Headlines News :
Home » , » Manusia dan Penderitaan

Manusia dan Penderitaan

Written By Pewarta News on Kamis, 27 September 2018 | 02.51

PEWARTAnews.com -- Dunia yang kita huni adalah tempat bertahtanya langit dan bumi, tempat dimana rembulan dan matahari bernyanyi. Siang dan malam yang saling merayu, bahagia dan derita datang dan berganti, lalu masa lalu dan masa depan menjadi harapan. kesenangan dan derita bergiliran untuk memelukmu, air mata dan senyuman berkecamuk dan menunduk. kesepian dan kemalangan adalah seruling bagi masing-masing jiwa. Manusia berteman diri, dan manusia berteduh dibawah derita.

Mula-mulanya penderitaan turun lewat kesunyian malam, dibalik wajah keheningan ia bersembunyi, berkembanglah dia menjadi kesepian. Dan kesepian itu menampakkan wajahnya dalam bentuk derita. Semua manusia punya wujud deritanya masing-masing, tentu akan berdampak pada cara merawat dan berdamai dengan deritanya. Tidak ada yang benar-benar merasa paling bahagia dan tidak ada yang benar-benar merasa paling menderita. Sebab gunung dimata anak kecil dengan gunung dimata seorang pejalan sunyi berbeda. Cara orang buta dalam melihat dengan orang yang tidak buta jelas terpisah. patokannya bukan tergantung pada sesuatu yang menyebabkan sesuatu. Tapi bergantung pada kedalaman diri manusia untuk mencerna sesuatu.

Bahagia dan derita bukan tentang statistik atau data kualitatif, namun dia adalah rasa yang telah mendapatkan ruang dalam diri manusia. Ruang itu dirawat dan ditambah secara terus menerus setiap hari. Kadar yang diterima dan dialami tentu berbeda setiap orang, teegantung dari cara mereka merayu diri, alam dan semesta.

Kalau malam adalah derita dan siang adalah bahagia.Tentu disitu ada ilmu dan rahasia yang terbentang. bahagia berwujud ilmu sedangkan derita berwujud rahasia. Maka tebarkanlah kebahagiaan di seluruh semesta, jagalah dengan nurani jiwa dan buatlah dia tetap utuh. Tapi derita harus kita rahasiakan dari diri kita sendiri, apalagi dari orang lain. Siang tidak akan terjadi apabila malam enggan untuk 'ada'. Kebagiaan tidak akan bermekaran kalau dibalik bunga mawar tidak tumbuh duri yang menjaganya. Maka berbisiklah mereka kepadaku "bahagia dan derita adalah satu meskipun tidak menyatu". Kemarin dan hari ini sama saja. Masa lalu dan masa depan begitu juga, kamu dengan mereka tidak ada yang berbeda. Sama-sama anak dari bahagia dan derita.


Penulis: Dedi Purwanto
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  / Eks Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) 2014-2017.

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website