Headlines News :
Home » » MJS dan Ngaji Filsafat

MJS dan Ngaji Filsafat

Written By Pewarta News on Senin, 10 September 2018 | 19.50

Dr. Fahruddin Faiz saat mengisi Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman (MJS). Foto: Siti Mukaromah.
“Berambisi lah untuk menjadi orang yang tidak berambisi” (Dr. Fahruddin Faiz saat menyampaikan filsafat Manusia Alternatif dalam perspektif filosof Diogenes).

Masjid merupakan bangunan pertama kali yang dibangun oleh Rasulullah SAW dalam membangun tatanan masyarakat madani. Hal ini dapat dilihat dari tindakan Nabi sebelum membangun masyarakat Madinah, yang pertama kali dilakukan adalah membangun fondasi masyarakat melalui masjid. Berawal dari masjid peradaban dunia islam ini berkembang. Selain dijadikan sebagai sarana ritual peribadahan vertikal (sholat), namun juga dijadikan sebagai ritual horizontal yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. Di Indonesia sendiri, banyak sekali bangunan masjid. Hampir dipinggir jalan ada masjid. Akan tetapi, fungsi masjid belum secara optimal mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik, karena mayoritas hanya membangun fisiknya (megah dan mewah) namun kurang dalam merevitalisasi sehingga pemberdayaan masjid dari segi pendidikan, dakwah dan sosial perlu dikembangkan dan ditingkatkan agar tidak sepi dari jama’ah.

Di daerah Jogja, ada salah satu masjid yang tidak pernah absen mengadakan kegiatan-kegiatan edukatif yang menarik massa (read jama’ah) dari berbagai kalangan, terutama kalangan mahasiswa. Sebut saja MJS (Masjid Jendral Sudirman) yang beralamatkan di Jl. Rajawali No.10, Komplek Kolombo, Demangan Baru Yogyakarta. Di masjid ini ada beberapa kajian setiap minggunya dengan menghadirkan narasumber yang expert dalam bidangnya. Tak hanya itu, ada pula kesenian hadroh, gerakan literasi dan pengembangan spirit kewirausahaan dan digital yang diinisiasi oleh pengelola masjid yang terdiri dari mahasiswa.

Bagi saya pribadi, yang paling menarik adalah Ngaji Filsafat yang diselenggarakan setiap hari Rabu (Malam Kamis) pukul 20.00 - 22.00 WIB dengan narasumber Dr. Fahruddin Faiz yang merupakan dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Asal mula berdirinya “Ngaji Filsafat” ini dipelopori oleh Muhammad Yaser Arafat. Sampai saat ini Ngaji Filsafat diikuti oleh ratusan jam’ah yang terdiri dari berbagai macam elemen, baik mahasiswa, dosen, pelajar maupun masyarakat sekitar. Ngaji Filsafat telah berjalan selama 4 tahun sejak awal tahun 2013 hingga kini 2018. Awalnya, ngaji filsafat ini diselenggarakan sehari full sejak pagi sampai sore dengan menghadirkan 3 tokoh filsafat terkemuka dari kampus negeri di Yogyakarta. Mereka adalah Ust. Sofyan, Dr. Fahruddin Faiz, dan satu dosen UGM yang diikuti oleh 30 jama’ah baik laki-laki maupun perempuan.

Selang Seminggu kemudian, diadakan lagi ngaji filsafat dengan narasumber Dr. Fahruddin Faiz dengan metode ceramah, dialog, sesi tanya jawab. Hingga akhirnya sampai sekarang ngaji filsafat bersama Dr. Fahruddin Faiz karena cara beliau menyampaikan mudah dipahami dan tlaten (read: sabar). Dengan berbagai macam pertimbangan dan musyawarah dari berbagai pihak, ngaji filsafat rutin diadakan setiap seminggu sekali pada hari Rabu malam Kamis dengan mengangkat tema yang sama namun dengan tokoh yang berbeda. Untuk bulan September ini ada 4 tokoh yang dikaji. Diantaranya Diogenes, Nasruddin Hoja, H.P. Blavatsky dan Sosrokartono dengan tema “Manusia Alternatif”.

Hal yang menarik pula, setiap ngaji filsafat ada suguhan kopi dan teh untuk para jama’ah. Simple dan sederhana tapi sangat berkesan. Karena bagi MJS (Masjid Jendral Sudirman) menghormati dan memuliakan jamaah merupakan suatu amanah besar yang harus senantiasa dijaga dan terus dipupuk agar kedepannya dapat saling bersinergi untuk menggapai Ridha-Nya.

Jama’ah ngaji filsafat tidak seperti layaknya orang pergi ke masjid. Namun dengan pakaian yang serba macam. Ada yang memakai sarung, ada pula yang memakai celana, bahkan ada yang memakai pakaian biasa saja/kaos, ada pula yang sambil merokok. Mungkin bagi sebagian orang diluar sana hal seperti itu dijadikan persoalan dan melihat mereka dengan sebelah mata dengan dalih alasan ngaji iku harus sopan lan tata krama. Tapi tidak di MJS. Justru menurut saya pribadi, MJS merupakan salah satu contoh masjid yang lunak, melihat segala sesuatu lebih dalam dan tidak menjudge orang berdasar pada pakaiannya. Hal ini merupakan manifestasi keimanan seseorang yang sesungguhnya, yakni saling menghargai, menghormati, tenggang rasa hingga akhirnya saling memiliki. Tingkatan memiliki merupakan level tertinggi bagi seseorang. Sehingga pada akhirnya tidak ada istilah aku atau kamu, tapi kita/kami.

Selain pemberdayaan masjid melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif, pihak pengelola MJS yang terdiri dari para mahasiswa mempunyai spirit entrepeunership yang bergerak dalam bidang percetakan buku dan pembuatan kaos “Ngaji Filsafat”. Laba dari usaha tersebut dijadikan sebagai tambahan modal untuk mensukseskan berbagai kegiatan masjid, seperti kajian rutin yang dilaksanakan 3x dalam seminggu, hadroh, gerakan literasi dan hal-hal lain guna kemajuan masjid. Tujuan-nya untuk nguri-uri (menjaga eksistensi) dan menghidupkan masjid agar tidak sepi jama’ah, karena mayoritas masjid zaman sekarang hanya terlihat mewah dan megah fisiknya namun tidak sebanding dengan esensinya. Artinya, banyak bangunan masjid yang mewah dan indah, akan tetapi sepi jama’ah karena tidak direvitalisasi dengan kegiatan-kegiatan yang mendukung eksistensi masjid serta tidak memberdayakan pemuda dan masyarakat sekitar.

Entrepreunership menjadi titik awal bagi berkembangnya suatu cabang kegiatan yang ada di MJS. Usaha Percetakan buku (MJS press) yang dipelopori oleh MJS Project telah berjalan selama kurang lebih 4 tahun dan sudah menerbitkan berbagai macam buku, diantaranya buku karya Dr. Fahruddin Faiz serta buku karya mahasiswa-mahasiswa pengelola MJS. Kisaran harga buku sekitar Rp.40.000/ekslempar. Dalam sebulan biasanya laku terjual sebanyak 2-6 buku. Selain usaha percetakan buku, di MJS juga mengkonveksi kaos “Ngaji Filsafat” . Hal ini karena MJS Project memanfaatkan peluang dan membaca keadaan mengingat Ngaji Filsafat banyak peminatnya yang terdiri dari berbagai elemen pemuda dan masyarakat.

Untuk konveksi kaos, yang mendesain gambar dan pola-nya berasal dari orang MJS sendiri alias bukan berasal dari orang luar, sehingga murni hasil produksi MJS Project. Tempat sablon dari konveksi kaos berada di daerah Sleman Yogyakarta. Modal pembuatan kaos dari laba penjualan buku. Kaos tersebut akan di satu paketkan dengan buku. Sehingga nantinya, ketika orang membeli buku maka akan mendapatkan kaos, dan tentu dengan harga yang berbeda (lebih hemat). Pendistribusian kaos dan buku lewat teman ke teman dan kerjasama MJS project dengan pihak luar, karena mayoritas adalah mahasiswa, sehingga relasi lebih luas (berdasar pada wawancara kepada Mas Wahidian, M.Pd). Biasanya, pembeli memesan terlebih dahulu (pre-order) dan kemudian mentransfer uang lewat rekening atau bisa membayar langsung di Sekretariat MJS Project Komplek Kolombo, Jl. Rajawali No.10, Caturtunggal, Sleman Yogyakarta. Rata-rata sebulan kaos terjual sebanyak 120 kaos.

Keuntungan dari penjualan sablon dan kaos digunakan untuk menghidupkan serta memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan serta untuk memproduksi buku dan kaos lagi. Sehingga sumber dana Masjid Jendral Sudirman tidak hanya berasal dari infaq masjid dan shadaqah warga sekitar, akan tetapi juga dari enterpreunership yang dikelola oleh mahasiswa inspiratif, kreatif, produktif dan visioner.

Usaha yang halal akan mendatangkan keberkahan dan kemaslahatan ummat. Hal ini dapat dilihat dari hasil keuntungan penjualan kaos dan buku dapat memberdayakan Masjid dengan mengalokasikan dana ke berbagai kegiatan edukatif untuk kalangan umum, seperti misalnya menyajikan kopi dan snack kecil kepada jama’ah setiap kajian 3x dalam seminggu. Pemasaran buku dan kaos lewat perantara teman ke teman, online baik FB, instagram, blog, website milih MJS Colombo atau biasanya jama’ah sendiri yang menghubungi pihak MJS Project untuk memasan kaos dan atau buku. Selengkapnya bisa dilihat dihalaman FB Masjid Sudirman Kolombo. Monggo.


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website