Headlines News :
Home » , » Magang FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Magang FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Written By Pewarta News on Senin, 10 September 2018 | 20.27

PEWARTAnews.com – Bagi mahasiswa FITK, magang merupakan suatu hal yang wajib ‘ain karena masuk dalam SKS wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa. Di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) terdiri dari 3 magang yakni magang 1 melakukan observasi dan pengamatan di sekolah yang sudah ditentukan oleh pihak pengelola magang dilantai 4. Terkait dengan pemilihan sekolah hal tersebut berkaitan erat dengan sejarah masa lalu karena dari dulu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan sekolah yang bersangkutan (yang bersedia mengadakan kerjasama). Terkait dengan acuan, ketentuan, alasan dan tolak ukur mengenai pemilihan sekolah bagi setiap mahasiswa tidak begitu jelas karena memakai sistem random. Artinya, meskipun santri tidak boleh memilih sekolah MTs atau bahkan MAN. Namun harus sami’na wa atha’na terhadap ketentuan panitia magang alias “No Comment”. Hehehe.

Di magang 1 ini mahasiswa cukup menjadi pendengar yang baik, melakukan pengamatan, penilaian dan evaluasi (kelebihan dan kekurangan), pengecekkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta metode dan strategi yang digunakan oleh guru selama proses pembelajaran (dari tahap awal – akhir) dan ditulis dilembar penilaian megang 1 dengan melampirkan laporan yang berbentuk narasi dan dokumentasi dalam bentuk foto serta mempresentasikan hasil tersebut kepada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Selain itu, ada pula Magang 2 yang fokus pada pengembangan diri mahasiswa dalam mempersiapkan dan mengasah kompetensi sebagai calon pendidik. Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dalam Pasal 10 ayat 1, bahwa setiap guru harus memiliki 4 macam kompetensi diantaranya yakni kompetensi pedagogik, professional, kepribadian, sosial dan untuk PAI ditambah dengan kompetensi leadership/kepemimpinan. Sistematika magang 2 berbeda dengan magang 1. Karena di magang 2 pengelompokkan berdasar pada urutan NIM mahasiswa dengan DPL yang berbeda pula. Selain itu, di magang 2 ini mahasiswa fokus pada microteaching (latihan ngajar) dengan audien teman seklompok-nya serta penilaian dilakukan oleh DPL dan peer assesment (teman sejawat). Microteaching ini harus mengaplikasikan strategi dan metode Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) yang pernah diajarkan oleh dosen disemester lalu dalam mata kuliah strategi pendidikan. Biasanya, mahasiswa memakai referensi buku Active Learning karya Mel Silberman atau boleh mendesain pembelajaran yang kreatif dan inovatif sesuai dengan konteks (kondisi dan situasi siswa serta materi pelajaran). Dari sinilah, mahasiswa dapat diketahui seberapa menguasai materi dan strategi pembelajaran (kompetensi professional dan pedagogik).

Selain penilaian terhadap kompetensi professional dan pedagogik, DPL juga menilai aspek-aspek lain seperti kompetensi kepribadian (cara berpakaian, jilbab, rok, aura wajah), kompetensi sosial (cara bekerjasama dalam tim), dan yang tidak kalah penting adalah kompetensi leadership (kepemimpinan seperti ketangguhan, keuletan, kedisiplinan, keteladanan seperti terlambat atau tidak). Hal tersebut dimaksudkan karena guru merupakan figure keteladanan bagi murid dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, semua harus dipersiapkan sejak dibangku perkuliahan.

Terakhir ialah magang 3. Magang ini bisa dapat disebut sebagai fase pengabdian yang haqiqi. Mahasiswa mengajar dan berkecimpung langsung dalam dunia pendidikan (sekolah) bak guru yang sesungguhnya. Seperti halnya KKN, bedanya Magang 3/PPL ini dilaksanakan di Sekolah saja. Ketentuan dan acuan pemilihan sekolah bagi setiap mahasiswa disesuaikan dengan magang 1. Artinya, kelompok magang 3 kembali seperti di magang 1. Baik teman sekelompok, DPL serta sekolah tempat magang pun juga sama. Hal ini menuai pro dan kontra dikalangan mahasiswa. Berdasar pada penuturan sahabat saya “Dewi Ratna Sari” yang dahulu mengikuti evaluasi penilaian ketua kelompok magang 2, dia mengatakan bahwa “seharusnya pengelompokan magang 3 disesuaikan dengan penilaian DPL dan akumulasi nilai dari magang 1 dan 2 agar kualitas dan mutu sekolah sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa”.

Dari sini, saya menambahi bahwa “nilai” dalam dunia akademik merupakan salah satu bukti valid yang dapat menunjukkan serta mendeskripsikan kemampuan dan kompetensi mahasiswa. Hal yang perlu diingat adalah, “nilai” tersebut dalam tanda kutip. Yakni berdasar pada akumulasi proses yang telah dilalui oleh mahasiswa dengan action (tindakan kongkrit) yang diamati serta dievaluasi oleh DPL sejak magang 1 sampai magang 2.

Sudah biasa setiap kebijakan fakultas menuai pro dan kontra dikalangan mahasiswa. Ada pula yang memberikan masukan konstruktif serta melakukan usaha dan upaya untuk mendapatkan kompensasi (keringanan) dari pengelola magang agar dapat tukaran sekolah sesuai dengan jarak tempuh mahasiswa. Namun semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun harus dengan membuat surat pernyataan kedua belah pihak (yang bersedia diajak tukaran), serta harus sama jenjang dan juga jenis kelamin-nya. Jadi, yang dapat SMP kalau mau tukaran harus dengan yang SMP, SMA dengan SMA, laki-laki dengan laki-laki, PAI dengan PAI, begitupula PIAUD ya harus dengan PIAUD, PBA dengan PBA. Rasionalisasinya bagaimana dan seperti apa kok harus begitu? Ah rumit ya. Mungkin sekilas kata-kata tersebut terlontar dari mulut mahasiswa yang katanya “jago berargumen, jago berdebat” apalagi anak aktivis gak mau sami’na wa atha’na namun sami’na wa analisis. Begitu sepengamatan saya. Berdasar pada penuturan ketua magang 3 (obralan ringan dengan beliau pada 8-9-2018) beliau mengatakan bahwa “Syarat tukaran harus sama jenjangnya. Karena ketika magang 2 kemarin, mahasiswa praktik mengajar dan membuat RPP sesuai dengan magang 1, yang dapat SMP ya RPP-nya SMP, begitu dengan yang SMA maupun MAN. Jadi, harapannya agar ada sinergisitas dan kesinambungan antara magang 1, 2 dan 3”.

Namun hal itu tidak begitu saja diterima oleh sebagian mahasiswa. Ada yang mengatakan belum tentu yang dapat sekolah SMP tidak mampu mengajar di MAN, begitu sebaliknya.

Setiap mahasiswa mempunyai pengalaman sendiri-sendiri. Tidak menutup kemungkinan yang mendapatkan SMP pengalaman mengajarnya sudah kemana-mana bahkan sudah tembus SMA ataupun MAN. Dan belum tentu pula yang mendapatkan sekolah MAN sudah mempunyai pengalaman mengajar yang baik. Jika argumennya seperti itu, maka yang ada hidup tidak pernah puas dan merasa dunia tidak adil. 3 hal kuncinya yakni Nrimo, legowo dan ikhlas. Sebagai seorang calon pendidik, 3 hal ini harus dibiasakan. Dalam kondisi apapun apabila didasari oleh ketiga hal ini, maka hidup akan terasa bermakna. Sejauh apapun lokasi, kalau hati senang dan riang maka akan menjadi dekat. Sesulit apapun, akan menjadi mudah. Begitu sebaliknya.

Bagi yang masih ingin berjuang mendapatkan lokasi yang sesuai dan pas dengan kata hati, berjuanglah mumpung masih ada waktu sampai dengan hari Kamis. Carilah yang bersedia dan ikhlas lahir batin untuk tukeran dengan kalian sesuai dengan persyaratan dari pengelola magang 3. Adapun rasionalisasi terakhir harus sama dengan sesama jenis (laki-laki tukeran dengan laki-laki, wanita dengan wanita) menurut analisis saya bahwa jangan sampai ada pihak yang dirugikan. Karena dimanapun tempat berada, kuantitas wanita lebih mendominasi daripada kuantitas lelaki. Sehingga, peran, kedudukan dan fungsi laki-laki dibutuhkan disemua kelompok. Sebagai seorang wanita, saya sendiripun juga “ayem/merasa aman” saat ada laki-laki. Mungkin, sudah saatnya. Hehehehe. Sekian, selamat malam. O ya tambahan, bagi jurusan MPI magang-nya di Kemenag, Pondok pesantren satunya saya lupa.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website