Headlines News :
Home » » Kemahasiswaan

Kemahasiswaan

Written By Pewarta News on Kamis, 27 September 2018 | 02.25

Muhammad Fauzi.
Definisi Mahasiswa

Secara administratif mahasiswa adalah seseorang yang sudah terdaftar di perguruan tinggi, dalam artian sudah melewati jenjang-jengjang, seperti TK, SD, SMP, SMA/SMK. Serta terbukti dengan adanya KTM dan sudah terdaftar namanya di dikte. Namun definisi mahasiswa tidak hanya se-sempit itu, karena  mahasiswa mengandung pengertian yang cakupanya lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri.

Secara etimologis, mahasiswa berarti siswa yang di-maha-kan, siswa yang  di hormati, dan di hargai di lingkungan sekitar. Lalu secara substansial mahasiswa di tuntut untuk mandiri, kreatif, dan independen dalam menjalankan segala aktivitasnya.

Jadi tidak heran lagi bahwasannya komunitas mahasiswa sangat dikenal dengan jiwa militannya dan pengorbanan mempertahankan idealismenya. Mahasiswa di kenal sebagai motor penggerak perubahan. Bahkan sejarah mencatat bahwa yang membawa perubahan bangsa dan negara Indonesia adalah merupakan sebagianya merupakan dari kalangan mahasiswa. Cerita tentang reformasi 1998 masih melekat kuat dalam memori masyarakat Indonesia. Terjadi asosiasi antara peristiwa 1998 tersebut dengan mahasiswa dalam pikiran sebagian besar masyarakat bangsa ini.

Terkadang juga tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, bahwa menjadi mahasiswa adalah memang suatu kelebihan, bahkan bisa menjadi suatu kebanggaan. Jadi ada sebuah cerita di suatu daerah yang ada di pelosok desa, tepatnya di desa Ncera, Belo, Bima, NTB, yang memang mayoritasnya adalah petani. Kondisi yang terjadi di desa itu kulturnya memang mengamini bahwa dengan menyekolahkan anaknya untuk menjadi seorang mahasiswa adalah suatu kekayaan terbesar dan sekaligus kebanggaan tersendiri yang dimiliki oleh orang tuanya, jadi nyambung dengan cerita di atas bahwasanya jika di lihat dengan posisi normal maka dapat di lihat bahwa posisi mahasiswa berada di atas rata-rata, di bandingkan dengan masyarakat yang lainya, karena setidaknya mahasiswa harus mempunyai pemikiran yang lebih maju di antara golongan masyarakat lainya. Jadi disitulah adanya perbedaan yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri. Apa yang tergambar diatas, tidak berlebihan juga jika kita menyebutnya sebagai orang yang spesial di mata masyarakat. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bahwa seorang mahasiswa melakukan hal-hal yang sifatnya melebihi masyarakat pada umumnya, karena kesempatanya pun lebih besar. Seorang mahasiswa tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri, akan tetapi tidak boleh juga terlepas dari masyarakat sekitar maupun bangsa dan negara. Mahasiswa hendaknya memberikan konstribusi positif dan konstruktif demi kemajuan.

Berdasarkan hal di atas, mahasiswa mempunyai peran yang sangat kompleks sebagai pembelajaran bagi masyarakat. Karena  menyandang gelar sebagai mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang di emban mahasiswa sangatlah besar. Jadi peran mahasiswa yang kompleks itu yang biasanya di kelompokkan menjadi 4 fungsi: yaitu, agent of change, iron stock, social control, dan moral force.

Peran dan Fungsi Mahasiswa
Sebagai mahasiswa berbagai macam labelpun disandang, dan label itu sendiri melekat pada diri mahasiswa.

Agent of change, yang di maksud di sini adalah mahasiswa sebagai pembawa perubahan. Perubahan dalam artian bahwasanya disini mahasiswa mempunyai peran yang sangat vital sekali untuk bagaimana menggagas suatu perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.

Iron stock, karena memang sumber daya manusianya tak akan pernah punah. Artinya mahasiswa ini sebagai pengganti generasi-generasi sebelumnya, tentu dengan kemampuan, keterampilan dan akhlak mulia yang inheren dalam dirinya. Kondisi seperti ini berarti, mahasiswa merupakan aset, cadangan, dan harapan bangsa untuk masa depan.

Social control, mahasiswa sebagai pengontrol dalam beraktivitas maupun dalam konteks sosial. Karena selain tanggung jawab individu, disini mahasiswa mempunyai peranan sosial, bahwasanya segala perbuatan dan keberadaanya tidak hanya di fungsikan dan dimanfaatkan untuk dirinya sendiri, melainkan ada yang memang menjadi suatu keharusan untuk memfungsikan dirinya untuk membawa manfa’at bagi masyarakat sekitarnya.

Moral force, mahasiswa itu adalah kumpulan dari orang-orang yang bermoral, artinya disini mahasiswa berperan sebagai penanggung jawab moral, karena disinilah fungsi mahasiswa untuk memberantas berbagai macam dekadensi moral yang ada dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya tidak hanya sebatas ini peranya seorang mahasiswa itu sendiri, melainkan masih banyak peran-peran lain yang harus dilaksanakannya. Contohnya peranan intelektual. Karena memang mahasiswa adalah orang yang di sebut-sebut dan di beri gelar sebagai insan yang berintelektual. Maka dari itu tidak cukup hanya dijadikan sebagai penyandang gelar untuk bagaimana menambah title kehidupan juga, akan tetapi harus di wujudkan dan diterapkan dalam kehidupan nyata (masyarakat). Karena ilmu pengetahuan yang di dapat dalam dunia pendidikan yang di emban oleh insan yang berintelektual yang menyandang nama sebagai mahasiswa itu, akan percuma sekali kalaupun tidak di amalkan dalam bentuk penerapan sosial.

Disamping itu mahasiswa juga mempunyai perang dan fungsi yang di sebut sebagai “pelopor perubahan” maksudnya disini bahwa mahasiswa bukan hanya sebagai pembawa dan pencipta perubahan, melainkan bagaimana mahasiswa menggandeng rakyat untuk menjadi garda terdepan atau orang-orang yang berada di barisan terdepan untuk bagaimana mewujudkan suatu perubahan itu sendiri, karena analoginya begini, tidak cukup hanya ketika kita ingin apa yang kita tanam itu tumbuh dengan normal, baik, dan bagus, tanpa kita berproses melalui praktek langsung untuk bagaimana merawatnya, seperti hal dalam menyiramnya, memupuk, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan yang dimaksud sebagai pelopor perubahan itu sendiri.

Jadi mahasiswa harus memiliki idealisme dan ideologi yang mendasari segala sikap dan tindakanya. Karena mahasiswa mempunyai peran untuk menjaga moral dan sikapnya di tengah arus masyarakat yang sangat kacau. Karena hanya sedikit dari rakyat Indonesia yang dapat menikmati dan mempunyai kesempatan dalam hal memperoleh pendidikan itu sendiri, disebabkan sistem perekonomian di Indonesia yang sangat merosot sekali, dan maraknya kapitalisasi pendidikan yang sangat begitu miris sekali, sehingga pendidikan layaknya di jadikan sebagai alat untuk melakukan transformasi bisnis, nyatanya pendidikan hari ini bukan lagi untuk bagaimana melakukan suatu transformasi pengetahuan dan hal-hal maju lainya. Sehingga pendidikan itu sendiri identik dengan pabrik yang sedang memproses dan mengolah suatu produk, yang akan nantinya melahirkan generasi yang kolot, yang seharusnya melahirkan generasi yang berkualitas. Karena saking meraja lelanya penerapan dalam kapitalisasi pendidikan itu sendiri sehingga masyarakat yang sebagianya kekurangan dalam hal ekonomi pun tidak bisa mengenyam dan menikmati yang namanya pendidikan itu sendiri, sehingga tidak jarang sekali orang mengatakan bahwasanya pendidikan dan ilmu pengetahuan sekarang ini hanya dijadikan sebagai alat untuk menikmati empuknya ranjang yang di sebut universitas itu sendiri. Saking mirisnya juga, sehingga  mereka bahkan lupa akan ketentuan UUD 1945 khususnya Pasal 28 C ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan tekhnologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia”. Jadi disini tertera dengan jelas bahwasanya setiap orang berhak memenuhi kebutuhanya, sepertinya dalam hal mendapatkan pendidikan yang layak. Maka dari itu bunyi pasal yang disebut dalam UUD 1945 tidak lagi diindahkan sama sekali kalau kita kontekskan dalam kondisi penerapan pendidikan era-era sekarang ini.

Jadi sedikit ada motivasi, lebih-lebih untuk diri saya sendiri. “Teruslah berkarya, karena tidak ada satu problempun di dunia ini yang tidak dapat di pecahkan. Jangan mengeluh jika jatuh, tapi tetap keluarkan api perjuangan untuk bagaimana kita bangkit kembali”.

Sekian tulisan sederhana ini penulis sampaikan. Jadi untuk menutup tulisan ini jangan lupa katakan: “Wabillahi taufikh walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh”.


Yogyakarta, 26 September 2018
Penulis : Muhammad Fauzi
Koordinator Hubungan Masyarakat (Humas) Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) / Mahasiswa Jurusan Manajemen Perusahaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website