Headlines News :
Home » » Pergulatan Wacana Umat Islam di Indonesia Era Reformasi

Pergulatan Wacana Umat Islam di Indonesia Era Reformasi

Written By Pewarta News on Rabu, 26 September 2018 | 02.40

Buku "Berebut Wacana"
PEWARTAnews.com -- Buku Carool Kersten ini mengulas secara jernih dan jelas tentang isu-isu yang menonjol dalam pergulatan wacana umat Islam Indonesia. Ia melirik pergulatan politik dan wacana keislaman Indonesia pada masa transisi demokrasi tahun 1997 hingga 2014 . Menurut Carool, bergantinya Orde Baru oleh optimisme dan harapan Reformasi, cara-cara baru yang makin kritis dan pelik dalam memikirkan Islam pun mulai berkembang di Indonesia. Lajur-lajur pemikiran tersebut menggabungkan berbagai gagasan kreatif dan inovatif yang di cetuskan oleh intelektual-aktivis NU dan Muhammadiyah generasi kedua dan ketiga pasca kemerdekaan. Sewalaupun para pengagas tersebut mempunyai cara dan metode sendiri dalam mengembangkan pemikiran keislaman tetapi mereka disatukan oleh keinginan untuk menjaga dan merawat sekularisme, liberalisme dan pluralisme sebagai norma di ruang publik Indonesia (hlm. 33).

Presiden Abdurrahman Wahid (gus dur) adalah figur yang merupakan salah satu tokoh utama  dalam membentuk formasi diskursif Islam baru yang kini dikembangkan dan diterjemahkan oleh para sarjana dan aktivis. Tetapi, optimisme tersebut memudar hanya beberapa tahun saja ketika Abdurrahman Wahid dimakzulkan (Juli 2001). Peristiwa ini juga mengalihkan perhatian intelektual muda Muslim Indonesia. Alih-alih sibuk dengan politik, mereka lebih tertarik pada persoalan-persoalan filosofis yang mendasar, yaitu ketika studi komperhensif tentang dimensi epistemologis dan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan Muslim Indonesia. Pada masa ini muncul critical juncture atau momen kritis dalam sejarah intelektual Indonesia (hlm 81).

Carool Kersten menjelaskan dengan apik tentang perdebatan legal formalis dan subtantivis hukum Islam pada masa transisi demokrasi. Ia menggambarkan manuver politik antara 1999 dan 2002 menghalangi upaya para aktivis dan politisi Muslim untuk mencantumkan syari’at Islam dalam konstitusi Indonesia, sehingga  para pengusung formalisasi hukum Islam terpaksa mencari jalur lain. Kesempatan itu baru terbuka pada capaian Reformasi ketika desentralisasi pemerintahan dan pelimpahan kekuasaan dari pemerintah pusat dan daerah. Kesempatan tersebut melahirkan inisiatif untuk legislasi Islam di daerah melalui peraturan daerah (perda). Sedangkan lawan dari kubu pendukung aspek legak-formal hukum Islam, yaitu pendukung penafsiran syari’ah subtantif tidak menggugat peran penting syari’ah dalam pandangan hidup  Muslim dan peluangnya untuk diakomodasi di dalam arsitektur hukum Indonesia. Sebaliknya, perdebatan intelektual yang mendasar, yaitu tentang peran agama di masyarakat Muslim dan seputar konsep syari’at yang sangat abstrak (hlm 199).

Terakhir, Carool Kersten membedah tiga isu kunci pemicu perdebatan dalam wacana keislaman Indonesia, yaitu  pluralisme agama, hak asasi manusia dan kebebesan berpikir. Karool menggambarkan perdebatan sengit antara kubu yang pro dan kontra terhadap tiga isu itu pun tidak dapat terhindarkan. Diawali dengan fatwa MUI (2005) tentang pengharaman pluralisme, liberalisme dan sekuralisme sehingga membuat pluralisme dan toleransi beragama menjadi medan pertarungan antara pendukung dan penentang, tarik menarik pun tidak dapat terhindarkan dari kedau kubu yang berseteru (hlm 249). Dari perdebatan-perdebatan yang Carool Kersten sugukan dari awal sampai akhir buku ini sampailah Ia pada kesimpulan dari penemuanya. Bahwa yang betul-betul yang dipertaruhkan dalam kontekstasi intelektual adalah bagaimana Muslim Indonesia menilai pemerintah, masyarakat sipil dan kebebasan sipil. Kemanapun arahnya, akan menjadi contoh bagaimana agama sebagai tujuan eksistensial terus berjalin berkelidan dengan transformasi sosial. Ini pada giliranya mempengaruhi bagaimana Muslim Indonesia menanggapi proses sekularisasi dan seruan toleransi beragama, yang akan sangat menetukan negara seperti apa yang akan dituju Indonesia, bagaimana negara memperlakukan warganya, dan bagaimana para warganya bersikap satu sama lain (hlm 328). Buku Carool Kersten ini cocok di baca oleh semua kalangan, khusunya para dosen dan mahasiswa yang ingin mandalami tentang pergulatan wacana keislaman Indonesia. Buku ini menjelaskan secara komperhensif tentang wacana keislaman di Indonesia sehingga memberikan gambaran yang utuh dan jernih pada pembacanya.

Identitas Buku
Judul        : Berebut Wacana; Pergulatan Wacana Umat Islam Indonesia Era Reformasi
Penulis     : Carool Kersten
Penerbit   : PT Mizan Pustaka
Cetakan   : 1, Maret 2018
Halaman  : xxvi + 366 hlm
ISBN       : 978-602-441-060-5
Peresensi : Abdul Gafur (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) 


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website