Headlines News :
Home » » Selamatkan Bangsa dari Perpecahan dalam Menghadapi Pesta Demokrasi 2019

Selamatkan Bangsa dari Perpecahan dalam Menghadapi Pesta Demokrasi 2019

Written By Pewarta News on Rabu, 05 September 2018 | 04.25

PEWARTAnews.com -- Ya Allah, selamatkanlah bangsa dan agama kami ini. Aamiin ya robbal aalamiin.

Sungguh luar biasa kedua petinggi bangsa kita saat ini dan hal ini sangat sejuk sekali kalau kita mengamati dengan seksama.

Sudahlah sahabatku, dan kawanku, mari kita lupakan #20192Periode dan #2019GantiPresiden, karena di dalam kedua # (tagar) tersebut terdapat ribuan kebencian, cacian, hinaan, hujatan yang mengundang sekelompok orang merasa tersinggung dan akhiranya saling benci antara warga negara yang satu dengan warga negara yang lain. Selain itu, juga dapat menyinggung perasaan kelompok agama dan ras tertentu. (#IndonesiaAdalahKita)

Mari kita sama-sama netralkan cara berpikir kita, agar tidak terpecah-belah antara masyarakat yang satu dengan yang lain dan bukankah perpecahan itu nanti akan dibayar mahal oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bangsa kita untuk memulihkan perpecahan di dalam masyarakat?

Kondisi seperti diatas, bisa jadi dalam waktu 5 tahun mendatang, siapapun yang menjadi presiden di tahun 2019 nanti hanya akan disibukkan untuk mengurus proses penyatuan masyarakatnya yang bercerai-berai karena Pilpres, padahal luka (perpecahan) tersebut sengaja dibuat-buat oleh orang-orang busuk yang betul-betul tidak paham substansi politik itu sendiri.

Politik berasal dari kata "pol" yang berarti "banyak", dan kata "tik" yang berarti "taktik/cara". Namun, secara kebahasaan bahwa politik adalah upaya sebanyak-banyaknya bagi sekelompok orang untuk melakukan pembangunan dalam semua sektor kehidupan, baik pembangunan pada tatanan masyarakat/agama/daerah/bangsa dan negara, sehingga menuju ke kondisi atau keadaan yang lebih baik. Bukan sebaliknya, menuju ke keadaan yang lebih buruk seperti keadaan tatanan masyarakat kita saat ini (saling mencaci dan saling memaki antara satu dengan yang lainnya), akibat ulah sekelompok orang yang tidak paham substansi ilmu politik.

Kondisi demikian, di sisi lain bahwa politik adalah disiplin ilmu tersendiri. Artinya ketika politik adalah disiplin ilmu, maka konsekwensi ilmu adalah suci, murni, tidak kotor dan buta seperti yang dipertontonkan oleh segelintir petinggi dan masyarakat awam di negeri ini.

Akhirnya, penulis berharap, marilah kita sama-sama menjaga dan memelihara kesucian dan kemurnian politik sebagai ilmu. Ingat, tidak ada politik adu domba, dan itu hanya istilah yang sering disalahgunakan oleh manusia manusia tidak cerdas (bodoh) yang tidak paham politik secara keilmuan dan secara substansi.

Politik itu tidak cukup kita definisikan sebagai "banyak upaya". Sebab ketika politik kita pahami sebagai "banyak upaya" semata, maka jangan heran orang bohong banyak yang mengatakannya sebagai politik kotor. Padahal itu berangkat dari ketidakpahaman kita pada hakikat sesuatu. Mari kita intropeksi diri agar dari hari ke hari kita dan juga bangsa tercinta ini lebih baik lagi. Aamiin.


Penulis: Samrin, S.Pd.
Pemuda asal Bima NTB / Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Indraprasta (UNINDRA) Jakarta.


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2017. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website