Headlines News :
Home » » Ayah (Kisah Nyanyian Sunyi Seorang Guru)

Ayah (Kisah Nyanyian Sunyi Seorang Guru)

Written By Pewarta News on Selasa, 04 September 2018 | 21.35

1974-1977

Menjadi guru merupakan impian semua anak muda pada saat itu. Maka pada saat itu lahirlah sekolah pendidikan guru (SPG) di sebuah kota kecil yang bernama Bima. Semua anak muda yang haus akan pengalaman serta ilmu pengetahuan agar dapat menjadikannya orang yang bermartabat bagi dirinya, juga keluarga. Tak semua orang mempunyai kesempatan itu, hanya sebagian kecil anak muda yang bisa masuk ke SPG. Iya, sekolah pendidikan guru atau yang biasa disebut SPG, banyak orang menganggap ketika bisa masuk sekolah pendidikan guru merupakan hal yang hebat dan menakjubkan. Meskipun menjadi guru bukan pilihan profesi yang menjadikan anak muda itu menjadi orang yang kaya raya. Guru merupakan profesi yang mulia dan di banggakan setiap orang tua pada saat itu, menyekolahkan anak adalah sebuah pilihan orang tua agar jerih payahnya dan keringatnya terbayarkan melihat anaknya dapat menjadi seorang abdi negara atau guru. Anak muda itu bernama Arifin H. Muhammad seorang joki cilik penunggang kuda pacuan yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Ia adalah seorang anak dari dari keluarga Bima-Wera yang tinggal di sebuah Desa Bre, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Arifin merupakan anak muda yang cukup beruntung di kampungnya di antara teman-temannya sesama joki cilik atau penunggang kuda pacuan karena teman-temannya hampir tidak ada yang sekolah, sibuk dengan hobi ketangkasan dan kepuasan ketika memenangkan kejuaraan kuda pacuan di setiap arena. Membawa bendera kemenangan adalah kebanggaan tertinggi bagi para joki cilik walaupun harus beratarung dengan bahaya. Ia mempunyai orang tua yang berkecukupan dalam ekonomi karena semua profesi di lakoni mulai dari pekerjaan petani dan pedagang. Orang tuanya merupakan seorang pemilik kuda di kawasan Wera Bima. Konon, kakek dan buyutnya seorang perawat kuda kesultanan di tanah wera.

Arifin merupakan anak kedua laki-laki dari dua bersaudara, kakak pertama laki-lakinya telah mendahuluinya sejak kecil karena di gigit ular di sawah. Jadilah Arifin menjadi anak tunggal satu-satunya menjadi anak harapan dan kebanggaan kedua orang tuanya. Arifin merupakan anak yang pemberani dan tangkas dalam memacu kudanya karena sejak sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP) orang tuanya selalu mengikutkan arifin kecil di setiap kejuaran pacuan kuda. Aktifitas sekolahnya di masa sekecilnya sangat kurang dikarenakan dengan kegiatan pacuan kuda.

Di sekolah ia sangat menyukai pelajaran menggambar dan menulis indah karena ia cukup menguasai bidang itu. Ia seorang anak muda yang memiliki bakat dan jiwa seni. Sehingga guru-guru di sekolah sangat menyukai bakat dan minatnya salah satu kelebihannya juga dalam bidang seni musik traditional "gambo" sebuah alat musik traditional masyarakat Bima yang di petik. Ia bercita-cita menjadi guru karena ia begitu ingin mengajar dengan hati nurani dan demi membahagiakan kedua orang tua yang telah menggadang-gadang dirinya sebagai calon guru sekaligus tidak ingin profesi joki cilik sebagai tumpuan hidupnya.

Sebuah kebanggaan bagi anak kampung bisa masuk di SPG, apalagi SPG tersebut statusnya sekolah negeri milik pemerintah. Raba Kota Bima sebagai tempat belajar calon-calon guru karena berisi ratusan calon guru dari setiap desa atau kampung yang ada di Bima, dimana Raba merupakan pusat sekolah pendidikan guru baik negeri maupun swasta. Untuk melanjutkan studi SPG, Arifin bersiap-siap dengan segala keperluan mulai dari beras, baju dan perlengkapan sekolahnya di antar oleh orang tuanya menggunakan sepeda ontel menuju Kota Raba Bima. Ia merantau hanya untuk menggapai cita-cita, dan membahagiakan orang tua. Tak terasa ia menjadi orang yang lebih dewasa untuk menyongsong masa depan. Pada usia muda seperti itu, ia harus menjadi lelaki yang lebih dewasa dalam bertindak, termasuk dalam bertingkah laku. Karena ia menyandang predikat siswa sebagai calon guru di SPG. Iya, Guru! profesi mulia yang mencetak generasi menjadi manusia yang bermanfaat untuk sebuah peradaban sekaligus sebagai generasi penggerak masa depan.

Tak menunggu lama, Arifin bergegas berangkat ke Kota Raba Bima bersama ayah yang menemaninya dengan mengenderai sepeda ontel tua. Setelah siap berangkat Arifin dan ayah meninggkalkan rumah. Sebelum meninggalkan rumah, terdengar suara ibu sedang menangis karena kepergian Arifin. Ia dan ibu sangatllah dekat karena anak satu-satunya. Bahkan ia lebih dekat dengan sang ibu daripada sang ayah. Karena ibu sangat perhatian dengannya, ibu selalu memberikan nasehat secara halus dan mendamaikan hati. Karena hanya ibu, yang bisa tempat mengungkapkan rasanya. Pada saat di jatuh dan terluka di setiap kejuaraan pacuan kuda hanya ibu yang selalu merawat luka-lukanya dan memberikan kasih sayang yang tulus. Sang ibu telah memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi dirinya sehingga ia lebih nyaman bersama ibu daripada bersama ayahnya.

Tak lama kemudian, ia berpamitan dengan ibu untuk menuntut ilmu di Raba Bima. Arifin pergi bersama kesedihan dan kebahagian menyelimuti kepergiannya ke kota. Sebuah perjalanan panjang akan di lewati, lembah matahari telah siap menunggu pada masa depan. Entah ia akan berhasil atau tidak dalam melanjutkan studinya di SPG.

Sang ibu di kampung halamannya selalu mendoakan yang terbaik bagi dirinya dan profesi guru yang di tempuh. Tangisan ibu menjadi penyemangat dalam hidupnya. Sekarang Arifin menjadi anak yang lebih bebas untuk memilih jalan dan masa depannya sendiri.

*****

1970-1977

Dia adalah Arifin. Seorang anak kampung yang ingin menuntut ilmu demi keluarganya dan harapan pribadinya untuk mau berubah karena profesi joki cilik kuda pacuan tidak akan menjamin kehidupan masa depannya. Banyak teman-teman joki cilik yang tidak bersekolah yang pada akhirnya profesi joki cilik ada masanya. Keinginan Arifin sebelum masuk SPG, dia ingin kedua orang tuanya bangga memiliki putra seorang guru. Cukup kedua orang tuanya yang menjadi seorang petani dan pedagang yang acap kali penghasilannya tidak menentu. Arifin memang anak kampung yang agak kuper, dan tidak modis seperti anak-anak dari kota pada umumnya. Bajunya lusuh dan kumuh, sepatu yang di pakai sangat jadul, dia anak muda yang tidak gaul seperti anak-anak lain. Dia hanya tahu tentang cemeti kudanya, arena pacuan kuda dan kuda kesayangannya. Namun keinginannya untuk belajar, tidak kalah dengan mereka. Walaupun dia tidak pintar, tapi akan selalu bersemangat dalam belajar dan bekerja keras meraih mimpi. Arifin bercita-cita ingin menjadi seorang guru yang memilih jalannya untuk mendidik anak bangsa dengan caranya sendiri. Baginya menjadi seorang guru merupakan tanggung jawab moral kepada masyarakat. Karena guru bukan hanya sebagai kebanggaan atau simbol semata, menjadi guru adalah panggilan jiwa mendidik anak menjadi generasi penerus bangsa. Itulah cita-cita dan mimpi seorang anak muda yang bernama Arifin.

Siang itu, entah mengapa cuaca sangat panas, terik matahari membuat kepala terasa mendidih. Keadaan siang menimbulkan rasa lelah ayahnya mengayuh sepeda ontel bersama anaknya ke Kota Raba Bima. Arifin bersama ayah terus memacu sepeda ontelnya agar sampai ke garasi tempat tinggal calon SPG. Mereka tinggal berkumpul dengan teman dan sahabatnya dalam sebuah rumah yang sebenarnya lebih cenderung di sebut ruang garasi mobil yang sedemikian rupa di buat batasannya dengan sederhana. Arifin sudah tak sabar sampai ke kota sesekali ayahnya menyeka keringat di dahinya karena jarang kampung dusun Bre tempat tinggal Arifin sangat jauh dari pusat SPG. Perjalanan menuju Kota Raba Bima paling tidak tiga jam perjalanan dari dusun bre dengan menggunakan sepeda ontel tua milik ayahnya. Selama tiga jam itu, waktu dihabiskan dengan ngobrol bersama ayah. Sambil ngobrol, sesekali sang ayah memberikan petuah-petuah hidup pada sang anak bagaimana hidup di Rantauan "Maja Labu Dahu Di Ruma, Keluarga, Labo Dou Di Kampo Mporo" (Malu dan takut pada Allah SWT, Keluarga dan Orang-Orang di Kampung Halaman). Kalimat petuah hidup yang sering menjadi panutan bagi para perantau orang-orang bima ketika dia merantau ke sebuah tempat yang baru.

“Yah, kapan ya kita sampai Kota Raba Bima? Yah, bila anakmu nanti jadi PNS (pegawai negeri sipil) guru nanti, Ayah ingin meminta apa dariku?” tanya Arifin sambil bercanda.

Ayah menjawab, “Udah nggak usah kebanyakan omong, diam saja. Tingkahmu kayak orang besar saja. Lihat ayah capek mengayuh sepeda ontel. Sudah diam!”

Arifin sudah menduga ayah akan cuek dan keras dengan pertanyaanku. Ia sangat menyebalkan apalagi sedang kecapean ataupun banyak pikiran. Tipikal karakter orang Wera yang keras. Ia adalah ayah seorang yang cukup temperamental karena didik oleh lingkungan yang keras. Terkadang suka bercanda, tetapi bisa berubah menjadi sosok yang keras. Arifin cukup dekat dengan Ayahnya. Sifat yang Arifin sukai darinya adalah sifat pantang menyerah yang selalu ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia punya keinginan yang kuat untuk selalu mengejar keinginannya sampai dapat. Seorang pekerja keras dan tak kenal lelah, itulah pelajaran yang dipetik darinya. Hal itu menurun ke Arifin muda dalam prinsip hidupnya. Cintanya kepada ibu memang lebih tinggi, tetapi seorang ayah takkan pernah dilupakan, karena kehadiran ayah sangat penting bagi keluarga Arifin. Ia telah membimbing sejak kecil sampai tumbuh dewasa. Ia juga mengajarkan tentang arti penting perjuangan hidup, mengajarkan bagaimana orang harus bekerja keras dan pantang menyerah dalam menggapai cita-cita. Sosok ibu dan ayah membuat Arifin menjadi lebih kuat serta selalu bersemangat. Walaupun terkadang mereka juga yang mematahkan harapan serta keinginan. Iya, begitulah hidup. Selalu ada konflik dan pertentangan, kalau tidak ada konflik betapa sepinya hidup ini.

Tak terasa sepeda ontel yang dikayuh ayah sebentar lagi akan menginjakkan kaki di Kota Raba Bima. Sungguh berdebar-debar hati, tak sabar untuk melihat SPG dan teman-teman baru disana.

Akhirnya ia tiba di Kota Raba Bima. Tak lama kemudian ia langsung bergegas ke garasi tempat tinggal anak-anak SPG. Sudah saatnya ayah juga meninggalkan Arifin untuk balik ke kampung halaman, “Nak, jadilah anak yang membanggakan orang tuamu, tidak perlu kamu pikirkan biaya hidup dan sekolahmu, tangan dan kaki ayahmu ini masih sanggup membiayaimu untuk hidup”. Sedih rasanya melihat kepergian ayah yang sejak kecil selalu menemaniku di arena pacuan kuda. Sesosok ayah yang keras tetapi berhati malaikat. Untuk selamanya kuda kesayangan Arifin tidak lagi di tunggangi tuannya, karena tuannya harus menemukan masa depannya.

Tak begitu lama, Arifin masuk di SPG Negeri. Sekolah yang begitu mewah untuk ukuran kota. Ada juga SPG Swasta. Ia merasakan iklim sekolah guru yang sangat kuat sekali. Betul-betul sekolah ini mempersiapkan calon guru yang berkualitas dan siap pakai. Dalam hati ia berkata, “Ternyata aku tak salah melanjutkan sekolah di SPG. Sungguh menyenangkan bisa melihat iklim sekolah yang menyenangkan dan disiplin. Ratusan calon guru meramaikan Kota Raba Bima ini, sebuah pengalaman yang tak ia sia-siakan. Inilah kesempatan untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya disini.

****

1974-1977

SPG dengan pagar tembok yang dihiasi oleh bangunan bekas kantor kejaksaan bangunan klasik zaman penjajahan belanda telah membuat ia takjub. Dia merasa nyaman berada di sekolah ini, hiruk-pikuk siswa-siswi calon guru sedang melakukan pendaftaran dengan jumlah ratusan itu membuat dia harus mengantre berjam-jam hanya untuk mengisi formulir pendaftaran. Ratusan orang dari berbagai desa dan kecamatan bima memadati ruang sekolah guna melakukan pendaftaran seleksi masuk sekolah pendidikan guru. Dalam bayangan dia, sekolah sebesar itu akan menciptakan calon guru yang berkompeten dan berintegritas. Tentunya hal itu semakin membuat Arifin bersemangat dalam mewujudkan cita-citanya. Setelah itu akan di laksanakan seleksi masuk untuk menjadi siswa sekolah pendidikan guru. Arifin seperti orang kampung terheran heran oleh kondisi keramaian sekolah, kondisi yang tak pernah dibayangkannya di kampung. Arifin mulai sadar, wajar saja sekolah guru ini di minati banyak orang karena sekolah ini setelah selesai akan di angkat jadi PNS. Sejak sedini mungkin sekolah menerapkan kedisiplinan mulai dari cara berpakaian, celana tidak boleh kaki besar, ikat pinggang tidak boleh besar, rambut harus pendek, celananya harus seperti guru, pakaian yang di gunakan putih-putih dan pramuka. Setelah itu proses seleksi pun di mulai dimana soal seleksinya pengetahuan umum dan didaktik metodik (ilmu pendidikan). Arifin pun lulus dengan hasil memuaskan karena sebelumnya sepupunya Wahab dari Belo yang sudah terlebih dahulu sekolah di SPG memberitahukan pada Arifin, “Rifin kalau kamu mau lulus di SPG kamu harus bagus tulisanmu baru kamu bisa lulus di SPG ini”. Ternyata standar keindahan sebuah tulisan penentu dari kelulusan di SPG. Arifin memiliki kemampuan menulis indah. Terbukti banyak sekali teman-temannya tidak lulus di SPG Negeri pada saat itu. Dengan mengucap syukur Arifin pun lulus di sekolah SPG Negeri Raba Bima. Ratusan teman-temannya yang tidak lulus seleksi di SPG Negeri Raba Bima oleh para gurunya mendirikan SPG swasta antara lain SPG Al'Ma'rif Raba, SPG Muyasa di Raba, SPG Muhammadiyah di Gili Panda Bima. Guru-guru pun berasal dari SPG Negeri di raba. Jadi semua siswa yang tidak lulus di SPG Negeri di fasilitasi untuk masuk di SPG Swasta.

Setelah resmi menjadi siswa di SPG Negeri, Arifin tinggal di garasi dengan tiga orang sahabatnya, tempat tinggalnya persis di belakang sekolahnya. Biaya sewa juga tidak ada tinggal di garasi itu. Walaupun tempatnya bekas pemandian dan WC di tambah lagi dengan tempatnya yang sempit tidak menjadi alasan Arifin untuk tetap tinggal di garasi demi harapan kedua orang tuanya di kampung. Sesekali ayahnya membawa bekal untuk kebutuhan sehari-hari Arifin di tempat tinggalnya. Walaupun keadaan garasi tempat tinggalnya memprihatinkan, dia tetap bersyukur. Keadaan tempat tinggal pada siang hari sangat panas dan pengap, akan tetapi kelebihan tempat tinggalnya dekat dengan sekolah dan bisa ditempati oleh empat orang sekaligus. Setelah mendapatkan tempat tinggal, Arifin merasa nyaman menghabiskan waktu dan kehidupannya di tempat itu. Dia bisa menikmati suasana aktivitas sekolah karena berdekatan dengan tempat tinggalnya. Ketika malam hari, Kota Raba Bima terasa sepi, hanya terlihat cahaya bulan di atas bumi. Bintang berkelip-kelip seperti ingin jatuh di bumi. Kesunyian Kota Raba Bima menambah kerinduan akan kedua orang tuanya di kampung halaman. Namun bagi Arifin keadaan itu tak terlalu bermasalah, yang penting sekarang dia sudah mempunyai tempat tinggal untuk tiga tahun hidup di Kota Raba Bima. Semuanya hanya demi mencari ilmu di kota ini.

Sekarang waktunya bagi Arifin membeli parabotan dan barang-barang yang sekiranya bisa di gunakan untuk menunjang keperluan belajar dan kehidupannya sehari-hari di tempat tinggalnya. Seperti orang yang pindah rumah saja membeli banyak parabotan seperti ember, gayung, sabun, odol, sikat gigi, keranjang tempat baju, meja belajar, dipan buat alas tidur, dan alat-alat keperluan sekolah lainnya. Sekarang waktunya menjadi Arifin yang lebih dewasa dan mandiri, tak bergantung penuh kepada orang tua dan harus menghilangkan sifat manjanya pada ibunya ketika duduk di bangku SD dan SMP.

Setelah membeli parabotan rumah tinggal di garasi, Arifin harus bersiap-siap dengan segala urusan sekolah, karena keesokan harinya akan melakukan pendaftaran pengenalan SPG Negeri. Karena pengenalan sekolah merupakan syarat wajib bagi siswa SPG Negeri raba bima untuk masuk belajar. Pengenalan lingkungan sekolah guru di gunakan untuk mengenal guru-guru atau pengajar di SPG. Kata senior-senior SPG, pengenalan lingkungan sekolah itu sangat menyenangkan dan mengasyikkan. Jadi, ketika pengenalan sekolah nanti, Arifin harus memaksimalkan kemampuan dan mengikuti kegiatan-kegiatan sesuai dengan bakat dan minat. Selain menyenangi seni dan kuda. Arifin sejak kecil sudah memiliki kemampuan bela diri yaitu karate bersama teman-teman sepermainan di kampungnya, acap kali adu kemampuan bela diri sering Arifin dan teman-temannya berlatih. Arifin di samping memiliki kemampuan sebagai joki cilik, dia juga memiliki kemampuan bela diri. Tidak heran ketiga di SPG Negeri, kenakalan-kenakalan kecil layaknya anak muda terjadi perselisihan yang melahirkan pertarungan bela diri sebagai laki-laki.

Arifin termasuk anak muda yang di segani karena kemampuan bela diri karate. Perkelahian satu-satu pun sering terjadi pada masa SPG di luar sekolah bersama anggotanya. Pada waktu itu selain Arifin yang memiliki kemampuan bela diri ada sesosok anak muda dari Sape sahabatnya Arifin muda yaitu Saifullah namanya. Perkelahian anak muda pada saat itu benar-benar perkelahian tangan kosong dan jantan sebagai lelaki. Cukup mengirimkan pesan kepada temannya dengan menentukan lokasi tempat pertarungan maka pertarungan itu pun terjadi secara adil satu lawan satu. Hampir semuanya teman-teman Arifin memiliki kemampuan bela diri. Mereka juga memiliki perkumpulan bela diri karate pada saat itu. Arifin muda tubuhnya kecil tapi gesit dan memiliki kecepatan dalam ilmu bela diri.

Selama pengenalan lingkungan sekolah. Guru-guru pun di perkenalkan. Yang pertama guru Ahmad Sarkani mengajar matematika lelaki berkulit sawo matang, mempunyai sikap disiplin dan keras, saking disiplinnya ia menjadi guru yang di segani oleh murid-muridnya. Kedua Alis Manan guru bahasa inggris yang keras dan disiplin lagi akan tetapi kemampuan bahasa inggrisnya sangat mumpuni, di samping itu dia memiliki kemampuan bahasa jerman. Ketiga Muhammad Dena guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) disiplin dan keras lagi. Keempat Dra. Hausah guru Bahasa Inggris ini lebih sangat keras dan disiplin lagi dibandingkan teman-teman guru laki-laki. Kelima Salmah S. Said guru Matematika. Keenam Heri Kapu guru olah raga. Ketujuh Hilir Ismail guru sejarah dan sastra, guru favorit dalam mengajar dan mendidik di kalangan siswa sekolah pendidikan guru, kemampuannya dalam menjelaskan suatu sejarah atau peristiwa dan diksi sastra yang menarik menjadikan Hilir Ismail guru yang serba bisa. Kedelapan Ramlah Seman guru Psikologi. Kesembilan Abidin Salam guru didaktik metodik, guru yang mengajarkan ilmu mendidik dan mengajar bagi para calon guru. Kesepuluh H. Anwar Guru Agama. Kepala sekolahnya pada saat itu pak Dile orang Jawa dan pak Wahab orang Wera. Sekolah itu merupakan sekolah yang memberikan kedisiplinan pada murid-muridnya calon guru.

Hari pun berganti terlalu cepat, teman baru selalu datang silih berganti bagaikan seorang hantu yang bisa datang dan hilang. Keresahan berpikir serta keinginan menggebu-gebu layaknya gejolak seorang anak muda mencari jati dirinya. Anak muda yang sedang bingung dengan keadaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tak ada yang bisa diharapkan dan tak ada yang bisa di andalkan. Maka hanya diri sendirilah yang bisa mengubahnya.


Karya: Eka Ilham, S.Pd., M.Pd.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website