Headlines News :
Home » , » Manah Nyegoro

Manah Nyegoro

Written By Pewarta News on Senin, 17 September 2018 | 08.19

PEWARTAnews.com -- Tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapapun. Ini hanyalah untaian kata penulis saat masih Mahasiswi Semester 3 dengan segala kelemahan dan kekurangannya, untuk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man qoolaa dengan berlandaskan pada QS. An-Nisaa’: 1, Al-A’raf : 189, Faathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya ilmu, iman dan taqwa yang membedakannya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.

Hari ini, ada pelajaran berharga yang penulis dapatkan dari pengalaman hidup salah seorang sahabat seperjuangan yang semangatnya luar biasa. Lelah, letih dan penat tak pernah dirasakannya, yang ada dalam hidupnya ialah belajar, bekerja dan berdoa. Setiap hari dari pukul 15.00 - 23.00 ia bekerja di salah satu tempat makan untuk menyambung hidup dan untuk membiayai kuliah. Bahkan tak jarang, tidur hanya 2-3 jam. Berangkat kuliah pukul 7 smpe dg 14.15 setelah itu lanjut kerja. Kerja dan kerja.

Topik yang menjadi akar pembahasan tulisan ini adalah “nitip TA (titip absen -- hanya satu kali) itupun karena menggantikan partner kerjanya yang berhalangan datang karena ada urusan yang sangat penting yang harus diselesaikan. Tapi sayangnya ketahuan oleh seorang pendidik, dan akhirnya namanya di coret dari daftar absen. Menyedihkan bukan?

Karena ia merasa bersalah, kemudian minta maaf dan menghadap langsung pada pendidik tersebut. Lalu pendidik tersebut tanya “kenapa”? Kemudian dijelaskanlah semua itu, tapi sayangnya pendidik tersebut menyahut “saya tidak menerima alasan apapun”. Kita bisa membayangkan, bagaimana rasanya. Sakit kan? Kalau hanya ingin bilang “tidak menerima alasan apapun” mengapa tanya “Sebab yang menyebabkan ia TA?”

Hidup itu tak selalu mulus, bagaikan roda yang berputar. Kadang dibawah kadang pula diatas. Hidup itu penuh kejutan, penuh misteri, penuh lika-liku, perlu adanya perjuangan, semangat dan kerja keras. Perlu adanya rintikan air mata, keluh, kesat, penat, lelah. Hidup itu sekali, maka hiduplah yang berarti.

Apakah selamanya akan susah? Ingat, Allah bersama dengan orang-orang yang senantiasa berbuat baik lagi bersabar. Hidup pasti berputar, sahabat. Bersabarlah. Masih ingat kisah perjalanan hidup motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikkiy? Beliau adalah warga negara Kanada yang berimigrasi dari Mesir. Elfiky muda adalah seorang atlet tenis meja dan pernah tampil dalam pertandingan internasional di Jerman Barat pada tahun 1969. Setelah lulus dari sekolah perhotelan, beliau migrasi ke Kanada dan bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring. Berbagai pekerjaan pun dilakukannya untuk bisa bertahan hidup di Kanada termasuk juga menjadi penjaga malam. Sampai akhirnya dia berhasil menapaki karir sebagai Genaral Manager di hotel berbintang 5. Beliau menekankan pentingnya seseorang untuk memiliki cita-cita, dengan memilikinya, pasti seseorang itu akan punya terget, dengan adanya target, ia akan bekerja keras untuk meraihnya. “Orang yang sukses mengetahui bahwa cita-cita adalah fondasi kemajuan. Tanpa adanya cita-cita, segala sesuatu akan terhenti. Tanpa tindakan dan kegigihan, maka kemajuan tidak akan pernah terjadi. Karena itu, orang yang sukses selalu berusaha keras dalam meraih cita-cita dan menghadapi tantangan hidup.

Ketika berbicara tentang takdir manusia, tepatnya saat menafsirkan ayat dalam Al-Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”,(Qs. Ar-Ro'du: 11) Dr. Ibrahim Elfiky mengatakan,“Tuhan sudah sangat jelas memberikan rambu-rambu betapa nasib seseorang tergantung dari usahanya. Untuk mengubah nasib harus dimulai dengan mengubah kebiasaan. Untuk bisa mengubah kebiasaan dimulai dengan mengubah pola pikir. Mind Set (sudut pandang, paradigma ataupun pola pikir) dapat mempengaruhi segalanya. Penulis teringat ngendikanipun bunda Hibana Yusuf, orang yang berpikiran positif ketika memandang sesuatu itu sulit, ia mengatakan pasti dapat diselesaikan. Tetapi orang yang berpikiran negatif memandang segala sesuatu itu mudah namun sulit untuk diselesaikan. Kuncinya adalah optimis. Allah SWT tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya, dalam menentukan suatu kehendak/ketetapan yang entah baik maupun buruk, Allah selalu memperhatikan dan mempertimbangkan usaha manusia itu sendiri.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasannya Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ)  adalah 3 aspek yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, ibarat sebuah sistem. Sistem tersebut tak bisa berjalan dengan baik manakala tak bersinergi dengan sistem-sistem yang lain. Jika berkaca pada IQ, maximal hanya berperan 20%. Lalu selebihnya apa? Yakni EQ dan SQ.

Oleh karena itu, cerdas saja tak cukup, tapi juga harus diimbangi dengan hati (kalbu) yang baik pula, yang biasa disebut santri dengan “Qolbun Salim”.  EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengerti, memahami dan memposisikan dirinya sebagai orang lain (yang mengalami sesuatu hal). Satu contoh, penulis ambilkan dari kasus tadi adalah “sikap pendidik yang tak mau menerima alasan apapun padahal sebelumnya tanya sebab yang menyebabkan akibat kenapa ia TA?”

Menurut penulis, akan lebih bijaknya jika seorang pendidik, tidak ngendiko “tidak menerima alasan”. Ya meski tak bisa dipungkiri, bahwa teman penulis memang salah. Tapi akan lebih baik jika pendidik tersebut memahami, memberikan arahan dan nasihat yang baik serta memberikan motivasi kepada teman penulis tadi. Jarang loh yaa ada anak didik yang mau bekerja keras, dan mandiri. Seharusnya “bangga” punya anak didik yang seperti itu, siapa tau kelak ia jadi orang besar dan berhasil. Kan nasib orang tidak ada yang tau.

Jika berkaca pada Psikologi pendidikan mengenai teori belajar behavioristik yang menekankan adanya reward dan punishment, memang hal itu perlu dipraktikkan agar mahasiswa taat pada aturan. Sehingga, sikap disiplin dapat berjalan dengan baik. Tapi akan lebih bijaknya manakala pendidik menghadapi sesuatu hal tersebut (kasus tadi) dengan memposisikan diri dengan berbagai kacamata dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Bukankah in ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa'tum falahaa. Orang berbuat baik tidak akan rugi. Masih ingat dengan kisah 2 mahasiswa dengan Paderewski? Kisah Paderewski merupakan kisah nyata yang terjadi pada tahun 1892 di Stanford University. Pesan moral yang tersirat dalam kisah tersebut masih relevan saat ini. Dua mahasiswa tersebut mengumpulkan uang untuk membiayai biaya pendidikan mereka dengan menggelar konser piano Paderewski, tapi tiket tak terjual dengan habis dan akhirnya 2 mahasiswa tersebut menemui Paderewski dan menceritakan semuanya. Dengan lantang Paderewski mengatakan “siap datang di konser yang mereka adakan” tanpa mereka bayar sepeserpun (gratis), singkat cerita 5 tahun berlalu 2 orang mahasiswa tadi menjadi orang sukses (Presiden) di AS sedangkan Paderewski saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia. Karena saat itu Polandia sedang mengalami masa paceklik / masa sulit, akhirnya Paderewski meminta bantuan pada Presiden AS yang mana beliau tidak tau bahwa Presiden tersebut adalah “mahasiswa” yang ia bantu dulu. Ya mungkin Paderewski telah lupa, tapi mahasiswa tadi tak akan pernah lupa atas kebaikan dan jasa Paderewski.

Kebaikan sekecil apapun yang orang lain beri, penulis yakin tak akan pernah dilupakan oleh orang tersebut meskipun yang memberi pertolongan telah melupakannya. Seseorang dikatakan sukses dan berhasil, manakala ia mampu memahami keadaan orang lain dan dapat bermanfaat bagi makhluk-Nya. Fastabiqul Khoirot!

“Khoirunnaas anfa’uhum linnaas”. Semoga selalu dalam naungan dan ridho-Nya, Tujuan hidup ialah ridho Ilahi Robbi.


Yogyakarta, 14 Desember 2016
Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi di salahsatu kampus Negeri di Yogyakarta.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website