Mas Sabrang (Letto) selalu ada dipanggung. Entah menjadi moderator, narasumber maupun pengisi lagu/tim hore. Betapa luar biasanya Gusti Allah, mempertemukan saya dengan beliau. Setidaknya bisa face to face karena sudah sangat lama tidak nonton beliau di TV.

    Sebelum saya nge-share tulisan ini, saya sempatkan untuk nonton video klip dan merasakan setiap lagu Letto Band (17/09/2018). Baru sadar, kalau ternyata dibalik lagu-lagu Letto mengandung makna filosofis yang amat sangat dalam. Saya berkata pada diri saya sendiri “seandainya tema skripsi-ku belum di ACC Kajur, mungkin akan ku ajukan tema terkait dengan lagu-lagu letto dan relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan pendekatan hermeunetika sebagai alat analisinya. Meski video klip nya tidak islami (secara kasat mata) tapi ada makna esotoris yang sangat luar biasa. Saya suka, saya suka.

    Jangan dilihat dari covernya yak, tapi pahami substansi dan makna dibalik kata-kata lagunya. Monggo bagi yang berminat mengangkat lagu-lagu letto menjadi skripsi. Hehehe khususnya anak PAI.

    Sampai detik ini saya juga suka lagunya Krispatih “Demi Cinta”. Video klipnya bikin nangis.


    Puisi "Negeriku"

    Jumratun.
    Malapetaka meraja dimana-mana,
    Duka bertaburan disetiap halaman rumah,
    Luka-luka bersembunyi dibalik sujud,
    Setiap hari bergelimang air mata,
    Setiap hari adalah Transaksi,
    Pelecahan menjadi barang eceren yang diobral oleh semua orang,
    Kebenaran dibungkam kebohongan diseminarkan.

    Kapan itu berakhir?

    Lombok menangis karena janji presiden tak kunjung terealisasi,
    Bima kebingunan karena harga bawang yang makin hari makin tidak stabil,
    Kalimantan sesak karena oksingen dunia kebakaran,
    Sedangkan peci dan jubah ambil pagung dimana-dimana.

    Negeriku ngeri yah,
    Suara Adzan ingin di batasi,
    Salah ucap dikenakan sangsi,
    Hak asasi manusia tidak lagi berarti,
    Ibu-ibu menyampaikan anspirasi malah di pukul mundur.

    Negeriku
    Dimana engkau yang dulu,
    Dimana kesejukan itu,
    Dimana kedamainan itu,
    Dimana?
    Sepertinya saya rindu ingin berjumpa kembali dengan mu,
    Negeri ku makin hari makin membuatku kehilangan kemanusiaan.


    Yogyakarta, 20 September 2019
    Karya: Jumratun

    Epistemologi Baru dalam Kajian Keislaman

    PEWARTAnews.com – Gagasan pokok buku ini adalah perluasan radius jangkauan fiqh Maqasid Syariah (tujuan-tujaun utama Syariat Islam). Jika Maqashid Syariah pada masa awal menekankan pada penjagaan (protection) dan pelestarian (preservation) atau yang lebih dikenal dengan al-hifzf, Maqashid Syariah kontemporer lebih bernuansa pembagunan (development) dan pemuliaanterhadap Hak-hak Asasi (human rights).

    Buku dengan judul asli Maqasid Syariah as Philosophy Law: A Systems Approachini adalah hasil dari creative imajination (istilah Ian G Barbour) Jasser Auda setelah meraih gelar Ph.D di dua bidang ilmu yang berbeda, yaitu filsafat hukum Islam dan analisis Sistem. Jasser Auda mempresentasikan penelitian multi-disipliner dengan tujuan mengembangkan teori Usul Fikih melalalui pendekatan sistem (hlm 28). Selain itu Jasser Auda mereformasi filsafat hukum Islam (ushul al-fiqh) dengan menjadikan Maqasid Syariah sebagai basis pangkal tolak berpikir filosofi  dengan menggunakan pendekatan sistem sebagai metode berpikir dan pisau analisis. Sebuah pendekatan baru yang belum pernah terpikirkan untuk di gunakan dalam diskusi hukum Islam dan ushul al fiqh sebelumnya. Pendekatan ini melahirkan freash ijtihad atau ijtihad-ijtihad yang lebih ‘segar’ yang lebih konteks dan konten dengan problematika masyarakat muslim kontemporer.

    Fitur-Fitur Sistem
    Ada enam fitur teori sistem yang di tawarkan Jasser Auda. Pertama, kognitif sistem (cognitive nature of system), Kedua, kemenyeluruhan (wholeness), Ketiga, keterbukaan (openness), Keempat, hierarki yang saling mempengaruhi (interrelated hierarchy). Kelima, multi-dimensionalitas (multi-dimensionality). Keenam, kebermaksudan (purposefulness) (hlm86). Pengoprasian enam fitur teori sistem ini pada hukum Islam memberikan kontrubusi signifikan  dalam rangka mereformasi filsafat hukum Islam. Hal ini dapat dilihat dari pergeseran dan perluasan radius jangkauan Maqasid Syari’ah setelah di tambah di sana-sini oleh Jaseer Auda. Misalnya dari menjaga agama (hifz al-din) bergeser menjadi menjaga, melindungi dan menghormati kebebasan beragama dan berkepercayaan. Menjaga jiwa (hifz al-Irdh), bergeser menjadi menjaga dan melindungi martabat kemanusiaan, hak-hak asasi manusia Universal. Menjaga akal (hifz al- Aql) bergeser menjadi, melipatgandakan pola pikir dan research ilmiah, mengutamakan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan dan menghindari upaya-upaya yang meremehkan kerja otak. Menjaga keturunan (hifz al-nasl) bergeser dengan beroreantasi pada perlindungan yang lebih terhadap instasi keluarga. Menjaga harta (hifz al-mal) bergeser menjadi mengutamakan kepedulian sosial, menaruh perhatian pada pembangunan ekonomi, mendorong kesejahteraan manusia, menghilangkan jurang yang lebar antara miskin dan kaya.

    Maqashid baru Jasser Auda menjadikan Human Devolopment atau pembangunan sumber daya manusia sebagai target utama dari maslahah (public interest), sehingga Maqashid dapat dilihat dan di cek perkembanganya dari waktu ke waktu, diuji, dikontrol dan divalidasi melalui human devolopment index dan human defolopment target yang dicanangkan dan dirancang  oleh badan dunia, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun yang lain. Dengan begitu kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dari waktu ke waktu dapat di upayakan, diperjuangkan, diukur dan dipertanggung jawabkan secara publik.

    Identitas Buku
    Judul : Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah Pendekatan Sistem
    Penulis : Jasser Auda
    Penerjemah : Rosidin dan ‘Ali’Abd el-Mun’im
    Penerbit : PT Mizan Pustaka
    Cetakan : 1, Agustus 2015
    Tebal : 356 halaman
    ISBN : 978-979-433-902-2
    Penulis : Abdul Gafur (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

    Puisi Tidak Sekedar Berkata Kata

    Eka Ilham, M.Si.
    PEWARTAnews.com – Puisi tak sekedar teks dan kumpulan pilihan kata. Bila padanya diberi konteks, puisi dapat bertransformasi menjadi "senjata" tak lagi sekedar kata. Jika saja teks dan konteks diberi imaji dan spritualitas, puisi dapat di ubah menjadi spirit perubahan, perlawanan, pergerakan, romantisme, meditasi, dan instropeksi diri. Puisi juga mengajak kita untuk mentertawakan diri kita sendiri terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita tampa ada saling menyakiti sebab kita dapat tertawa bersama-sama dengan kata-kata. Takkala kondisi bangsa hari ini nurani tertutup oleh buih keserakahan dan dahaga kekuasaan maka yang dipikirkan hanyalah bagaimana merebut kekuasaan baik politik maupun ekonomi, dengan menghalalkan segala cara. Kira-kira situasi inilah yang terjadi di republik ini. Tindakan koruptif telah menjelma menjadi bagian dari proses politik untuk menyangga kekuasaan. Para sastrawan mencoba mencari ruang melalui kata-kata untuk memberikan sebuah ekspresi terhadap kondisi republik ini. Sebut saja puisi Gus Mus “negeri haahihi” dengan imajinya dia menggambarkan kondisi republik ini.

    Negeri Haha Hihi

    Bukan karena banyaknya grup lawak,
    maka negeriku selalu kocak
    Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
    Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

    Banyak yang terus pamer kebodohan
    dengan keangkuhan yang menggelikan
    Banyak yang terus pamer keberanian
    dengan kebodohan yang mengharukan
    Banyak yang terus pamer kekerdilan
    dengan teriakan yang memilukan
    Banyak yang terus pamer kepengecutan
    dengan lagak yang memuakkan. Ha ha ...

    Penegak keadilan jalannya miring
    Penuntut keadilan kepalanya pusing
    Hakim main mata dengan maling
    Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi ...

    Kalian jual janji-janji
    untuk menebus kepentingan sendiri
    Kalian hafal pepatah-petitih
    untuk mengelabui mereka yang tertindih
    Pepatah petitih, ha ha ...

    Anjing menggonggong kafilah berlalu,
    Sambil menggonggong kalian terus berlalu

    Ha ha, hi hi ...
    Ada udang dibalik batu,
    Otaknya udang kepalanya batu
    Ha ha, hi hi
    Sekali dayung dua pulau terlampaui
    Sekali untung dua pulau terbeli
    Ha ha, hi hi
    Gajah mati meninggalkan gading
    Harimau mati meninggalkan belang
    kalian mati meninggalkan hutang
    Ha ha, hi hi
    Hujan emas di negeri orang, hujan batu dinegri sendiri,
    Lebih baik yuk hujan – hujanan caci maki.
    Ha ha, hi hi

    Puisi di atas dengan imajinya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita. Kehidupan berbangsa-bernegara kita hari ini terlampau pengap oleh mentalitas kaum perampok. Mentalitas yang meninggalkan nurani dan akal sehat, demi beroleh pundi-pundi kekayaan. Tata aturan berbangsa-bernegara yang bersumber dari konstitusi dan seperangkat undang-undang lainnya, dikangkangi demi mengejar kemapanan serta kenyamanan hidup. Meski harus menyisakan barisan panjang penderitaan, penindasan dan ketidakadilan. Pun, agama tak lagi di toleh, ketika mata hanya tertuju pada kemewahan hidup yang sering kali mewariskan kemelaratan pada generasi kedepan. Kepengepan situasi semacam itulah yang coba di dobrak oleh para penyair dan penulis melalui puisi-puisi mereka. Ruang-ruang itu mereka sajikan dalam bentuk pentas budaya/seni, seminar, workshop, diskusi, perlombaan, komunitas-komunitas seni, dan sebagainya. Mereka mencoba bertahan di ruang-ruang itu atas nama seni dan idealisme.

    Betul bahwa puisi atau karya sastra lainnya tidak secara otomatis, berjangka waktu pendek, ataupun spontan, akan mampu mewujudkan sebuah perubahan. Namun, sebagai anak kandung kebudayaan, puisi atau karya sastra lainnnya mempunyai tempat dan tugas tersendiri dalam mendesakkan perubahan. Dengannya, realitas yang korup, penuh ketimpangan serta ketidakadilan, dipertajam melalui kreativitas kata-kata yang menggoyang kesadaran rakyat sekaligus juga menampar kebebalan penguasa. Sejarah telah mencatat, penguasa yang korup dan otoriter teramat takut dengan puisi para penyair dan sastrawan yang kritis. Para sastrawan dan penyair pada khususnya di Kabupaten Bima dan Kota Bima Nusa Tenggara Barat tetaplah selalu melahirkan karya-karyanya sebagai bentuk tanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual menghasilkan karya-karyanya untuk republik ini. Sesungguhnya bukanlah jerih payah yang terakhir dan paripurna dalam usaha menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Bagaimanapun, republik ini, membutuhkan nafas panjang kontribusi kita semua.


    Penulis: Eka Ilham, M.Si.
    Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

    Kelas Mengabdi

    Informasi Kelas Mengabdi.
    Bima, PEWARTAnews.com – Manusia perlu terus belajar untuk mengenali dirinya, lingkungan, alam dan semesta. Terciptanya keharmonisan dalam setiap lini kehidupan bersama adalah cita-cita luhur yang harus diperjuangkan. Tiada cara lain yang bisa kita tempuh, selain memulainya pada membangun manusia yang berorientasi untuk mewujudkan kesadaran Kritis dan organik. Energi penggerak itu harus bermekaran didalam pikiran dan sistem gerak semua orang. Terutama bagi mereka yang berlabel pemuda dan remaja.

    Setiap keadaan ideal pasti dimulai dari kesadaran yang ideal. Upaya untuk membangun kesadaran tersebut, tentu harus dilakukan secara bertahap dan sistematis. Maka sebagai manisfestasi dari cita dan cinta pada kemanusiaan kelas mengabdi tercipta. Mengajari apapun dan berbagi dengan siapapun. Merekayasa lingkungan serta merawat keutuhan diri mereka sebagai manusia.

    Kelas mengabdi sasarannya adalah remaja dan pemuda/i (SMA dan SMP), dan pengajarnya adalah setiap mereka yang peduli pada membangun manusia. Terselenggara untuk umum dan siapapun.

    Kelas pertama mengajar akan segera tiba! Kelas mengabdi KPPBN dengan tema “Peran Generasi Milenial dalam Mewujudkan Keharmonisan Desa”. Akan dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu, 21-22, September 2018 Jam 15.00 WIB. Bertempat di SMP N 3 Belo. Bagi teman-teman yang rindu akan keilmuan ditunggu kedatangan dan pastisipasinya.

    Saatnya mengajar dan mengabdi bukan mengejek dan membenci. (Dedi Purwanto)

    HMI Cabang Purwokerto Gelar LK 2 dan SC, Ketua Umum: Mari Kembali ke Desa

    Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto. Foto: Akhir.
    Purwokerto, PEWARTAnews.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwokerto menggelar kegiatan Intermediate Training (Latihan Kader II) dan Senior Course (SC) Tingkat Nasional, di Balai Diklat Banyumas, (19-30 September 2018).

    Lazimnya kegiatan Training di HMI adalah untuk menambah keilmuan dan kesadaran kader-kader mengenai pentingnya regenerasi dalam hal mengawal pembangunan bangsa dan negara demi terwujudkan masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT.

    Pasang surutnya eksistensi HMI di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara juga merupakan salah satu bagian dari tujuan HMI. Oleh karenanya, HMI Purwokerto menggelar training LK 2 dan SC tersebut, guna sebagai kader dapat memehami masalah yang telah diperjuangan dan dilalui oleh organisasi yang bersimbol Hijau Hitam tersebut dengan banyak haru dalam berhimpun.

    Refleksi panjang HMI telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa HMI tidak mungkin lagi berjudi tentang masa depan dengan romantika kejayaan masa lalu. Sebab dinamika organisasi yang terjadi selama ini cukup memberikan gambaran sebagai pembelajaran berharga bagi kader HMI.

    Menurut Ketua Panitia Pelaksana Isma Nikmatul Aula, terselenggaranya kegiatan ini merupakan upaya untuk menguatkan hader untuk menanamkan rasa memiliki pada HMI. “Tujuan LK 2 dan SC HMI Cabang Purwokerto adalah agar adanya regenerasi kader di HMI, terkhusus kader HMI Cabang Purwokerto, kemudian kader memiliki rasa kecintaan terhadap HMI dan semangat yang tinggi dalam ber-HMI serta mampu membawa HMI Cabang Purwokerto menjadi lebih baik lagi,” bebernya.

    Lebih lanjut, Isma mengatakan bahwasannya sejauh ini panitia pelaksana berupaya dengan semaksimal mungkin untuk mensukseskan kegiatan berskala nasional ini. “Jumlah peserta yang mengirim makalah untuk LK 2 sekitar 98 orang peserta yang menjadi utusan dari masing-masing Cabang HMI se-Indonesia, namun yang lolos sesuai dengan presentasi pembuatan makalah di HMI sekitar 47 peserta,” ujarnya.

    “Sedangkan untuk Senior Course (SC) sebanyak 26 orang yang kirim Sindikat, namun yang lolos hanya 22 orang saja. Kemudian semua peserta akan mengikuti Screening pada tanggal 19-23 September 2018 dan Kegiatan training LK 2 dan SC akan berlangsung mulai pada tanggal 23-30 September 2018 di Balai Diklat Banyumas,” tuturnya.

    Kemudian dalam momentum yang sama, Ketua Umum HMI Cabang Purwokerto Romi Fredyanto, menuturkan bahwa tujuan pengadaan training ini adalah agar kader HMI kembali kedesa, dengan upaya untuk menguatkan nasionalisasi dan pemberdayaan masyarakat yang sering kali banyak dilupa dan kader HMI mampu merasionalisasikan kebutuhan masyarakat secara realistis dan profesional.

    “Kader HMI harus benar-benar terlibat aktif dalam mengawal bangsa dan negara, kemudian untuk mengawal itu semua perlu kita kembali ke desa-desa, karena kemakmuran dan kesejahteraan yang ada di Indonesia ini ialah melalui desa,” celoteh Romi.

    Lebih jauh, Romi Fredyanto mengatakan, “Kami menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan LK II tingkat nasional ini. Terutama bagi HMI Cabang se-Indonesia yang telah mengirim kader-kader terbaiknya sebagai utusan atau perwakilan dalam megikuti training. Mudah-mudahan kami bisa menjadi tuan rumah yang baik,” lanjutnya. (Muhammad Akhir)

    Karang Taruna DIY Gelar Ekspedisi Kemanusiaan untuk Lombok NTB

    Karang Taruna DIY saat gelar Ekspedisi Kemanusiaan di Lombok NTB. Foto: Istimewa.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Peristiwa gempa yang memilukan belum lama ini terjadi pada keluarga kita di Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa yang memakan lima ratusan lebih korban jiwa meninggal dunia dan juga lebih dari tiga ratus ribu mengungsi itu tepatnya terjadi di Lombok dan sekitarnya.

    Mendengar peristiwa tersebut, belum lama ini Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tergerak hatinya untuk peduli pada peristiwa gempa yang terjadi di Lombok, dan berhasil mengumpulkan bantuan dari karang taruna se-DIY. Uang yang terkumpul dibelanjakan logistik berupa terpal, keperluan bayi, keperluan wanita, kebutuhan untuk sekolah darurat dan sembako, ada juga pakaian layak pakai. Bantuan yang telah dikumpulkan, Tim Karang Taruna DIY sudah mengirim langsung ke Lombok Utara dan Lombok Barat.

    Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono selaku Ketua Karang Taruna DIY mengutus Solihul Hadi, S.H. (Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta) dan Luthfi Eka Septerina (Koordinator seksi Kebencanaan Karang Taruna DIY), untuk mengawal dan memastikan distribusi bantuan dari Karang Taruna DIY tepat sasaran dan diterima langsung oleh masyarakat yang terdampak gempa.

    Solihul Hadi, S.H. dan tim sebagai utusan ekspedisi kemanusiaan untuk Lombok, saat tiba di Lombok langsung berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Ketua Karang Taruna NTB Ma'ruf Syamsuddin, Kepala Dinas  Sosial NTB H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H., Bapak Bupati Lombok Utara, Ketua Karang Taruna Lombok Utara, serta teman-teman Karang Taruna Lombok Barat.

    Menurut Solihul Hadi, S.H., koordinasi dilakukan untuk bisa memetakkan lokasi-lokasi korban gempa yang terjadi dan juga agar bisa dengan mudah menyalurkan bantuan tepat sasaran.  "Koordinasi ini dilakukan agar penyaluran bantuan tersebut bisa tepat sasaran, efektif dan efisien, karena karang taruna itu sendiri berdasar pada Permensos 23 Tahun 2013 adalah organisasi yang dinaungi oleh Kementerian Sosial dan pemerintah setempat. Maka kegiatan kemanusiaan seperti ini merupakan salahsatu agenda penting yang harus dilakukan oleh Karang Taruna," beber Solihul Hadi pada 17/09/2018 setelah sampai kembali di Yogyakarta usai melakukan ekspedisi kemanusiaan di Lombok NTB. 

    Setelah sukses menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Lombok, Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono dalam hal ini mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi baik secara materil maupun imateril dalam menyalurkan bantuan ke Lombok pada misi kemanusiaan. Selain itu, GKR Condrokirono juga mengucapkan terimakasih yang tak terhingga pada Dinsos NTB, Pemerintah dan Karang Taruna setempat karena telah membantu menyalurkan bantuan pada korban gempa. (PEWARTAnews)

    Manusia dan Sebiji Nasi

    PEWARTAnews.com – Kondisi dalam keheningan, setiap mereka merasa pantas untuk mendefinisikan sesuatu. Mendefinisikan apapun yang mereka anggap perlu untuk didefinisikan. Mungkin karena alasan inilah setiap orang menjadikan keheningan sebagai kekasih yang harus dimanjakan setiap hari. Dikunjungi dan dicintai disetiap detik nafas yang berhembus. Keheningan membutuhkan kesunyian, dan kesunyian membutuhkan kesepian. Karena dengan jiwa yang kesepian pintu-pintu misteri dibalik keheningan bisa terbuka. Rumah dari hati dan pikiran yang menyimpan cakrawala. Hidup harus ditemukan dan dipelajari. Melewati lembah-lembah, melalui lorong-lorong, menaiki bukit, sakit dipunggungmu mesti engkau bawah serta, tak peduli apapun pencarianmu harus tetap berlanjut. mengunci diri dari keserakahan dan berdamai dengan nurani sendiri.

    Merelakan yang pergi, memikul segudang keluh dipundakmu, tapi hidup harus terus dijalankan. Karena tugas adalah tugas. Kewajiban adalah kewajiban. Menjaga manusia, alam dan semesta. Menghargai diri bermakna menghargai orang lain, menghargai manusia bermakna menghargai alam, dan menghargai Tuhan bermakna menghargai semesta. Cara itulah yang masih melakat pada mereka. Sibuk berdiskusi dengan semesta, hidup dan menghidupi beralas kedamaian dan ketenangan.

    Dibalik sebuah gunung hiduplah orang-orang yang sholeh. Sholeh terhadap manusia, alam dan semesta. Mereka hidup bersama dalam sebuah desa. Desa itu bernama Sambori. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Bima, terletak dikecamatan Lambitu. Desa yang dikutuk oleh kemajuan. Dibenci oleh perkembangan, dan dihardik oleh setiap generasi yang ada. Kebencian itu tentu beralasan. Sistem hidup mereka yang ketinggalan zaman. Kebudayaan mereka kolot, mereka masih peduli terhadap semesta. Kebiasaan mereka yang menganggap segala sesuatu bagian dari diri mereka. Alam dan semesta harus dihargai karena mereka sama seperti manusia. Cara hidup seperti itu yang dibenci oleh perkembangan dan kemajuan.

    Kondisi dalam kebiasaan mereka sehari-hari, ternyata mereka telah mampu memberika solusi ditengah keadaan Negara dan Bima hari ini. Cara pandang mereka terhadap nasi mampu menjadi standar hidup untuk menghargai sesuatu melebihi diri mereka sendiri, dan semestinya itu menjadi cara pandang kita bersama dalam melihat sesuatu. Walaupun sama bukan berarti seragam. Namun ada sistem khusus yang kita bangun untuk mewadahi ini. Menurut mereka, nasi tidak hanya suatu materi yang didalamnya termuat unsur biologis dan kimiawi. Nasi tidak hanya sebagai kata benda, nasi bukan saja fungsinya untuk mengenyangkan. Tetapi mereka melihat nasi sebagai sesuatu yang hidup, sebagai bagian dari manusia. Saudara dari manusia itu sendiri. Seseorang akan dianggap bernilai terletak pada cara mereka memperlakukan sebiji nasi. Seseorang akan bermartabat apabila dia menghormati sebiji nasi sama seperti menghormati dirinya sendiri. Semua yang masuk dan keluar dari dirimu adalah saudaramu sendiri, yang masuk akan sampai ke syurga dan yang keluar akan sampai ke neraka. Kalau semua saudaramu itu merasa tidak pernah engkau hargai, maka engkau akan bertemu kembali dan mempertanggungjawabkannya pada waktunya. Memperselisihkan hal-hal yang kamu anggap sederhana tapi dimata mereka itu adalah tanda kekafiran yang nyata.

    Kebiasaan orang-orang disana, setiap kali mereka makan harus sampai tak tersisa, sebab kalau disisakan, mereka menyakini bahwa nasi itu akan menuntut keadilan kepadamu kelak. Mereka akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kita lakukan. Kondisi dalam kebiasaannya yang lain, pada saat musim panen orang-orang disana sangat teliti dan sangat hati-hati untuk memilah dan memilih biji-biji padi. Jangan sampai ada yang berhamburan meskipun hanya sebiji. Karena membuang sebiji sama nilainya dengan membuang sekarung. Dan menelantarkan biji-biji itu sama dengan menyiksa diri sendiri. Keyakinan ini tentu bukan tanpa sebab, nasi adalah makanan pokok. Hidup kita sangat bergantung pada nasi. Nasi memberi kita segalanya, dan segala pekerjaanmu pasti berujung pada sebiji nasi. Gajimu untuk membeli nasi, ceramahmu untuk membeli nasi, pidatonya untuk membeli nasi, segala aktivitasmu berawal dari nasi dan berujung pada nasi. Nasi sangat penting mengingat fungsi dan sifatnya. Siapun pasti tau itu. Tetapi disisi lain ada soal yang muncul kemudian, seberapa jauh kita menghargai sesuatu yang memberikan kehidupan itu.?

    Selain yang penulis paparkan diatas ada juga kebiasaan orang Sambori untuk menghormati nasi. Pada saat memulai makan mereka menyediakan beberapa tikar. Tikar disiapkan tergantung banyak orang yang akan makan. Tikar tersebut tidak hanya sebagai alas duduk. Tetapi tikar disitu juga menjadi wadah untuk menahan nasi supaya tidak jatuh ke tanah. Bukan karena nasi itu kotor kalau menyentuh tanah, tapi karena rumahnya terbuat dari kayu dan dibawah rumah itu ada kolom, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk turun mengambil biji nasi yang jatuh tersebut. Sedangkan disisi lain meninggalkan nasi saat kita makan sama saja dengan menolak rezeki yang datang menghampiri kita. Keyakinan mereka sedalam itu.

    Kemudian dalam prosesi melayani tamu. Setelah para tamu makan tentu ada yang menyisahkan nasi ada juga yang memakannya sampai habis. Namun yang humanis disini terletak dari cara mereka menghargai sisa nasi dari orang yang berkunjung ke rumah mereka itu.

    Tanpa sepengetahuan tamu tersebut didapur mereka, nasi-nasi itu dicuci lalu dikeringkan. Setelah kering kemudian mereka makan kembali. Beberapa orang di Bima mungkin masih menjalankan kebiasaan tersebut. Namun kebiasaan mengeringkan nasi dilakukan dari sisa makanan sendiri atau keluarga, dan jarang yang mengeringkan nasi sisa makanan orang lain.

    Unik dan romantis memang kita lihat. Kalau para tamunya menyisahkan nasi dipiringnya, dengan rendah hati orang yang punya rumah itu merapikan piring-piring dan membawanya ke dapur. Didapur yang meracik kaharmonisan itu mereka bilang kepada nasi yang disisakan oleh para tamu, "Ma'afkan kami karena telah membuangmu, sambil menangis dan mencuci nasi tersebut supaya dikeringkan. Mudah-mudahan engkau tidak mempersoalkan kelalaikan ini dialam yang lain nanti”. Terkejut sekaligus saraf motorik penulis berhenti sejenak. Narasi macam apa yang hidup di negeri ini. Semua perjalanan saya terhenti dan pengembaraan selama ini percuma. Itu semua terbantah hanya pada proses memaknai manusia dengan sebiji nasi. Nasi saja dihargai apalagi manusia. Nasi saja dihormati apalagi manusia. Nasi juga makhluk, mereka butuh dicintai dan disayangi. Cintamu kepadanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata Tuhan, kesetiaamu padanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata manusia.

    Kalau di kota, jangankan nasi yang dibuang, manusia saja dibuang. Maka itulah alasan penulis masih mencintai desa.

    Tetapi kebiasaan itu mulai terkikis. Entah oleh zaman atau indvidunya. Apakah karena salah penulis? Salah pembaca? Salah pemudanya? Salah birokrasinya? Ulamanya? Tokoh masyarakatnya? Ayah dan ibunya? Kakek dan neneknya?.

    Manusia dan sebiji nasi.
    "Jagalanya segalanya supaya segalanya menjagamu" Ibu semesta.


    Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
    Pencari Jalan Sufi / Eks Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY)

    Sebuah Sajak Tentang Perjuangan

    Morgan Guevara.
    PEWARTAnews.com -- Wahai kawan-kawanku yang satu perjuangan, bukankah revolusi itu suatu jalan untuk membebaskan rakyat dari jeratan kemiskinan.

    Jika engkau mengatakan iya, maka libatkan dirimu dalam perjuangan rakyat.
    Tidak ada jalan lain yang mampu membebaskan buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota selain revolusi.

    Bukankah engkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, dan sanggat sulit. Sulit, bukan berarti mustahil bahwa suatu kemenangan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.

    Wahai kawanku untuk apa engkau berpendidikan tinggi, untuk apa? Bukankah tujuan pendidikan yang semestinya untuk membebaskan rakyat dari jeratan kapitalisme.

    Apakah engkau hanya ingin menitipkan nasibmu dalam dunia pendidikan, menyandarkan derajat yang tinggi dimata sosial.

    Apakah engkau hanya inggin menyombongkan dirimu didepan kawan-kawanmu yang tak mampu mengenyam pendidikan tinggi.

    Apakah engkau hanya ingin mengakukan dirimu di junior-juniormu.
    Apakah enggkau hanya inggin menyombongkan dirimu di depan buruh-buruh, didepan petani-petani, dan didepan perempuan-perempuan.

    Apakah engkau tidak sadar bahwa dirimu akan menjadi buruh, apakah engkau tidak sadar bahwa enggkau akan menjadi pengangguran.

    Jika pendidikan hari ini dibawah sistem kapitalisme hanya mampu menciptakan penganguran, generasi yang memiliki sifat apatis, oportunis, dan hedonisme maka selayaknya pendidikan bukan dikatakan mencerdaskan dan membebaskan rakyat, akan tetapi  pendidikan layaknya seperti barang yang diperdagangkan untuk menghisap kaum muda.

    Aku enggan melihat anak muda yang menyandarkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat tapi aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup melawan arus. Arus itulah yang mengelamkan nyali kita semua.

    Aku inggin duduk bersama kalian, menonton orang-orang pandai berdebat di televisi, atau melihat  aktivis yang dulu lantang melawan kini mendukung elit politik borjuasi busuk untuk menjadi penguasa yang akan menindas rakyat miskin, murah sekali harga seorang aktivis yang tidak memiliki harga diri telah  melacurkan keyakinan,  sangat ngeri,  aku menyaksikan orang-orang pandai berbohong dengan ilmu pengetahuan mereka.

    Keberanian seperti sikap keberimanan, jika engkau memperoleh keberanian maka kau memiliki harga diri, sikap bermartabat yang membuat kita tidak mudah untuk dibujuk.

    Perjuangan mengajarkanku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis, kemiskinan mendidikku untuk tidak mudah yakin dengan janji-janji para elit politik busuk.

    Akan aku habiskan waktuku untuk terlibat langsung dan berjuang bersama buruh, petani, perempuan dan kaum miskin kota melawan.

    Akan aku libatkan diri dalam berjuang untuk mengangkat martabat Papua menuntut haknya sebagai anak bangsa, karna aku tidak mau menjadi kolonial bagimu.

    Akan aku libatkan diri dalam perjuangan buruh yang di PHK, mahasiswa yang di droup out, petani yang di gusur dan perempuan yang  memperjuangkan hak hidupnya.

    Akan aku sapa setian anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh.

    Bukankah enggkau percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang panjang, sanggat sulit, sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil bahwa suatu memenagan revolusi disuatu negara hanya akan terjadi dinegara itu saja.

    Jika engkau inggin mengetahui bagaimana jalannya revolusi maka libatkan dirimu dalam perjuangan revolusi.

    Wahai kawanku, kita bukan melawan siput, tetapi buaya dan serigala yang akan menerkam jika kita lenggah.


    Yogyakarta, 16 Mei 2018
    Karya: Morgan Guevara
    Salahsatu Mahasiswa Yogyakarta

    Kapatu LDK FIMNY (Pantun Bahasa Bima)

    Suasana saat LDK FIMNY.
    Wara haba ma heba ro ma heboh
    Haba LDK FIMNY ndi ringa sanai-naimu bune oi manoa 
    Aka pantai ndi samadamu sampesa ntoi-ntoi 
    Pantai rindu alam, haba ndi ringa ulumu
    Pantai pelangi ndi cua meci kai lenga ro aina mori langa

    Ringa ulupu ngahi bune taroa ilo 
    Ngahi senior mai kaiba sanaa, sanaa ide ro ade ma gaga ndi eda 
    Ngahi senior ma rombo ntiri bune taroa ntara
    Ndi osumu nasihat ma ngini isi ro ma ncewi ese

    Aina bake, kamboto pu baca buku
    Aina mbou, kalampa pu sambea paida ra mori mbaimu
    Ringa pu ngahi ra ngoa, aina ncewi ngau
    Samena ngahi ra pehe, ndi kapahu mu

    Ngahi ro eli senior ndi nonto, maita ka jaya FIMNY ndi nenti


    Keterangan:
    FIMNY (Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta)
    LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan)


    Penulis: Bung Ismail
    Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pesan Bu Nyai kepada Santri Huffadz

    Suasana saat acara Kotagede Bersholawat.
    PEWARTAnews.com -- Salam ta’dzim saya kagem Al Mukarramah Ibu Ny. Hj. Siti Syamsiyyah DZ (Almarhumah – Pengasuh PP. An-Ni’mah Kanggotan) dan Al Mukarramah Ibu Ny. Hj. Barokah Asyhari Nawawi (Pengasuh PP. Nurul Ummah Putri Kotagede).

    Melalui foto ini, saya teringat wejangan/nasihat yang selalu diberikan Bu Nyai Syamsiyyah (Pengasuh PP. An-Ni’mah, Kanggotan) kepada santri putri, khususnya yang sedang menghafal al qur’an dan atau telah menyelesaikan hafalannya. Dalam wejangannya tersebut, beliau selalu berpesan: “Agar senantiasa menikmati proses. Proses itu harus dilalui dan harus dijalani dengan baik dan sabar. Nikmati-lah setapak demi setapak, langkah demi langkah untuk sebuah jalan. Tak usah buru-buru dalam hal apapun, termasuk dalam hal menikah.

    Karena pada saat itu mayoritas santri masih single/belum menikah, bu Nyai selalu memberikan nasihat dan pesan agar senantiasa memanfaatkan waktu dengan baik ketika di pondok. Artinya, mumpung masih muda, matangkan dulu Qur’an-nya. Karena ketika sudah menikah, pasti akan banyak tanggungan dan itu jelas menyita waktu untuk nderes (baca Al-Qur’an). Bagi seorang wanita, ketika sudah mempunyai anak dan suami tentu orientasinya (cara pandang dan aktivitas) jauh berbeda ketika masih single. Belum lagi ketika melayani mertua (kalau tinggal serumah). Pasti hal itu sangat menyita waktu. Maka sebelum bertemu dengan jodoh kalian (para santri), lancarkan dan lanyahkan dulu hafalan kalian. Seorang yang menghafal Qur’an dimanapun dan kapapun berada, akan dibutuhkan oleh masyarakat. Entah sebagai guru ngaji ataupun yang lainnya. Kelak ketika kalian hidup dimasyarakat, masing-masing kalian akan “membawa nama baik” suami kalian. Kalau kalian disimak, dan ternyata lancar pasti yang pertama kali ditanya itu istri siapa ya?. Dengan demikian, saat-saat menjadi santri di Pondok-lah, seharusnya kalian jadikan ajang belajar dengan mempersiapkan segala hal guna bekal untuk terjun ke masyarakat serta perbaikan kualitas diri dimasa depan.

    Lika-liku rumah tangga tidak semudah yang dipikirkan dan dibayangkan oleh kebanyakan orang. Kalian tak tau, bagaimana suami kalian besok. Apakah peka dan pengertian, atau harus dikode terlebih dahulu. Suatu kenikmatan dan kesyukuran yang luar biasa apabila kalian mendapatkan pendamping hidup yang bersedia meluangkan waktunya (meski hanya 20-30 menit/harinya) untuk nyimak kalian. Yang seperti itulah, sik bisa ngrekso (menjaga) hafalan kalian. Jika tidak, lantas bagaimana? Kalian harus mencuri-curi waktu untuk nderes. Ya kalau suami kalian dulu pernah mondok, pasti paham dan mau mengerti. Tapi jika belum pernah, kalian yang harus memberikan pengertian kepadanya. Itupun kalau Qur’an kalian sudah lancar, jika belum? Maka sekali lagi, manfaatkan waktu muda dengan baik. Jangan buru-buru menikah. Semua itu harus ada ilmu, hikmah dan kebijaksanaan-nya”.

    Oleh dasar itulah, saya sering melihat bu Nyai Syamsiyyah DZ sedih ketika melihat santrinya yang dirasa belum tuntas tapi sudah mau melangkah ke jenjang yang penuh amanah dan tanggungjawab (read : pernikahan). Nikah itu berat oey, saya aja belum kuat. Hehehe. Tapi kadang terbesit rasa ingin (pengen), ah itu hanya labil saja. Wkwkwk.

    Untuk para mbak-mbak penghafal Qur’an, sebenarnya saya punya tips sederhana untuk mengetes “calon pasangan” anda apakah benar-benar bisa meluangkan waktu-nya atau tidak. Cobalah, sebelum menerima lamarannya, suruhlah dia nyimak jenengan 1 jus/hari nya. Kalau dalam waktu 20 menit kok si doi sudah ngantuk, eliminasi-lah. Cari yang lain !. Simple kan. Hehehe

    Foto ini penulis ambil tepat pada tanggal 17 Agustus 2018 saat menghadiri prosesi wisuda bil ghaib 30 Juz teman saya di Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang nyantri di Nurul Ummah Putri, Kotagede.

    Allahummarhamnaa bil Qur’an. Wahsyurnaa ma’a ahlil qur’an. Wahdinaa bi hidayatil Qur’an. mugi kecipratan barokahipun Al-Qur'an. Aamiin.


    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Pemuda Madura dan Orang-Orang yang Mati Mulia

    PEWARTAnews.com -- Socrates, Suhrawardi, Al-hallaj, Syekh Sti Jennar dan Pemuda dari Madura pada suatu waktu ngopi bareng membincang tentang nasib mereka yang sama-sama mati karena dihukum mati.

    “Tes” kata pilosop dari Madura memulai perbincangan. “kamu cerita selaku pilosop paling tua”

    “sebenarnya aku gak mau banyak bicara, kalian tahu kan ceritaku telah diketahui banyak orang meskipun aku tak pernah menulis apapun. Nanti kalau aku tetap cerita, dikiranya aku sombong”. Ia berhenti sejenak, menghemat nafas panjang dan melanjutkan : “tapi sudahlah, jika kalian memaksa..”

    “Tuduhan yang ditujukan kepadaku di pengadilan ada tiga hal. Pertama karena ‘meracuni’ kaum muda, kedua karena tidak mempercayai dewa-dewa dan terakhir membuat paradigma baru.” Sambil bersedih, Socrates melanjutkan ceritanya. “Bagaimana mungkin aku dituduh tidak percaya pada dewa-dewa, sementara apa yang kulakukan selama ini berasal dari bisikan yang kuyakini itu berasal dari Tuhan. Apa yang kulakukan adalah perintah Tuhan, dan aku yakin, tak ada pengabdian yang lebih baik untuk Athena kecuali pengabdianku pada Tuhan.”

    “Orang mungkin bertanya-tanya kenapa aku diam-diam sibuk mengurusi orang lain. Ada tanda-tanda Ilahiah yang datang dalam bentuk suara-suara. Dan Miletus, salah satu jaksa penuntut di sidang peradilanku mencemooh hal itu. Tapi sudahlah. Akhirnya diantara 500 jaksa yang hadir di persidanganku, 280 diantaranya menyetujui kematianku, sementara 220 sisanya menentangnya. Itulah lemahnya demokrasi kawan, tidak selamanya yang mayoritas merepresentasikan kebenaran. Lalu aku memilih untuk menjalani hukuman itu, dengan sadar, karena aku adalah bagian dari polis Athena. Warga negara yg baik harus taat kepada aturan negaranya. Meskipun saat itu aku bisa saja lari, tapi tetap saja aku membiarkan racun merenggut nyawaku, dan membiarkan kebenaran mengambil jalannya sendiri.”

    Mendengar cerita Socrates semua terharu. “Sekarang giliranmu Suh” kata Socrates pada Suhrawardi. Dengan agak kikuk tapi tampak sangat bijak pilosop muslim yang mati muda itu memulai bicaranya.

    “Waktu itu, dunia muslim begini dan begitu. Aku hadir dengan pandanganku yang oleh penguasa dan ulama pendukungnya dianggap mengancam posisi mereka. Padahal aku hanya menganjurkan sebagaimana yang diajarkan Socrates. Kritis, berpikir terbuka, dan berani berkata benar. Tapi ya begitulah penguasa waktu itu. Akhirnya karena menolak tunduk, aku harus menerima resikonya. Memilih mati”
    Selanjutnya tibalah saatnya AL-Hallaj bercerita dan Syehk Siti Jennar. Tapi tiba-tiba Socrates angkat bicara “Laj, kamu nanti saja, Kanjeng Sunan pun belakangan nggih. Biar pilosop muda dari Madura dulu yang bercerita”. “Ayo Sug, giliranmu” kata Socrates

    Sugi, yang nama lengkapnya Emile Sugibroto pun berkata dengan dialek Maduranya “O, gilirran sayya ya, baiklah” Sugi memulai ceritanya.

    “Taappi, sebenarnya sayya malu mau bercerit-ta, karena kisah sayya berbedda”

    “Bed-da gimanna” tanya Al Hallaj Penasaran.

    “Anu, sayya dibunuh karna” kata Sugi membuat yang dengar penasaran

    “Karena apa, cepat ceritakan. Aku penasaran” kata Suhrawardi.

    “Sabar, biarkan Sugi bicara” kata Syekh Siti Jennar dengan bijak.

    “Sayyya, di bunuh karena menolak…” Sugi pun diam tak melanjutkan

    “Menolak apa Su” bentak Socrates tampak tak sabar.

    “Menolak dijodohkan” jawab Sugi.

    “Wkwkw” Socrates ketawa.

    “Hahahahaha” Suhrawardi tertawa lepas.

    “Huhuhuu” sambung AL-Hallaj

    “Subhanallah. Nasibmu lucu Su” seru Syekh Siti Jennar.

    Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar pun tak Jadi dapat giliran cerita, karena warung kopi tempat mereka nongkrong sudah mau tutup.


    Penulis: Rusdiie
    Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
      

    Manah Nyegoro

    PEWARTAnews.com -- Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun. Ini hanyalah untaian kata penulis saat masih Mahasiswi Semester 3 dengan segala kelemahan dan kekurangannya, untuk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man qoolaa dengan berlandaskan pada QS. An-Nisaa’: 1, Al-A’raf : 189, Faathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya ilmu, iman dan taqwa yang membedakannya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.

    Hari ini, ada pelajaran berharga yang penulis dapatkan dari pengalaman hidup salah seorang sahabat seperjuangan yang semangatnya luar biasa. Lelah, letih dan penat tak pernah dirasakannya, yang ada dalam hidupnya ialah belajar, bekerja dan berdoa. Setiap hari dari pukul 15.00 - 23.00 ia bekerja di salah satu tempat makan untuk menyambung hidup dan untuk membiayai kuliah. Bahkan tak jarang, tidur hanya 2-3 jam. Berangkat kuliah pukul 7 smpe dg 14.15 setelah itu lanjut kerja. Kerja dan kerja.

    Topik yang menjadi akar pembahasan tulisan ini adalah “nitip TA (titip absen -- hanya satu kali) itupun karena menggantikan partner kerjanya yang berhalangan datang karena ada urusan yang sangat penting yang harus diselesaikan. Tapi sayangnya ketahuan oleh seorang pendidik, dan akhirnya namanya di coret dari daftar absen. Menyedihkan bukan?

    Karena ia merasa bersalah, kemudian minta maaf dan menghadap langsung pada pendidik tersebut. Lalu pendidik tersebut tanya “kenapa”? Kemudian dijelaskanlah semua itu, tapi sayangnya pendidik tersebut menyahut “saya tidak menerima alasan apapun”. Kita bisa membayangkan, bagaimana rasanya. Sakit kan? Kalau hanya ingin bilang “tidak menerima alasan apapun” mengapa tanya “Sebab yang menyebabkan ia TA?”

    Hidup itu tak selalu mulus, bagaikan roda yang berputar. Kadang dibawah kadang pula diatas. Hidup itu penuh kejutan, penuh misteri, penuh lika-liku, perlu adanya perjuangan, semangat dan kerja keras. Perlu adanya rintikan air mata, keluh, kesat, penat, lelah. Hidup itu sekali, maka hiduplah yang berarti.

    Apakah selamanya akan susah? Ingat, Allah bersama dengan orang-orang yang senantiasa berbuat baik lagi bersabar. Hidup pasti berputar, sahabat. Bersabarlah. Masih ingat kisah perjalanan hidup motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikkiy? Beliau adalah warga negara Kanada yang berimigrasi dari Mesir. Elfiky muda adalah seorang atlet tenis meja dan pernah tampil dalam pertandingan internasional di Jerman Barat pada tahun 1969. Setelah lulus dari sekolah perhotelan, beliau migrasi ke Kanada dan bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring. Berbagai pekerjaan pun dilakukannya untuk bisa bertahan hidup di Kanada termasuk juga menjadi penjaga malam. Sampai akhirnya dia berhasil menapaki karir sebagai Genaral Manager di hotel berbintang 5. Beliau menekankan pentingnya seseorang untuk memiliki cita-cita, dengan memilikinya, pasti seseorang itu akan punya terget, dengan adanya target, ia akan bekerja keras untuk meraihnya. “Orang yang sukses mengetahui bahwa cita-cita adalah fondasi kemajuan. Tanpa adanya cita-cita, segala sesuatu akan terhenti. Tanpa tindakan dan kegigihan, maka kemajuan tidak akan pernah terjadi. Karena itu, orang yang sukses selalu berusaha keras dalam meraih cita-cita dan menghadapi tantangan hidup.

    Ketika berbicara tentang takdir manusia, tepatnya saat menafsirkan ayat dalam Al-Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”,(Qs. Ar-Ro'du: 11) Dr. Ibrahim Elfiky mengatakan,“Tuhan sudah sangat jelas memberikan rambu-rambu betapa nasib seseorang tergantung dari usahanya. Untuk mengubah nasib harus dimulai dengan mengubah kebiasaan. Untuk bisa mengubah kebiasaan dimulai dengan mengubah pola pikir. Mind Set (sudut pandang, paradigma ataupun pola pikir) dapat mempengaruhi segalanya. Penulis teringat ngendikanipun bunda Hibana Yusuf, orang yang berpikiran positif ketika memandang sesuatu itu sulit, ia mengatakan pasti dapat diselesaikan. Tetapi orang yang berpikiran negatif memandang segala sesuatu itu mudah namun sulit untuk diselesaikan. Kuncinya adalah optimis. Allah SWT tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya, dalam menentukan suatu kehendak/ketetapan yang entah baik maupun buruk, Allah selalu memperhatikan dan mempertimbangkan usaha manusia itu sendiri.

    Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasannya Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ)  adalah 3 aspek yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, ibarat sebuah sistem. Sistem tersebut tak bisa berjalan dengan baik manakala tak bersinergi dengan sistem-sistem yang lain. Jika berkaca pada IQ, maximal hanya berperan 20%. Lalu selebihnya apa? Yakni EQ dan SQ.

    Oleh karena itu, cerdas saja tak cukup, tapi juga harus diimbangi dengan hati (kalbu) yang baik pula, yang biasa disebut santri dengan “Qolbun Salim”.  EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengerti, memahami dan memposisikan dirinya sebagai orang lain (yang mengalami sesuatu hal). Satu contoh, penulis ambilkan dari kasus tadi adalah “sikap pendidik yang tak mau menerima alasan apapun padahal sebelumnya tanya sebab yang menyebabkan akibat kenapa ia TA?”

    Menurut penulis, akan lebih bijaknya jika seorang pendidik, tidak ngendiko “tidak menerima alasan”. Ya meski tak bisa dipungkiri, bahwa teman penulis memang salah. Tapi akan lebih baik jika pendidik tersebut memahami, memberikan arahan dan nasihat yang baik serta memberikan motivasi kepada teman penulis tadi. Jarang loh yaa ada anak didik yang mau bekerja keras, dan mandiri. Seharusnya “bangga” punya anak didik yang seperti itu, siapa tau kelak ia jadi orang besar dan berhasil. Kan nasib orang tidak ada yang tau.

    Jika berkaca pada Psikologi pendidikan mengenai teori belajar behavioristik yang menekankan adanya reward dan punishment, memang hal itu perlu dipraktikkan agar mahasiswa taat pada aturan. Sehingga, sikap disiplin dapat berjalan dengan baik. Tapi akan lebih bijaknya manakala pendidik menghadapi sesuatu hal tersebut (kasus tadi) dengan memposisikan diri dengan berbagai kacamata dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

    Bukankah in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa'tum falahaa. Orang berbuat baik tidak akan rugi. Masih ingat dengan kisah 2 mahasiswa dengan Paderewski? Kisah Paderewski merupakan kisah nyata yang terjadi pada tahun 1892 di Stanford University. Pesan moral yang tersirat dalam kisah tersebut masih relevan saat ini. Dua mahasiswa tersebut mengumpulkan uang untuk membiayai biaya pendidikan mereka dengan menggelar konser piano Paderewski, tapi tiket tak terjual dengan habis dan akhirnya 2 mahasiswa tersebut menemui Paderewski dan menceritakan semuanya. Dengan lantang Paderewski mengatakan “siap datang di konser yang mereka adakan” tanpa mereka bayar sepeserpun (gratis), singkat cerita 5 tahun berlalu 2 orang mahasiswa tadi menjadi orang sukses (Presiden) di AS sedangkan Paderewski saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia. Karena saat itu Polandia sedang mengalami masa paceklik / masa sulit, akhirnya Paderewski meminta bantuan pada Presiden AS yang mana beliau tidak tau bahwa Presiden tersebut adalah “mahasiswa” yang ia bantu dulu. Ya mungkin Paderewski telah lupa, tapi mahasiswa tadi tak akan pernah lupa atas kebaikan dan jasa Paderewski.

    Kebaikan sekecil apapun yang orang lain beri, penulis yakin tak akan pernah dilupakan oleh orang tersebut meskipun yang memberi pertolongan telah melupakannya. Seseorang dikatakan sukses dan berhasil, manakala ia mampu memahami keadaan orang lain dan dapat bermanfaat bagi makhluk-Nya. Fastabiqul Khoirot!

    “Khoirunnaas anfa’uhum linnaas”. Semoga selalu dalam naungan dan ridho-Nya, Tujuan hidup ialah ridho Ilahi Robbi.


    Yogyakarta, 14 Desember 2016
    Penulis: Siti Mukaromah
    Mahasiswi di salahsatu kampus Negeri di Yogyakarta.

    Eks Ketua PWNU DIY: Biasakan Respect Each Other dan Mudah Memaafkan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mengatakan bahwasannya manusia pada hakekatnya tidak sempurna, karena setiap insan bisa lupa bisa salah, innal insaana mahalul khatha’ wan nis-yan. “Tapi mengapa kita sering menyoal titik lemah orang lain. Padahal belum tentu kita lebih baik dari mereka, yang kita olok-olok, kita sindir, kita underestimate? Inilah jebakan yang berat. Kita seharusnya selalu ingat, jangan-jangan yang kita caci maki dan remehkan itu lebih baik dari kita sendiri,” beber Prof. Rochmat Wahab, 10/09/2018 melalui akun facebooknya Rochmat Wahab.

    Rochmat membeberkan bahwasannya Allah SWT sang pencipta alam semesta ini menciptakan manusia adalah makhlum yang sempurna, dibandingkan makhluk-makhluk lain diluar manusia yang juga diciptakan Allah SWT. “Kita juga perlu selalu ingat, bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbaik. ‘Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim’. Artinya bahwa setiap insan memiliki potensi kebaikan. Karena itu sudah seharusnya kita lebih utamakan melatih diri dan terus belajar berprasangka positif, husnudz dhan, atau positive thinking kepada orang lain,” cetusnya.

    Prof. Rochmat Wahab lebih lanjut mengatakan, kita sebagai insan yang bertuhan, sangat perlu membiasakan diri meminta maaf ketika melakukan suatu kekhilafan, serta dalam sosial dan bermasyarakat perlu saling menghormati antara satu sama lainnya. “Biasakan respect each other dan mudah memaafkan dan minta maaf atas kehilafan,” ucap sang profesor yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI) .

    Lebih jauh Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini berucap, jika setiap insan bisa memulai dengan hati bersih, sikap positif dan perilaku yang ramah dan santun, insya Allah kedamaian hidup dalam keluarga dan di tengah kehidupan bermasyarakat dapat kita rasakan bersama-sama, termasuk dalam berbangsa dan bernegara.

    “Untuk meraih kehidupan yang damai, kita sangat butuh perbaikan, untuk perbaikan butuh perubahan, untuk perubahan harus ada perbedaan. Karena itu adanya perbedaan jangan kita jadikan masalah, melainkan harus kita manaj dengan hati bersih dan pikiran positif, semoga mendatangkan rahmat,” harap Rochmat. (PEWARTAnews)

    Prof. Rochmat Wahab: Ulama Bertanggung Jawab Mengawal Implementasi Pancasila dan UUD 1945

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. ( berdiri dan berpeci hitam) saat bersilaturrahim dengan alim ulama di Sumatera Utara, 07/09/2018.
    Medan, PEWARTAnews.com – Ketua Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. menghadiri acara Silaturrahmi dan Tablig Akbar Alim Ulama Sumatera Utara Jaringan Umat Bersatu dengan mengangkat tema “Ulama Siap Berperan dalam Menjaga Keutuhan dan Kedaulatan NKRI serta Melanjutkan Pembangunan Nasional”, pada hari Jum’at, 7 September 2018 di Santika Dyandra Hotel, Medan Sumatera Utara.

    Prof. Rochmat mengatakan bahwasannya masyarakat dan bangsa Indonesia  patut mengucapkan syukur pada para fanding father sebagai pendiri bangsa (didalamnya termasuk ulama) yang telah gigih dan menyerahkan jiwa dan raganya untuk merebut kemerdekaan Indonesia. “Kita patut bersyukur bahwa Ulama dan para Nasionalis bekerja sama secara sinergis untuk menyiapkan dan memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan perjuangan dan pengorbanan yang total jiwa dan raga melawan penjajah,” bebernya.

    Negara Indonesia, kata Rochmat, kemerdekaannya sudah dalam genggaman kita, dengan itu ulama juga memiliki tanggungjawab yang besar menjaga keutuhan bangsa dan negara ini. “Selanjutnya Ulama bertanggung jawab mengawal implementasi Pancasila dan UUD 1945, menjaga dan melundungi Keutuhan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya.

    Lebih lanjut, Rochmat mengatakan, demikian juga untuk mengisi kemerdekaan, para ulama, sesuai dengan bidang keahliannya baik secara langsung maupun tidak langsung perlu bermitra dan sharing dengan umara (pemimpin), sehingga pembangunan nasional dapat berhasil yang mampu meningkatkan martabat dan harkat bangsa Indonesia.

    “Bangsa Indonesia yang memiliki cita-cita membangun manusia seutuhnya, sangat mengharapkan peran ulama yang optimal. Hanya saja belakangan ini belum semua ulama mampu tunjukkan kehadirannya yang bisa memenuhi hajat ummat,” keluhnya.

    “Ditambah lagi dengan kondisi belakangan ini, jika tidak dikelola dengan baik ulama akan memasuki pusaran masalah yang kehadirannya tidak menjadi solusi masalah tapi menjadi sumber masalah. Untuk menjaga martabat dan marwah, ulama harus tetap menjadi moral force, rujukan semua golongan dan ummat. Hal ini tidak mudah, sehingga sangat diperlukan koordinasi dan konsolidasi secara periodik,” cetus Rochmat Wahab yang sempat menjabat sebagai Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 ini. (PEWARTAnews)

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website