Headlines News :
Home » » Puisi Tidak Sekedar Berkata Kata

Puisi Tidak Sekedar Berkata Kata

Written By Pewarta News on Minggu, 23 September 2018 | 21.04

Eka Ilham, M.Si.
PEWARTAnews.com – Puisi tak sekedar teks dan kumpulan pilihan kata. Bila padanya diberi konteks, puisi dapat bertransformasi menjadi "senjata" tak lagi sekedar kata. Jika saja teks dan konteks diberi imaji dan spritualitas, puisi dapat di ubah menjadi spirit perubahan, perlawanan, pergerakan, romantisme, meditasi, dan instropeksi diri. Puisi juga mengajak kita untuk mentertawakan diri kita sendiri terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitar kita tampa ada saling menyakiti sebab kita dapat tertawa bersama-sama dengan kata-kata. Takkala kondisi bangsa hari ini nurani tertutup oleh buih keserakahan dan dahaga kekuasaan maka yang dipikirkan hanyalah bagaimana merebut kekuasaan baik politik maupun ekonomi, dengan menghalalkan segala cara. Kira-kira situasi inilah yang terjadi di republik ini. Tindakan koruptif telah menjelma menjadi bagian dari proses politik untuk menyangga kekuasaan. Para sastrawan mencoba mencari ruang melalui kata-kata untuk memberikan sebuah ekspresi terhadap kondisi republik ini. Sebut saja puisi Gus Mus “negeri haahihi” dengan imajinya dia menggambarkan kondisi republik ini.

Negeri Haha Hihi

Bukan karena banyaknya grup lawak,
maka negeriku selalu kocak
Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan
dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terus pamer keberanian
dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan
dengan teriakan yang memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan
dengan lagak yang memuakkan. Ha ha ...

Penegak keadilan jalannya miring
Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi ...

Kalian jual janji-janji
untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah-petitih
untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah petitih, ha ha ...

Anjing menggonggong kafilah berlalu,
Sambil menggonggong kalian terus berlalu

Ha ha, hi hi ...
Ada udang dibalik batu,
Otaknya udang kepalanya batu
Ha ha, hi hi
Sekali dayung dua pulau terlampaui
Sekali untung dua pulau terbeli
Ha ha, hi hi
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
kalian mati meninggalkan hutang
Ha ha, hi hi
Hujan emas di negeri orang, hujan batu dinegri sendiri,
Lebih baik yuk hujan – hujanan caci maki.
Ha ha, hi hi

Puisi di atas dengan imajinya memberikan sebuah pembelajaran bagi kita. Kehidupan berbangsa-bernegara kita hari ini terlampau pengap oleh mentalitas kaum perampok. Mentalitas yang meninggalkan nurani dan akal sehat, demi beroleh pundi-pundi kekayaan. Tata aturan berbangsa-bernegara yang bersumber dari konstitusi dan seperangkat undang-undang lainnya, dikangkangi demi mengejar kemapanan serta kenyamanan hidup. Meski harus menyisakan barisan panjang penderitaan, penindasan dan ketidakadilan. Pun, agama tak lagi di toleh, ketika mata hanya tertuju pada kemewahan hidup yang sering kali mewariskan kemelaratan pada generasi kedepan. Kepengepan situasi semacam itulah yang coba di dobrak oleh para penyair dan penulis melalui puisi-puisi mereka. Ruang-ruang itu mereka sajikan dalam bentuk pentas budaya/seni, seminar, workshop, diskusi, perlombaan, komunitas-komunitas seni, dan sebagainya. Mereka mencoba bertahan di ruang-ruang itu atas nama seni dan idealisme.

Betul bahwa puisi atau karya sastra lainnya tidak secara otomatis, berjangka waktu pendek, ataupun spontan, akan mampu mewujudkan sebuah perubahan. Namun, sebagai anak kandung kebudayaan, puisi atau karya sastra lainnnya mempunyai tempat dan tugas tersendiri dalam mendesakkan perubahan. Dengannya, realitas yang korup, penuh ketimpangan serta ketidakadilan, dipertajam melalui kreativitas kata-kata yang menggoyang kesadaran rakyat sekaligus juga menampar kebebalan penguasa. Sejarah telah mencatat, penguasa yang korup dan otoriter teramat takut dengan puisi para penyair dan sastrawan yang kritis. Para sastrawan dan penyair pada khususnya di Kabupaten Bima dan Kota Bima Nusa Tenggara Barat tetaplah selalu melahirkan karya-karyanya sebagai bentuk tanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual menghasilkan karya-karyanya untuk republik ini. Sesungguhnya bukanlah jerih payah yang terakhir dan paripurna dalam usaha menghadirkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Bagaimanapun, republik ini, membutuhkan nafas panjang kontribusi kita semua.


Penulis: Eka Ilham, M.Si.
Ketua Umum Serikat Guru Indonesia (SGI) Kabupaten Bima

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website