Headlines News :
Home » » Kehidupan Sosial dan Umpatan Lako Donggo, Pandangan Ghazaly

Kehidupan Sosial dan Umpatan Lako Donggo, Pandangan Ghazaly

Written By Pewarta News on Jumat, 09 November 2018 | 18.15

Dr. Ghazaly Ama La Nora, S.IP., M.Si.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- "Kamu tau, hidup di rumah susun, apartemen, dan rumah rumah besar itu memiliki konsekuensi sosial yang besar juga. Nilai kemanusiaan, kedekatan dan kepedulian sosialnya berkurang pesat. Siapa lu siapa gue, gaya hidup di sana. Bersyukurlah, Donggo dan kita di Bima Dompu masih terjaga dari gaya hidup yang apatis," penjelasan mantap dari Dr. Ghazaly Ama La Nora, S.IP., M.Si., ketika menyampaikan materi di Jogja, 28 Oktober 2018 lalu.

Dosen ilmu komunikasi politik di Universitas Mercu Buana Jakarta ini juga menyinggung masalah umpatan Lako Donggo, Anjing Donggo, dan  'Bote Donggo, Monyet Donggo,. Ironisnya, kata Ghazaly, umpatan itu digunakan untuk anak atau orang lain, yang tak ada hubungannya dengan Dou Donggo, Orang Donggo,.

"Ana ndaina ma ndawi rawi, Dou Donggo ku ndi nga'una. Na lu'u ja ba aka ndi rawina ro. Anaknya yang punya masalah, orang Donggo yang dicaci. Masuk diakal nggak apa yang mereka lakukan," tuturnya.

Mengikuti cara pandang rusak yang memarginalkan dou Donggo dengan umpatan tersebut, anak dari TGH. Abdul Majid Bakry memberikan perbandingan antara Lako Donggo dengan Lako Kota.  Menurutnya, dari segi gaya hidup dan manfaatnya, Lako Donggo itu unggul dari pada Lako Kota.

"Ausi bedana Lako Donggo labo lako Kota. Sama sama wara ketona, sama sama mbowona, sama sama kajulu na rera na. Pala, Lako Donggo itu pola hidupnya sehat karena hidup di gunung. Makanannya binatang binatang di hutan, digunakan untuk berburu. Nah, tio japu Lako Kota re. Makanannya sisa sisa sampah dan kotoran, penyebar penyakit, gonggongannya tak jelas, rakus dan suka mencuri. Dari gaya hidupnya saja sudah beda antara Lako Donggo dan Lako Kota," papar pria yang akrab disapa Ama La Nora itu.

Dengan tegas, dirinya meminta agar dihentikannya umpatan umpatan yang memerginalkan Dou Donggo. Kontek sosialnya, lanjut Ghazaly, manusia yang hidup di bumi ini sama derajatnya dimata pencipta dan hukum kenegaraan. "Tapi satu hal yang harus diingat. Dou Donggo melalui peristiwa 1972 sudah membuktikan diri sebagai kelompok masyarakat visioner, peka terhadap permasalahan sosial, berjiwa kritis, dan bermental ksatria," pungkasnya. (RF / PEWARTAnews)
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website