Headlines News :
Home » » Pusmaja Bangun Diskusi Sosial Budaya, Soalihin: Belajar Selesaikan Konflik Cara Desa Maria

Pusmaja Bangun Diskusi Sosial Budaya, Soalihin: Belajar Selesaikan Konflik Cara Desa Maria

Written By Pewarta News on Sabtu, 10 November 2018 | 14.23

Mohammad Soalihin (baju kuning) saat menyampaikan materi di acara PUSMAJA, 08/11/2018.
Yogyakarta, PEWARTAnews.com -- Konflik yang terjadi di daerah Bima NTB mencapai 400an ditahun sampai tahun 2018. Tersangka utama dari konflik tersebut adalah penyakit psikoekonomi. Konflik yang disebabkan gesekan antarkolompok masyarakat tersebut diprediksikan akan terus mengalami peningkatan kasus jika tidak segera ditemukan solusi terbaik. Meski Wilayah timur pulau Sumbawa itu memiliki  tingkat kriminal yang tinggi, namun hal sebaliknya justru terjadi di Desa Maria Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Desa dan kecamatan tersebut justru memiliki nol catatan kriminal yang tercatat di kepolisian. Tertarik dengan hal tersebut, Mohammad Soalihin berusaha meneliti.

"Konsep Maria Village Zero Coflict adalah tantangan masa depan, untuk membawa daerah keluar dari zona konflik. Dasarnya, perdamaian menjadi barang mahal," papar Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah UNY ketika memberikan materi di kegiatan diskusi yang dihelat Pusat Studo Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo-Yogyakarta di Yogyakarta, 8 November 2018.

Sebagain data angka kriminal yang dihimpunnya sebagai referensi adalah, Kecamatan Sape 176 titik konflik, Woha 121. Dab, diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sampai 2020. Sedangkan di Wawo, tidak ada. "Bagaimana solusi mereka (masyarakat Wawo, red) hingga bisa  keluar dari zona konflik," tuturnya dengan nada tanya.

Konsep masyarakat di Desa Maria yang tergolong dalam wilayah agraris,  menyibukkan diri, sehingga tak terlalu memperhatikan permasalah di luar. Riset dengan pendekatan lingkungan hidup, sudah marak dilakukan. Tapi, belum ke wilayah kepercayaan. Konsep dasar jati diri dari identitas (boleh memiliki) dan konsep identitas. Di Desa Maria, tak ada pengelompokan (strata). Konsep kearisan lokal, mpa'a tumbu. "Secara etika, paling kasar. Secara estetika, mari kita lihat. Filosofinya, menghancurkan sikap keras kepala. Kekerasan dan keangkuhan, tidak ada apa apanya bagi mereka (Maria)," katanya.

Lebih lanjut, Soalihin menjelaskan, kosep kultur, ruang lingkup kehidupan, ikon yang sama dan gaya hidip yang sama membuat masyarakat Desa Maria mampu meminimalisir sentimental. "Inilah yang menimbulkan kedamaian dan sikap saling menghargai," pungkasnya.

Suasana saat acara berlangsung.

Sementara, Direktur PUSMAJA Mbojo-Yogyakarta, Ilmidin yang ditanya tujuan mengadakan diskusi tersebut mengatakan, konflik yang terjadi di Bima bahkan di Dompu belum benar benar dicari tahu akar masalahnya. Bahkan, sudah dianggap sebagai konflik yang membudaya. "Makanya, kita coba runut akar masalah dan sekaligus solusi masa depab yang menantang. Maria Village Zero Conflict adalah riset yang patut untuk dirubrikkan serius. Jika Desa Maria bisa, kenapa Bima dan Dompu tidak bisa," tuturnya.

Kedepannya, lanjut Ilmi (sapaan akrab Ilmidin), diakusi untuk melahirkan solusi untuk masalah kedaerahan akan terus dilakukan. Kegiatan kami juga tak akan berhasil tanpa kerjasama dari mahasiswa asal Bima dan Dompu di Jogja. "Bahkan, banyak mahasiswa di luar NTB yang ikut diskusi kami," pungkasnya. (RF / PEWARTAnews)
Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website