Headlines News :
Home » , » Bombo Ncera Mati Suri

Bombo Ncera Mati Suri

Written By Pewarta News on Sabtu, 01 September 2018 | 04.02

Kondisi Sosiologis
Penataan dan pengembangan kurang masif (berdiri ditempat). Keadaan ini mungkin terjadi karena tidak adanya komunikasi dan kerjasama yang baik antar setiap elemen yang memang bertanggung jawab terhadap tempat wisata tersebut.

Kepastian target dan promosi (media cetak, media online,media sosial lainnya) berjalan tertatih-tatih karena mereka yang kerja lebih sedikit (kurang) daripada mereka yang berfikir.

Masih kurang sarana dan prasarana sebagai daya tarik wisatawan. Selain itu, ada juga deretan-deretan ketertinggalan lainnya.

Kenapa Kita Harus Peduli? 
Sarjana, mahasiswa/mahasiswi, tutup semua bukumu. Jejak pemikiran, tangan, dan kakimu yang akan dimintai pertanggungjawaban. Kenyataan ini mendesak dan memaksa untuk saling bahu membahu bukan saling sikut menyikut.

Pemerintah dan birokrasi. Bombo Ncera itu Aset desa loh, semestinya  malulah kalau tidak pernah disentuh sama sekali oleh tuan-tuan dan puan-puan yang budiman. Manisnya tuan-tuan rasakan sedangkan pahitnya adalah derita teman-teman yang peduli terhadap Bombo Ncera. Miris!

Masyarakat. Ditanah yang baik hatinya ini kita dilahirkan dan ditanah ini juga kita akan dimakan oleh rayap kematian. Maka sangat wajar kalau kita membenahi itu dan menjaga itu. Apalagi sekarang ada beberapa orang yang tidak memikirkan mati. Menjual belikan tanah, batu dan sebagaimana demi kenikmatan diri semata. Jika tanah adalah ibu, dan kalau ibumu merasa tersakiti maka wajar semua bencana akan datang. Sawah hilang, rumah hilang, semuaya hilang.

Masyarakat harus memulai dari kesadaran spiritual bukan dari untung rugi (ekonomis). Bahwa tanah dan alam harus dijaga dan dirawat seindah mungkin supaya mereka merasa dihargai dan supaya manusia pantas  di anggap khalifah.

Tokoh masyarakat dan tokoh agama, meskipun ceramahnya tentang langit, namun semestinya harus diawali dari memahami bumi. Bagaimana bisa memahami langit kalau bumi tidak kita rawat dan cintai. Ini tentang mencintai bukan tentang untung rugi (ekonomis).

Tokoh politik. Meskipun belum pas dimasukkan diksi tokoh. Hehe. Gimana ya, penulis belum pernah mendengar orientasi politik mereka tentang menjaga dan mencintai Tanah, air serta udara. Kebanyakan tentang keuntungan politik, logika politik dan taktik politik.

Pemuda. Resahlah terus dengan keadaan desamu. Resahlah dengan politiknya, hukum, oknum, dan hiruk pikuk semuanya. Tapi jangan lupa berbuat yang lebih nyata untuk manusia. Coba kita pikirkan, Berapa orang yang akan merasa bahagia kalau melihat Bombo Ncera yang indah dan nyaman. Sebab memberi kebahagiaan kepada orang lain sama artinya dengan memberikan mereka suatu kemerdekaan yang hakiki.

Pemuda! Mengapa bebepa orang atau mungkin kebanyakan merasa antipati dengan hal ini. Apakah karena kesibukkan, kuliah, pekerjaan, dan lain sebagainya. Ingatlah pemuda, desa itu adalah darah dagingmu. Berikan yang kamu bisa bukan yang kamu inginkan.

Jika ada pertanyaan, "Apa untungnya bagi kami ketika memperbaiki itu?" Tanyakan kepada para leluhurmu dulu. Apakah untungnya bagi mereka ketika desa ini akan dibuka untuk ditempati? Apakah semuanya hanya tentang untung dan rugi? Kalau semuanya hanya tentang itu berarti perjalanan kita masih kurang jauh. Jangan-jangan kita ini jarang mengirimkan do'a untuk para leluhur atau pendahulu-pendahulu yang telah membuka tanah ini untuk kita tinggali. Aduhh berat! Gunakan hatimu untuk memelihara tanah, air, dan udara.
Suasana kejernian air di wisata alam Bombo Ncera.

Untungnya secara Ekonomis? 
Tunggu ada uangnya saja dulu baru dibicarakan. Asalkan jangan ada tikus dibalik lumbung padinya. Setelah uangnya ada pasti banyak yang bisa kita lakukan dan benahi. Tapi sebelumnya ada uang kita harus menjaga sesuatu itu sebagai suatu kewajiban bukan sebagai pekerjaan.

Untuk Siapa ini Dilakukan? 
Untuk kamu, anak cucumu, dan semua generasi yang akan hidup sesudah kita mati.

Merawat tanah, air dan udara adalah tugas manusia dan tugas kemanusiaan.

Tulisan ini bukan esay atau semacamnya. Hanya saja karena saya mau menulis sesuatu hari ini.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pemuda yang terlahir di rahim desa Ncera / Eks Ketua Umum DPC PERMAHI DIY

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website