Headlines News :
Home » » Pemuda Madura dan Orang-Orang yang Mati Mulia

Pemuda Madura dan Orang-Orang yang Mati Mulia

Written By Pewarta News on Selasa, 18 September 2018 | 01.52

PEWARTAnews.com -- Socrates, Suhrawardi, Al-hallaj, Syekh Sti Jennar dan Pemuda dari Madura pada suatu waktu ngopi bareng membincang tentang nasib mereka yang sama-sama mati karena dihukum mati.

“Tes” kata pilosop dari Madura memulai perbincangan. “kamu cerita selaku pilosop paling tua”

“sebenarnya aku gak mau banyak bicara, kalian tahu kan ceritaku telah diketahui banyak orang meskipun aku tak pernah menulis apapun. Nanti kalau aku tetap cerita, dikiranya aku sombong”. Ia berhenti sejenak, menghemat nafas panjang dan melanjutkan : “tapi sudahlah, jika kalian memaksa..”

“Tuduhan yang ditujukan kepadaku di pengadilan ada tiga hal. Pertama karena ‘meracuni’ kaum muda, kedua karena tidak mempercayai dewa-dewa dan terakhir membuat paradigma baru.” Sambil bersedih, Socrates melanjutkan ceritanya. “Bagaimana mungkin aku dituduh tidak percaya pada dewa-dewa, sementara apa yang kulakukan selama ini berasal dari bisikan yang kuyakini itu berasal dari Tuhan. Apa yang kulakukan adalah perintah Tuhan, dan aku yakin, tak ada pengabdian yang lebih baik untuk Athena kecuali pengabdianku pada Tuhan.”

“Orang mungkin bertanya-tanya kenapa aku diam-diam sibuk mengurusi orang lain. Ada tanda-tanda Ilahiah yang datang dalam bentuk suara-suara. Dan Miletus, salah satu jaksa penuntut di sidang peradilanku mencemooh hal itu. Tapi sudahlah. Akhirnya diantara 500 jaksa yang hadir di persidanganku, 280 diantaranya menyetujui kematianku, sementara 220 sisanya menentangnya. Itulah lemahnya demokrasi kawan, tidak selamanya yang mayoritas merepresentasikan kebenaran. Lalu aku memilih untuk menjalani hukuman itu, dengan sadar, karena aku adalah bagian dari polis Athena. Warga negara yg baik harus taat kepada aturan negaranya. Meskipun saat itu aku bisa saja lari, tapi tetap saja aku membiarkan racun merenggut nyawaku, dan membiarkan kebenaran mengambil jalannya sendiri.”

Mendengar cerita Socrates semua terharu. “Sekarang giliranmu Suh” kata Socrates pada Suhrawardi. Dengan agak kikuk tapi tampak sangat bijak pilosop muslim yang mati muda itu memulai bicaranya.

“Waktu itu, dunia muslim begini dan begitu. Aku hadir dengan pandanganku yang oleh penguasa dan ulama pendukungnya dianggap mengancam posisi mereka. Padahal aku hanya menganjurkan sebagaimana yang diajarkan Socrates. Kritis, berpikir terbuka, dan berani berkata benar. Tapi ya begitulah penguasa waktu itu. Akhirnya karena menolak tunduk, aku harus menerima resikonya. Memilih mati”
Selanjutnya tibalah saatnya AL-Hallaj bercerita dan Syehk Siti Jennar. Tapi tiba-tiba Socrates angkat bicara “Laj, kamu nanti saja, Kanjeng Sunan pun belakangan nggih. Biar pilosop muda dari Madura dulu yang bercerita”. “Ayo Sug, giliranmu” kata Socrates

Sugi, yang nama lengkapnya Emile Sugibroto pun berkata dengan dialek Maduranya “O, gilirran sayya ya, baiklah” Sugi memulai ceritanya.

“Taappi, sebenarnya sayya malu mau bercerit-ta, karena kisah sayya berbedda”

“Bed-da gimanna” tanya Al Hallaj Penasaran.

“Anu, sayya dibunuh karna” kata Sugi membuat yang dengar penasaran

“Karena apa, cepat ceritakan. Aku penasaran” kata Suhrawardi.

“Sabar, biarkan Sugi bicara” kata Syekh Siti Jennar dengan bijak.

“Sayyya, di bunuh karena menolak…” Sugi pun diam tak melanjutkan

“Menolak apa Su” bentak Socrates tampak tak sabar.

“Menolak dijodohkan” jawab Sugi.

“Wkwkw” Socrates ketawa.

“Hahahahaha” Suhrawardi tertawa lepas.

“Huhuhuu” sambung AL-Hallaj

“Subhanallah. Nasibmu lucu Su” seru Syekh Siti Jennar.

Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar pun tak Jadi dapat giliran cerita, karena warung kopi tempat mereka nongkrong sudah mau tutup.


Penulis: Rusdiie
Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website