Headlines News :
Home » , » Sekelumit Kisahku di Pesantren

Sekelumit Kisahku di Pesantren

Written By Pewarta News on Senin, 05 November 2018 | 12.48


PEWARTAnews.com -- Di sekolah dasar (SD), aku adalah salah satu siswa yang bodoh. Dijauhi teman, dibully dan keberadaanku tak dianggap teman-temanku sudah menjadi hal yang biasa. Karena mempunyai pengalaman kelam seperti itu, aku bilang kepada bapakku untuk mondok saja, tak usah melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP). Hingga pada akhirnya bapak memenuhi permintaanku dengan mengajakku keliling ke berbagai pesantren di daerah Bantul. Aku masih ingat betul, pesantren yang sempat bapak tawarkan dahulu ialah PP. Al Fatta di Tembi, PP. Baiquniyyah, PP. Al Fithrah, PP. An-Nur, PP. Nurul Ummah Kotagede, PP. Nahdlatussubban, PP. Al Wahbi dan terakhir adalah pesantren An Ni’mah Kanggotan Bantul. Dari pontok-pondok tersebut, dengan kemantapan hati sembari berkata kepada bapak, “kulo milih di An Ni’mah mawon, pak”. Kebetulan saat itu, mbak ku masih ada disana jadi pengennya bareng sama mbak. Akhirnya bapak mengantarkanku kesana, tepat saat aku lulus SD. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya aku juga melanjutkan ke SMP di MTs N Gondowulung Bantul. Jarak antara pondok dengan sekolah sangatlah jauh, bahkan tak jarang karena ngaji saya terakhir (dipondok kami santri huffadz ngaji nya terakhir), antri mandi dan lain-lain sekolahnya telat. Rangkaian peristiwa tersebut yang sampai saat ini saya syukuri ialah, pihak sekolah maklum meski pada akhirnya karena sering telat “ibuku” dipanggil ke sekolah. Hehehehe.

Setiap hari ku lalui hari-hari yang amat begitu melelahkan bolak balik antara pondok dan sekolah dengan satu keyakinan “mumpung bapak masih sehat, mumpung bapak masih kuat membiayaiku ngaji, dan mumpung bapak ku masih ada”. Tak ada kata selain “mumpung”, karena sejak kecil bapak adalah satu satu figure lelaki yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Setiap kali sepulang sekolah, ku sempatkan untuk mampir ke rumah meski hanya sekedar mengisi perut/makan dan membawa bekal maem. Ini salah satu ujian terberat saya ketika mondok adalah sering laper.

Ketika di rumah, bapak selalu tanya-tanya tentang keadaan di pondok, bagaimana temen-temenku, terus bagaimana perkembangan ngaji-ku. Bapak nggak pernah tanya tentang bagaimana sekolahku, nilainya bagus atau tidak. Tapi yang selalu bapak tanya “sudah dapat berapa juz, nok”?. Karena aku bukan tipe orang yang apa-apa diampet, maka aku bilang sama bapak “kenapa sih pak kok bapak nggak pernah tanya perkembangan sekolahku?”. Padahal aku sudah banyak perubahan dari ketika SD yang selalu dijauhi temenku karena aku bodoh, sekarang di MTs jadi juara 1 terus. Dengan lirih bapak menjawab “Nok, bapak wis reti nek ngajimu apik, sekolahmu bakal katut”. Saiki ngajio sik mempeng, sesuk bakal ono dalan sekolahmu yo apik, nduwe konco sik apik-apik, nduwe bojo sik gumati, lan kepenak uripmu. Mumpung bapak iso ngragati (membiayai) sampean, sampean kudu mempeng yo le ngaji, nek iso ditarget le nang pondok.

Dalam kondisi apapun dan bagaimana pun aku selalu cerita kepada bapak, bahkan hal-hal yang sangat sepele pun ketika aku dibenci sama temenku. Hehehe, maklum saat itu masih ABG (anak baru gede) ya kan. Nasihatnya bapak begini “Nok, dadio wong sing mandiri. Mandiri bukan berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan orang lain, tapi mandiri iku bagaimana kita tidak menggantungkan diri kita kepada orang lain. Santai aja nek ono wong ra seneng (tidak suka) sama sampean, karena kamu makan juga nggak ikut dia kok. Dimanapun kita berada, pasti ada orang yang kurang suka. Manusia selevel Nabi Muhammad pun juga begitu, ada yang tidak suka apalagi kamu. Di Pondok nek ada orang yang seperti itu, ya biarkan saja. Dia beda sama kamu, terlahir dari orangtua yang beda pula, nduwe karep (punya keinginan) juga beda sama kamu, pantes kalau pola pikirnya juga beda, makanya santai nggak usah susah (sedih). Bapak mondokke kamu, biar kamu suatu saat jadi orang yang mandiri, jembar atine, ora grusa-grusu lan santai menghadapi lika-liku urip.

Tak lupa, bapak selalu menyematkan kata-kata “Nok, bapak tak tahu umurku sampai piro, tapi nek iso sampean sik tenanan yo lehmu ngaji”. Bapak juga gak punya harta melimpah, sik iso tak tinggali nggo sampean yo cuma ngaji iku, ben nek bapak udah nggak ada, sampean iso ndongakke aku (mendoakan bapak).

Aku amati lingkungan pondok, keta’dziman dan ketakriman santri-santri pada bu Nyai bahkan pada putra-putranya. Sesibuk apapun santri (nderes) kalau ditimbali dan didawuhi (dipanggil dan disuruh) bu Nyai untuk melakukan sesuatu, pasti segera melakukan. Itulah yang dinamakan dengan “Sami’na wa atha’na”. Bahkan sampai sekarang tradisi itu masih ada, dengan harapan “ngalap berkah nyai dan kiyai”. Dulu Bu Nyai juga sering ngendiko kalau berkah itu menjadikan hidup ini kian berarti dan bermakna. Karena berkah, santri-santri ndalem yang huffadz (ngafalin qur’an) yang sering di dawuhi bu Nyai ini itu, sehingga tak punya waktu untuk nderes, malah mereka lancar-lancar dan khatam sampai 30 jus. Pun demikian, ketika sudah bersuami, suaminya tanggungjawab dan gumati (perhatian). Ini lo lur, namanya berkah. Percayalah, ada berkah disetiap sesuatu.

Setiap kali aku dan kawan-kawan akan UTS atau bahkan UN, selalu minta doa pada bu Nyai sambil antri satu per satu. Ini yang masih terus akan ku ingat selamanya, bu Nyai selalu berpesan “Mbak, jangan lupa baca ya Fattah ya ‘Alim” terus ojo lali ngajine, ibuk tidak melarang kamu untuk sekolah bahkan nek pengen kuliah yo kuliaho tekan duwur tapi tolong ngaji tetep nomor satu yo”.

Karena barokahnya beliau, akhirnya sekolah juga katut (mengikuti), bahkan ketika masuk kuliah lewat jalur non tes (rapot – SPANPTKIN) juga karena doa beliau. Aku itu biasa-biasa saja, otakku juga biasa-biasa saja tapi alhamdulillah selalu dimudahkan Allah dalam segala hal, salah satunya karena barokah orang yang sangat dekat pada Gusti Allah.

Dari pengalaman seperti itulah, hingga sampai detik ini aku berani menarik kesimpulan bahwa hidup ini yang dicari sebenarnya adalah barokah. Barokah itu ziyadatul khair (kebaikan yang terus bertambah) yang hanya dapat ditempuh dengan akal dan pikiran yang jernih, hati yang tulus dan ikhlas, serta jiwa raga yang siap 100 % untuk menjadi “kuli-nya” Gusti Allah. Bisa jadi orangnya biasa-biasa saja, tapi karena ta’dzim dan takrim sama orang-orang shalih, hidupnya akan menjadi tenang dan bahagia serta dimudahkan Allah dalam segala hal. Ini yang masih terus melekat dalam dunia pesantren.

Ciri khas pesantren ialah “ngalap barokahnya kiyai-nyai” serta ketakdziman seorang santri kepada Kiyai maupun nyai-nya yang meski mereka sudah boyong (alumnus) tapi masih menyempatkan diri untuk sowan kepada nyai maupun kiyai di pondoknya. Hal ini yang sulit ditemui dalam pendidikan formal (Sekolah maupun kampus). Penghormatan yang mahasiswa maupun siswa berikan kepada guru maupun dosennya ada “sedikit” perbedaan ketika mereka berhadapan kepada kiyai maupun nyai. Kharisma dan wibawa kiyai dan nyai masih menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Pun demikian, ketika murid atau mahasiswa telah lulus, ia akan mudah melupakan guru maupun dosennya, namun berbeda halnya dengan santri dan kiyai nya. Tabiat, senyum, kebiasaan, ciri khas kiyai masih melekat dalam benak santri-santrinya, sehingga ketika santri kembali ke daerahnya untuk bersyiar dan mengajarkan agama/mulang ngaji pasti banyak dipengaruhi oleh kebiasaan maupun cara dan ciri khas kiyainya ketika di pesantren dahulu.

Jadi, ada makna “esensi” yang tidak pernah dilupakan santri ialah “bersanad”. Mengajarkan ilmu ya berdasar pada apa yang diajarkan guru nya dulu, atau paling tidak ada guru yang menjadi dasar acuannya dalam melakukan sesuatu. Hal ini bukan berarti santri itu kolot, tidak punya pendirian dan lain-lain. Namun karena santri mempunyai jargon “al muhafadzatu ‘ala qadimis-shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah wal ashlah ilaa maa huwal ashlah”.

Seandainya dahulu bapak tidak memperkenalkanku dengan dunia pesantren, mungkin aku akan menjalani hidup yang “sedikit” berbeda dengan apa yang ku jalani saat ini. Ternyata rencana Nya jauh luar biasa, selang 1 tahun (10 Oktober 2015) setelah aku memenuhi permintaan-nya untuk menyelesaikan quranku, bapak dipanggil Allah untuk menghadap kehadirat-Nya tepat pada 23 Desember 2016. Terimakasih pak, bapak meninggalkanku saat kewajiban bapak menjadi seorang “Ayah” telah selesai dan tuntas. Terimakasih pula telah membimbingku untuk menemukan rencana Tuhan bagi diriku.

Kini, santri tidak hanya dimaknai sebatas orang yang belajar agama namun ia yang tidak lelah untuk menjadi pembelajar kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun, serta mempunyai kepribadian yang berani berkata benar, mandiri, bertanggungjawab serta optimis dan yakin dapat melalui lika-liku perjalanan hidup yang menyedihkan maupun membahagiakan. Santri iku kudu tatag, trengginas, cak cek, ojo wegahan lan malesan.

Guru ngaji saya bu Ny. Mutammimmah dobalan selalu berpesan bahwa jadilah santri selamanya. Kelak ketika kamu bersuami, jadilah santri-nya suamimu, ngalap o berkah suamimu, nderes o sama suamimu lan ngangsu kawruh yo karo suamimu. Kalau suamimu nggak ada waktu, silahkan datang ke rumah aku siap untuk menjadi gurumu (saya menyebutnya nyai) selamanya.

Diambil positifnya saja, jika ada kata-kata “melangit” maklumi saja, karena memang begitu adanya, Hehehe.

Selamat Hari Santri Nasional 2018. Dari Santri Untuk Negeri ! NKRI Harga Mati!


Penulis: Siti Mukaromah
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website