Headlines News :
Home » » Bagaimana Wajah Santri di Era Digital?

Bagaimana Wajah Santri di Era Digital?

Written By Pewarta News on Selasa, 23 Oktober 2018 | 12.21

Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. 
PEWARTAnews.com -- Maaf sekali, dulu awal-awalnya santri identik dengan warga yang kudisan, makanan kurang bergizi, pakaian sederhana dan pas-pasan, kamar tidur berdesak-desak dan tak beralas, dan banyak prihatin dan riyadlohnya. Semuanya disebabkan letak pesantren di daerah pedasaan dan lingkungan kurang mendapat perhatian. Meski pun begitu, tapi mereka memiliki semangat belajar tinggi, jiwa berjuangnya handal, dan akhlaqnya sangat mulia. Orang yang menjadi santri dulu didominasi yang berasal dari pedesaan dan keluarga ekonomi menengah ke bawah. Pemenuhan kebutuhan dan penanganan kegiatan pesantren banyak bertumpu pada kemampuan orangtua dan kiai pengasuh pesantren, di samping dukungan oleh sejumlah aghniya yang mendedikasikan hartanya untuk kiai dan pesantren serta zero bantuan dari pemerintah apakah di era sebelum kemerdekan atau awal kemerdekaan hingga setengah abad-an.

Walaupun dalam segala keterbatasan tidak sedikit para santeri mampu menjadi kiai dan tokoh masyarakat, bahkan pahlawan. Kini wajah santri di era digital menampakkan wajah yang relatif jauh lebih baik. Mereka sudah tidak lagi kudisan, cenderung kesehatan lebih baik, menu makanan sudah lebih sehat, gedung dan kamar santri sudah lebih permanen, walaupun masih ada sejumlah kecil santri yang belum terjaga kesehatannya, menu yang terbatas dan gedung dan kamar yang semi atau belum permanen. Demikian juga para santri sudah banyak yang dari kota dan keluarga yang ekonominya mampu.

Penampilan santri kini sudah menyamai pelajar dan mahasiswa, bahkan kadang-kadang melebihi. Materi yang dipelajari santri bukan lagi gaya konvensional dengan kitab kuning secara hardcopy, tetapi kitabnya ada yang sudah berbentuk digital, walaupun yang harvopy dalam batas tertentu madih sangat diperlukan. Santri tidak lagi melulu belajar agama, tetapi juga belajar disiplin ilmu lain secara simultan. Santri tidak lagi mengaji di pesantren yang lokasinya di pedesaan atau jauh dari kota, melainkan ada pesantren yang lokasinya di kota, sehingga santrinya harus berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Santri saat ini tidak lagi dalam format mengaji di pesantren konvensional melainkan bisa mengaji melalui sistem online.

Walaupun sistem pendidikan pesantren bisa dikreasi dengan sistem digital, pembentukan karakter santri seharusnya tetap mengacu kepada sistem tarbiyah yang memungkinkan santri memiliki keimanan yang teguh, ketaatan beribadah, smart dan berilmu yang amaliah-beramal yang ilmiah serta berakhlaqul karimah, juga miliki kemandirian dan kesadaran berbangsa dan bernegara yang baik. Yang dalam kondisi tetap perlu sekali kehadiran kiai dan ustadz/ustadzah untuk transfer values yang tidak bisa dilakukan oleh sistem digital.

Di era kini dan mendatang, dengan kondisi santri yang sangat heterogin, potensi masalah yg perlu diantisipasi adalah bahaya narkoba (terutama santri yg berlatar belakang dari kasus kenakalan remaja) dan penyimpangan sosial (kehidupan pesantren yg kurang pemantauan). Semoga santri semakin menarik jadi pilihan anak-anak dan remaja masa depan serta orangtua. Aamiin.

Selamat Hari Santri Nasional 2018

Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website