Headlines News :

    Follow Kami di Twitter

    Cari Berita / Artikel disini

    Arsip Web

    Like Fun Page Kami

    FIMNY Gelar Pelantikan Pengurus Periode 2018-2020 dan Dialog Publik

    Suasana saat Pembina FIMNY Sulaiman, S.IP. mengambil sumpah pelantikan pengurus FIMNY Periode 2018-2020.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pelantikan Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY) pengurus periode 2018-2020 dilaksanakan pada hari Minggu (25/11/2018). Pengambilan sumpah pelantikan dilakukan oleh Sulaiman, S.IP. selaku salahsatu Pembina FIMNY. Selain pelantikan, acara ini juga dirangkaikan dengan Dialog Publik sukses terselenggara di Aula Golkar Yogyakarta.

    Pelantikan Pengurus FIMNY Periode 2018-2020 yang diadakan bersamaan dengan Dialog Publik ini mempunyai tema yang berbeda. Adapun tema Pelaktikan yakni “Revitalisasi Nilai-Nilai Kepemimpinan untuk FIMNY yang Berkemajuan”, dan tema Dialog Publik yakni “Apa Kabar Pendidikan Indonesia Hari Ini?”. Acara ini bersamaan dengan menyambut Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November 2018.

    Suni Setiawan Selaku Ketua Panitia Pelaksana mengungkapkan bahwa persiapan dari diskusi publik tersebut sudah berlangsung sejak jauh-jauh hari. “Diskusi ini memang sudah dipersiapkan sejak jauh hari dengan persiapan yang matang. Diskusi berlangsung sejak pukul 10:00 sampai 12:00 berjalan cukup menarik. Sebelum diskusi Publik juga dilakukan Pelantikan Pengurus FIMNY. Alhamdulillah, acaranya berjalan dengan lancar tanpa adanya suatu hambatan yang berarti,” ujar Suni Setiawan (25/11/2018).

    Andri Ardiansya, M.Pd. saat mengawali Dialog Publik, 25/11/2018.

    Diskusi tersebut di pandu oleh Andri Ardiansya, M.Pd. (Mahasiswa Doktor Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta), dengan menghadirkan tiga orang pemateri. Pemateri pertama, Nawassyarif, M.Pd. (Direktur Utama Nusa Baca), membahas terkait bagaimana pendidikan di ranah informal, baik dari pendidikan yang bentuk sosial, keluarga tokoh masyarakat, Agama dan lain sebagainya, dan beliau berpesan bahwa, “Semua Orang adalah Guru dan dimanapun kita berada adalah sekolah,” beber Syarif.
    Nawassyarif, M.Pd. saat menyampaikan materi dialog publik, 25/11/2018.

    Pemateri kedua, Siti Muna Hayati, M.H.I. (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), membahas pendidikan dari segi formal, diawal penyampaiannya beliau sedikit menyinggung Pasal 31 UUD 1945. “Bunyi ayat-ayat dari pasal 31 UUD1945 diantaranya, 1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; 2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; 3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang; 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; 5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia,” sebut Muna.
    Siti Muna Hayati, M.H.I. saat menyampaikan materi dialog publik, 25/11/2018.

    Kemudian Siti Muna Hayati mengupas Pendidikan dari segi formal. Di beliau juga bertanya, “Sudah berpendidikankah Indonesia?,” tanyanya. Berdasarkan data-data statistik yang beliau paparkan ternyata Indonesia belum berpendidikan, karena gaya yang di terapkan sekolah saat ini yaitu top down atau gaya bank (dimasukin terus tanpa ada proses dialegtika) dan sekolah kebanyakan hanya menjadikan manusia sebagai robot.

    Pemateri ketiga Fajriatul Kamelia, S.I.Kom. (Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) membahas pendidikan dari perspektif media. Kamelia mengatakan bahwa ternyata dengan banyaknya media bukan malah mencerdaskan tapi malah membingungkan, maka dari itu beliau membeberkan agar masyarakat lebih cerdas membaca informasi di media. “Tidak boleh langsung mempercayai apa saja yang dikabarkan media, karena setiap media yang merilis berita membawa kepentingan masing-masing. Oleh karna itu ketika ada berita harus di analisis benar-benar supaya melahirkan daya kritis. Kemudian kita sebagai generasi penurus bangsa atau mahasiswa harus mampu menciptakan berita tandingan untuk mengabarkan kebenaran sesungguhnya di lapangan,”  kata Kamelia.

    Fajriatul Kamelia, S.I.Kom. saat menyampaikan materi dialog publik, 25/11/2018.

    Point yang terakhir, Andri Ardiansyah, M.Pd. selaku moderator terlihat sangat luar biasa dalam menghendel forum, sehingga diskusinya berjalan dengan lancar dan diakhir pembicaraannya beliau mengatakan bahwa, “Kalau ingin menjadi aktivis silakan kuliah di Makassar, kalau ingin menjadi cendekiawan atau ilmuwan kuliahlah di Yogyakarta umumnya lagi di Jawa, kemudian kalau ingin menjadi politisi maka Jakarta adalah tempatnya pas,” celotehnya dengan menggebu-gebu.

    Adapun daftar nama Pengurus FIMNY 2018-2020 yakni sebagai Berikut, Ketua Umum Diky Julkarnain, Wakil Ketua Umum Fahrul Maulana Akbar, Sekretaris Ainul Rofik, Bendahara Yuni Yati. Bidang Sumber Daya Manusia (SDM): Muhammad Fauzi (Koordinator), Suni Setiawan, Istisusanti, Maemunah, Angga Pratama, Nining Marlina dan Mimi Israfana.

    Senior FIMNY M. Jamil, S.H. saat menyerahkan kenang-kenangan untuk Pemateri Siti Muna Hayati, M.H.I. usai dialog publik, 25/11/2018.  

    Bidang Olahraga, Arif Ardiansyah (Koordinator), Jumratun, Nurhidaya, Hafsah dan Nur Faujiah. Bidang Hubungan Masyarakat (HUMAS): Ardiansyah (Koordinator), Arif Gunawan, Faturrahman, Khairul Anas, Hajrah dan Nurhayati. Bidang Kerohanian: Afriadi (Koordinator), Lisa Roslina, Mihrajul Mukmin, Amin Rais, Junari, Baadiah dan Hamidah Suryana.

    Diky Julkarnain selaku Ketua Umum FIMNY Periode 2018-2020 mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dalam acara pelantikan dan Dialog Publik tersebut. “Terimakasih kepada ketiga pemateri dan moderator, seluruh anggota FIMNY, dan tamu undangan yang sudah berpartisipasi dalam acara pelantikan yang berjalan dari pagi sampai siang har,” ucapnya. (Siti Hawa / PEWARTAnews)
    Ketua Umum FIMNY Diky Julkarnain saat menyerahkan kenang-kenangan untuk Pemateri Fajriatul Kamelia, S.I.Kom. usai dialog publik, 25/11/2018.

    Sanggar Rimpu Wakili IKPM-NTB untuk Tampilkan Tarian dan Puisi di Acara Selendang Sutra IKPMDI-Yogyakarta

    Tampilan Tari Wura Bongi Monca dari Sanggar Rimpu saat acara Selendang Sutra, 26/11/2018.

    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pada Senin, (26/11/18) pukul 21.00 WIB, Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu Keluarga Pelajar Mahasiswa (KEPMA) Bima-Yogyakarta mewakili IKPM-NTB telah sukses tampil di Monumen Serangan Umum 1 Maret (0 KM) Yogyakarta dalam acara pentas Semarak Legenda Suku Nusantara (Selendang Sutra) dengan mengangkat tema “Kita Semua Saudara, Selamanya Indonesia”.

    Selendang Sutra yang rutin diadakan setiap tahun oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan bekerjasama dengan IKPMDI-Yogyakarta tersebut adalah wadah untuk menyalurkan kreatifitas seluruh mahasiswa dari sabang sampai merauke yang berada di Yogyakarta.

    Dalam acara Selendang Sutra ini Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu mewakili IKPM-NTB menampilkan tarian “Wura Bongi Monca” dan puisi dengan tema “Lahir dari Rahim Tanah Bima”. Tarian Wura Bongi Monca ini merupakan salah satu tarian sambutan selamat datang atau penyambutan tamu dari Bima, NTB. Tarian ini dilakukan oleh penari perempuan secara berkelompok dengan gerakan yang lemah lembut sambil menaburkan beras kuning sebagai simbol penghormatan dan harapan.
     
    Ruslin, yang akrab disapa Arlan, selaku Penanggung Jawab Sementara Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu tersebut menuturkan bahwa pentas ini merupakan sebuah karya yang menakjubkan dan cukup menarik untuk menjadi pilihan refreshing setelah penat beraktivitas. “Saya selaku penanggung jawab sementara Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu yang diberikan mandat mengucapkan banyak terimakasih kepada Dinas Kebudayaan Provinsi D.I.Y. dan IKPMDI-Yogyakarta yang telah mengundang kami,” ucap Arlan.
    Usai tampilan Tari Wura Bongi Monca dari Sanggar Rimpu saat acara Selendang Sutra, 26/11/2018.

    Lebih lanjut, Arlan berharap pada event-event selanjutnya para keluarga besar Sanggar Rimpu terus lebih giat dan semangat lagi terus mengenalkan budaya dan tradisi Mbojo pada masyarakat luas. “Terimakasih juga kepada anggota Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu yang sudah meluangkan waktunya untuk mengisi acara atau undangan dari Dinas Kebudayaan Provinsi DIY dan IKPMDI-Yogyakarta, harapan saya kedepannya semoga anggota Sanggar Seni dan Tradisi Rimpu dan semua warga NTB pada umumnya yang berada di Yogyakarta tetap semangat mengangkat atau memperkenalkan budaya kita ditanah loja/rantauan,” beber Arlan.

    Acara Selendang Sutra ini akan berlangsung selama 6 hari, dari tanggal 26 November-1 Desember 2018. Pada hari pertama (26/11/2018), selain tampilan dari IKPM Provinsi NTB, hari pertama tampil juga dari Kemah Budaya 2018, IKPM Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, IKPM Provinsi Maluku Utara, IKPM Provinsi Kalimantan Timur, dan tampilan Sanggar Nusantara.

    Pada hari kedua (27/11/2018) telah tampil dari IKPM Provinsi Bali, IKPM Provinsi Papua, IKPM Provinsi Maluku, IKPM Provinsi Kepulauan Riau, IKPM Provinsi Kalimantan Utara, IKPM Provinsi Sumatera Utara. Hari ketiga malam ini (28/11/2018) akan tampil dari IKPM Provinsi Aceh, IKPM Provinsi Kalimantan Tengah, IKPM Provinsi Jawa Timur, IKPM Provinsi Papua Barat, IKPM Provinsi Sulawesi Utara, dan IKPM Provinsi Jawa Tengah. (Siti Hawa)

    Prof. Rochmat Wahab: Optimis Mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin

    Suasana saat Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. menyampaikan materi.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mendampingi aktivis ormawa, unit kerohanian Islam pada PTN dan PTS se-DIY, terutama angkatan baru, dengan harapan, semoga mereka dapat memahami dan mengimplementasikan Islam Rahmatan Lil’aalamiin, yang tidak hanya peran mahasiswa sebagai hamba Allah (Abdullaah), melainkan juga sebagai khalifah di atas bumi (Khalifah fil ardzi).

    Salahsatu guru besar UNY ini mengingatkan pada para unit kerohanian Islam ini agar memahami secara utuh berislam yang moderat. “Mamberikan pencerahan kepada mahasiswa, bagaimana ber-Islam yang tidak tergiring kekiri-kirian, atau kekanan-kananan, namun berislam yang moderat yang ditunjukkan dengan sifat dan perilaku yang mutawasithah, tasammuh, tawazzun, dan i’tidal,” ucapnya,  14/10/2018, usai memberikan ceramah dalam acara tersebut.

    Lebih lanjut, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini menatakan bahwa upaya untuk mewujudkan islam pembawa rahmat bagi alam semesta tidaklah mudah tercapai. Namun, kata Rochmat, hal tersebut bukan berarti tidak bisa kita wujudkan, ia meyakini hal demikian bisa diwujudkan dengan upaya yang maksimal. “Tidak mudah memang untuk mewujudkan Islam rahmatan lil’alamin, namun tidak berarti tidak bisa dilakukan. Asal ada keseriusan, menjaga hati yang bersih, selalu mengharapkan pertolongan dan ridlo-Nya serta selalu saling menasehati antar saudara seiman dan setauhid, kita yakin Allah Swt akan memberikan jalan keluar dan kemudahan,” bebernya. (MJ / PEWARTAnews)

    Anelies

    Dedi Purwanto.
    Anelies,

    Hidup mereka hanya sepotong sajak, sedangkan hidup kita adalah lautan kemesraan.
    Hidup mereka hanya batang pohon dan buahnya, sedangkan kita adalah akar dan daunnya.

    Anelies,
    Jagalah segalanya supaya segalanya menjaga mu,
    Kalau cinta mereka tentang memiliki, tapi cinta mu tentang melayani.

    Anelies,
    Segalanya adalah Dia, dan kita semua adalah Dia.

    Anelies,
    Mereka bertanya kepadaku siapakah engkau.
    Dengan tersenyum aku menjawab "Setiap mereka yang memiliki cinta adalah Anelies. dan pemilik kesejatian cinta adalah Anelies".

    Tapi mereka tertawa anelies,
    Mereka menertawakanku,
    Mereka tertawa karena lelucon.

    Anelies bilang kepada mereka "jikalau tangan mereka masih belum bersedia untuk merubah, jangan malah rasa pesimis yang mereka berikan kepada yang merubah, jangan mengkritik mereka dengan dasar kebencian, sebab sebaik-baik kata yang diucapkan dengan kebencian itu adalah seburuk-buruknya nasehat".

    Anelies perumpamaan kebenaran yang diterima oleh masing-masing manusia, diibaratkan sebuah cermin dari langit yang pecah lalu jatuh ke bumi, dan setiap manusia di bumi memetik kepingan-kepingannya lalu menganggap itu sebagai kebenaran yang utuh (mutlak). Begitu juga dengan setiap pilihan yang berdampak pada perpecahan, mereka menganggap pilihannya itu kebenaran yang utuh padahal itu hanya kepingan kebenaran yang terbuang dari langit.

    Anelies sampaikan salam ku kepada semua perempuan. Katakan kepada mereka, bahwa perempuan itu selalu bersahabat dengan filsuf, kendaraan hidupnya adalah semesta, mereka selalu jatuh cinta dengan seorang penyair, lalu memilih menikah dengan dunia materi (si tajir).

    Anelies katakan juga kepada si Gagak, bahwa laki-laki itu bersahabat dengan dunia (kemegahan dan kefanaan), jatuh cinta kepada rupa (kulit dan bentuk) dan memilih menikah dengan akhirat (kesejatian hidup).


    Karya: Dedi Purwanto, S.H.
    Pengamat Hukum dan Pencinta Sosial Budaya

    Rochmad Wahab: Guru-Dosen dalam Mendidik harus Didasarkan atas Rasa Kasih Sayang

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Persoalan pendidikan adalah persoalan kasih sayang, karena itu tiada pendidikan tanpa kasih sayang, demikian kata Langeveld (1905-1989) tokoh pendidikan asal Belanda. Menurut mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., pandangan Langeveld tentang persoalan pendidikan bukannlah sesuatu hal yang baru, karena sudah disebutkan juga oleh sang pencipta alam semesta ini dalam Al-Qur’an. “Sebenarnya pandangan ini bukan sesuatu yang baru, karena Allah Swt dalam menjaga, mengelola dan mendidik seluruh alam semesta ini dengan sifatnya Yang Maha Pengasih dan Penyayang. (Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiinar rahmaanir rahiim),” ucap Rochmat, 13/10/2018, di Yogyakarta.

    Karena itulah, kata Rochmat, setiap perilaku orangtua atau guru/dosen dalam mendidik harus didasarkan atas rasa kasih sayang, bahkan dalam memberikan hadiah atau hukuman pun harus didasarkan pada sifat kasih sayang, bukan didasarkan atas niat memanjakan atau rasa kesal dan marah.

    “Semoga Allah swt terus membimbing kita menjadi orangtua atau pendidik yang selalu mengedepankan rasa kasih sayang dalam mendampingi anak-anak kita, dan siswa-siswa atau mahasiswa/i kita. Aamiin,” harapnya. (MJ / PEWARTAnews)

    Untuk Mak

    Muhammad Guevara (baju merah). Foto: Istimewa.
    Mak, maafkanlah anakmu
    Anakmu dulu yang engkau gendong kemana-mana kini sudah tumbuh besar.
    Mak, kini anakmu pergi ke kota untuk mengadu nasib di tanah rantau dan demi cita-cita.
    Mak, aku ingin bercerita kepadamu.

    Mak, kini anakmu telah masuk di perguruan tinggi, bangunan yang begitu besar dan bertingkat dan Mak belum pernah melihat gedung mewah seperti itu di kampung.

    Tapi Mak maafkan anakmu yang selalu memaksa Mak untuk berhutang banyak untuk membayar bagunan ini, Mak bangunan yang begitu besar ini menyiksaku untuk memaksamu mencari uang dan berhutang lagi dan lagi.

    Mak, anakmu ingin bercerita, bercerita tentang kemiskinan, kejaliman, dan kebohongan para pejabat negara dan kaum bijaksana membuat Aturan di negara ini.

    Mak, kemiskinan, perampasan tanah, penggusuran, kriminalisasi dan PHK buruh hari ini begitu banyak dan menjadi bahan tertawaan bagi kawan-kawan aku yang menjadi mahasiswa Mak.

    Mak, aku menangis melihat masyarakat Papua di bunuh oleh militer demi keutuhan NKRI.

    Mak, aku menangis melihat rakyat Indonesia di bantai 3 juta manusia tanpa kain kafan.

    Mak, anakmu menangis melihat petani hari ini tidak ada lahan untuk di tanam.

    Mak, sekali-lagi anakmu ini menangis melihat kaum miskin kota diusir demi kelestarian budaya.
    Mak, maafkan anakmu yang meminta biaya pendidikan berjuta-juta Mak, karena pendidikan mahal.

    Mak, maafkan anakmu yang pembangkang ini yang terus berteriak di jalanan untuk menolak rakyat miskin yang di marjinalisasi.

    Mak, aku ingin memelukmu dan berujud padamu untuk meminta restu padamu dan merelakan anakmu ini berjuang bersama petani, buruh, kaum miskin kota dan masyarakat Papua.

    Mak, aku rindu kalian semua di rumah, merindukan nenek, merindukan adek-adek yang kini besar dan membutuhkan biaya yang banyak.

    Mak, maafkan anak-anakmu, engkau membesarkan mereka.
    Mak, negara tidak pernah bertanggungjawab Mak, Mak mereka yang engkau pilih dulu menjadi membiayai kebutuhan Mak kini telah berubah Mak.

    Mak, kau, aku dan semua rakyat miskin lainnya hanyalah mahluk untuk di bohongi oleh partai politik borjuis busuk di parlemen Mak.

    Mak, aku merindukan dirimu, masakanmu, dan kampung halaman tapi aku tidak ingat pulang Mak, karena perjuangan ku masih panjang.

    Mak, perjuanganku berat, berat bukan berarti mustahil.

    Mak, gimana kabarnya mereka dikampung halaman Mak, apakah mereka bisa melanjutkan pendidikan tinggi seperti aku sekarang Mak?
    Mak, biaya pendidikan sekarang mahal sangat mahal Mak.

    Mak, aku di usir dari kelas ketika ujian karena belum mampu bayar kuliah Mak.

    Mak, pendidikan sekarang sudah dijadikan barang dagangan bukan tempat ilmu pengetahuan Mak.

     Maafkan anakmu yang tidak bisa membahagiakan dirimu.

    Mak, maafkan anakmu yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan, Mak lihatlah kakak senior aku di kampung begitu menumpuk dan meramu karena tidak ada pekerjaan Mak.

    Mak, maafkan anakmu yang kurang ngajar ini.


    Yogyakarta, Selasa, 06 November 2018
    Karya: Muhammad Guevara

    YMS Gelar Mubes, Rochmat Wahab: Masjid Syuhada Sangat Bermanfaat Sebagai Sarana Pembinaan Ummat

    Suasana saat Mubes berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Yayasan Masjid Syuhada (YMS) menggelar Musyawarah Besar pada awal bulan Oktober 2018 di Yogyakarta. Mantan Ketua Tanfidziah PWNU DIY Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. mengatakan bahwasannya keberadaan Masjid Syuhada di tengah-tengah masyarakat sangat bermanfaat terutana dalam fungsinya sebagai pembinaan ummat. “Ikut berhikmat di kepengurusan Yayasan Masjid Syuhada Yogyakarta, yang dibangun dan diresmikan pada 20 September 1952 dan berlokasi di kompleks Kotabaru Yogyakarta merupakan suatu kesempatan yang sangat baik dan bermanfaat terutana dalam pembinaan ummat. Masjid ini dibangun dengan dukungan Presiden Sukarno dan Sultan HB IX sebagai wujud tanda syukur dan hadiah atas keberhasilan masyarakat Yogyakarta dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekan RI,” ucapnya, 08/10/2018 belum lama usai Mubes berlangsung.

    Menurut mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 ini, Yayasan Masjid Syuhada (YMS) yang semula program dan kegiatannya hanya berorientasi untuk pembinaan majelis ta’lim, kini sudah mengembangkan layanan pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, sampai dengan Sekolah Tinggi Dakwah MS (kecuali SMA). Pendidikannya, kata Rochmat, diformat sebagai Sekolah Islam Terpadu, dan pengelolaan ZIS dan beberapa usaha yang berkarakter Islam.

    “YMS sejak berdiri hingga kini berhasil menjaga Islam rahmatan lil’aalamiin, Islam mutawashitah, yang dengan ketat menjaga dari dominasi kelompok atau alirah tertentu, sehingga siapapun yang datang ke masjid untuk beribadah merasa nyaman. Untuk menjaga kondusi yang kondusif ini dimulai dengan pelibatan ummat dari berbagai latar belakang, shg kolaborasin dan sinergi bisa diupayakan lebih optimal. Ukhuwwah Islamiyah, ulhuwwah wathaniyyah dan ukhuwwah basyariyah bisa diwujudkan dengan baik,” bebernya.

    Musyawarah Besar YSM yang keenam, ujar Rochmat, dilakukan untuk menyampaikan LPJ Kepengurusan 2013-2018 dan Pemilihan Kepemgurusan 2018-2023. “Alhamdulilah dengan semangat pengabdian dan kebersamaan, Mubes berlangsung lancar dan sukses. Dengan harapan bahwa kemajuan yayasan menjadi prioritas dan kinerja yayasan terus diperbaiki, dan dakwah ditingkatkan melalui berbagai modul,” tutupnya. (MJ / PEWARTAnews)


    Ayo Bertanya

    Potret keseruan anak kelas VIII F saat belajar PAI yang penilis terapkan dengan menggunakan strategi active learning (debat) dengan teman sebayanya (kelompok yang sedang presentasi). Kelompok lain boleh mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat atau menyanggah jawaban yang diberikan apabila belum puas. Sesi akhir, dengan penguatan guru.
    PEWARTAnews.com – Dalam dunia “akademik” dimanapun saya berada, baik berbagi ilmu dengan anak SD, SMP, SMK yang notabene mereka siswa biasa atau santri, penulis tidak mau menerapkan sistem sami’na wa atha’na. Penulis selalu berkata pada mereka, “jangan sependapat dan jangan menganggap penjelasan atau jawaban dari saya adalah sesuatu yang final/mutlaq/ pasti benar. Tidak. Kalau dirasa penjelasan masih kurang detail atau ada sesuatu yang beda yang “harus” diutarakan dan ditanyakan, ayo mari kita “diskusikan bersama”. Dalam setiap pertemuan penulis selalu menekankan pada mereka “Jangan takut untuk bertanya”, apapun itu. Melenceng/keluar dari materi tidak menjadi masalah. Karena “bertanya” merupakan salah satu bukti bahwa kita berpikir. Sebagaimana kata Descartes “Cogito Ergo Sum”. Dengan bertanya, maka berpikir. Dengan berpikir maka KITA ada, kita sadar bahwa pengetahuan kita masih harus ditambah, diluruskan dengan terus berproses.

    Ilmuan dan pembelajar yang haus ilmu pengetahuan ialah mereka yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi ilmu dan ilmuan. Dalam konteks dunia akademik “menghargai dan menjunjung tinggi” ilmuan bukanlah murid yang terus senantiasa memberikan gula teh, atau tetek bengek yang lain berupa materi. Namun menghargai dan menjunjung tinggi guru terealisasikan dalam sikap murid yang sangat antusias terhadap kehadiran guru dan tidak malu untuk berbagi pengalaman, serta bertanya “sesuatu” apapun kepada guru-nya, dan yang tidak kalah penting-nya adalah memberikan masukan konstruktif terhadap guru. Guru harus inklusif, demokratis dan tidak boleh merasa “benar” sendiri. Maksudnya adalah, saat dibenarkan, diluruskan dan dievaluasi bahasa kasarnya “di kritik” oleh murid ya jangan ngambek dan marah dong. Hhehehe.

    Memberikan kebebasan dan keleluasaan siswa dalam bertanya dimaksudkan agar guru mengetahui apa keresehan, kegalauan, yang sedang dipikirkan (problem) atau apa yang belum dipahami mengenai sesuatu hal. Karena hakikat guru ialah cahaya yang menerangi kegelapan dari berbagai macam sisi. Guru bukan hanya menyinari satu sisi (mengajarkan materi pelajaran yang diampunya) tapi juga menjadi “pencerah” siswa dalam berbagai macam problem/masalah yang sedang dihadapi baik itu keresehan maupun keingintahuan siswa.
    Tak hanya itu, memberikan kebebasan siswa dalam bertanya berarti guru memberikan ruang pada siswa untuk mengembangkan kreativitas, potensi dan keingintahuan siswa”. Saya bebaskan mereka untuk berbicara, bertanya dan sharing pengalaman mereka atau masalah yang sedang mereka hadapi. Dari setiap problem dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, saya dapat mengetahui kerangka berpikir mereka, seperti apa kesadaran mereka menjadi seorang “pembelajar”, serta sejauh mana mereka mensyukuri potensi yang Allah berikan, berupa akal, hati, pendengaran, penglihatan, lisan serta indera yang lain.

    Bertanyalah. Bertanyalah. Sampaikan pendapat kalian, jangan hanya "nurut/ngeli wong liyo/ mengikuti arus orang lain tanpa mengetahui sebab dan alasannya”.

    Terakhir, Pendidikan merupakan salah satu jalan yang menerangi manusia dari kegelapan,menuju cahaya yang terang benderang sebagaimana min adz-dzulumati ila an-nur.


    Penulis: Siti Mukaromah 
    Mahasiswi Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Prof Rochmat: 4 Nilai di Balik Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. saat ngobrol santai bersama mantan Presiden Indonesia BJ Habibie.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Hari-hari suasana liburan Maulid Nabi beberapa waktu sebagaian orang menjadikannya sebagai liburan panjang, long weekend. Kita sebagai umat islam tentu tidak cukup menikmati liburannya, yang jauh lebih penting adalah nilai-nilai di balik kelahiran Rasulullah Muhammad SAW di dunia fana ini.

    Tahun ini, Maulid Nabi Muhammad jatuh pada 20 November 2018. Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., setidak-tidaknya ada 4 hal penting yang menjadi nilai di balik kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. “Pertama, Rasulullah datang untuk meluruskan aqidah (Huwallaahul ladzii laailaaha illaa Huwa). Jika saat itu Rasulullah saw mengajak ummat manusia untuk meninggalkan perilaku musyrik (era jahiliyah), yang diindikasikan dengan penyembahan patung-patung di sekitar Ka’bah, untuk menjadi penduduk Makkah yang beriman dan bertaqwa, maka kini saatnya ummat Islam harus berhasil menghadapi jahiliyah moderen, yang dicirikan dengan kehidupan yang materialistik, kapitalistik, pragmatistik, hedonistik, dan sebagainya yang menghasilkan ilah-ilah modern, sebagai manifestasi ingkar hidayah Allah dan hukum Allah,” ucapnya.

    “Kedua, Rasulullah saw dibangkitkan di bumi semata-mata untuk menyempurnakan akhlaq (Innamaa bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq). Saat itu akhlaq orang quraisy rusak sekali yang perilakunya tidak beradab.Kini dengan era globalisasi, nilai-nilai dari dunia luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam harus difilter, sehingga akhlaq ummat Islam tetap terjaga, marwah manusia tidak ter-downgrade-kan ke tempat yg terendah,” beber Prof Rochmat.

    “Ketiga, Rasulullah saw hadir di dunia untuk rahmat seluruh alam (Wamaa arsalnaaka illaa rahmatal lil-‘aalaamiin). Maksudnya bahwa Rasulullah hadir untuk keselamatan, keberkahan dan anugerah, serta kedamaian bagi semua makhluk hidup dan mati di manapun dan kapanpun ilaa yaumil qiyaamah. Jika kehadiran Islam mengancam keselamatan dan kedamaian, maka faktor utamanya ada di manusianya,” katanya.

    “Keempat, Rasulullah saw hadir menjadi teladan (Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatal limang kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wadzakarallaaha katsiiraa). Teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Apakah sebagai pribadi, kepala rumah tangga, penyebar agama, maupun pimpinan negara dan sebagainya, baik berupa sikap, perkataan, maupun perilakunya. Yang semuanya dapat dibaca hadits-hadits Rasulullah saw,” cetusnya.

    Selanjutnya, kata Prof. Rochmat, apa yang bisa kita lakukan untuk memperingati Maulud Nabi, yaitu banyak membaca shalawat untuk Nabi saw (Ingat Allah dan Malaikat saja memberi shalawat), mengkaji tarih Rasulullah (untuk mendapatkan pelajaran kehidupan), dan berusaha membumikan ajaran yang dibawa Rasulullah saw. “Hanya kepadamu Ya Allah swt kami mohon untuk terus mendapatkan spirit dan kemampuan dalam mengikuti keteladanan Rasulullah. Aamiin,” tutup mantan Ketua Tanfidziah PWNU DIY ini.


    PP Ulul Albab Balirejo Gelar Maulid Nabi, Habib Aydrus dari Yaman Didatangkan

    Suasana usai acara berlangsung.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, Kota Yogyakarta menggelar Majelis Sholawat sebagai rangkaian malam puncak Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H pada Senin (19/11/2018) bertempat di Mushollah Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo yang terletak di lantai tiga pondok tersebut.

    Rangkaian kegiatan maulid nabi ini diawali dengan pembacaan Rawi atau Sholawat nabi yang dipimpin oleh Habib Abdullah Bin Husein Assegaf.

    “Kegiatan ini merupakan kali kedua Habib Aydrus Bin Abdullah Al Aydrus dari Yaman hadir di Pondok Pesantren Ulul Albab ini,” ucap Ricco Survival Yubaidi, S.H., M.Kn. selaku putera dari pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo, K.H. Ahmad Yubaidi, S.H., S.Pd., M.H. di sela-sela acara tersebut berlangsung.

    Gus Ricco, sapaan akrabnya berharap semoga saja dengan hadirnya Habib Aydrus membawa berkah kepada santri-santri dan jamaah yang datang sekaligus berkah bagi pesantren serta masyarakat sekitar.

    Salah satu pesan yang disampaikan oleh Habib kepada para santri adalah untuk dapat bijak dalam mengatur hak waktu. Apabila saat menjadi mahasiswa maka harus memberikan konsentrasi penuh di Universitas, namun ketika sudah kembali di pondok maka harus kembali menjadi santri yang serius mengaji.

    Suasana malam puncak maulid nabi berlangsung dengan tertib dan lancar. Dialog yang intens antara penceramah dan peserta pun terlihat intens menambah hangat suasana. Banyak harapan bahwa kegiatan tersebut dapat digelar rutin setiap tahunnya sebagai bukti kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

    Acara peringatan Maulid Nabi ini selain dihadiri oleh sekitar 200 santriwan-santriwati, turut dihadiri pula oleh masyarakat dan tokoh masyarakat sekitar. (*)

    Muballigh Besar Drs. KH Sunardi Syahuri Tutup Usia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. saat berbela sungkawa di rumah duka Drs. KH Sunardi Syahuri.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Telah berpulang ke rahmatullah untuk selama-lamanya, Drs. KH Sunardi Syahuri, pada hari Ahad, 11/11/2018 di Yogyakarta, dan dimakam pada hari Senin, 12/11/2018.

    Menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017 Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., sosok seorang KH Sunardi Syahuri merupakan sosok muballigh besar juga dermawan. “(KH Sunardi Syahuri) seorang muballigh besar, dermawan, dan tokoh Islam terkenal, semoga husnul khaatimah, diampuni dosa-dosanya, diterima amal sholehnya, serta keluarga yang ditinggalksn diberi ketabahan dan kemampuan untuk melanjutkan perjuangannya. Aamiin,” ucap Prof. Rochmat.

    Ummat Islam DIY dan Jateng khususnya, serta Indonesia umumnya, kata Prof. Rochmat, kehilangan seorang ulama yang dicintai ummatnya. “Almarhum adalah pengurus dan aktifis di beberapa institusi dakwah dan ulama yang gigih dalam bedakwah bil-qaul dan bil-hal, ulama mutawasith yg layani semua golongan ummat, dai untuk ummat terpelajar dan ummat yang di seluruh pelosok, dan banyak lagi sebutan untuk Almarhum,” katanya. “Karena itu yang kehilangan bukan hanya keluarga, melainkan juga semua ummat Islam. Karena beliau sudah berjihad fii sabilillah, maka Almarhum sebenarnya masih hidup karena namanya insya Allah akan dikenang dan akan diikuti jejaknya oleh ummat dan terutama tokoh-tokoh yg istiqamah untuk tegakkan Islam,” beber mantan Ketua Tanfidziah PWNU DIY ini.

    Lebih jauh, kata Rochmat, “Mautul ‘aalim mautul ‘alam, (Matinya seorang yang alim, Matinya seluruh Alam). Mengapa demikian, karena orang alim yang wafat dengan membawa ilmu, ummat ikut kehilangan ilmu, kehilangan seorang yang suka menasehati dan memberikan cahaya dan pencerahan sehingga ummat hidupnya bisa menjadi tersesat. Padalah di tengah kehidupan yg krisis multidimensional, ummat sangat membutuhkan seseorang panutan dan teladan dalam berbuat kebajikan,” imbuhnya.

    Mautu ‘aalim ahabbu ila iblis min mauti sab’iina ‘aabidaa, (HR Imam Baihaqi), yang artinya “Wafatnya seorang ‘alim lebih disukai iblis daripada wafanya 70 orang ahli ibadah”. “Ini dapat diartikan betapa tingginya kedudukan seorang ulama di mata Iblis.” cerita Rochmat membacakan bunyi hadits nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW juga bersabda, kata Rochmad, bahwa “Menunggalnya ulama adalah musibah yg tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yg tidak bisa ditambal. Wafatnya ulana laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama (HR Ath Thabrani)”.

    “Dengan demikian jelaslah bahwa wafatnya seorang ulama, sungguh ummat Islam kehilangan sesuatu yang besar. Semoga anak-anak biologis dan ideologis KH Sunardi Syahuri bisa melanjutkan perjuannnya. Selamat jalan pak Kiai Sunardi, semoga disambut oleh Allah SWT dengan sangat baik dan mendapatkan tempat  terbaik di sisi-Nya. Aamiin. Lahul faatihah.” tutupnya.

    Komitmen Menulis Tiap Hari

    Gunawan.
    PEWARTAnews.com -- Senang rasanya bisa berbagi lewat karya tulis. Alhamdulillah, bahagia. Hati adem dan tenteram. Pikiran segar. Beban di kepala terasa ringan. Syukur pada Ilahi, tak henti kuucapkan.

    Inilah salah satu caraku mensyukuri nikmat Tuhan. Yakni, mencoba berbagi lewat goresan pena. Mulai dari hal yang paling sederhana, hingga sesuatu yang barangkali sebagian orang menganggapnya rumit. Ya, menulis, mensyukuri nikmat Tuhan. Demikianlah artikelku dalam buku antologi “Menulis Mengabadikan Pesan”.

    Entah mengapa jemari tangan seolah tak mau diam. Maunya menari dan bergoyang terus-menerus. Pikiran pun seolah tak karuan, apabila dalam sehari saja tidak menulis. Mungkin orang lain menganggap ini adalah hal yang aneh. Akan tetapi, beginilah yang terjadi dan yang kualami.

    Aku menulis rutin tiap hari sejak Desember 2016. Belum lama memang. Akan tetapi, setidaknya aku telah merasakan manfaat yang luar biasa. Bahagia sekali.

    Kisah dan pengalaman hidup masa kecil, tiba-tiba muncul saja di benak ini. Sehingga, memunculkan semangat untuk mengabadikannya. Aku berusaha untuk mengikat dengan tulisan atas apa yang pernah aku lalui dulu. Ya, paling tidak, untuk kenangan di masa mendatang. Juga, untuk dibaca oleh anak cucuku kemudian.

    Komitmen menulis tiap hari benar-benar hadir dari lubuk hati sendiri. Bukan terinspirasi dari siapa-siapa. Tak ada orang yang menyuruh. Juga, tak ada orang yang datang memaksa. Murni atas komitmen pribadi.

    Sebab, kala itu, aku bermimpi untuk melahirkan minimal dua buku dalam setahun. Entah itu dalam bentuk karya antologi (keroyokan) maupun buku mandiri (solo). Maka, hal yang mesti aku lakukan adalah menulis, menulis, dan menulis. Tak ada cara lain. Pun, tak ada jalan pintas.

    Ya, dengan menulis rutin tiap hari, maka aku optimis bahwa mimpi menelurkan buku (minimal dua buku setahun) akan terwujud. Dan, alhamdulillah, dengan izin Tuhan, hal demikian menjadi kenyataan.

    Begitulah. Jika segala usaha dibarengi dengan doa, maka akan mudah tercapai atas apa yang menjadi impian kita. Optimis itu penting. Dan, yang tak kalah penting adalah usaha untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, yakni menulis, dan terus menulis.

    Selain dari yang aku paparkan sebelumnya, aku menulis tiap hari sebagai wujud rasa syukurku pada Sang Pencipta. Ya, ini adalah salah satu bentuk ungkapan terima kasihku pada Sang Pemilik ilmu. Dengan asa, apa yang kutulis semoga bisa juga dinikmati oleh orang lain, dan mendatangkan kebermanfaatan bagi siapa pun. Artinya, aku tak ingin pengetahuan dan/atau pengalaman dalam diri hanya dinikmati oleh seorang diri. Aku ingin juga berbagi kepada sesama.

    Alhamdulillah, hingga kini, aku masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menulis rutin tiap hari, walau tak banyak. Aku masih bisa menikmati asyiknya “bercumbu” dengan tulisan. Aku masih bisa menggerakkan jemari dengan penuh semangat.

    Semoga kebiasaan ini bisa kulakukan hingga ajal menjemput. Dan, moga apa pun yang kutulis dan kubagi lewat karya tulis memberi manfaat bagi orang lain. Amin.

    Wallahu a’lam.


    Penulis: Gunawan
    Pemuda Produktif Menulis asal Bima NTB

    Asian Para Games dan Prestasi Gemilang Atlet Indonesia

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    PEWARTAnews.com – Asian Para Games saat pembukaan dibuka secara resmi oleh oleh Presiden RI Joko Widodo pada 6 Oktober 2018. Keberhasilan Asian Game Indonesia belum lama ini, baik sebagai penyelenggara maupun peserta (kontingen) telah membuktikan kesuksesan dan capaian prestasi yang gemilang. Harapan besar ini juga diikuti keberhasilan dan kesuksesan penyelenggaraan dan capaian prestasi panitia dan atlit (kontingen) Asian Para Games yang gemilang yang telah terselenggara juga belum lama ini (awal bulan Oktober).

    Asian Para Games diharapkan sekali dijadikan momentum yang strategis untuk kebangkitan layanan bagi kontingen berkebutuhan khusus, baik dari kontingen luar negeri maupun kontingen Indonesia. Penulis sebagai bagian dari komunitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ikut memberikan apresiasi terhadap Panitia yang telah berusaha memberikan fasilitas, dukungan, dan layanan yang terbaik untuk mereka, bisa mengekselerasi layanan bermutu dan relevan, sehingga mereka bisa tampil optimal.

    Hadiah dan bonus dari Pemerintah bagi atlit dan pelatihnya, idealnya sama, syukur-syukur bisa lebih. Paling tidak harapan itu jangan jauh di bawah dari peraih medali Asian Game. Alhamdulillah di hari pertama langsung dimulai untuk bulu tangkis beregu yang bisa raih medali emas.

    Ada beberapa pelajaran dari Asian Para Games. Pertama, usaha sukseskan penyelenggaraan mengindikasikan bahwa perhatian pemerintah semakin positif terhadap individu berkebutuhan khusus. Kedua, aksesibilitas bagi individu berkebutuhan khusus meningkat secara kuantitatif dan kualitatif. Ketiga, masyarakat sudah semakin menerima kehadiran anak atau orang berkebutuhan khusus di ruang publik. Keempat, anak berkebutuhan khusus semakin selfconfident bahwa potensinya bisa tumbuh dan berkembang dengan lingkungan yang semakin kondusif. Kelima, kita seharusnya dapat melihat individu berkebutuhan khusus lebih pada potensi dan prestasinya, bukan kelemahan atau kecacatannya.

    Keenam, dalam memberikan pelayanan kepada individu berkebutuhan khusus seharusnya diorientasikan untuk menuju kemandirian. Ketujuh, semua individu sama di hadapan Tuhan, termasuk antara individu yang berkebutuhan khusus dan yang normal, karena taqwa kepada Allah lah yang bisa membedakan di antara mereka.

    Man is unique. Inilah pandangan populer Alfred Adler, seorang Ahli Psikologi Individual. Karena itu setiap individu itu punya style if life yang berbeda-beda. Kita harus respek antar sesama, rasa ini yang belakangan mulai luntur. Setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahan. Sementara itu individu harus survive, dengan begitu seorang individu yang memiliki kelemahan yang berakibat pada rasa rendah diri (inferiority feeling) harus dikompensasi dengan pengembangan potensi atau kekuatan yang dimiliki dengan dorongan rasa keunggulan (superiority feeling). Praktek hidup ini bisa kita lihat pada Event Asian Para Games kemarin belum lama ini, bagaimana sejumlah atlet berkebutuhan khusus dengan ragam kelainannya, atas dasar kebutuhan berprestasi (need of achievement) dan kegigihan dan kesabaran pelatih dan manajer, sejumlah atlit bisa tunjukkan prestasi yang sangat gemilang.

    Contoh lain, siapa yang tidak kenal Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang berbadan kecil dan berhasil pimpin negara Perancis dan Revolusi Perancis dan seorang Adolf Hitler (1889-1945) yang impotent, memiliki keberanian yang luar biasa pimpin Revolusi Pan-Germany. Kelemahan yang dirasakan keduanya tidak otomatis menyebabkan tak berdaya dan inferior, tetapi justru mendorong dirinya untuk mengeksplorasi kekuatan dan mengusahakan diri secara optimal untuk bisa diwujudkan sehingga tidak hanya sekedar survive tetapi terbukti mampu mewarnai kehidupan dunia.

    Atas dasar itulah kita dan orang lain yang memiliki kelemahan, seharusnya terinspirasi dan segera melakukan asesmen, baik sekali dilakukan sedini mungkin, sehingga ditemukan potensi yang terus dilakukan pembinaan dan latihan serta pendidikan yang sesuai untuk bisa tumbuh dan berkembang optimal, yang idealnya bisa lahirkan prestasi yang gemilang dan menakjubkan sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya. Kita ingat bahwa Allah swt tidak akan pernah menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya.

    Bagaimana dengan pengalaman Anda, adakah catatan penting yang perlu di-share? Terima kasih.


    Penulis: Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
    Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017

    BBKT Karang Taruna Kota Jogja Bertajuk “Migunani Kagem Sesami”

    Berdiri ditengah Ketua MPKT Haris Syarif Usman, SH, MKn, PLT Kadinsos Yogyakarta Bejo Suwarno, SH., dan Ketua Rarang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. (sedang memangku anaknya)
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Pemuda di kota Gudeg Yogyakarta diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat. Berangkat dari hal demikian, Karang Taruna Yogyakarta menginisiasi untuk mengadakan agenda Bulan Bakti Karang Taruna (BBKT). Acara bertema "Migunani Kagem Sesami" ini diadakan pada hari Ahad, (11/11/2018).

    Ketua Karang Taruna Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. mengatakan bahwa kegiatannya BBKT ini berupa senam ceria, upacara,  bakti sosial pemberian sembako pada penyandang masalah kesejahteraan sosial, ziarah makam pahlawan dan sarasehan.

    "Acara berlangsung di Taman Inspirasi Brontokusuman, Mergangsan, Jogja. Diselenggarakan  oleh Karang Taruna Kota Jogja bersama Dinas Sosial Kota Yogyakarta," ujar mahasiswa Kenotariatan FH UGM ini.

    Solihul Hadi mengatakan, kegiatan BBKT merupakan agenda tahunan yang rutin dilakukan, melalui kegiatan ini pemuda dapat meningkatkan semangat  kesetiakawanan sosial dan mampu mengeksplorasi ide gagasan yang penuh inspirasi.

    "Tujuannya agar Pemuda Karang Taruna sebagai generasi milenial tidak mudah terprovokasi dengan tetap menjaga semangat persatuan dan kesatuan di tahun politik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 saat ini," ungkapnya.

    Kabid Data Informasi dan Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kota Yogyakarta Esti Setyarsi menjelaskan, Bulan Bakti Karang Taruna selain untuk memperingati ulang tahun Karang Taruna, harapannya pengurus Karang Taruna se-Kota Yogyakarta mulai dari tingkat unit, kelurahan, kecamatan, dan kota dapat lebih solid.

    Wakil Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia Kota Jogja Peltu (Purn) Suniyat berharap, bersamaan dengan Hari Pahlawan Nasional diharapkan para pemuda di Yogyakarta dapat mengimplementasi nilai-nilai kepahlawanan ddalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

    Ketua Panitia BBKT Muhammad Iqbal Hardian mengungkapkan terima kasih pada semua pihak yang terlibat, juga pada komunitas Ketjil Bergerak. "Kegiatan ini bertujuan menjadikan Karang Taruna sebagai kebanggaan, solidaritas, kebermanfaatan sosial dan membangun kekeluargaan," jelasnya. (MJ)

    2050 Diprediksi Ada 4 Kekuatan yang Membentuk Peradaban Masa Depan Dunia Utara

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpeci).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Menurut lelaki paruh baya yang sempat menjabat rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dua periode 2009-2017, Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., mengatakan bahwa sekitar pada tahun 2050 mendatang diprediksi akan ada 4 kekuatan yang membentuk peradaban masa depan dunia utara, yaitu : trend demograpik, tuntutan sumber daya alam, perubahan cuaca dan globalisasi.

    “Dunia utara dimaknai bukan hanya belahan dunia barat tetapi juga dunia timur. Sebagaimana yang pernah saya dapatkan komentar dalam forum diskusi dengan sejumlah ahli Jepang, bahwa dunia belahan timur bagian utara, misal Jepang, Korea, dan China tidak bisa dipisahkan dari bagian selatan, misalnya : negara-negara Asean, termasuk Negara-negara Asean, karena Jepang dan negara maju sekitarnya, khususnya dapat menjaga diri dengan baik.,” beber Prof Rochmat, belum lama ini di Yogyakarta, 05/10/2018.

    Trend geograpik, kata Prof. Rochmat, bisa menjadi potensi besar jika dikelola dengan sebaik-baiknya, namun jika tidak dikelola dengan sebaik-baiknya boleh jadi akan menjadi beban dan malapetaka.

    “Sumber daya alam adalah aset yang bisa habis, jika dikonsumsi secara berlebihan. Sementara kebutuhan dan tuntutan sumber daya alam akan terus berlangsung. Untuk menjaga sumber daya alam tetap bisa memenuhi kehidupan generasi mendatang sangat diperlukan pengelolaan sumberdaya alam secara hemat, produksi energi terbarukan, rekayasa sumber daya alam sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi pemborosan yang berlebihan,” ucap lelaki yang juga sempat menjabat Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016 ini.

    Adanya perubahan cuaca, lanjut Rochmat, juga tidak bisa dihindari, terlebih-lebih dengan adanya pemanasan global yang membuat es yang ada di kutub utara dan selatan berangsur-angsur mencair yang berkonsekuensi logis terjadinya permukaan air laut naik dan banjir di mana-mana tidak bisa dihindari. “Banjir tidak hanya menguntungkan dalam batas-batas tertentu, namun di sisi lain banjir bisa akibatkan malapetaka,” kata Rochmat.

    Lebih lanjut, Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini mengatakan bahwa globalisasi, yang semula hanya terkait dengan dunia ekonomi, kini globalisasi sudah menyangkut semua aspek kehidupan, baik aspek sosial, kesehatan, budaya, pendidikan, sain dan teknologi, maupun kehidupan agama serta aspek lainnya, walaupun belakangan ini secara tidak langsung kebutuhan dunia IT menjadi primadona dan tidak bisa diabaikan. “Yang jejas bahwa arah globalisasi adalah meng-guide kita untuk mewujudkan perintah Allah Swt, bagaimana menjadi rahmat bagi seluruh alam,” cetus Rochmat.

    Lebih jauh Prof Rochmat mengingatkan, walaupun kita yang berusia 50-an tahun, kita yang sebagian besar, boleh jadi tidak akan bisa melihat langsung realita pada 2050, namun paling tidak kita by designed sudah ingatkan generasi anak-anak dan remaja untuk benar-benar latihan memanaj waktu.

    “Ingat, alwaqtu kassaiif, fain lam taqtha’hu qatha-aka, yang artinya, bahwa waktu laksana pedang, jika kamu tidak menggunakannya secara tepat maka akan penggal (leher) mu. Karena itu kita harus optimis dan menjaga waktu dengan sebaik-baiknya untuk produktif, jika tidak mampu mengelola waktu ke depan dengan aktivitas yang baik dan berkelas, maka akan merugi, karena tidak menjadi subjek tetapi menjadi objek. Gimana menurut Anda tantantangan masa depan ini?,” tutup Prof Rochmat dengan mengakhiranya dengan pertanyaan untuk kita dan seluruh warga Indonesia.

    Bupati dan Wakil Bupati Bima Hadir Meriahkan Festival Bombo Ncera

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. didampingi Ketua Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) Aswad, S.Pd. saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. didampingi Wakil Bupati Bima Drs. Dahlan  M. Noer dan juga Ketua Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN) Aswad, S.Pd. saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. berfoto bersama warga setempat saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Warga saat mengikuti Pawai menuju Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Vhida.

    Warga saat mengikuti Pawai menuju Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: Rahma.

    Suasana warga di pintu gerbang Bombo Ncera saat menghadiri Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: M. Nur Dirham.

    Suasana penenunan kain khas Bima saat acara Festival Bombo Ncera, 11/11/2018. Foto: M. Nur Dirham.

    Deklarasi Karang Taruna DIY saat Perayaan Hari Pahlawan Nasional

    Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. saat Upacara Hari Sumpah Pemuda DIY.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Dalam rangka upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda, 10/11/2018, Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta mengucapkan Deklarasi yang berisi 4 point penting tentang Hari Pahlawan Nasional.

    Pembacaan deklarasi diwakili oleh Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta Solihul Hadi, S.H. saat Upacara Hari Sumpah Pemuda DIY. "Saya Solihul Hadi, Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta mewakili generasi muda Karang Taruna se DIY mngucapkan terimakasih telah diberikan kesempatan untuk menyampaikan Deklarasi dalam acara Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2018 ini," ucap Solihul saat membacakan isi point-point deklarasi.

    Point yang dibacakan dalam deklarasi tersebut diantaranya: Pertama, Kami Generasi Muda Karang Taruna mengucapkan Selamat Memperingati Hari Pahlawan Nasional 2018.

    Kedua, Kami Generasi Muda Karang Taruna mengucapkan terimakasih atas jasa para pahlawan yang telah mewariskan kemerdekaan dengan penuh pengorbanan jiwa dan raga serta pertumpahan darah dimedan pertempuran, sehingga generasi muda hari ini dapat terbentuk menjadi generasi penuh Inspirasi serta nemiliki Narasi besar dalam keikutsertaan membangun Bangsa baik dalam sektor sosial, ekonomi  budaya dan politik.
    Ketiga, Kami Generasi Muda Karang Taruna akan mengeksplorasi dan mengimplementasi nilai-nilai perjuangan para pahlawan dalam kehidupan bermasyarakat untuk mengembaliken semangat dan jiwa sosial yang bertanggungjawab.

    Keempat, Kami Generasi Muda Karang Taruna Berdo'a semoga para pahlawan yang telah gugur mendapat tempat yang layak dan diberikan nikmat kubur dialam sana, dan semoga para keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kekuatan dan semangat yang sama dengan para leluhurnya didalam meneruskan ruh juang dan kepahlawanan. (MJ / PEWARTAnews)

    Polisi, TNI dan Masyarakat Gelar Bersih Bersama untuk Menyambut Festival Bombo Ncera

    Polisi, TNI dan Masyarakat desa Ncera saat melakukan  kerja bakti pembersihan kawasan wilayah Bombo Ncera (09/11/2018), untuk menyambut Festival Bombo Ncera yang akan di gelar pada 11-12 November 2018. Foto: Yuke.

    Rizalul Fiqry: Untuk Dompu, Banjir adalah Bencana Langganan dan Duka yang Disengaja

    Rizalul Fiqry, S.Pd., M.Pd.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Pemuda asal Dompu, Rizalul Fiqry, S.Si., M.Pd., (biasa dikenal dengan nama Cici), merasa gelisah dengan kondisi yang terjadi di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat-saat ini. Kegelisahan Cici pernah juga diutarakannya lewat akun media sosial facebook miliknya Rizalul Fiqry. "Untuk Bima dan Dompu, mari kita liat kontroversinya: 1. Hutan kering dan tandus Vs tuntutan peningkatan kuantitas pupuk subsidi; 2. Stop penggundulan hutan Vs tuntutan menaikkan harga jagung; 3. Sumber mata air berkurang Vs pembiaran illegal logging; 4. Hentikan peladangan liar Vs nyaris semua orang tua ingin anaknya PNS," tulisnya, 03/11/2018.

    Tidak lama berselang, apa yang digelisahkan Cici terhadap Dompu, akhirnya terjadi juga banjir bandang yang melanda Desa Tolokalo dan Desa Songgajah, Dompu, NTB, Jumat (9/11/2018).

    Menurut Cici (10/11/2018), saat ini Banjir yang terjadi di Dompu merupakan bencana langganan dan duka yang disengaja. "Dalilnya, branding daerah penghasil jagung, dimana wilayah sawah dijadikan perkampungan dan perkantoran sedangkan lahan jagung dipilih lahan tagalan dan perbukitan. Konsekuensi dari ikon adalah minimal mempertahankan kuantitas dan kualitas, dan sebisa mungkin meningkatkannya," ungkap pemuda yang belum lama ini sidang tesis sebagai pertanda gelar magister secara de facto telah ia raih.

    Lebih lanjut, kata Cici, isu lingkungan dijadikan ban serep oleh sebagian komunitas guna pendongkrak elektabilitas untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. "Lagian, isu lingkungan seperti makanan pendamping saja.  Wajar jika yang dibahas kemudian hanyalah dampak, kemudian oleh sebagian komunitas oportinis dijadikan ajang mengisi kantong dan menaikkan elektabilitas dalam agenda politik. Benar-benar sikap yang naif dan picik," bebernya.

    Harusnya, kata Cici, yang dibahas adalah gagasan dengan beragam jangka waktu pencapaian. "Sikap keras kepala, ditambah penyakit psikoekonomi adalah tersangka utama dari bencana alam dan  konflik yang membudaya di tanah Nggusu Waru," sebut Cici mengutip apa yang sempat di utarakan M. Soalihin, 2018. (MJ / PEWARTAnews)

    Pusmaja Bangun Diskusi Sosial Budaya, Soalihin: Belajar Selesaikan Konflik Cara Desa Maria

    Mohammad Soalihin (baju kuning) saat menyampaikan materi di acara PUSMAJA, 08/11/2018.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Konflik yang terjadi di daerah Bima NTB mencapai 400an ditahun sampai tahun 2018. Tersangka utama dari konflik tersebut adalah penyakit psikoekonomi. Konflik yang disebabkan gesekan antarkolompok masyarakat tersebut diprediksikan akan terus mengalami peningkatan kasus jika tidak segera ditemukan solusi terbaik. Meski Wilayah timur pulau Sumbawa itu memiliki  tingkat kriminal yang tinggi, namun hal sebaliknya justru terjadi di Desa Maria Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Desa dan kecamatan tersebut justru memiliki nol catatan kriminal yang tercatat di kepolisian. Tertarik dengan hal tersebut, Mohammad Soalihin berusaha meneliti.

    "Konsep Maria Village Zero Coflict adalah tantangan masa depan, untuk membawa daerah keluar dari zona konflik. Dasarnya, perdamaian menjadi barang mahal," papar Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah UNY ketika memberikan materi di kegiatan diskusi yang dihelat Pusat Studo Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta di Yogyakarta, 8 November 2018.

    Sebagain data angka kriminal yang dihimpunnya sebagai referensi adalah, Kecamatan Sape 176 titik konflik, Woha 121. Dab, diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sampai 2020. Sedangkan di Wawo, tidak ada. "Bagaimana solusi mereka (masyarakat Wawo, red) hingga bisa  keluar dari zona konflik," tuturnya dengan nada tanya.

    Konsep masyarakat di Desa Maria yang tergolong dalam wilayah agraris,  menyibukkan diri, sehingga tak terlalu memperhatikan permasalah di luar. Riset dengan pendekatan lingkungan hidup, sudah marak dilakukan. Tapi, belum ke wilayah kepercayaan. Konsep dasar jati diri dari identitas (boleh memiliki) dan konsep identitas. Di Desa Maria, tak ada pengelompokan (strata). Konsep kearisan lokal, mpa'a tumbu. "Secara etika, paling kasar. Secara estetika, mari kita lihat. Filosofinya, menghancurkan sikap keras kepala. Kekerasan dan keangkuhan, tidak ada apa apanya bagi mereka (Maria)," katanya.

    Lebih lanjut, Soalihin menjelaskan, kosep kultur, ruang lingkup kehidupan, ikon yang sama dan gaya hidip yang sama membuat masyarakat Desa Maria mampu meminimalisir sentimental. "Inilah yang menimbulkan kedamaian dan sikap saling menghargai," pungkasnya.

    Suasana saat acara berlangsung.

    Sementara, Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, Ilmidin yang ditanya tujuan mengadakan diskusi tersebut mengatakan, konflik yang terjadi di Bima bahkan di Dompu belum benar benar dicari tahu akar masalahnya. Bahkan, sudah dianggap sebagai konflik yang membudaya. "Makanya, kita coba runut akar masalah dan sekaligus solusi masa depab yang menantang. Maria Village Zero Conflict adalah riset yang patut untuk dirubrikkan serius. Jika Desa Maria bisa, kenapa Bima dan Dompu tidak bisa," tuturnya.

    Kedepannya, lanjut Ilmi (sapaan akrab Ilmidin), diakusi untuk melahirkan solusi untuk masalah kedaerahan akan terus dilakukan. Kegiatan kami juga tak akan berhasil tanpa kerjasama dari mahasiswa asal Bima dan Dompu di Jogja. "Bahkan, banyak mahasiswa di luar NTB yang ikut diskusi kami," pungkasnya. (RF / PEWARTAnews)

    Kehidupan Sosial dan Umpatan Lako Donggo, Pandangan Ghazaly

    Dr. Ghazaly Ama La Nora, S.IP., M.Si.
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- "Kamu tau, hidup di rumah susun, apartemen, dan rumah rumah besar itu memiliki konsekuensi sosial yang besar juga. Nilai kemanusiaan, kedekatan dan kepedulian sosialnya berkurang pesat. Siapa lu siapa gue, gaya hidup di sana. Bersyukurlah, Donggo dan kita di Bima Dompu masih terjaga dari gaya hidup yang apatis," penjelasan mantap dari Dr. Ghazaly Ama La Nora, S.IP., M.Si., ketika menyampaikan materi di Jogja, 28 Oktober 2018 lalu.

    Dosen ilmu komunikasi politik di Universitas Mercu Buana Jakarta ini juga menyinggung masalah umpatan Lako Donggo, Anjing Donggo, dan  'Bote Donggo, Monyet Donggo,. Ironisnya, kata Ghazaly, umpatan itu digunakan untuk anak atau orang lain, yang tak ada hubungannya dengan Dou Donggo, Orang Donggo,.

    "Ana ndaina ma ndawi rawi, Dou Donggo ku ndi nga'una. Na lu'u ja ba aka ndi rawina ro. Anaknya yang punya masalah, orang Donggo yang dicaci. Masuk diakal nggak apa yang mereka lakukan," tuturnya.

    Mengikuti cara pandang rusak yang memarginalkan dou Donggo dengan umpatan tersebut, anak dari TGH. Abdul Majid Bakry memberikan perbandingan antara Lako Donggo dengan Lako Kota.  Menurutnya, dari segi gaya hidup dan manfaatnya, Lako Donggo itu unggul dari pada Lako Kota.

    "Ausi bedana Lako Donggo labo lako Kota. Sama sama wara ketona, sama sama mbowona, sama sama kajulu na rera na. Pala, Lako Donggo itu pola hidupnya sehat karena hidup di gunung. Makanannya binatang binatang di hutan, digunakan untuk berburu. Nah, tio japu Lako Kota re. Makanannya sisa sisa sampah dan kotoran, penyebar penyakit, gonggongannya tak jelas, rakus dan suka mencuri. Dari gaya hidupnya saja sudah beda antara Lako Donggo dan Lako Kota," papar pria yang akrab disapa Ama La Nora itu.

    Dengan tegas, dirinya meminta agar dihentikannya umpatan umpatan yang memerginalkan Dou Donggo. Kontek sosialnya, lanjut Ghazaly, manusia yang hidup di bumi ini sama derajatnya dimata pencipta dan hukum kenegaraan. "Tapi satu hal yang harus diingat. Dou Donggo melalui peristiwa 1972 sudah membuktikan diri sebagai kelompok masyarakat visioner, peka terhadap permasalahan sosial, berjiwa kritis, dan bermental ksatria," pungkasnya. (RF / PEWARTAnews)

    Prof Rochmat Wahab: Ilmu Laksana Cahaya yang Mencerahkan

    Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. (berpose tinggi).
    Yogyakarta, PEWARTAnews.com – Ilmu pada prinsipnya untuk menjadi penerang dalam ketidaktahuan, dengan ilmu dan keahlian seseorang bisa melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Seseorang yang berilmu mampu melaksanakan sesuatu hal yang baik dan di ridhoi oleh Allah. Selain itu, tidak jarang juga orang yang mempunyai ilmu mempergunakan ilmunya dengan hal-hal buruk.

    Menurut Guru Besar dalam bidang ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Dr. H. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., ilmu itu ibaratkan suatu cahaya yang mampu memberi penerang buat segala sesuatu yang berada disekitarnya. “Al’ilmu Nuurun, Ilmu itu adalah laksana cahaya yang mencerahkan. Tidak sedikit orang yang berlimu tidak sehat, mudah marah, berbuat plagiat, dan berakhlak tak terpuji. Jika terjadi demikian mengindikasikan bahwa ilmu yang dimiliki tidak mempribadi dan tidak diamalkan. Ingat bahwa, al’ilmu bilaa ‘amalin kasy-syajari bilaa tsamarin, ilmu yang tidak diamalkan itu laksana pohon yang tidak berbuah. Sayang kan?,” terangnya, 04/10/2018.

    Karena itulah, kata Prof Rochmat, mari kita terus berikhtiar seraya memohon bimbingan Tuhan, semoga ilmu kita berguna untuk diri kita sendiri sebelum berguna bagi orang dan pihak lain.

    “Ilmu yang kita miliki tidak untuk dibanggakan karena banyak dan hebatnya, melainkan ilmu yang bisa memberikan barakah sebanyak-banyaknya, ilmu yang bisa mencerahkan diri kita dan orang dan pihak lain. Ilmu yang bisa menjadikan diri kita sehat jasmaniah dan ruhaniyah kita, ilmu yang bisa bimbing emosi kita, sehingga bisa menjadi sabar dan rendah hati, ilmu yang bisa membimbing pikiran kita untuk produktif ide, kreatif dan inovatif sehingga memberikan manfaat bagi orang lain, dan ilmu yang membimbing hati kita sehingga terjaga kehidupan beragama kita,” beber profesor yang juga Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019 ini.

    Lebih lanjut, mantan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016 ini mengatakan dengan berilmu kita bisa menjadi orang yang beruntung dan tidak salah melangkah. “Dengan begitu ilmu yang kita miliki dan yang mau kita raih, benar-benar ilmu yang menerangi dan mencerahkan hidup kita, sehingga kita menjadi orang yang beruntung dan tidak tersesat,” ucap Prof Rochmat.

    Yuuk Hadiri “Festival Bombo Ncera, Bima NTB” Bulan November Ini

    Poster Festival Bombo Ncera pada 11-12 November 2018, yang dibuat Dinas Pariwisata Kabupaten Bima.
    Bima, PEWARTAnews.com – Wisata Alam Bombo Ncera letak tepatnya di Desa Ncera, merupakan salah satu obyek wisata alam yang menarik di Kabupaten Bima yang perlu dikunjungi oleh wisatawan Daerah sekitarnya, bahkan tempat wisata ini kini sudah menjadi salahsatu tempat wisata yang sudah diakui oleh pemerintah kabupaten Bima sebagai salahsatu tempat wisata prioritas Kabupaten Bima. Lokasinya berada sekitar 45 km dari Kota Bima, yang terdapat di ujung pegunungan Desa Ncera Kecamatan Belo Kabupaten Bima Propinsi NTB.

    Keindahan suguhan alam di Wisata Alam Bombo Ncera.

    Kita tahu bersama, peminat wisata kini sudah banyak beralih ke-wisata alam. Keberadaan tempat wisata Bombo Ncera menjadi kabar gembira bagi warga luar Bima dan juga wisatawan asing (mancanegara) untuk mencoba menikmati keindahan suguhan alami yang dipersembahkan wisata Alam Bombo Ncera ini. Info yang lebih menarik lagi, bulan ini akan ada Festival Bombo Ncera, semua kreasi daerah akan disajikan dalam momen festival yang akan digelar satu kali setahun ini.

    Ragam perlombaan dalam Festival Bombo Ncera yang akan digelar 11-12 November 2018.

    Dalam Feestifal Bombo Ncera, pengunjung akan disuguhi dengan berbagaimacam acara, ada Atraksi Budaya (seperti Pawai Budaya, Drama La Raji, Musikalisasi Puisi, Kareku Kandei, Gambus, Tarian Khas Bima, Hadora, Penghijauan), ada Pameran Kreatif (seperti pameran Ekonomi Kreatif, pameran hasil Tenunan Bima, racikan kopi, pameran hasil tani masyarakat, puru timbu, pameran makanan khas), dan ada juga Lomba Budaya (seperti Ngana Dipi, Ngana Kambuti, Patu Cambe). Tidak tanggung-tanggung, dalam Festival ini akan diperebutkan hadiah utama sebesar Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), dan juga banyak hadiah-hadiah lainnya. Ingin berpartisipasi? Hubungi Ketua Umum KPPBN di 085338162624 (Yuke), atau Ketua Panitia di 082398726190 (Igel).

    Beberapa Panitia dalam Festival Bombo Ncera yang akan digelar 11-12 November 2018.

    Mengunjungi Festival Bombo Ncera kita tidak akan rugi, selain disuguhi hal-hal indah diatas, tentunya pasti disana akan kita dapatkan teman baru, makanan khas, ilmu, panorama alam yang indah, air yang jernih, dan tentunya pulang dengan hati bahagia.

    Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri, S.E. beserta perangkat Pemda Bima, dihadiri juga Ketua Umum KPPBN Aswad, S.Pd., saat berembug salahsatunya terkait Festival Bombo Ncera yang akan digelar 11-12 November 2018.

    Sebagai bentuk dukungan penuh pemerintah Kabupaten Bima terhadap Festival Bombo Ncera, banyak hal yang sudah dilakukan, seperti Bupati Bima melakukan rembug bareng dengan rekan-rekan Komunitas Pemuda Pemerhati Bombo Ncera (KPPBN), dan tentunya himbauan Pemda Bima untuk memeriahkan acara Festival Bombo Ncera ini. “Selamat pagi Sobat... Ayo ke Bombo Ncera yuuuk tanggal 11-12 November 2018... ditungguuu..." tulis Pemda Bima melalui akun fanpage facebook resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, 07/11/2018, sambil melampirkan dalam seruan tersebut poster tentang acara Festival Bombo Ncera.

    Ayo bang, hadir yach, di Festival Bombo Ncera, 11-12 November 2018.

    Sebagai bentuk ajakan ala-ala generasi milenial, juga dilakukan oleh Ketua KPPBN Aswad, S.Pd. “Yang berat itu bukan rindu, tapi ketika kamu gak datang menyaksikan Festival Bombo Ncera 11-12 November 2018, Hari Minggu,” ucap Aswad, S.Pd. yang biasa dikenal masyarakat sekitar dengan nama Yuke, celoteh tersebut dilakukannya lewat akun facebook pribadinya “Tentang Kita”, 07/11/2018.
    Santabe bang, kakak-kakak cantik, jangan lupa hadir di Festival Bombo Ncera, 11-12 November 2018.

    Agar masyarakat tidak lupa akan agenda Festival Bombo Ncera, mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) Dedi Purwanto, S.H., yang juga merupakan putra desa Ncera, juga mengingatkan tentang perlunya hadir dalam agenda ini. “Manusia harus terus di ingatkan, tentang masa lalunya, tradisinya, maupun peradabannya. Pelupa, iya, kata itu adalah diksi yang pas untuk mengambarkan manusia. Oleh karena itu, setiap kita perlu di ingatkan kembali, karena memang ada beberapa orang yang lupa atau sengaja untuk lupa tentang masa lalunya.” ucap Dedi Purwanto melalui akun facebook pribadinya “Dedy Purwanto” sambil mengunggah kembali poster yang sempat di unggah Dinas Pariwisata Kabupaten Bima akun fanpage facebook resminya.

    Haloo! nanti hadir ya, di Festival Bombo Ncera, 11-12 November 2018.

    Bentuk dukukan, ajakan, dan juga hadir langsung artis kondang kenamaan jebolan Dangdut Akademi 3 (DA3) Indosiar Anggun Bima. “Ramaikan FESTIVAL Bombo Ncera tanggal 11-12 November ini..... Yang pastinya seru-seruan bersama keluarga, sekaligus wisata kuliner, juga bisa mandi-mandi juga happy foto-foto bersama kawan-kawan serta keluarga, yang pasti tak kalah menarik ada berbagai seni serta budaya yang di tampilkan untuk para pngunjung. Juga yang pastinya saya juga hadir di sana memenuhi undangan ibu kepala suku yaitu Yuke alias aswati alias,” tulis Artis jebolan DA3 Indosiar Anggun Bima melalui akun facebook miliknya yang ditulis dengan nama asli “Anggun Merdekawati”. (MJ / PEWARTAnews)
    Gerbang masuk Wisata Bombo Ncera.

     

    Iklan

    Iklan
    Untuk Info Lanjut Klik Gambar
    Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website