Headlines News :
Home » » KMSY Gelar Diskusi Politisasi Agama di Tahun Politik

KMSY Gelar Diskusi Politisasi Agama di Tahun Politik

Written By Pewarta News on Sabtu, 06 Oktober 2018 | 09.26

Suasana Diskusi Politisasi Agama di Tahun Politik.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Keluarga Mahasiswa Sumenep Yogyakarta (KMSY) bekerja sama dengan Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) mengadakan diskusi umum yang bertajuk “Politisasi Agama di Tahun Politik” pada tanggal 5 Oktober 2018. Diskusi ini dilaksanakan di Hotel Setya Nugraha, Bantul, Yogyakarta. Acara seminar mengundang beberapa tokoh intelektual yang dianggap kompeten untuk berbicara soal politisasi agama.

Ada tiga orang pembicara yang diundang, yaitu Prof. Dr. Abdul Gaffar Karim, salah seorang ilmuwan politik dari UGM; Kuswaidi Syafi’ie, seorang tokoh sufi asal Madura; dan Bernando J. Sujibto, alumnus Selcuk University dan sekaligus pemerhati politik Turki. Diskusi itu dimoderatori oleh Taufiqurrahman, salah seorang mahasiswa filsafat UGM.

Kuswaidi Syafi’ie dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa agama yang dipolitisasi itu sudah bukan lagi agama yang sebenarnya. Pasalnya, ia melihat ketika agama dipolitisasi, nilai-nilai spiritual agama yang menyejukkan dan menentramkan itu jadi banal atau bahkan mungkin hilang.

Bernando J. Sujibto politisasi agama muncul  dan tumbuh secara sosiologis melalui aktor-aktor politik yang melakukan indoktrinasi secara rapi terhadap banyak konstituennya. Indoktrinasi itu bisa berjalan melalui buku-buku bacaan yang diberikan. Politisasi agama ini bisa lahir di Indonesia juga karena tidak adanya platform ideologis yang jelas. Sangat jarang sekali partai yang memiliki dasar ideologi yang jelas yang menjadi pijakan dari seluruh perjuangan politiknya.

Prof. Dr. Abdul Gaffar Karim melihat bahwa pemisahan agama dan politik itu hanya mungkin di atas kertas. Di dalam praktiknya, cita-cita sekularisme itu hanya isapan jempol belaka. Menurutnya, ideologi yang dominan di tubuh partai-partai politik di Indonesia saat ini sebenarnya adalah kapitalisme. Mereka masih lebih banyak mengabdi pada kepentingan kapital dari perusahaan-perusahaan besar daripada kepentingan rakyat kecil yang seharusnya diperjuangkan. (001)

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website