Headlines News :
Home » , » Ayo Bertanya

Ayo Bertanya

Written By Pewarta News on Selasa, 27 November 2018 | 00.52

Potret keseruan anak kelas VIII F saat belajar PAI yang penilis terapkan dengan menggunakan strategi active learning (debat) dengan teman sebayanya (kelompok yang sedang presentasi). Kelompok lain boleh mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat atau menyanggah jawaban yang diberikan apabila belum puas. Sesi akhir, dengan penguatan guru.
PEWARTAnews.com – Dalam dunia “akademik” dimanapun saya berada, baik berbagi ilmu dengan anak SD, SMP, SMK yang notabene mereka siswa biasa atau santri, penulis tidak mau menerapkan sistem sami’na wa atha’na. Penulis selalu berkata pada mereka, “jangan sependapat dan jangan menganggap penjelasan atau jawaban dari saya adalah sesuatu yang final/mutlaq/ pasti benar. Tidak. Kalau dirasa penjelasan masih kurang detail atau ada sesuatu yang beda yang “harus” diutarakan dan ditanyakan, ayo mari kita “diskusikan bersama”. Dalam setiap pertemuan penulis selalu menekankan pada mereka “Jangan takut untuk bertanya”, apapun itu. Melenceng/keluar dari materi tidak menjadi masalah. Karena “bertanya” merupakan salah satu bukti bahwa kita berpikir. Sebagaimana kata Descartes “Cogito Ergo Sum”. Dengan bertanya, maka berpikir. Dengan berpikir maka KITA ada, kita sadar bahwa pengetahuan kita masih harus ditambah, diluruskan dengan terus berproses.

Ilmuan dan pembelajar yang haus ilmu pengetahuan ialah mereka yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi ilmu dan ilmuan. Dalam konteks dunia akademik “menghargai dan menjunjung tinggi” ilmuan bukanlah murid yang terus senantiasa memberikan gula teh, atau tetek bengek yang lain berupa materi. Namun menghargai dan menjunjung tinggi guru terealisasikan dalam sikap murid yang sangat antusias terhadap kehadiran guru dan tidak malu untuk berbagi pengalaman, serta bertanya “sesuatu” apapun kepada guru-nya, dan yang tidak kalah penting-nya adalah memberikan masukan konstruktif terhadap guru. Guru harus inklusif, demokratis dan tidak boleh merasa “benar” sendiri. Maksudnya adalah, saat dibenarkan, diluruskan dan dievaluasi bahasa kasarnya “di kritik” oleh murid ya jangan ngambek dan marah dong. Hhehehe.

Memberikan kebebasan dan keleluasaan siswa dalam bertanya dimaksudkan agar guru mengetahui apa keresehan, kegalauan, yang sedang dipikirkan (problem) atau apa yang belum dipahami mengenai sesuatu hal. Karena hakikat guru ialah cahaya yang menerangi kegelapan dari berbagai macam sisi. Guru bukan hanya menyinari satu sisi (mengajarkan materi pelajaran yang diampunya) tapi juga menjadi “pencerah” siswa dalam berbagai macam problem/masalah yang sedang dihadapi baik itu keresehan maupun keingintahuan siswa.
Tak hanya itu, memberikan kebebasan siswa dalam bertanya berarti guru memberikan ruang pada siswa untuk mengembangkan kreativitas, potensi dan keingintahuan siswa”. Saya bebaskan mereka untuk berbicara, bertanya dan sharing pengalaman mereka atau masalah yang sedang mereka hadapi. Dari setiap problem dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, saya dapat mengetahui kerangka berpikir mereka, seperti apa kesadaran mereka menjadi seorang “pembelajar”, serta sejauh mana mereka mensyukuri potensi yang Allah berikan, berupa akal, hati, pendengaran, penglihatan, lisan serta indera yang lain.

Bertanyalah. Bertanyalah. Sampaikan pendapat kalian, jangan hanya "nurut/ngeli wong liyo/ mengikuti arus orang lain tanpa mengetahui sebab dan alasannya”.

Terakhir, Pendidikan merupakan salah satu jalan yang menerangi manusia dari kegelapan,menuju cahaya yang terang benderang sebagaimana min adz-dzulumati ila an-nur.


Penulis: Siti Mukaromah 
Mahasiswi Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website