Headlines News :
Home » » Silatnas Thibbun Nabawi, Prof. Rochmat Wahab: Thibbun Nabawi Bisa Menjadi Pilihan yang Baik dan Sunnatullah

Silatnas Thibbun Nabawi, Prof. Rochmat Wahab: Thibbun Nabawi Bisa Menjadi Pilihan yang Baik dan Sunnatullah

Written By Pewarta News on Senin, 10 September 2018 | 10.12

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (ppeci hitam), saat menjadi narasumber Silatnas Thibbun Nabawi, 26/08/2018 di Mojokerto.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ketua Dewan Kehormatan Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. hadir sebagai narasumber dalam Agenda silaturahim para ahli dan praktisi Thibbun Nabawi se Indonesia di Ponpes Riyadhul Jannah Pacet Mojokerto hari Ahad, 26 Agustus 2018. Tema presentasi yang disampaikan adalah “Thibbun Nabawi: Perspektif Psikologi”.

Prof. Rocmat Wahab hadir dalam kapasitasnya sebagai ketua Dewan Kehormatan FRI dan juga sebagai lulusan doktor bidang Counseling. “Kehadiran saya dalam acara ini kepasitasnya sebagai Ketua Dewan Kehormatan FRI, karena diharapkan bisa beri advokasi dalam memecahkan masalah mereka berkenaan dengan legalitas dalam layanan medis, di samping saya dapat memberikan pencerahan tentang Thibbun Nabawi dalam Perspektif Psikologi, karena background saya sebagai lulusan doktor bidang Counseling,” bebernya.

Rochmat Wahab memandang bahwasannya dengan hadirnya PP RI Nomor 103 tahun 2014, para ahli dan praktisi Thibbun Nabawi tidak lagi berani membuka praktek dikarenakan takut adanya ancaman yang termuat dalam peraturan tersebut. “Dengan keluarnya PP RI No 103 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional, mereka belakangan sudah tidak berani praktek karena takut ancaman, padahal tidak sedikit di antara yang sangat membutuhkan pertolongannya untuk sehat yang tidak bisa diberikan melalui layanan kesehatan secara konvensional, bahkan dalam batas tertentu ada sejumlah dokter, akademisi, kiai, pejabat, elit TNI dan sebagainya ada yang merasa cocok dan dapat recovery penyakitnya dari praktek Thibbun Nabawi,” ucapnya.

PP RI Nomor 103 tahun 2014, kata Rochmat, memuat keharusan lulusan D3 yang melayani pengobatan Bekam, Herbal dan layanan kesehatan Tradisional, padahan saat ini jurusan D3 yang berkaitan dengan hal tersebut belum ada di Indonesia. “PP tersebut di antara salah satu pasalnya menyatakan bahwa yang dapat melayani thibbun nabawi (bekam, herbal, layanan medis tradisionsl lainnya) adalah yang lulusan D3 di bidang Bekam, Herbal dan layanan kesehatan Tradisional lainnya,” bebernya.

Dengan kondisi yang demikian, mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) masa bakti 2011-2016 ini menyarankan solusi atas persoalan tersebut. “Karena (adanya aturan) itu solusinya, pertama bikin pilot proyek untuk mendirikan Program D3 bidang Kesehatan Tradisional dengan konsentrasi Bekam, Herbal, Habbatus Sauda, dan lain-lain yang bidang ini mengikuti Sunnah Rasul. Kedua, sambil menunggu D3 para praktisi melakukan loby dengan Kantor Dinas Kesehatan untuk bisa melayani pasien dengan mengikuti SOP secara bertanggung jawab. Ketiga, para praktisi tetap sementara melayani secara hati-hati dengan tanpa memasang papan praktek dengan ekstra hati-hati dan siap dikenai sanksi jika malpraktek. Tentu yang kedua pun tanpa pasang papan dan tidak ada malpraktek juga hanya sepengetahuan Kantor Dinkes. Upaya manajerial sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas publik,” ucap mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Berkenaan dengan materi, kata Rochmat, “kita sadar bahwa menurut nas Allah SWT dan hadits Rasulullah saw, bahwa Allah SWT setiap hadirkan penyakit, hadirkan pula obatnya. Demikian juga Rasulullah bersabda bahwa setiap penyakit ada obatnya, kullu daain dawaaun. Yang tidak ada obatnya adalah ketuaan atau kematian, katanya.

Menurut Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini, pada hakekatnya penyakit yang mengenai manusia itu, yang berkaitan dengan fisik 10%, emosi 20%, mental 20%, dan spiritual 50%. “Dengan kata lain bahwa persoalan penyakit yang mengena manusia dan pengobatannya lebih banyak berkaitan dengan aspek non fisik. Artinya bahwa spiritualitas (iman dan taqwa), smart-nya pikiran, dan stabilitas emosi (akhlaq) dalam diri kita jauh lebih penting dan bermakna daripada fisik kita yang fana. Atas dasar itulah maka thibbun nabawi bisa menjadi pilihan yang baik, apalagi ikuti sunnatullah,” cetus Rochmat.

“Memperhatikan kondisi Indonesia yang kaya herbal, madu, dan lain-lain sangat terbuka untuk dilakukan riset sehingga dapat ditemukan obat yang bisa cocok untuk orang Indonesia. Semoga dengan tuntutan PP tentang persyaratan minimal D3 bagi praktisi dapat mendorong untuk meningkatkan profesionalisme dalam layanan,” lanjutnya. (PEWARTAnews)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website