Headlines News :
Home » , » Konsep Keaslian Al-Qur’an (Telaah Pemikiran Theodore Noldeke dan Abraham Geiger)

Konsep Keaslian Al-Qur’an (Telaah Pemikiran Theodore Noldeke dan Abraham Geiger)

Written By Pewarta News on Sabtu, 22 Desember 2018 | 18.21

Ilustrasi Al-Qur'an. Foto: pexels.com
PEWARTAnews.com – Pada abad ke-20 studi tentang Islam telah muncul sebagai bidang ilmu pengetahuan barat yang signifikan. Pada abad ini juga terjadi perpecahan akibat kesenjangan antara dunia barat dan dunia muslim. Dari sinilah terjadi peningkatan kolaborasi antara lintas iman dan lintas negara asal untuk mengkombinasikan pendekatan Islam tradisional dan studi Islam di barat. Selama abad ke-20 perkembangan studi Islam di barat telah menghasilkan berbagai macam pendekatan. Banyak dari sarjana barat yang mengeksplorasi mengenai aspek-aspek umum Al-Qur’an, dan juga tidak sedikit dari sarjana barat yang mempertanyakan pemahaman tradisional orang Islam terhadap asal usul Al-Qur’an. Sarjana barat ketika meneliti Al-Qur’an sering menggunakan metode yang sama ketika meneliti kitab-kitab suci yang lain (Abdullah Saeed, 2018: 114).

Sejarah turunnya Al-Qur’an tidak bisa lepas dari lingkungan asal turunnya Al-Qur’an itu sendiri. Maka, tidak bias dipungkiri bahwa sebelum Al-Qur’an turun telah ada sebuah budaya dan kitab-kitab suci yang mengelilingi lingkungan tersebut. Dalam tulisa memfokuskan terhadap keaslian dari kitab suci dengan menggunakan metode historis kritis dan juga kajian filologis. Tokoh yang menggunakan teori tersebut adalah Abraham Geiger dan Theodore Noldeke. Dari tulisan ini akan menguraikan bagaimana pemikran Abraham Geiger dan Theodor Noldeke mengenai keaslian Al Quran.

Abraham Geiger adalah seorang intelektual, Rabbi, yang beragama yahudi, ia terkenal sebagai orientalis yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang dipengaruhi oleh agama Yahudi (Lenni, 2014: 44). Leni Lestari mengutip karya Abraham Geiger yang  menyatakan bahwa ada  beberapa kosa kata Al-Qur’an yang berasal dari tradisi Yahudi diantaranya adalah sakinah, taghut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘and, taurat, Jahannam, rabbani, sabt, dan ahbar. Menurut Geiger kosa kata yang berakhiran “ut” berasal dari Bahasa Ibrani yang merupakan bahasa ajaran Yahudi (Lenni, 2014: 46).

Secara teologi, Geiger berpendapat bahwa ada 3 ajaran dan doktrin keimanan yang di pinjam Nabi Muhammad dari ajaran Yahudi. Pertama tentang penciptaan langit dan bumi dalam 6 hari. Kedua, mengenai tujuh tingkatan surga. Ketiga, tentang balasan surga dan neraka (Lenni,  2014: 48). Geiger berpendapat seperti itu karena antara ajaran Yahudi dan ajaran Islam sama, akan tetapi dalam sejarahnya agama Yahudi yang muncul terlebih dahulu daripada ajaran agama Islam. Maka dari itu Geiger berpendapat bahwa Nabi Muhammad meminjam ajaran Yahudi. Salah satu alasan yang diuraikan oleh Abraham Geiger mengenai Nabi Muhammad yang meminjam ajaran Yahudi adalah, karena Nabi Muhammad ingin melegitimasi terhadap Islam.

Theodor Noldeke adalah salah satu orientalis yang mengkritik  mengenai keaslian Al-Qur’an. Ia juga menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang tersusun dari huruf, dan kata-kata yang tidak teratur sehingga ia beranggapan bahwa tidak mungkin kitab seperti itu adalah kitab dari tuhan (Abdullah Saeed, 2018: 154). Tidak hanya itu, Theodor Noldeke juga beranggapan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad sama dengan ajaran Yahudi.

Berangkat dari hal ini Noldeke meneliti Al-Qur’an menggunakan pendekatan Filologi. Ia membandingkan teks-teks suci dari kitab, Yahudi, Kristen, Islam. Dari sini ia menolak pendapat Abraham Geiger yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang pandai merangkum, menyaring, merubah, dan melegitimasi ajaran lain sebelum diberitahu kepada yang lain bahwa itu adalah wahyu dari Tuhan. Menurut Noldeke bukan maksud Muhammad untuk merubah konsep-konsep kitab terdahulu. Pada masa awal keislaman lingkungan Nabi Muhammad memang tidak lepas dari orang Yahudi dan Nasrani. Maka dari itu banyak tuduhan yang menyatakan hal tersebut. Noldeke tidak hanya berpikiran negatif terhadap Al-Qur’an, akan tetapi ia juga menjadi salah satu sarjana yang mengawali menata Al-Qur’an agar sesuai dengan urutan kronologis (Abdullah Saeed, 2018: 156).

Abraham Geiger dan Theodor Noldeke mereka memiliki pendapat, metode dan hasil penelitian yang berbeda dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Baik Geiger yang menggunakan metode membandingan antara ajaran yang termuat dalam kitab suci Yahudi dengan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an, begitu juga Noldeke yang menggunakan keahliannya dalam ilmu filologi yang memandang bahwa Al-Qur’an adalah bentuk teks filologis. Adakalanya pendapat mereka sama dan ada kalanya salah satu pendapat dari mereka tidak setuju dengan yang lain. Al-Qur’an memuat konsep-konsep yang menyimpan dari sumber asalnya. Geiger menduga hal tersebut tidak lain karena faktor politk dakwah Nabi, sedangkan Noldeke mempercayainya sebagai kegagalan proses transmisi.

Hal ini terlihat saat keduanya menyatakan alasan kenapa al-Qur’an memuat konsep-konsep yang menyimpan dari sumber asalnya. Geiger menduga hal tersebut tidak lain karena faktor politik dakwah Nabi, sedangkan Noldeke mempercayainya sebagai kegagalan proses transmisi. Hal yang tidak dapat ditinggalkan dari warisan pemikiran Geiger dan Noldeke adalah sudut pandang dalam memahami tradisi Islam. Beberapa klasifikasi seperti kalenderisasi makki dan madani. Serta temuan lainnya menjadi poin positif sebagai nilai yang melandasi penelitian lebih lanjut tentang al-Qur’an, bahkan kemudian temuan dari Theodore Noldeke ini dipergunakan oleh kalangan akademisi muslim sendiri.

Daftar Bacaan
- Abdullah Saeed, Pengantar Studi al-Qur’an, Baitul Hikmah Press, Yogyakarta, 2018.
- Lenni Lestari, “Abraham Geiger dan Kajian Al Quran telaah buku Judaism and Islam, Jurnal Suhuf, Volume 7, Nomor 1, 2014.


Penulis: Nila Jundaya Izzati
Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Share this post :

Posting Komentar

Komentar netizen merupakan tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi. Kami berhak mengubah atau menghapus komentar yang mengandung intimidasi, pelecehan, dan SARA.

 
Copyright © 2015-2018. PEWARTAnews.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website