Headlines News :
Home » , » Manusia dan Sebiji Nasi

Manusia dan Sebiji Nasi

Written By Pewarta News on Kamis, 20 September 2018 | 03.08

PEWARTAnews.com – Kondisi dalam keheningan, setiap mereka merasa pantas untuk mendefinisikan sesuatu. Mendefinisikan apapun yang mereka anggap perlu untuk didefinisikan. Mungkin karena alasan inilah setiap orang menjadikan keheningan sebagai kekasih yang harus dimanjakan setiap hari. Dikunjungi dan dicintai disetiap detik nafas yang berhembus. Keheningan membutuhkan kesunyian, dan kesunyian membutuhkan kesepian. Karena dengan jiwa yang kesepian pintu-pintu misteri dibalik keheningan bisa terbuka. Rumah dari hati dan pikiran yang menyimpan cakrawala. Hidup harus ditemukan dan dipelajari. Melewati lembah-lembah, melalui lorong-lorong, menaiki bukit, sakit dipunggungmu mesti engkau bawah serta, tak peduli apapun pencarianmu harus tetap berlanjut. mengunci diri dari keserakahan dan berdamai dengan nurani sendiri.

Merelakan yang pergi, memikul segudang keluh dipundakmu, tapi hidup harus terus dijalankan. Karena tugas adalah tugas. Kewajiban adalah kewajiban. Menjaga manusia, alam dan semesta. Menghargai diri bermakna menghargai orang lain, menghargai manusia bermakna menghargai alam, dan menghargai Tuhan bermakna menghargai semesta. Cara itulah yang masih melakat pada mereka. Sibuk berdiskusi dengan semesta, hidup dan menghidupi beralas kedamaian dan ketenangan.

Dibalik sebuah gunung hiduplah orang-orang yang sholeh. Sholeh terhadap manusia, alam dan semesta. Mereka hidup bersama dalam sebuah desa. Desa itu bernama Sambori. Salah satu desa yang ada di Kabupaten Bima, terletak dikecamatan Lambitu. Desa yang dikutuk oleh kemajuan. Dibenci oleh perkembangan, dan dihardik oleh setiap generasi yang ada. Kebencian itu tentu beralasan. Sistem hidup mereka yang ketinggalan zaman. Kebudayaan mereka kolot, mereka masih peduli terhadap semesta. Kebiasaan mereka yang menganggap segala sesuatu bagian dari diri mereka. Alam dan semesta harus dihargai karena mereka sama seperti manusia. Cara hidup seperti itu yang dibenci oleh perkembangan dan kemajuan.

Kondisi dalam kebiasaan mereka sehari-hari, ternyata mereka telah mampu memberika solusi ditengah keadaan Negara dan Bima hari ini. Cara pandang mereka terhadap nasi mampu menjadi standar hidup untuk menghargai sesuatu melebihi diri mereka sendiri, dan semestinya itu menjadi cara pandang kita bersama dalam melihat sesuatu. Walaupun sama bukan berarti seragam. Namun ada sistem khusus yang kita bangun untuk mewadahi ini. Menurut mereka, nasi tidak hanya suatu materi yang didalamnya termuat unsur biologis dan kimiawi. Nasi tidak hanya sebagai kata benda, nasi bukan saja fungsinya untuk mengenyangkan. Tetapi mereka melihat nasi sebagai sesuatu yang hidup, sebagai bagian dari manusia. Saudara dari manusia itu sendiri. Seseorang akan dianggap bernilai terletak pada cara mereka memperlakukan sebiji nasi. Seseorang akan bermartabat apabila dia menghormati sebiji nasi sama seperti menghormati dirinya sendiri. Semua yang masuk dan keluar dari dirimu adalah saudaramu sendiri, yang masuk akan sampai ke syurga dan yang keluar akan sampai ke neraka. Kalau semua saudaramu itu merasa tidak pernah engkau hargai, maka engkau akan bertemu kembali dan mempertanggungjawabkannya pada waktunya. Memperselisihkan hal-hal yang kamu anggap sederhana tapi dimata mereka itu adalah tanda kekafiran yang nyata.

Kebiasaan orang-orang disana, setiap kali mereka makan harus sampai tak tersisa, sebab kalau disisakan, mereka menyakini bahwa nasi itu akan menuntut keadilan kepadamu kelak. Mereka akan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kita lakukan. Kondisi dalam kebiasaannya yang lain, pada saat musim panen orang-orang disana sangat teliti dan sangat hati-hati untuk memilah dan memilih biji-biji padi. Jangan sampai ada yang berhamburan meskipun hanya sebiji. Karena membuang sebiji sama nilainya dengan membuang sekarung. Dan menelantarkan biji-biji itu sama dengan menyiksa diri sendiri. Keyakinan ini tentu bukan tanpa sebab, nasi adalah makanan pokok. Hidup kita sangat bergantung pada nasi. Nasi memberi kita segalanya, dan segala pekerjaanmu pasti berujung pada sebiji nasi. Gajimu untuk membeli nasi, ceramahmu untuk membeli nasi, pidatonya untuk membeli nasi, segala aktivitasmu berawal dari nasi dan berujung pada nasi. Nasi sangat penting mengingat fungsi dan sifatnya. Siapun pasti tau itu. Tetapi disisi lain ada soal yang muncul kemudian, seberapa jauh kita menghargai sesuatu yang memberikan kehidupan itu.?

Selain yang penulis paparkan diatas ada juga kebiasaan orang Sambori untuk menghormati nasi. Pada saat memulai makan mereka menyediakan beberapa tikar. Tikar disiapkan tergantung banyak orang yang akan makan. Tikar tersebut tidak hanya sebagai alas duduk. Tetapi tikar disitu juga menjadi wadah untuk menahan nasi supaya tidak jatuh ke tanah. Bukan karena nasi itu kotor kalau menyentuh tanah, tapi karena rumahnya terbuat dari kayu dan dibawah rumah itu ada kolom, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk turun mengambil biji nasi yang jatuh tersebut. Sedangkan disisi lain meninggalkan nasi saat kita makan sama saja dengan menolak rezeki yang datang menghampiri kita. Keyakinan mereka sedalam itu.

Kemudian dalam prosesi melayani tamu. Setelah para tamu makan tentu ada yang menyisahkan nasi ada juga yang memakannya sampai habis. Namun yang humanis disini terletak dari cara mereka menghargai sisa nasi dari orang yang berkunjung ke rumah mereka itu.

Tanpa sepengetahuan tamu tersebut didapur mereka, nasi-nasi itu dicuci lalu dikeringkan. Setelah kering kemudian mereka makan kembali. Beberapa orang di Bima mungkin masih menjalankan kebiasaan tersebut. Namun kebiasaan mengeringkan nasi dilakukan dari sisa makanan sendiri atau keluarga, dan jarang yang mengeringkan nasi sisa makanan orang lain.

Unik dan romantis memang kita lihat. Kalau para tamunya menyisahkan nasi dipiringnya, dengan rendah hati orang yang punya rumah itu merapikan piring-piring dan membawanya ke dapur. Didapur yang meracik kaharmonisan itu mereka bilang kepada nasi yang disisakan oleh para tamu, "Ma'afkan kami karena telah membuangmu, sambil menangis dan mencuci nasi tersebut supaya dikeringkan. Mudah-mudahan engkau tidak mempersoalkan kelalaikan ini dialam yang lain nanti”. Terkejut sekaligus saraf motorik penulis berhenti sejenak. Narasi macam apa yang hidup di negeri ini. Semua perjalanan saya terhenti dan pengembaraan selama ini percuma. Itu semua terbantah hanya pada proses memaknai manusia dengan sebiji nasi. Nasi saja dihargai apalagi manusia. Nasi saja dihormati apalagi manusia. Nasi juga makhluk, mereka butuh dicintai dan disayangi. Cintamu kepadanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata Tuhan, kesetiaamu padanya akan menjadi nilaimu sebagai manusia dimata manusia.

Kalau di kota, jangankan nasi yang dibuang, manusia saja dibuang. Maka itulah alasan penulis masih mencintai desa.

Tetapi kebiasaan itu mulai terkikis. Entah oleh zaman atau indvidunya. Apakah karena salah penulis? Salah pembaca? Salah pemudanya? Salah birokrasinya? Ulamanya? Tokoh masyarakatnya? Ayah dan ibunya? Kakek dan neneknya?.

Manusia dan sebiji nasi.
"Jagalanya segalanya supaya segalanya menjagamu" Ibu semesta.


Penulis: Dedi Purwanto, S.H.
Pencari Jalan Sufi / Eks Ketua Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website